Bab 14

2245 Words
14. SENYUMAN YANG HILANG  Mari melaju dengan sebuah kata kebersamaan. Walau ku tau tak ada kamus bersama lagi..   Umi menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidur. Rasa pening kembali menyerangnya. Hanya karena sebuah kalimat singkat yang Hans ucapkan mampu membuatnya terpuruk seperti ini. Sudah cukup Umi tidak akan bertanya apa-apa lagi. Dia telah paham semuanya. Manusia hidup karena ada masa lalu. Begitu pula Hans. Dan Umi memaklumi jika Hans mau kembali kepada masa lalu nya yang bahkan Umi tidak tahu seperti apa. Dia tidak ingin menjadi perempuan egois yang memaksakan perasaan yang sama kepada Hans. Pria itu pantas bahagia. Karena memang sejak awal pernikahan mereka, tidak ada kata cinta yang terucap. Umi tidak menunggu Hans selesai mandi. Dia lebih memilih untuk istirahat dan berbaring membelakangi bagian yang biasa Hans tempati. Ketika ada pergerakan dibelakang posisinya berbaring. Umi tahu itu pasti Hans yang telah selesai mandi. Wangi dari sabun dan cologne Hans begitu menyeruak masuk kedalam indera penciuman Umi. Tidak ada lagi lengan kekar Hans yang biasanya selalu memeluk Umi dikala malam. Tidak ada lagi hembusan napas Hans yang selalu menggelitik di bagian leher Umi yang menjadi tempat favorit Hans. Tidak ada lagi bisikan gombal dari Hans sebelum mimpi indah menjemputnya. Dari seperti ini saja sudah bisa dipastikan Hans menjaga jarak dengan Umi. Bahkan untuk tidur satu ranjang bersama hanya demi sebuah status suami istri. Dalam diam Umi menggigit bibirnya kuat. Dia ingin sekali menangis. Tapi sialnya dia tidak mampu. Hanya rasa sesak yang dia rasakan. Air matanya pun seperti bersekongkol dengan dirinya, jika dia tidak pantas menangisi pria seperti Hans. Sekian lama dalam diam, Umi bisa merasakan Hans bangkit dari tidurnya dan pergi keluar dari kamar meninggalkan Umi sendiri. Ya Allah, Umi menjerit dalam dirinya. Salah apalagi dia? Apa dia masih kurang baik melayani Hans selama ini? Umi bertanya dalam hati, mengapa manusia disatukan dalam ikatan suci jika hanya untuk saling menyakiti. Apa Tuhan sedang mengujinya atau Tuhan sedang menertawakan kebodohan umatNya? *****   Suara gemuruh yang terdengar dari luar kamar Umi membuatnya terbangun dari tidur. Jarum jam yang terletak diatas nakas baru menunjukkan pukul 2 malam. Tapi kedua mata Umi sudah tidak bisa terpejam lagi. Tanpa Umi melihat pun, dia tahu bagian sebelah ranjangnya hanya berisikan udara dingin malam tanpa adanya sosok pria itu. Lalu dimana kah Hans tidur? Umi ingin mencari tahu keberadaan Hans. Dia keluar dari kamar menuju ruang keluarga rumahnya. Suasana rumahnya masih sangat gelap. Belum ada tanda-tanda keluarganya yang bangun. Biasanya Fatah lah yang pertama kali bangun untuk sholat malam. Tapi ini baru jam 2 pagi. Umi yakin kakaknya itu belum bangun dari mimpi indahnya bersama Sabrin. Sampai diruang keluarga, Umi kembali dihadapkan dengan udara malam yang dingin. Ditambah guyuran hujan lebat diluar yang semakin membeku kan suhu ruangan. Karena tidak menemukan Hans di ruang keluarga, Umi semakin penasaran kemana perginya Hans? Dia berjalan kedapur namun masih kegelapan malam yang menyapanya. Disibaknya gorden pada jendela dapur yang berhadapan dengan garasi rumahnya, dari tempatnya sekarang Umi masih bisa melihat mobil nissan juke hitam terparkir didalam garasi rumahnya. Yang membuatnya bingung saat ini, kemana perginya Hans? "Belum tidur?" DEG.. Hans menatap tubuh Umi dari atas hingga bawah. Malam ini baju tidur sutra yang menutupi tubuh Umi terlihat sangat indah. Lekukan tubuhnya terlihat jelas. Pikiran nakal Hans sebagai seorang pria tengah diuji. Dia tidak mungkin mengajak Umi untuk beribadah suami istri jika sekarang ini saja Umi masih dalam kebingungan atas jawabannya. "Aku.. aku..." "Jangan keluar kamar tanpa jaket. Kamu bisa masuk angin pakai baju tidur begitu" Hans melangkah semakin dekat kearah Umi. Dari posisi Umi saat ini dia sedikit ketakutan. Umi berusaha menebak-nebak apa yang akan dilakukan Hans. Jika dalam novel romance yang Umi sering baca, pria dalam posisi ini bersama wanita yang dicintainya akan melakukan hal yang membuat mereka merasakan kenikmatan tiada tanding. Tapi masalahnya, Hans dan Umi tidak saling mencintai. Bukan.. lebih tepatnya Hans tidak mencintai Umi. Sedangkan Umi, sejak pertama melihat Hans di MABA dulu, Umi yakin Hans adalah pria baik-baik. Didunia ini, perempuan mana yang tidak akan jatuh cinta dengan pria baik-baik? "Kamu kenapa?" Terlalu lama melamun, ternyata Umi salah mengartikan gerakan Hans tadi. Kedua alis Hans saling bertautan. Tangan kanannya menggenggam gelas yang berisi air putih. Tidak ada gerakan-gerakan indah yang Umi khayalkan tadi. Semua itu hanya ada didalam novel yang suka dikhayalkan orang. "Tidurlah. Aku masih ada pekerjaan" jelasnya. Tubuh tinggi Hans sudah meninggalkan Umi yang masih saja mematung. Hans masuk kesalah satu ruangan dalam rumah mama yang biasanya digunakan sebagai perpustakaan. Perasaan lega kembali mengalir dihati Umi. Pikiran buruk tentang Hans yang pergi meninggalkannya hilang sudah. Ternyata Hans hanya sedang menyelesaikan pekerjaan kantornya. Tidak ada adegan kabur-kaburan seperti disinetron ketika sepasang suami istri tengah ada masalah. Kehidupan tidak seburuk sinetron. Kehidupan real itu lebih kepada apa yang di rasakan dan apa yang dipilih untuk dijalankan. *****   Tangan kiri Hans memijit batang hidungnya. Tubuhnya sudah meminta untuk diistirahatkan, tapi pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan. Karena tadi dia memilih untuk pulang lebih awal, akhirnya semua pekerjaan kantor dikirim oleh asisten Hans melalui email. Agar Hans masih bisa mengeceknya ketika dirumah. Jari-jarinya masih berada diatas laptop. Akan tetapi matanya menatap tajam kedalam sebuah lukisan indah. Dimana didalam lukisan itu ada seluruh keluarga Umi, termasuk Umi didalamnya. Hans mengira-ngira kapan lukisan itu dibuat. Karena yang terlukis disana hanya wajah polos Umi tanpa hijab dikepalanya. Didalam lukisan itu, Umi tersenyum sangat lepas. Seperti tidak ada beban sedikitpun. Tangan kanan Hans mencengkram d**a kirinya kuat. Penyesalan itu kembali lagi. Jika kata seandainya mampu dia gunakan dengan baik, tidak akan ada tangis dan wajah sedih Umi.   Ingin rasanya aku memaksamu.. Tapi aku menyadari memaksa itu bukan jalan terbaik.. Karena itu ikuti kata hatimu.. Jangan pernah ada kebohongan.. Seperti diriku yang selalu membohongi mu.. Dimana ego adalah segalanya.. Kini membuatku terluka karna aku tahu.. Suatu saat aku akan kehilanganmu..   Usapan lembut Umi terasa hangat di kepala Hans. Dengan jari telunjuknya ditelusuri rahang kokoh Hans yang sekarang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus. Dengan telunjuknya juga, Umi mengusap lembut bibir tebal Hans. Ucapan terima kasih terus memenuhi relung hati Umi. Tuhan memang begitu adil menciptakan manusia dengan segala keindahannya. Walau tak bisa Umi pungkiri, manusia juga merupakan mahkluk Tuhan yang sering sekali membuat kesalahan. Bahkan kesalahan fatal yang seperti Hans lakukan. "Bang.. bangun" panggil Umi. Dia menepuk-nepuk lembut pipi Hans. Ketika Hans tersadar dari tidurnya, punggungnya terasa sangat sakit. Semalaman ternyata dia tidur dengan posisi duduk seperti ini. Begitu tidak nyaman. "Mandi sana, kamu kekantor kan?" Kepala Hans mengangguk, dia tersenyum bahagia kepada Umi. Walau Umi tidak membalas senyumannya, tapi dia tahu Umi bukan perempuan yang lepas tanggung jawabnya sebagai istri. Diatas ranjang sudah rapih tertata pakaian yang akan dipakai Hans pagi ini. Hal apalagi yang harus Hans minta pada Umi? Semuanya telah Umi berikan dengan baik. Dan mudah-mudahan membawa hal baik juga. Dalam kegiatan makan pagi bersama pun, Umi masih melayani dia. Mengambilkan nasi serta lauk pauk yang ingin Hans makan. Namun tetap saja tidak ada senyum bahagia dari bibir Umi. Hans semakin merasa menjadi laki-laki terjahat sedunia karena membuat istrinya hidup seperti ini. 'Ya Allah mengapa rasa penyesalan selalu datang terlambat?' Lirih hati Hans. Selama perjalanannya kekantor, Hans semakin tidak bisa berkonsentrasi. Dia ingin mengembalikan senyuman Umi lagi. Tapi bagaimana caranya? Mengaku semuanya didepan Umi sama saja membunuhnya. Yang ada bukan senyuman itu datang tapi banjir air mata yang akan Hans temukan. Dia tahu benar karakter Umi seperti apa. 6 tahun bersahabat sudah cukup buat Hans mengenal Umi. Perempuan yang selalu menggunakan topeng sebagai pelindung dirinya. Selalu berucap bahagia tapi hatinya menangis. Selalu penuh dengan canda tawanya, tapi dirinya membeku didalam. Untuk itu, Hans benar-benar belum siap melihat Umi hancur berkeping-keping. Dan yang membuat Hans semakin takut karena dialah Umi akan hancur. Sesampai Hans dikantor masalahnya tidak henti-henti datang. Pagi-pagi seperti ini, Selvi sudah duduk manis didalam ruang tunggunya. Wanita ini tersenyum sinis kepada Hans. "Mau apalagi?" "Hans..." "Cukup Sel, aku bukan mainan kalian. Aku tahu kalian tengah tertawa ketika aku terhimpit seperti ini. Katakan apa yang bisa membuat kalian berhenti?" "Aku sudah katakan apa yang aku mau?" "Apa? Uang?? Yakin kamu mau uang?" Bentak Hans. "Kau kenapa Hans?" Selvi mendekat ketempat Hans berdiri. Diusapnya bidang d**a yang yang terbalut kemeja hitam. "Jangan membuat ku takut seperti ini" "Cukup sandiwara mu. Aku tidak butuh" Selvi tertawa puas lalu mencibir sini ke Hans. "Aku tahu kau butuh dia. Tapi tuntaskan dulu mau ku" "Kemarin aku sudah memberikan cek kosong kepada Ricky. Tapi dia tidak menerimanya" bentak Hans. "Dia bukan aku Hans. Kami memang sahabat tapi kami berbeda" "Iya, kalian berbeda. Hingga aku tidak sama sekali mengenal kalian sebenarnya siapa" sindir Hans. "Apa yang mau kau tahu?" Selvi mengalungkan kedua tangannya pada leher Hans. Hans menatap tajam pada kedua mata hitam Selvi. Respon tubuhnya berbeda ketika bersentuhan dengan Umi. Walau Selvi telanjang sekalipun didepan wajahnya, dia tidak akan menyerang wanita itu. "Aku tidak ingin tahu apapun. Aku mengenal kau Sel, kau itu wanita berbisa. Aku bingung kenapa dulu Lara bisa berteman dengan mu???" "Lara? Dia hanya perempuan bodoh yang ku manfaatkan. Awalnya ku pikir Umi bisa semudah Lara untuk diperdaya. Tapi ternyata jauh diluar pemikiran" Kali ini Hans yang tertawa puas. Umi memang perempuan tangguh, tidak mungkin hanya karena Selvi Umi terpengaruh. "CUKUP !!! Tolong lepaskan tangan mu" entah datangnya dari mana, tubuh Umi sudah berdiri tegap didepan pintu ruangan Hans. Matanya menatap tajam kearah Selvi yang masih mengalungkan lengannya dileher Hans. "Apa anda tidak bisa mendengar ucapan saya? TURUNKAN TANGAN ANDA DARI TUBUH SUAMI SAYA" Akhirnya Selvi melepaskan pelukannya. Dia sedikit ragu menatap Umi. Tapi dia juga tidak ingin seperti pengecut. "Aku tahu Tuhan sudah menciptakan alam semesta ini dengan adil. Ada hewan, ada tumbuhan, ada manusia. Ada jin ada malaikat. Ada kebaikan ada kejahatan. Ada sebab ada akibat. Ada perempuan gatel seperti anda, ada juga perempuan yang mati-matian mempertahankan kehormatannya." Jelas Umi. "Mi.." "Tolong diam dulu bang. Aku sedang bicara dengan perempuan didepan ku. Kemarin dia berkata, maling akan diam jika ketahuan. Dan lihatlah sekarang? Dia bahkan lebih parah dari maling. Setidaknya maling bukan memakai kedok sahabat saat melakukan aksinya" "Lihatlah Hans. Seperti ini perempuan yang kau bela? Kau tahu Hans, dia kemarin memfitnah ku. Lalu untuk apalagi kau pertahankan? Bahkan kau tidak mencintai dia kan?" Hasut Selvi. Hans diam tak mampu menjawab. Dirinya tengah berjuang yang mana dari kedua wanita ini yang akan dibantu nya. Kemarin Selvi sudah mengirimkannya pesan yang dimana isinya memojokkan Umi. Dan sekarang Umi dihadapannya berkata seolah-olah dia tahu segalanya tentang masalah ini. Umi meringis sedih dengan nasibnya. "Tidak perlu dijawab bang. Tidak perlu menaburkan garam diluka yang masih basah. Aku sudah tahu apa yang akan abang jawab" jelasnya pelan. Awalnya Umi mendatangi Hans pagi-pagi dia ingin meminta maaf dan ingin mencoba memahami Hans. Apa saja yang dibutuhkan suaminya itu. Tapi melihat kondisinya seperti ini dia tidak yakin dibutuhkan. "Please mi. Jangan salah mengartikan apapun" "Jika memang aku salah, aku hanya perempuan buta dengan semua ungkapan pria yang berstatus suaminya hanya karena terpaksa" "Mi.." "Mulai lagi" gumam Selvi. "Aduh please kalau mau main drama mending daftar menjadi cast cerita dinovel. Jangan disini deh" "Andai hidup adalah drama dalam sebuah novel. Hanya ada dua pilihan pada bagian akhirnya. Apa akan sad ending atau happy ending. Dengan kedua pilihan itu kita juga harus bisa menahan perasaan. Tidak selamanya happy ending berakhir dengan tawa. Kadang tangis bahagia juga menjadi bagian dari akhir cerita. Lalu sad ending, tidak juga harus berurai air mata. Tapi dengan senyum palsu juga bisa mengakhiri kisah tersebut. Tinggal bagaimana pilihan yang kita mau. Dan satu yang perlu ku tekankan. Hanya didalam drama pemeran pria akan berubah menjadi baik dan lantas mencintai pasangannya lalu bisa hidup bersama selamanya. Tapi di real? Nihil" "Kamu nyindir aku?" Tatap Hans tidak percaya. "Bukan. Aku menyindir pak Kardi supir Sabrin" muka kesal bercampur sedih dia alihkan dari tatapan mata tajam Hans. "Sudahlah. Sepertinya waktu ku sudah habis. Semoga kalian bisa meneruskan MEETING kalian" ditekannya kuat kata meeting disana biar semua orang paham. "Hans.." panggil Umi sebelum dia melangkah pergi. "Apa sebab akibat akan selalu seperti masa lalu dan masa depan yang berjalan beriringan?" Lidah Hans mendadak keluh. Jujur saja Hans sudah capek mendengar kalimat masa lalu dan masa depan yang dikaitkan. "Diam mu menjawab pertanyaan ku barusan. Satu yang harus kamu tahu Hans. Perempuan itu lebih sensitif dari laki-laki. Jika dia sedang dibohongi, dia akan merasakannya. Tidak perlu bohong untuk menutupi apapun. Karena satu kebohongan menimbulkan kebohongan yang lain" jelas Umi. Umi memilih untuk keluar dari ruangan Hans. Bukan hanya hatinya yang sakit. Tapi fisiknya juga ikut merasa sakit jika terus bersama dengan pria itu. Sedangkan yang dirasakan Hans lebih parah. Dalam dirinya terasa kehilangan. Walau dia masih berharap Umi tidak marah serius dengannya, tapi ada satu bagian dalam dirinya merasa Umi pantas marah. Karena memang benar, ini semua karena Hans. Bukan karena hal lain. "Hans..." "Stop Sel, aku lelah. Keluar kau sekarang" "Aduh Hans. Aku lagi gak bercanda.. cepat aku butuh uang mu" Selvi tersenyum sambil terus memohon kepada Hans. Harga dirinya sudah dia buang jauh-jauh demi uang. "CEPAT KELUAR" teriak Hans. "Aku hanya ingin satu, berikan segala kebutuhan ku seperti dulu maka kamu akan ku lepaskan" "In your dream" sahut Hans. "Stop senyum jelek mu itu. Bagi ku tidak perlu berpura-pura baik untuk menjadi sahabat ku. b******n sekali pun akan aku jadikan sahabat. Lebih baik tertawa bersama orang jahat dari pada tertawa bersama seorang penipu" Hans mencengkram kuat lengan selvi. Lalu dihempaskan keluar pintu ruangan Hans. "Jangan pernah kembali lagi!!!!"   Jangan biarkan aku menatap punggung mu lagi. Tunjukkan aku semua kesedihan dalam hidupmu, agar aku bisa mengobatinya walau harus dengan luka yang lain. ----- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD