Bab 11

2577 Words
11. RUMIT  Apa yang diharapkan ketika hujan jatuh ke bumi ? Meski ia dihujat banyak orang sebab datangnya diwaktu yang tidak tepat, namun selalu akan ada orang yang merindukannya. Belajarlah dari hujan, walau banyak orang yang tak menyukai mu. Tapi pasti ada seseorang yang merindukan mu. Misalnya aku...   Bibir Hans tertarik tak henti-henti ketika dia mengingat perlakuannya pada Umi semalam. Begitu nikmat memang apa yang dijanjikan Tuhan kepada pasangan yang memang halalnya. Mereguh cinta dalam ridho ilahi sangat berbeda cita rasanya. Ibarat sebuah masakan, tak perlu banyak bumbu penyedap namun tetap nikmat. Mengapa bisa? Karena dibuatnya dengan cinta. Bukan hanya sekedar napsu belaka. Percayakah napsu tidak bisa membuat cinta? Percaya saja. Karena saat ini Hans merasakannya. Dulu memang Hans melakukannya dengan orang itu hanya karena napsu mungkin ditambah rasa frustasi atas kehilangan Lara. Tapi kali ini, Hans mengecap rasa yang berbeda saat bersama Umi. Katakan saja ini rUmit. Kenapa harus rUmit? Bukannya Hans melakukannya dengan istri sahnya. Hans menggeleng-gelengkan kepalanya. RUmit disini memiliki arti lain untuk Hans. Rasa yang Umi berikan kepadanya hingga Tindakannya kepada Umi tergabung dalam sebuah kata yang mengapit nama istrinya itu. RumiT.. Mungkin terdengar aneh dan berlebihan. Karena orang yang tengah jatuh cinta pasti akan terkesan gila. Hanya terkesan? Lantas mengapa Hans sampai detik ini masih tersenyum sendiri layaknya orang sakit yang berada dirumah sakit daerah grogol sana? Tok.. tokk.. "Masuk..." ucap Hans. "Permisi pak, ada pak Ricky datang" ucap sekretaris Hans. Hans menarik napas dalam saat tahu siapa yang datang. Perasaan bahagianya tadi lenyap begitu saja. Semuanya tergantikan dengan sesak dibagian dadanya. Hans belum berkata apapun, pria yang bernama Ricky itu telah masuk kedalam ruangan Hans. Mata hitam itu menatap Hans tajam hingga terasa sampai kejantung Hans. Menghentikan pembuluh darahnya yang bekerja mengalirkan darah ke paru-paru. "Ada apa kemari?" Tak kuasa Hans menahan setiap kumpulan kemarahan dalam dirinya. Ingin dia memaki-maki pria ini, namun dia masih beretika. Seburuk apapun pria itu, tetap dia tamu dikantor Hans. "Selvi. Apa benar yang semua Selvi bilang?" Walau suara Ricky tidak seberat Hans, tapi jika mendengarnya langsung semua tahu ricky tengah marah pada Hans. Hans mengerutkan keningnya. Ada masalah apa dia dengan Selvi? Masalahnya terlalu banyak dengan Selvi dan Ricky. Membuat Hans tidak yakin Ricky membicarakan masalahnya yang sama dengan yang dia pikirkan. "Kartu !!!" Kali ini nada Ricky seperti membentak Hans. Tubuh Ricky yang duduk didepan Hans tak luput Hans perhatikan. Dari kedua bola mata laki-laki itu yang bulat dan hitam. Rambut Ricky yang lebat serta kulit putihnya. Jika dibandingkan Hans, tubuh Ricky jauh lebih kecil. Mungkin kalau rambut Ricky dipanjangkan akan terlihat seperti seorang wanita. "Kenapa diam?" Bentak Ricky sekali lagi. Sepertinya virus diam Umi sudah tertular pada Hans, dia tak berkutik saat Ricky membentak dirinya dengan kuat. "Hans, hidup itu berat. Tapi mengapa kau tidak membuatnya semakin mudah?" Kedua tangan Ricky didekap pada dadanya. Seperti layaknya seorang musuh yang sedang menantang lawannya dengan berani. Sedangkan Hans saat ini hanya menunduk seperti seekor ayam yang tidak dapat melihat ketika malam hari menyerang. Menyedihkan. "Aktipkan lagi semuanya, atau kau tau akibatnya" ancam Ricky. "Aku tidak akan mengaktipkan apapun itu. Semua selesai Rick. Aku dan kalian telah selesai. Layaknya permainan, aku telah sampai ke garis finish terlebih dahulu" ujar Hans. "Wow.. jadi Hans yang dulu telah berubah? Jangan pernah mengucap kata selesai sebelum kau tahu artinya seperti apa?" Ketus Ricky. Tatapannya tetap mengintimidasi Hans. Tak ada raut takut dalam diri Ricky untuk melawan Hans. Yang dia percaya, Hans akan mengikuti apa maunya. "Kalau menurut mu semua ini telah selesai, apa kamu tahu kata apa yang mengikuti selanjutnya? Mulai. Bagai putaran jam tidak akan berhenti hingga pusat dari tenaga habis. Seperti itulah yang seharusnya kamu pahami" Tangan kiri Hans memijit-mijit pelipisnya. Begitu rumit masalahnya kali ini. Sudah 26 tahun dia hidup dan baru kali ini ada masalah yang sudah mendarah daging hingga Hans tak yakin mampu menyelesaikannya. "Rick, mengertilah. Aku sudah memiliki istri sekarang. Aku tidak ingin menyakitinya. Permainan kita berakhir Rick" Selembar cek kosong Hans berikan kepada Ricky. Dengan harap-harap cemas Hans menunggu reaksi Ricky selanjutnya. Tak ada gerakan apapun. Sampai detik jam seperti menertawakan mereka yang tenggelam dalam pikiran masing-masing. "Apa menurut mu setelah ini aku akan pergi? Tidak semudah itu. Kau salah menilai ku" "Salah?" Hans tertawa mengejek kepada Ricky. "Aku tidak pernah salah Rick. Selamanya seekor anjing akan memakan makanan yang diberikan oleh tuannya walau ternyata makanan itu mengandung racun. Karena apa, karena anjing hewan peliharaan yang paling setia pada tuannya" "F*ck..." Ricky bangkit dari kursinya dan mendekat kepada Hans. "Ucapkan sekali lagi perumpamaan mu" "Mau aku ulangi pada bagian apa? Bagian anjing yang memakan racun dari tuannya?" Jemari tangan Ricky terkepal kuat. Jaraknya dengan Hans begitu dekat. Kedua mata mereka saling menangkap satu sama lain. Kembali tak ada ucapan yang terlontar dari mulut mereka. Perlahan tapi pasti, Ricky semakin mendekat pada posisi Hans yang tengah duduk bersandar pada kursi kerjannya. Ketika tangan Ricky memegang bahu Hans, Hans menatapnya tidak suka. Ditepisnya tangan Ricky yang tadi berada dibahunya. "Lepaskan tangan kotor mu dari bahu ku !!" "Aku memang kotor tapi jangan pernah lupa, tangan kotor ini yang membawa mu kembali untuk menjalani hidup" Ketika tangannya tadi ditepis oleh Hans, sekarang Ricky memajukan kepalanya hingga tepat disamping telinga Hans, setengah berbisik sesuatu yang membuat Hans tegang sekaligus geram pada Ricky. Ricky tersenyum puas lalu beranjak pergi dari dalam ruangan Hans. Kali ini dia menang, Hans tidak berkutik sama sekali dibuatnya. Anggap saja Ricky mengucapkan kalimat mantra yang bisa membuat Hans mati seketika. Seperti yang sering kita liat di film penyihir cilik anak-anak. "SIAAAALLLLLLL....." Hans menjambak rambutnya kuat-kuat. Niatnya ingin terbebas dari semua ini tapi apalah daya dia tidak mampu. Jeratan itu semakin lama semakin kuat. Bukan hanya kaki dan tangan Hans saja yang terjerat hingga tak mampu melangkah, tapi jantung Hans yang merupakan organ inti dalam tubuhnya kompak terjerat juga dengan masa lalunya itu.   Kali ini, aku pun mulai gila.. Benarkah aku belum lelah dengan semua ini? Kali ini, biarkan aku jujur pada udara.. Benarkah aku terlalu tersiksa saat ini? Aku ragu.. Jika aku menikmatinya juga.. Sungguh Rumit..   *****   Langit senja telah tergantikan dengan gelapnya malam. Rintik hujan seperti mengetahui perasaannya saat ini. Detak hati yang tak menentu, pikiran yang tak tentu arah, hingga perutnya yang terasa tergelitik akan kebahagiaan. Umi mengakui saat ini dia memang tengah bahagia. Menunggu kekasih hati yang belum juga menampakkan batang hidungnya padahal malam telah datang. Segelintir pertanyaan hinggap dihatinya, apa suaminya itu tidak merindukan dirinya? Bahkan seharian ini Hans tidak mengirimkan Umi pesan. Jika Umi mengingat perlakuan Hans semalam begitu berbeda. Tidak ingin berpikiran buruk. Dia kembali menatap rintik hujan yang belum juga reda sejak sore hari. Anggaplah rintik hujan itu adalah cinta. Cinta yang turun tak sedikit hingga membanjiri semuanya. Namun tak tersentuh bagi Hans yang tengah berlindung dengan sebuah atap yang dikelilingi pagar pembatas. Walau cinta itu tidak tersentuh kepada Hans, tapi Umi yakin hembusannya terasa. Biarlah sedikit demi sedikit perasaan yang Umi katakan cinta menghembuskan kesejukan untuk pria yang telah menjadi suaminya itu.   Aku tidak sekejam itu.. Aku bukan jarum dalam jerami.. Aku bukan lilin yang membakar tubuhnya sendiri.. Aku adalah aku.. Perempuan yang berucap cinta.. Tanpa tahu cinta itu seperti apa.. Sebut saja itu cinta.. Tak terlihat.. Tak terbentuk.. Tak terdengar.. Tapi.. Cinta.. Mampu membuat ku menjadi jarum dalam jerami.. Mampu membuat ku seperti lilin.. Apa salah cinta? Dia hanya mengisi ruang kosong.. Bukan dalam hati.. Melainkan otak.. Iya.. otaklah yang memproses semuanya.. Bolehkan aku berucap cinta kepada mu? Walau hanya menggunakan bahasa diam..   Bibir Umi tersenyum senang ketika matanya menangkap mobil Hans memasuki halaman rumahnya. Nissan juke hitam yang telah di perbaiki nampak tetap bagus. Apalagi yang memakai ada Hans dengan postur tubuh yang bisa dikatakan pas untuk ukuran pria. Kaki Umi berlari-lari kecil menuruni anak tangga. Dia harus menyambut Hans dengan senyuman indah. Bukanlah memang itu yang seharusnya seorang istri lakukan. Kegiatan seorang perempuan setelah menikah, memang memperbanyak ridho dari suami agar kelak menjadi bekal untuknya diakhirat nanti. "Assalamu'alaikum.." "Wa'alaikumsalam bang.." Umi mencium punggung tangan Hans. Senyum tak lepas dari bibir ranumnya yang membuat Hans gemas ingin memegang bibir itu. "Kamu udah baikan?" Matanya menatap kearah pangkal paha Umi. Tempat yang menjadi keluhan Umi pagi tadi kepadanya sebelum Hans berangkat kerja. "Aku gak papa bang" jawabnya. "Ish udah sih jangan diliatin gitu" gerutunya. "Bener udah gak papa? Kalau masih sakit kita kedokter saja" bujuk Hans. "Hans.. jangan bikin malu deh" sebuah cubitan Umi berikan tepat diperut datar milik Hans. "Aww.. sakit mi, kamu galak banget sih. Romantis dikit dong sama suami" "Romantis? Suaminya aja begini, ngapain diromantisin" celetuknya. "Hey mau kemana? Temenin aku mandi dong sayang" panggil Hans saat tubuh Umi menjauh darinya yang sedang membuka sepatu. "Mandi sendiri. Aku mau buat teh untuk kamu bang" jawab Umi setengah teriak dari arah dapur. Walau sedikit kecewa, tapi kembali Hans bersyukur pada Allah telah mengirikam Umi padanya. Sekali lagi Hans percaya Umi akan membantunya.   *****   Hans nampak segar dengan rambut masih terlihat basah sehabis mandi. Sebelah tangannya masih sibuk dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambut. Sedangkan tangan kirinya memegang ponsel, mencoba menjawab pesan-pesan singkat dari BBM nya. "Abang..." lirih Umi. Dia merasa cemburu pada Hans masih saja sibuk dengan ponselnya padahal Umi sudah menurunkan egonya untuk bermanja ria dengan Hans. "Iya sayang.." diletakkanya ponsel itu diatas nakas, lalu handuk yang tadi Hans pakai dilemparkan sembarang kearah dalam kamar mereka. Tubuh besar Hans berusaha masuk kedalam selimut tebal yang menutupi tubuh Umi. "Kenapa?" "Aku bosan bang, seharian ini aku cuma makan, tidur, makan, tidur. Gak ada kerjaan. Aku nyesal keluar dari pekerjaan ku. Tapi.." "Bukannya kamu yang memilih untuk keluar?" Umi menyesal karena lupa untuk menceritakan ini. Yang Hans tahu Umi keluar karena dirinya memang ingin fokus dirumah. Tapi dibalik itu, sebenarnya bos Umi yang membuatnya harus keluar. Dengan rasa ragu bercampur takut, Umi menceritakan semuanya pada Hans mengapa dia harus keluar dari kantor. Awalnya Hans tidak percaya. Tapi dari raut wajah Umi tak ada sedikit pun kebohongan yang tercipta. "Apa semua laki-laki seperti itu?" Tanya Umi. "Iya. Ehm. Maksud ku, tidak semua mi. Ada yang seperti bos mu itu bermain api tapi tak pernah berpikir jika api itu akan bisa membakar dirinya sendiri" Hans melirik sekilas kedua mata Umi yang masih menunggu penjelasannya. "Ada juga yang setia. Seperti ketulusan mas mu pada istrinya" "Kenapa harus mas Fatah yang menjadi contoh? Mengapa bukan abang?" Sindir Umi. "Ah, aku tahu. Apa karena aku pernah melihat bukti itu" "Iya. Itu salah satunya. Tapi percayalah kali ini aku tengah belajar menjadi imam yang baik untuk mu." "Bagus kalau sadar akan kesalahannya" "Karena sadar, aku melakukan ini. Mengakui semua kesalahan ku. Tanggung jawab atas kesalahan itu sulit mi, tapi lari dari tanggung jawab jauh lebih sulit" "Loh kenapa sulit? Bukannya ada pribahasa 'lempar batu sembunyi tangan' ?" Hans tertawa, dia lupa sedang berdebat dengan siapa. Perempuan yang sudah lebih dari 6tahun dikenalnya. Dia merasa akan menjadi topik yang menarik untuk malam ini. Ditemani dengan rintikan hujan dan pelukan hangat dari Umi. "Benar mi, memang ada pribahasa begitu. Tapi pribahasa itu lahir karena kita juga yang membuatnya. Bagi masyarakat Indonesia "tanggung jawab" diartikan sebagai keharusan untuk "menanggung" dan "menjawab" dalam pengertian lain yaitu suatu keharusan untuk menanggung akibat yang ditimbulkan oleh perilaku seseorang dalam rangka menjawab suatu persoalan atau kesalahan. Jelas terlihat itu sangat sulit dan berat untuk dijalani. Apalagi jika ada cara cepat dengan berkata 'itu bukan salah ku' semua akan beres. Lantas untuk apa tanggung jawab?" "Nah itu tau. Percuma kalau tanggung jawab setengah hati" potong Umi cepat. "Dengerin abang dulu mi, abang belum selesai" "Iya Umi dengerin. Tapi kalau abang ngomongnya ngawur Umi potong ya penjelasannya" celetuknya. Kepala Umi semakin mendekat pada d**a Hans. Sebelah tangan Hans mengusap lembut punggung Umi dengan sayang. "Kita sebagai manusia tidak akan tahu apa yang akan dihadapi ketika kita lari dari tanggung jawab. Bahkan saat aku berada didepan rumah ini, aku tidak dapat melihat apa yang akan terjadi diujung jalan sana. Kamu tahu kenapa? Karena jalannya berliku. Sama seperti itu kira-kira orang yang melepas tanggung jawabnya." Jelas Hans. "Lalu?" "Aku ingin ceritakan sedikit kisah salah satu nabi kita. Mungkin cerita ku ini tidak sebanding dengan mas mu. Apalagi jika aku ingat dulu waktu diseminar itu dia begitu ahli dalam menjelaskan. Aku tidak..." "Ayolah jelasin coba. Aku kan pengen denger dari kamu bukan dari mas Fatah" Hans tidak dapat menutupi senyumannya. Dia bahagia mendengar ucapan Umi barusan. Jika memang Umi ingin mendengar penjelasannya, dia akan terus belajar agar dia bisa menjelaskan dengan detail apapun itu kepada Umi. "Jadi begini mi, kamu tahu Nabi Yunus?" "Tau. Kenapa dia?" "Dia pernah kabur dari tanggung jawab. Dulu sekali Allah mengutusnya untuk mengajak penduduk beriman kepadaNya. Namun Nabi Yunus mengalami kesusahan. Penduduk-penduduk itu tidak mau menuruti permintaan Nabi Yunus. Hingga suatu ketika dia memutuskan menyerah dan lari dari tanggung jawab. Dia kabur menggunakan perahu besar dan meninggalkan negeri itu. Hingga dipertengahan jalan, perahu besar itu ada sedikit hambatan yang terjadi. Perahu itu dihadang seekor ikan paus yang besar" "Seberapa besar?" Potong Umi cepat. Sesungguhnya Umi sudah tahu mengenai cerita ini, tapi dia menjadi tertarik karena Hans menceritakan kisah ini dengan caranya sendiri. "Segini..." jawab Hans sambil merentangkan kedua tangannya lebar. "Masa segitu doang. Kurang kali" "Ya udah segini..." Hans memegang tangan Umi dan merantangkan kembali tangannya dengan tangan Umi. "Cukup gak besarnya?" "Kurang masih.." "Kamu tahu dari mana kalau ini kurang besar?" Keluh Hans. "Kan Nabi Yunus dimakan sama ikan itu, kalau ikannya lebih kecil dari Nabi Yunus, lalu gimana ikan itu makannya?" Umi merutuki kebodohannya. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu. Harusnya sejak awal dia masih berpura-pura tidak tahu hingga akhir. "Kamu udah tahu ceritanya? Gak seru.." cibir Hans. Tubuhnya kembali berbaring diranjang. "Ih, gitu aja ngambek. Iya aku udah tahu, tapi aku lupa. Coba jelasin lagi" rengek Umi. "Kalau kamu udah tahu, buat apa aku ceritakan lagi. Bahkan mengulang cerita yang lucu pun tidak serta merta membuat orang tertawa berkali-kali" "Hans.. kamu salah. Memang cerita lucu yang diceritakan berkali-kali akan 'garing' hingga tak mampu membuat orang tertawa. Namun berbeda jika sebuah ilmu diceritakan berkali-kali. Ilmu itu akan menjadi bermanfaat. Bukan hanya untuk yang menceritakan tapi untuk yang mendengarkan" Jari lentik Umi mencolek-colek pipi Hans yang putih bersih tanpa bulu. "Ayolah abang sayang, jangan ngambek. Gitu aja dibuat rumit sih" "Aku jelasin intinya aja" ujar Hans sedikit kesal. "Tanggung jawab akan sangat menentukan harga diri dan martabat seseorang. Semakin seseorang bertanggung jawab, maka akan semakin tinggilah martabatnya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia" "Benar..." seru Umi. "Sedangkan dunia ibaratnya adalah ikan paus yang sangat ganas. Ia akan menelan setiap mangsa yang kalah dalam persaingan hidup, salah satunya adalah manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab dengan dirinya. Jadi jika masih ada orang yang bilang 'bukan salah saya' lemparkan saja tubuhnya kemulut ikan paus" ucap Hans gemas ketika Umi menatapnya dengan tatapan mengejek. "Dih, inti penjelasan apaan tuh? Gak bagus banget" keluh Umi. "Kamu itu diawal ngejelasinnya rumit banget. Tapi akhirnya cuma kayak tiupan angin. Gak berguna" Kedua mata Hans terpejam sejenak. Kata-kata Umi benar-benar sudah menusuk kedalam ulu hatinya. Sakit. Memang dia bukan laki-laki sempurna yang cocok menjadi imam dari seorang perempuan seperti Umi. Tapi apa harus Umi berkata sedemikian menyakitkan? "Kau yang tak mengerti. Hal yang sederhana selalu kau buat rumit" tanpa melihat kearah Umi, dia keluar dari kamar. Menenangkan pikirannya sejenak adalah hal terbaik untuk saat ini.   Aku termenung.. Khususnya malam ini.. Tak mengerti.. Akan arti dari sebuah hubungan.. Terasa ringan.. Tapi begitu rumit.. Atau aku saja yang merasakannya.. Entahlah.. Setahu ku hanya komunikasi yang mampu meluruskan.. Menghilangkan penasaran.. Menghentikan aku menebak-nebak.. Bicaralah sekarang.. Atau aku memilih berhenti untuk lelah.. ---- Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD