Qila termenung di balkon kamarnya menatap bintang yang masih setia menemani bulan, menikmati semilir angin malam yang menembus tulang nya.
Akhir-akhir ini pikirannya selalu diisi oleh seseorang yang tak lain tak bukan adalah Alvaro. Pria yang berani beraninya mengusik ketenangannya dan mengusik hidupnya, pria yang selalu memaksakan kehendak nya, pria yang sangat susah untuk di tebaknya. Kurang lebih hidupnya tidak seperti dulu lagi, dulu kehidupannya sangat damai tanpa ada seorang pria pun yang mengusiknya.
Biasanya jika ada laki-laki yang mendekatinya, setelah tau sifat asli Qila yang sangat cuek, kurang dari 3 hari. Orang tersebut akan menyerah. Tapi beda dengan Alvaro, pria itu kurang lebih 6 bulan mendekatinya.
Bukannya dia menjauh malahan semakin menjadi hingga akhir-akhir ini dia berani menyentuh tubuh Qila walau tidak diketaui seorang pun. Ia berfikir apa seharusnya ia melaporkannya, tapi mana mungkin semua orang percaya apa yang dikatakannya, karna lelaki itu sangat dikagumi oleh semua guru bahkan para siswa.
Tapi ia pun berfikir, kenapa Alvaro mendekatinya secara diam-diam, entah apa alasan pria tersebut melakukan itu. Mungkin karna dia malu mendekati cewek bad sepertinya.
Tapi kenapa ia ngotot sekali untuk memilikinya. Apa ada rencana lainnya dibalik semua ini, jujur Qila ingin sekali Alvaro menjauhinya, Qila ingin hidup tenang lagi seperti dulu.
Tak ada yang mengganggu pikirannya. Ia ingin Alvaro tak muncul lagi dihadapan nya. Sungguh ia sangat risih melihat kelakuan pria itu yang sangat mesum, akhir-akhir ini.
"Apa gue harus pindah keluar kota ya?." batin Qila
________
Alvaro melamun di taman belakang sekolahnya. Pikirannya masih terngiang-ngiang dengan kata-kata yang diucapkan Qila kemarin.
"Gue bukan pelampias nafsu lo Al. Gue nggak suka lo kek gini." Kata-kata tersebut terus saja menghantui nya, sampai-sampai hampir 2 malam ia tak bisa tidur karna memikirkannya. Ia sadar, sikapnya ke Qila terlalu berlebihan. Sampai-sampai membuat gadis tersebut risih dengannya. Matanya slalu menatap kosong ke depan dan selalu saja kata-kata itu menghantuinya. Hingga ada seseorang mengagetkannya.
"Lo ngapain disini ngelamun?."
"Nggak kok"
"Apa nya yang gak sih Al, lo dari tadi gue panggil nama lo dan duduk disamping lo, masih aja nggak sadar."
"Gue nggak papa, udah ya gue ke kelas dulu."
Alvaro meninggal kan gadis tersebut sendirian, nampaknya gadis itu sangat kesal karna selalu di cueki Alvaro.
Pria itu masih saja tidak menganggapnya, padahal gadis itu sudah menunjukkan perhatiannya dari dulu. Tapi Alvaro sama sekali tidak menggubrisnya. Gadis itu adalah Nesya, kakel yang sangat gencar untuk mendapatkan Alvaro.