"Mampus gue, gimana nih. Didalem kan Qila lagi tidur." Batin Alvaro
"Lo napa bengong mulu sih geb?, lo kesambet ya? Kuy lah masuk." ucap Kenzie, sambil merangkul bahu Alvaro dan mengajak masuk bersama Devan, sedangkan Kenzo sudah masuk terlebih dahulu.
"Gilaaaaaaaaaa." Teriak Kenzo didalam kamar ruang osis.
"Ngapain tuh anak teriak-teriak. Kembaran lo gila ya Zi." Devan
"Mampus pasti Kenzie liat Qila nih, harus ngomong apaan gue." Batin Alvaro.
Kenzo pun keluar dari kamar tersebut dan menghampiri sahabatnya.
"Apaan sih Zo?." tanya Kenzie
"Itu tuh lo harus liat sendiri." ucap Kenzo. Kemudian mereka menuju kamar ruang osis kecuali Alvaro, ia memilih duduk disofa ruang santai untuk menyiapkan kata-katanya jika ditanyai oleh sahabatnya.
"Gilaaa, Alvaroo." Ucap Kenzie berteriak dan menghampiri Alvaro diruang santai
"Dasar duokembar gila."ucap Devan kesal.
"Sini lo, jelasin ke kita." ucap Kenzie
"A-apa sih Zi, ng-gak gitu." ucap Alvaro gugup
"Udah ikut aja lah." ucap Kenzie menarik tangan Alvaro menuju ke kamar.
"Tuh liat, lo apain semua ini sampe berantakan semua." Kenzie
"Huftt... Selamet gue. Untung Qila udah bangun. Tapi dia kemana ya?." Batin Alvaro.
"Woy, bengong aja lo Al. Lo pasti habis kesambet kan." Devan
"Ng-gak lah, ini tadi gue habis tidur disini. Terus gue lupa ngerapiinnya." ucap Alvaro berbohong
"Bukannya lo nggak suka berantakan kek gini?." Devan.
"Bene-." ucap Alvaro terpotong.
"Anjir, sepatu nya siapa nih ?." ucap Kenzo saat menemukan sesuatu dan mengambilnya.
"Gila woy, itu punya nya siapa? Itu sepatu cewek kan?."Kenzie
"I-tu punya...." ucap Alvaro
"Pasti lo ngumpetin cewek disini kan? Ngaku lo." Devan
"Boro-boro ngumpetin cewek, deket ama cewek aja nggak pernah."
"Terus ini punya siapa?." Kenzie
"Pu-punya adek gue lah."
"Perasaan adek lo itu badannya kecil masih SMP lagi, masa ukuran sepatunya 40? Terus ngapain adek Lo kesini?" Devan
"Nggak percaya an amat lo. Banyak tanya lagi." ucap Alvaro kesal.
"Ya udah deh percaya gue, tapi awas kalo lo nyembunyiin sesuatu dari kita." Ucap Kenzie lalu merebahkan badannya dikasur dan menonton Tv diikuti yang lainnya.
"Eh ini freeclas kan Al?." tanya Devan
"Iya, sampe pulang katanya Pak Eko." jawab Alvaro, Pak Eko adalah pembina osis di Lentera Internasional School.
"Ini udah jam 12, kurang 2 jam lagi pulang. Gue tidur dulu ah, capek gue." Ucap Kenzie lalu memposisikan dirinya tidur.
"Kembaran lo tidur mulu deh Zo."
"Bukan kembaran gue itu, anak orang hasil mungut." ucap Kenzo
"Aww... " Pekik Kenzo saat bantal melayang ke kepalanya.
"Kalo ngomong yang bener lo Zo."
ucap Kenzie
"Hahaha, sans dong bro." ucap Kenzo.
Pukul 13.56
Alvaro dkk masih saja berada di ruang osis, mereka enggan untuk meninggalkan ruangan ini, karena di ruang osis, nyaman dan sepi. Alvaro sedang mengutak-ngatik ponselnya, Kenzo sedang main game di ponselnya, sedangkan Kenzie dan Devan masih setia dengan tidurnya.
Kringgggggggggg kringggggggggggg
Bel pulang sekolah telah berbunyi, para siswa berhamburan meninggalkan sekolah.
"Udah bel, pulang kuy." ucap Kenzo
"Tuh dua orang nggak lo bangunin Zo?." tanya Alvaro
"Woy bangunnnnnnnnnnnn, udah bel ayok balik." ucap Kenzo berteriak lalu Kenzie dan Devan pun kaget dan membelalakkan matanya.
"Anjirr... Suara kayak toa amat." ucap Devan
"Kalo bangunin yang bener dong Zo, budeg nih lama-lama lo teriak-teriak mulu." ucap Kenzie kesal.
"Bacot lo, yuk lah kita ke kelas ngambil tas abis itu pulang deh." ucap Kenzo
"Ya udah yok lah." ucap Devan. Semuanya berdiri kecuali Alvaro.
"Lo nggak pulang Al?."
"Nanti, gue masih ada urusan."
"Sok sibuk lo nyet." ucap Kenzie
"Gue emang sibuk, iri lo sama gue?."
"Idihhh... Iri sama lo?. Nggak deh, orang cuek sok sibuk kayak Lo gaada yang mau. Idih males, joblo karatan nanti."
"Bilang sekali lagi gue bogem lo." Ucap Alvaro
Kenzie meringis mendengar ancaman teman satu nya ini yang selalu bersikap acuh kepada para wanita-wanita diluar sana.
"Udah yok kita pulang."
"Ayok, kita pulang dulu ya Al, bye-bye." ucap Kenzo
"Hati-hati." ucap Alvaro
Setelah kepergian sahabat-sahabat Alvaro, seorang gadis pun keluar dari persembunyiannya, yang membuat Alvaro terplenjat kaget dan duduk dikasur.
"Gila lo, kaget gue." ucap Alvaro
"Iya lo lah yang gila, ngerti kalo ada gue disini. Malah sahabat lo, lo ajak kesini. Capek gue dikolong kasur dari tadi." ucap Qila kesal lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ya sory lah. Gue tadi udah maksa mereka buat ngga dateng kesini. Tapi mereka malah nyelonong masuk." ucap Alvaro cengingisan
"Gue maafin lo kalo lo traktir gue, laper nih gue." ucap Qila sambil memegang perutnya.
"Eh... Tadi gue udah beli makanan buat lo tapi dimakan Kenzo. Ya udah yuk beli lagi, gue yang traktir." ucap Alvaro
"Oke, gue pake sepatu gue dulu. Lho sepatu gue mana Al?." tanya Qila mencari sepatunya.
"Nggak tau gue, Kenzo tadi nemuin sepatu lo, untung aja gue punya alesan." ucap Alvaro memainkan ponselnya
"Itu salah lo sih."
"Salah in aja terus, emang ya perempuan selalu bener."
"Iya jelas lah, bantu cari Al. Jangan diem aja lo."
"Iya-iya."
"Dimana sih ah, besok-besok kalo gue beli sepatu, gue beli yang ada gps nya deh. Biar kalo ilang bisa dicari." ucap Qila kesal tujuh turunan
"Sa'ae lo, mana ada sepatu kek gituan." ucap Alvaro memutar bola matanya malas.
"Ada lah gue sendiri yang nyiptain."
"Emang lo bisa?."
"Iya bisa lah, jangan panggil gue Aqila Clarissa Adelson kalo gue nggak bisa nyiptain kek gituan."
"Idihhh... Sotoy lo. Ke club aja lo masih diem-diem biar nggak ketahuan papa lo. Masih aja belagu." ucap Alvaro
"Ishhh... Sory lah yaw. Itu namanya bokap gue sayang sama gue."
"Hah? Sayang? Kalo tau bokap lo sayang sama lo, napa lo masih boongin dia."
"Bodo amat lah, gue ke club juga biar gue seneng. Bisa hura-hura sama temen-temen."
"Emang seneng-seneng harus ke club gitu?."
"Ah... Tauk lah, cepetan cari sepatu gue yang bener. Gue udah laper nih."
"Lo aja yang nggak bener, masak nyari sepatu di dalam nakas, mana ada kali."
"Berisik lo."
"Nih ketemu."
"Dimana?."
"Di bawah kasur."
"Keknya barusan gue cari juga di situ deh kok nggak nemu ya."
"Lo aja yang nyari nggak make mata tapi pakek dengkul, makanya nggak nemu-nemu."
"Ishhh.... Capek ngomong sama lo. Ayok buruan gue laper pake banget."
"Mau makan dimana?."
"Britania aja lah, yang deket sini."
Britania
Alvaro dan Qila sudah berada di Britania, Merupakan resto yang cukup terkenal dikalangan masyarakat. Karena makanan yang enak, pelayanan yang bagus dan harga yang tidak terlalu mahal.
"Mbak." ucap Alvaro memanggil waiters
"Iya mas, silahkan mau pesan apa?." ucap waiters sambil memberikan buku menu.
"Saya nggak mbak, dia yang pesen." ucap Alvaro, sambil menunjuk Qila.
Qila menyeringai mendengar perkataan Alvaro "Emm... Saya nasi goreng spesial 1, steak 1, tiramisu 1, milkshake coklat 1 sama thai tea 1.
" Baiklah silahkan ditunggu." ucap Waiters lalu meninggalkan meja mereka.
"Lo pesen segitu banyaknya?, lo kecil tapi makan lo banyak, emang muat perut lo itu?." Alvaro
"Biarin lah, lo nggak iklas traktir gue?."
"Ya nggak gitu lah, nanti kalo makanan yang lo pesen nggak abis. Kan mubazir Qil."
"Kan ada lo, siapa suruh lo nggak pesen."
"Gue udah kenyang Qil, gue nggak mau."
"Ishhh.... Udah lah Al, berisik amat lo." ucap Qila kesal, lalu menyibukkan dirinya dengan ponselnya.
Setelah menunggu beberapa lama makanan pun sudah datang diantarkan oleh waiters.
"Kenapa nggak dimakan sih Qil?." tanya Alvaro
"Gue nggak mau makan kalo lo nggak makan." ucap Qila, yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Ishh... Gue kan tadi udah bilang Qil, gue udah kenyang." ucap Alvaro
"Udah lo bacot mulu, nih steak buat lo. Ntar nasi goreng gue buat lo, kalo gue udah kenyang. Terus nih minuman buat lo." ucap Qila, sambil memberikan steak untuk Alvaro.
"Gila lo, gue nggak mau ya, lo aja lah yang makan." ucap Alvaro kesal
"Kalo nggak mau gue juga nggak mau makan."
"Hufttt... Ya udah gue makan nih, buruan lo makan." ucap Alvaro sambil menghela nafasnya
"Nah gitu dong, kan gue jadi enak kalo gini." ucap Qila sambil menyendokkan nasi goreng nya memasukan ke mulutnya.
Setelah mereka selesai makan, mereka pun segera masuk kemobil untuk pulang
Mobil
"Hufttt... Kenyang gue, makasih ya Al."
"Gila lo, cuma makasih doang?. Yang banyak ngabisin makanan lo tuh gue tadi. Lo cuma makan dikit." ucap Alvaro kesal, bagaimana tidak kesal makanan sebanyak itu, Alvaro lah yang menghabiskan nya bukan Qila , padahal perut Alvaro sudah kenyang.
"Sory deh. Tapi gue kan udah ngucapin makasih. Apa lagi coba." ucap Qila bodo amat.
"Cium gue." ucap Alvaro yang juga menatap Qila.
"Hah? A-apa lo bilang? Nggak mau gue." ucap Qila gugup
"Harus mau Qila, kalo nggak mau, nggak gue anterin pulang lo."
"Ya udah nggak usah anterin gue pulang aja, gue bisa naik taxi." ucap Qila, lalu membuka seatbelt nya.
"Eitsss... Mau kemana lo?." ucap Alvaro menahan tangan Qila
"Ya mau turun lah." ucap Qila menghempaskan tangan Alvaro
"Nggak boleh Qila, lo harus cium gue." ucap Alvaro memegang tangan Qila, dan mendekatkan wajahnya.
"Nggak-nggak gue nggak mau Al, lo maksa mulu jadi orang."
"Alvarooo, jangan deket-deket ihhh." ucap Qila kesal. Alvaro tak menggubris ucapan Qila sama sekali. Dan Alvaro kembali mendekatkan wajahnya ke Qila, dan sudah dekat
7cm
6cm
5cm
4cm
3cm
2cm
1cm