@skyviews
Dimana kita akan bertemu?
Siapa yang akan memilih tempatnya?
Me:
Saputra Hotel Grogol. Gimana?
@skyviews
Ok. Sudah booking?
Me:
Belum. Kita putuskan nanti setelah bertemu.
@skyviews
Baik. Setelah sampai langsung parkir di basement. Saya tunggu di Gallery Resto.
Alya tak henti memeriksa penampilannya. Setiap beberapa menit sekali ia bercermin pada spion, memeriksa make up, tatanan rambut, memastikan penampilannya tidak akan mempermalukan dirinya sendiri. Tidak hanya itu, hari ini Alya bahkan menghabiskan waktu untuk berdandan 3 kali lipat lebih lama dari waktu biasanya ia berdandan. Terus saja mengganti satu gaun dengan gaun lainnya hingga ia memutuskan memakai gaun berwarna merah dengan belahan d**a rendah.
Padahal cuma akan menghabiskan malam dengan orang asing. Tapi mengapa ia harus mati-matian berdandan seperti ini? Entahlah, Alya saja heran dengan dirinya sendiri.
“Setelah 200 meter belok kanan, lokasi anda ada di sebelah kiri.”
Jantung Alya terlonjak kencang setelah mendengar kalimat itu. Napasnya tertahan sesaat, menahan degup jantung yang berdetak semakin hebat. Setelah sampai, Alya kemudian memarkirkan mobilnya di basement hotel, seperti arahan partner yang akan ia temui.
@skyviews
Saya sudah sampai.
Di meja nomor 304, pojok kanan arah jam 1 dari pintu masuk. Saya memakai kemeja hitam.
Alya meneguk ludah kasar—gugup. Bibirnya mendadak kering. Jantungnya pun semakin meloncat-loncat, berdegup kencang—semakin menambah kegugupan yang Alya rasakan.
Pikirannya semakin berkecamuk, bukan lagi tentang kemungkinan pria itu penipu. Tapi… bagaimana kalau ternyata ia memang sangat membosankan seperti yang pernah mantan kekasihnya sampaikan?
Hembusan napas Alya terdengar, setelah itu Alya kembali bercermin pada spion sebelum akhirnya keluar dari dalam mobilnya.
“Kenapa akhir-akhir ini banyak banget yang pake Tesla putih?” Gumamnya saat melihat mobil mewah yang terparkir apik di samping mobilnya itu. Berusaha mengalihkan perhatian—mendistraksi rasa gugup dalam hatinya yang terlalu besar.
Tapi apakah berhasil? Tidak.
Kedua telapak tangan Alya mulai berkeringat dingin saat memasuki pintu restoran. Tempatnya cukup ramai, untunglah ia sudah tahu letak keberadaan partnernya.
“Meja 304, arah jam satu dari pintu ma—.” Ejaan Alya terhenti begitu iris matanya menangkap sosok pria yang mengenakan kemeja hitam di pojok ruangan.
Tampan. Sangat tampan. Tidak hanya itu. Penampilannya pun terlihat sangat menarik perhatiannya. Kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku, dan dua kancing teratas yang terbuka. Ah—tidak, sepertinya bukan hanya menyita perhatiannya, tapi menyita perhatian perempuan lain juga, apalagi secara terang-terangan ia melihat dua orang wanita dengan pakaian seksi berjalan ke arah pria itu.
“Permisi Nona, ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang pramusaji.
“Meja 304?”
Sepasang mata perempuan itu membesar—tampak terkejut. “Oh. Mari saya antar.”
“Saya tidak sendiri. Saya sudah bilang saya sedang menunggu seseorang.“
“Ya siapa tahu mau kami temani dulu?”
“Tidak.”
Dalam hati Alya cukup puas mendengar jawaban tegas pria itu.
"Mark." Panggil Alya setelah sampai di depan pria itu.
Pria itu menoleh, menatapnya intens beberapa saat sebelum mengeluarkan suara. “Al. Duduk."
Alya menatap dua perempuan yang masih duduk di meja itu, lalu mengalihkan pandangan pada Mark.
"Apa kalian masih akan duduk di sini? Perlu saya panggilkan security?"
Dua wanita itu menatap Alya tajam sesaat sebelum pergi seraya menghentakkan kaki.
Alya menarik ujung bibirnya, mengeluarkan seringaian kemenangan. Sungguh, ia sangat puas melihat kekesalan di wajah kedua wanita itu. Ia merasa menang.
"Apa aku mengganggu?"
"Tentu saja tidak. Mereka yang tiba-tiba datang dan memaksa duduk, padahal aku sudah bilang, aku tidak sendiri."
Alya tersenyum tipis seraya menatap Mark dengan tatapan yang sangat percaya diri. Sebelah alis Alya naik saat Mark tiba-tiba mengulurkan tangan. Akan tetapi Alya pun segera menjabat tangan lelaki itu.
“Mark.”
“Alya.”
“Nama yang cantik.”
Senyuman lebar terbentuk di wajah Alya, tidak… bukan salah tingkah. Ini lebih ke lucu saja.
“Pujian tipikal buaya ya? Template banget.”
“Tapi kamu namamu memang cantik Al, sama seperti orangnya. Aku sampai terlejut kalau ini kamu.”
“Kenapa?“
“Tidak seperti berusia 28 tahun.”
“Terus berapa? 38 tahun?” Tanya Alya diikuti kekehan kecil.
“Mana ada 38 tahun seperti ini. Kamu seperti lebih muda dariku.”
Alya kembali mengulum senyumannya, menumpukkan kedua tangan di atas meja, berpose seperti bunga.
“Anggap saja begitu. Usia tidak pentingkan?”
Pria itu mengangguk kecil. “Baiklah.”
“So… kamu duduk di sini, tandanya tertarik padaku?“
“Ya… kamu tampan Mark. Siapa yang tidak tertarik?”
“Kamu juga….”
“Apa? Aku tampan?”
Mark tertawa renyah. “Maksudku kamu sangat cantik. Warna merah sangat cocok di tubuhmu. Sangat indah.”
“Tidak menyesal?”
“Menyesal kenapa? Sejak awal aku bilang aku pasti tertarik padamu kan?”
“Bagaimana mungkin kamu seyakin itu Mark?”
Pria itu menarik ujung bibirnya sesaat. “Penilaianku tidak pernah salah.”
“Sejak awal kamu unik sekali. Sejak itu aku merasa tertarik.” Ungkap Mark. “Oh ya… ini. Medical check up results.” Mark mendorong sebuah amplop coklat ke depan Alya. Alya pun mengeluarkan benda yang sama dari dalam tasnya.
“Ini milikku.”
Alya membuka satu bundel hasil medical check up milik Mark. Sebelah alisnya naik, ia mendongak menatap Mark sesaat.
“Kebetulan sekali. Kita medical check up di tempat dan waktu yang sama.”
Mark meliriknya sesaat sebelum membaca isi dokumen itu lagi. “Aku juga terkejut.”
Bola mata Alya bergulir, memindai surat itu, dari mulai identitas sampai kesimpulan akhir bahwa Mark dinyataan 100% sehat.
“Apakah cukup?”
Alya mendongak, menatap Mark. Setelah itu tersenyum tipis. “Cukup.”
“Kita booking kamarnya sekarang?”
“Boleh Mark.”
“Mau kamar seperti apa?”
Beberapa saat Alya berpikir. Sejujurnya ia memiliki beberapa fantasi hebat, salah satunya tentang bercinta di malam tahun baru diiringi dengan pemandangan indsh ledakan-ledakan kembang api yang berwarna warni.
“Kamu suka pemandangan langit?” Tanya Mark, membuyarkan lamunannya. “Aku memiliki rekomendasi kamar yang bagus. Aku rasa kamu pasti akan menyukainya.”
“Sepertinya kamu sangat mengenal hotel ini?”
Mark mengangguk.
“Seberapa sering kamu datang?”
“Tidak sering, setidaknya satu bulan sekali.”
“Wah.” Alya kembali terkekeh kecil. Seharusnya ia tidak terlejut lagi, melihat penampilannya Mark bukan pria yang akan kesepian—setiap hari pasti minimal ada satu wanita yang melemparkan diri pada pria itu.
“Ayo makan dulu. Jam 11 kita naik melihat pemandangan dari lantai paling atas.” Mark menyimpan ponsel di atas meja.
“Sudah booking kamarnya?”
Mark mengangguk lagi. “Sekarang pilih, mau makan apa?”
***
Tepat jam 11 Mark dan Alya naik menggunakan lift yang berada di ujung lorong. Begitu memasuki lift, Mark merangkul pinggangnya, menarik membuat mereka berdiri lebih rapat. Jantung Alya kembali meloncat-loncat, gugup. Tubuhnya meremang hebat. Padahal Mark baru memberikan rangkulan biasa tapi tubuhnya sudah bereaksi berlebihan.
“Ini kamarnya. Semoga tidak mengecewakan ya.”
Mata bulat Alya membesar begitu kamar dengan tulisan presidential suite di depan pintu terbuka.
Tidak seperti kamar hotel biasa, kamar hotel ini memiliki ruang tengah yang luas, sofa besar menghadap televisi, kemudian satu ranjang dengan ukuran king size. Tidak lupa pula ada balkon yang terhubung langsung dengan kamar.
Alya mengikuti Mark berjalan masuk kemudian membuka pintu balkon, berdiri tepat di depan pagar pembatas.
“Lihat. Pemandangannya sangat indah.”
Alya akui, pemandangan langit malam dari tempat ini memang sengat indah.
“Kamu sangat pandai memilih tempat.”
“Tentu saja.” Tubuh Alya kembali menegang saat kedua tangan besar Mark melingkar di pinggang dan dagu yang bersandar di bahu, berbisik tepat di telinganya.
“Tempat spesial untuk orang yang spesial.”
Beberapa waktu keduanya bertahan di posisi itu, menikmati semilir angin, melihat pemandangan kemerlap malam ibu kota yang sangat indah.
“Apa tindakanmu membuatku risih?”
“Hm?”
“Kamu tegang sekali. Seperti tidak suka dengan tindakanku.”
“Bukan.” Alya membasahi bibirnya sesaat sebelum berbalik menatap Mark, lalu memberanikan diri berjinjit mengecup ringan bibir penuh lelaki itu.
“Aku hanya tidak biasa.”
“Ini first time kamu?”
Ragu, Alya mengangguk.
“Kenapa?”
“Hanya ingin.”
“Kalau begitu aku yang pertama?”
Alya mengangguk lagi.
“Karena itulah, berikan aku pengalaman indah. Lakukan apapun yang kamu mau dengan lembut dan aku pun akan melakukan apapun yang kamu inginkan.”
Iris mata sepasang manusia itu bertemu dengan sangat intens, saling menyelami satu sama lain sebelum kemudian Mark menunduk mencium bibir Alya, meraupnya, melumatnya dengan sangat lembut.
“Aku…akan memberikanmu malam indah yang tak akan pernah bisa kamu lupakan.” Bisik Mark sebelum kembali mencium Alya, lalu menggendongnya, membawa Alya masuk dan menjatuhkannya ke atas ranjang.
Desahan nyaring mengalun indah dari belahan bibir Alya saat ciuman itu semakin turun hingga d**a, beriringan dengan tangan kekar Mark yang mulai merambat masuk menyentuh setiap titik sensitifnya.
“Al.”
Tatapan mereka kembali bertemu, sayu sarat bara nafsu. Mark meraih tangan kanannya, membawanya turun menuju kebanggan Mark yang sudah mengeras dibalik celananya.
Mata Alya membesar. Dadanya semakin berdesir, jantungnya seakan meledak. Terlebih saat tangannya bisa merasakan langsung panasnya benda tak bertulang itu di telapak tangannya.
Kali ini Mark yang mengeram. Tanpa ada sisa sabar lagi Mark segera menanggalkan pakaiannya sendiri, lalu menanggalkan pakaiannya.
“Markhh…yah… di sana. Oh!” Desahan Alya kembali terdengar, membuat Mark yang sedang memainkan puncak d**a dan juga tonjolan kecil di atas kewanitaan Alya semakin bersemangat. Sampai beberapa saat kemudian tubuh Alya bergetar hebat, beriringan dengan desahan yang semakin nyaring.
Alya, telah sampai.
Di tengah sensasi pelepasan pertamanya Alya membuka mata dan betapa terkejutnya ia melihat pemandangan menggairahkan dimana Mark sedang memasang pengaman pada kebanggaannya.
Alya meneguk ludah kasar ketika ujung kebanggaan itu ditempatkan di lubang senggamanya.
“Al… siap?” Mark kembali menatapnya. Alya menganggu kecil.
“Gigit bahuku kalau sakit.” Ujar Mark lalu mengecup bibirnya sesaat sebelum mendorong pinggulnya.
Punggung Alya melengkung, dadanya membusung, tangannya meremat erat seprai, sementara di bawah sana kakinya semakin melingkar erat di pinggang Mark. Matanya membeliak, mulutnya terbuka lebar, menahan perih kala benda keras, panas dan berurat itu menerobos masuk, seperti membelah tubuhnya menjadi dua.
“Sakit?”
Alya mengangguk kecil.
Mark pun diam, membiarkan Alya terbiasa dengan miliknya. Sementara tangan Mark tak tinggal diam, tangan kanan mengelus punggung dan tangan kiri mengelus kepalanya seiring dengan kecupan-kecupan ringan yang Mark berikan di seluruh permukaan wajah Alya yang kemudian turun ke leher, tulang selangka, dan naik lagi mengecup dalam keningnya.
Di titik ini seketika Alya lupa kalau hubungan ini hanya hubungan cinta satu malam. Ciuman Mark terasa begitu dalam, terasa seperti bukan ciuman hanya karena nafsu. Bahkan saat bibir itu melumat bibirnya pun, pergerakannya tidak memaksa, pria itu justru membuainya dengan lembut, membuatnya ikut hanyut membalas ciuman yang memabukkan itu.
Mark benar-benar pro player. Mark tahu jelas cara menaklukan wanita di atas ranjang.
“You can movehh….”