January, 2nd.
Tok tok tok!
TOK TOK TOK TOK TOK!
Alya mengerang kesal mendengar ketukan tak sabaran di pintu. Tangannya meraih ponsel, melihat jam. 5:43 a.m.
Siapa yang dengan kurang ajar bertamu padanya pagi-pagi begini?
Saat ketukan brutal itu kembali terdengar Alya bangkit, lalu membuka pintu.
“Dimana Radit?” Lisa menerobos masuk.
Mata Alya mengerjap, tubuhnya terhuyun ketika bahunya disenggol.
“Lo sembunyiin dimana pacar gue?!” Seru Lisa seraya menatapnya nyalang. “Al lo tuh udah putus sama dia gak usah lo deketin Radit lagi. Lo tuh udah gak ada harganya di mata dia. Ngapain masih mohon-mohon minta balikan?!”
“Hah?”
“Gak usah pura-pura bego! Lo kan yang deketin Radit terus?! Lo yang pengen balikan sama dia?”
Alya meraih ponselnya. Menunjukkan roomchat dari Radit yang terus saja melakukan spam di beberapa aplikasi chat, bahkan melalui pesan sosial medianya.
“Sampai sini paham?” Tanya Alya. “Dia yang ngejar-ngejar gue, bukan sebaliknya.” Alya menghembuskan napas malas, apalagi saat lagi-lagi perempuan itu menyenggol bahunya sebelum pergi.
Cuma karena ini dia mengganggu tidur cantiknya? Oh menyebalkan! Hari libur yang seharusnya ia isi dengan ketenangan malah diawali dengan hal menjengkelkan seperti ini.
***
“Gue kira lo lagi liburan. Gue cariin dari malem tahun baru, telponin, chat, gak ada yang direspons. Jangankan respons, yang ada hp lo malah gak aktif. Sampe gue samperin ke sini lo gak ada.” Ella yang baru saja masuk ke apartemen Alya mengomel. Sementara Alya sendiri sedang bergelung di atas ranjang.
“Kemana lo dua hari ini sampe matiin hp terus?”
“Ada. Gue cuma lagi pengen sendiri. Pusing banget gue La. Kepala gue berisik.”
Ella menghela napas, perempuan itu menoleh ke arahnya sesaat lalu membuka microwave—menghangatkan makanan yang dibawa dari rumah.
“Masih mikirin si Radit? Udahlah Al cowok b******k kyak gitu buat apa dipikirin? Gak ada gunanya sama sekali. Lo tuh mendingan move on. Cari cowok lain. Ngapain coba masih mikirin si Radit cowok b******k itu! Gak guna.”
“Siapa yang bilang mikirin si Radit? Enggak ya enak aja.” Alya tidur menghadap Ella yang sekarang duduk di sampingnya.
“Gue cuma lagi pengen sendiri La, bukan mikirin masalah si Radit. Tapi lebih ke mikirin orangtua gue. Menurut lo gimana reaksi mereka kalau tahu gue gagal lagi? Mereka pasti sedih, apalagi sekarang gue udah 28 tahun.”
Alya menghela napas, beban di bahunya kini bertambah. “Gue dikejar banyak hal, salah satunya umur orangtua gue, apalagi gue anak satu-satunya. Lo tahu sendiri La kemaren Ambu sama Abah nelpon dan minta kenalan sama Radit, itu artinya apa? Mereka udah pengen banget gue nikah.”
Tak ada jawaban dari Ella, perempuan itu hanya menggangguk kecil, menghela napas seraya menepuk bahunya. Ella dan Lisa tahu betul bagaimana beban yang ada di bahunya. Eh—ditambah lagi dengan Lisa yang mengkhianati kepercayaannya. Padahal Alya pikir ia akan mengakhiri tahun kemarin dan mengawali tahun ini dengan tenang. Nyatanya bukan tenang, ia justru kehilangan sahabatnya.
“Rencana lo sekarang gimana?” Tanya Ella. “Mau nyobain cari pasangan pake dating app gak? Kalo mau entar gue temenin.”
Gelengan kecil Alya berikan. “Rencananya gue pengen minta pengertian mereka buat izinin gue gak nikah aja La.”
“Gila lo?!” Ella tersentak. “Al, apa gak akan bikin orangtua lo sedih?”
Alya terdiam.
“Gue akui lo mandiri. Lo bisa lakuin apapun tanpa laki-laki. Gue yakin orangtua lo juga tahu itu. Tapi lo harus tahu Al kalau kekhawatiran orangtua itu bukan cuma tentang itu. Tapi mereka juga mikirin masa depan lo, mereka pengen lo ada yang nemenin. Orangtua tuh bakalan lega kalau lihat anaknya bahagia sama pasangan hidupnya. Mereka bakalan tenang kalau anak perempuannya dapat pasangan yang bertanggung jawab.”
“Tau tauan aja yang begitu.” Alya terkekeh kecil.
Plak!
Ella memukul lengan Alya. “Dengerin bukannya ketawa.”
“Iya iya ini di dengerin. Lagian lo tuh dah kayak emak-emak aja ngomelnya.”
“Itu yang ambu lo bilang ke gue kemaren malem.”
“Hm?” Alya menoleh cepat. Ella mengangguk. “Lo pikir ngapain malem tahun baru gue ngeluarin banyak tenaga buat cariin lo? Ya itu karena Ambu khawatir lo gak bisa dihubungin. Ambu takut terjadi sesuatu sama lo.”
Alya menghela napas lagi. “Kayaknya Ambu lagi kepikiran gue aja.”
“Namanya perasaan orangtua, pasti kuat. Apalagi lo lagi patah hati.”
“Oh ya, si Radit masih gangguin lo?” Tanya Ella.
“Alasan gue matiin hp kan dia. Udah gue blok pun terus aja dia gangguin gue. Malesin banget.” Alya mendengus kecil. “Cowok tuh kenapa sih berubahnya setelah terlambat? Padahal harusnya mikir sejak awal kalau selingkuh itu bakalan ngancurin hubungan. Apa gak bisa mikir kayak gitu lebih cepet? Giliran udah ancur mohon-mohon minta balikan.”
“Padahal dia udah ada si Lisa, yaudah sih fokus aja sama dia. Kok malah gangguin gue.”
“Gue denger katanya mereka udah putus Al.”
“Hah?! Serius lo? Pantesan si Lisa dateng terus maki-maki gue.”
“Apa?! Maki-maki lo?!”
Alya mengangguk. “Tadi pagi, dia dateng ganggu tidur cantik gue.”
“Bilang apa aja dia?”
Alya menceritakan kejadian pagi ini, dari mulai Lisa yang gedor-gedor pintu kamarnya sampai makian yang diberikan perempuan itu.
“Emang gak tahu malu dia. Dia pelakor dia yang nyalahin lo juga.”
Tepat saat Alya ingin menimpali ucapan Ella, ponselnya berdering. Tanda sebuah panggilan masuk. Kening Alya mengerut.
“Gak biasanya Abah nelpon. Bentar La.” Ujar Alya.
“Hallo Assalamu’alaikum Abah.”
“Waalaikumsalam neng. Neng kamu kenapa belum pulang? Ini pacar kamu ke rumah. Katanya mau lamar kamu.”
“Pacar yang mana? Aku gak ada pacar Abah. Aku udah putus.”
“Loh terus ini? Nak Radit katanya pacar kamu.”
Rahang Alya mengatup, tangannya terkepal erat. Sialan!
“Kurang ajar.”
“Hus kok kamu ngomong gitu? Gak sopan.”
“Bah. Aku sama dia udah putus. Dia selingkuh sama temen aku Bah, Lisa. Dia bahkan udah tidur sama dia! Mendingan abah usir aja. Dia udah nyakitin aku bah. Abah juga gak suka kan sama cowok kayak gitu? Abah gak mau kan aku sama cowok kayak gitu?”
“Kurang ajar. Berani-beraninya dia begitu sama kamu. Dia gak tahu kalo Abah ini mantan tentara?!”
“Abah. Udah usir aja.”
“Abah mau kasih dia pelajaran.”
“Bah. Abah! Abah!”
“Neng. Mendingan sekarang eneng pulang ya?” Itu suara ibunya.
“Iya ambu. Itu abah lagi ngapain?”
“Biarin aja. Enak aja dia udah nyakitin anak ambu sama abah.”
Alya menghembuskan napas. “Yasudah sore ini Alya pulang.”
“Ada apa?” Tanya Ella setelah Alya meletakkan ponselnya.
“Radit nekad ke rumah gue dan katanya mau lamar gue.”
“Gak tahu malu.”
“Emang. Gak tahu diri banget dia.”
***
Raditia Agung
Al maafin aku. Aku yang bersalah. Mulai sekarang aku janji gak akan gangguin kamu lagi. Sekali lagi maaf ya.
Hembusan napas keluar dari hidung Alya. Tanpa membalas pesan itu, Alya menutup direct messages-nya lalu mematikan layar ponsel. Setelah itu menyamankan diri di atas pangkuan sang ibu yang sedang mengelus kepalanya dengan lembut.
“Meskipun dia menyebalkan kamu jangan menyimpan dendam ya Neng. Jangan buang-buang tenaga buat laki-laki kayak gitu.”
“Benar itu Neng, laki-laki kayak gitu gak pantes walaupun cuma buat kepikiran.” Sahut Abah. “Laki-laki gak punya prinsip, gak punya masa depan jelas juga. Dia cuma mau numpang hidup sama kamu itu. Gak bener-bener cinta.”
Alya terkekeh kecil, ini pertama kalinya ia mendengar sang ayah mengomel. Rasanya menyenangkan, ia senang—ia merasa sangat disayang.
Oh ya, abahnya Bagja Andi Koswara dan ambunya Nur Maulida Koswara. Abahnya pensiunan tentara, ibunya seorang guru di SD, mereka bukan pengusaha sukses yang bisa memberinya bergelimangan harta, tapi mereka selalu memberinya cinta kasih dan kepercayaan yang sangat besar.
“Suatu saat nanti Eneng pasti bakalan dapet laki-laki yang bertanggung jawab, yang cintanya lebih besar dari Eneng, yang bisa sayang Eneng dan bahagiain Eneng, yang bisa nerima Eneng apa adanya.” Ucap Nur.
Dalam hati Alya merasa tertampar meski bibirnya membentuk senyuman tipis. Dalam pikirannya. Memang ada yang seperti itu?
Bukankah laki-laki cenderung mudah bosan? Apalagi jika sudah tahu hati si perempuannya sudah dia dapatkan.
“Ambu dengar dari Ella katanya Eneng gak mau nikah ya?”
“Ambu….”
“Neng… gak semua laki-laki itu jahat. Banyak kok laki-laki yang baik. Libat Abah. Dari sejak Ambu kenal Abah sampai sekarang, Abah baik. Abah gak pernah nyakitin Ambu.”
“Abah… Ambu… buat sekarang izinin Eneng fokus sama kerjaan Eneng dulu ya? Eneng capek salah pilih terus.”
“Atau gak gini… Abah sama Ambu saja yang pilihkan. Alya yakin Abah sama Ambu pasti bisa memilih mana laki-laki yang baik dan tidak, yang bibit, bebet, bobotnya berkualitas.”
“Loh. Pernikahankan kehidupan Eneng sendiri nantinya.”
“Gapapa, daripada Eneng salah pilih lagi.”
Nur menghela napas panjang. “Yasudah sekarang sebaiknya kamu istirahat.”
“Ambi sama Abah juga.”
Bagja dan Nur mengangguk.
Setelah itu Alya pamit, beranjak meniti tangga kayu menuju kamarnya.
Baru saja Alya duduk di ranjang, ponselnya berdering tanda sebuah pesan masuk.
Bu Desta Kaprodi:
Selamat malam Bu Alya maaf saya mengganggu waktu berlibur Ibu. Saya mau bertanya dua tahun lalu ibu asistennya Prof. Wahyudi bukan?
Me:
Selamat malam ibu. Tidak apa-apa. Benar saya asistennya Pak Prof. Ada apa ya Bu?
Bu Desta Kaprodi:
Begini. Ada satu Mahasiswa beliau yang belum lulus dan ingin menyelesaikan studinya di semester ini. Saya akan menunjuk anda sebagai pengganti Prof. Wahyudi. Bagaimana?
Me:
Tidak masalah Bu. Memang siapa Mahasiswanya? Mungkin saya tahu?
Bu Desta Kaprodi:
Mark William Uwais, 2017181165. Tolong ya Bu? Dan saya mohon jangan dipersulit.
Deg!
“Mark William Uwais?”
Glup.
Alya menelan ludah kasar, bibirnya mendadak kering, jantungnya berdegup sangat kencang. Tidak… ini tidak mungkin Mark yang itu kan?
Buru-buru Alya membuka web kampus dan mencari berdasarkan NIM.
“Jangan sampe. Jangan sampe. Jangan sampe. Semoga orang berbeda.”
Deg!
Alya tertegun lagi. Foto yang terpampang di web menjadi bukti. Kalau ketakutannya menjadi nyata.
Ada apa dengan tanggal 2 Januari? Kenapa ia merasa sangat dipermainkan?