9. SIAPA DIA?
Jangan pernah salahkan keadaan, jika tetap ingin melangkah. Berdirilah kokoh ditengah perubahan, sekalipun itu 'sendiri'.
Sepanjang hari kegiatan Umi dikantor hanya tersenyum memandangi bunga-bunga yang begitu banyak memenuhi meja kerjanya. Bahkan note yang berisi puisi-puisi romantis sengaja dia tempelkan dilayar monitornya. Hingga akhirnya Umi pun kesulitan sendiri untuk menatap layar monitornya tersebut.
"Dari pagi masih aja senyam senyum. Awas kering gigi mu" goda atasan Umi yang selalu saja genit dengan dirinya. Sudah dua minggu Umi pindah dari kantornya di Korea Selatan ke Jakarta. Dan selama dua minggu itu juga bos nya ini begitu genit.
"Ada yang salah memang kalau saya senyum sendiri?" Ketus Umi.
"Kamu mi, gitu aja marah" cibir pak Rudi -bos Umi-
Bibir Umi bergerak-gerak menirukan ucapan menjengkelkan pak Rudi barusan. Dia selalu saja emosi dibuat oleh atasanya ini. Jika tidak punya tata krama, Umi bisa saja langsung pergi menghindar dari pak rudi.
Wajah Umi mendadak merah ketika pak Rudi dengan seenaknya memegang bahu Umi. "PAK.. BISA GAK JAGA SOPAN SANTUN" Maki Umi.
Kontan saja seluruh pegawai yang berada satu lantai dengan Umi melihat kearahnya. Wajah kesal ditambah napas yang memburu Umi perlihatkan didepan pak Rudi. Buku-buku tangannya sudah memutih karena dikepal terlalu kuat. "JANGAN SAMAIN SAYA DENGAN PEREMPUAN YANG SERING BAPAK GODA !!!" teriaknya lagi.
"Saya hanya menyentuh bahu mu saja" tak ada rasa bersalah sedikit pun yang pak Rudi tunjukkan kepada Umi. Yang terlihat dari mata Umi, pak Rudi tampak menikmatinya.
Jari telunjuk Umi tertuju kearah wajah pak rudi "Asal bapak tau. Haram bagi saya perempuan muslim disentuh oleh laki-laki yang bukan mahram ku !! Apalagi laki-laki itu seperti bapak yang tidak tahu diri, tidak punya otak. Yang ada hanya napsu melebihi napsu hewan. Bapak manusia atau hewan???"
"Jangan ucapan mu. Wanita semua sama saja. Suka dengan pria kaya raya. Bahkan rela dinikahi walau tanpa cinta. Apa uang sudah merubah segalanya? Aku tahu suami mu pria kaya, jadi aku yakin dirimu menikah dengannya hanya karena uang"
Kedua mata Umi terpejam sesaat. Sulit sekali memendam amarahnya. Sudah berkali-kali dia mengucapkan istigfar didalam hatinya. Tapi tak berpengaruh sedikit pun. Kekesalannya terhadap atasanya sudah mencapai ubun-ubun.
"Nilailah saya sesuka hati bapak. Yang jelas saya tidak merasa sama sekali. Dan mulai saat ini saya mengundurkan diri dari perusahaan ini. Saya bukan orang bodoh yang mau di permainkan oleh laki-laki semacam anda" ucap Umi tegas. "Dan selamat siang"
Tangan Umi langsung meraih tas nya dan berjalan pergi keluar dari kantor. Perasaan sesak memenuhi setiap rongga dadanya. Baru kali ini ada laki-laki kurang ajar padanya. Memegang dirinya yang bukan mahram dari laki-laki tersebut. Sungguh atasanya itu sangat menjijikan.
Umi menghentikan taksi yang melintas didepannya. Entah harus kemana dia sekarang. Dia ingin menenangkan hatinya sejenak baru dia kembali pulang. Jika dia pulang dalam keadaan emosi seperti ini pasti mama akan khawatir padanya.
"Mau diantar kemana bu?" Tanya supir taksi.
"Ke daerah tomang pak" Umi menyebutkan nama perusahaan milik Hans sebagai tujuan supir taksi itu. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Hans. Mungkin Hans dapat menenangkan hatinya. Tapi apakah Hans sudah kembali dari pabriknya di Cibinong?
Langkah kaki Umi terhentikan saat didepan pintu masuk. Seorang security itu menanyakan id card pada Umi. Disangkanya Umi merupakan salah satu pegawai dari kantor tersebut.
"Maaf pak, saya mau bertemu dengan pak Hans" jelas Umi.
"Sudah buat janji bu?" Kali ini seorang receptionist cantik yang bertanya pada Umi.
"Belum mba. Tolong sampaikan saja Umi datang"
"Maaf bu, jika belum buat janji saya tidak bisa membantu. Karena pak Hans sedang tidak ada ditempat. Beliau sedang berada di Jerman" ucap receptionist itu.
"APA DI JERMAN???" teriak Umi. Dia begitu kaget mendengar kabar itu. Bagaimana bisa Hans berada di Jerman. Jelas-jelas pagi tadi Hans berkata ingin ke pabriknya yang di Cibinong. Sebenarnya ada apa ini?
Dengan emosi yang semakin bertambah, Umi lantas menghubungi Hans. Umi merasa dibohongi oleh Hans. Pria itu berkata tadi pagi ingin pergi kepabriknya mengapa siang ini dia sudah berada di Jerman.
Ketika Umi sedang sibuk menunggu jawaban dari panggilan teleponnya. Dia mendengar suara seorang wanita disampingnya bertanya juga pada receptionist tadi.
"Siang mba..."
"Siang ibu Selvi, ada yang bisa dibantu bu?"
"Hans ada?"
Umi yang mendengar nama Hans disebut langsung saja berbalik menatap wanita yang berdiri membelakanginya. Dari atas hingga bawah Umi memperhatikan wanita itu. Rambutnya yang hitam panjang. Serta body nya yang bisa Umi katakan sangat sexy. Pakaian yang membalut tubuh wanita itu begitu minim hingga kaki nya yang sangat panjang terlihat.
Pikiran negatif lantas menghampiri pikiran Umi. Apa seperti ini semua rekan bisnis Hans?
"Sebentar ya bu, saya tanya kan dahulu"
Rasa kesal dalam diri Umi semakin memuncak. Bagaimana bisa receptionist itu menghubungi Hans waktu wanita ini datang. Sedangkan dia yang nyatanya istri Hans tidak diberitahu keberadaannya. Memang semua orang dikantor Hans belum mengetahui jika Hans sudah menikah. Karena pernikahan Umi dan Hans baru sebatas ijab kobul. Belum ada pesta meriah untuk merayakannya.
Tarikan napas lelah keluar dari bibir mungil Umi. Dia terus meratapi nasib dirinya kini. Ponsel ditangannya yang menghubungi Hans belum terhubung juga.
"Sudah ditunggu diatas bu" jelas receptionist itu.
"Terima kasih"
"Sama-sama ibu Selvi"
Sebelum melangkah pergi, wanita itu melirik Umi sekilas. Lalu senyum meremehkan tergambar jelas dibibirnya. Menurut Umi wajah wanita itu sedikit familiar diingatannya. Tapi dia tidak ingat pernah bertemu dimana dengan wanita itu.
Saat wanita itu sudah pergi, kembali Umi mendekati meja receptionist itu.
"Maaf mba, wanita itu sering kesini?"
"Maksud ibu siapa?"
"Itu wanita yang barusan" Umi menunjuk kearah perginya wanita tadi.
"Oh, ibu Selvi? Beliau memang sering kesini. Biasanya bersama bapak Hans" Kedua alis Umi saling bertautan. Ribuan pertanyaan langsung menghinggapi pikirannya. Ternyata wanita sexy itu biasa datang kesini bersama Hans? Siapa dia?
"Rekan bisnis pak Hans?" Tanya Umi sekali lagi.
"Saya kurang tahu bu, karena dia punya akses khusus masuk kedalam kantor ini"
"WHAT??????" teriak Umi. Mulut Umi terbuka lebar. Dia sangat kaget mendengar kabar ini. Dari mana wanita sexy itu bisa mendapatkan akses khusus dikantor suaminya sedangkan dia yang istrinya ditolak masuk untuk bertemu dengan Hans.
Umi memilih duduk diruang tunggu. Pikirannya terus menerka-nerka ada hubungan apa Hans dengan wanita itu.
*****
Hans memijat batang hidungnya. Dia begitu lelah hari ini. Tadi pagi-pagi sekali dia sudah berada dipabriknya. Dan siang ini dia sudah kembali ke kantor.
Sebenarnya Hans ingin langsung segera pulang setelah kunjungannya ke pabrik yang begitu melelahkan. Namun niat itu dia urungkan, rasa penasarannya begitu memuncak. Dia ingin tahu siapa yang mengirimkan bunga-bunga sialan itu kepada Umi pagi ini.
Bunyi suara pintu menghentikan lamunan Hans. Dari balik pintu yang terbuka muncullah sosok wanita yang sudah hampir 2 tahun berada disekeliling Hans.
"Hai babe..."
"Stop memanggil ku babe" makinya. Wanita itu hanya tertawa dan memilih duduk disofa dalam ruangan Hans. "Mengapa memanggil ku kekantor mu?"
Tubuh Hans berdiri dan menghampir wanita itu. Kedua tangannya dia masukkan kedalam saku celananya. "Apa maksud mu soal bunga-bunga yang kamu kirimkan untuk istri ku?"
"Bunga?" Sebelah alis dari wanita itu terangkat. Dia menatap wajah lelah Hans dengan intens.
"Iya bunga" Wanita itu hanya diam memandang jauh keluar jendela besar didalam ruangan Hans.
“Jangan tanyakan padaku, coba tanyakan padanya apa maksud dari bunga-bunga itu” jawabnya santai.
“Sebenarnya apa mau kalian?” maki Hans namun Selvi tak urung menatap wajahnya. Pemandangan di luar jendela lebih menarik dibanding wajah kusut Hans.
"Selvi, aku bertanya pada mu !" bentak Hans.
"Mengapa semua kartu kau blockir? Kau buat aku malu Hans." Wanita yang bernama Selvi itu tersenyum mengejek pada Hans. "Siang kau aktifkan semuanya, pagi tadi kau blockir lagi. Kau pikir bisa mempermainkan ku begini?"
"Sorry.." lirih Hans. "Semuanya harus berakhir disini"
"Apa? Berakhir? Wow... ternyata istri mu itu sudah berkuasa ya. Kami relakan kau menikah karena memang kau butuh topeng untuk menutupi semua kebusukan mu. Tapi ternyata begini balasan mu? Ingat Hans bagaimana dulu hidup mu? Bagaimana dulu kau terpuruk?" Maki Selvi pada Hans.
Hans mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. Rasanya perih membuka luka lama yang sudah mengering. "Stop !!!" Bentak Hans.
"Kenapa? Masih tidak bisa melupakan Lara? Harusnya kau sadar Hans, istrimu tidak akan mampu membantu mu melupakan kesedihan mu ditinggal Lara. Tapi yang mampu itu...."
"Jangan memandang remeh istriku" dengan gerakan cepat Hans sudah mencengkram lengan Selvi dengan kuat. Wanita itu merintih kesakitan karena lengannya memerah akibat perlakuan Hans.
"Kau menilainya baik? Karena dia berhijab. Iya seperti itu?? Apa semua yang tertutup itu baik? Apa kau tahu dibalik kainnya itu terdapat kebusukan?" Dengan tajam Selvi berkata seperti itu didepan wajah Hans.
"Jaga bicara mu !!!" Maki Hans. Jika tidak ingat Selvi adalah wanita yang menjadi teman dekatnya selama 2 tahun ini, rasanya Hans sudah habis memukulnya.
"Semua yang ku ucapkan benar adanya" sindir Selvi. "Lepaskan tangan mu !!!"
"Pulanglah. Jangan pernah muncul lagi" Hans melepaskan cengkraman tangannya. Wajah lelahnya menatap Selvi yang masih marah padanya.
"Kau tidak tahu diri Hans. Sadar lah siapa yang membantu mu bangkit dari semua ini" dengan cepat Selvi keluar dari ruangan Hans. Jika semakin lama dia disini, dia tidak yakin akan berakhir baik dengan Hans.
Hans menyandarkan kepalanya disofa besar dalam ruang kerjanya. Sakit kepala yang menjadi dikarenakan masalah yang tak kunjung henti hingga rasanya Hans sudah tidak mampu untuk berpikir lagi.
"Apa begitu sulit lepas dari jeratan mu" gumam Hans.
Kepalanya terus berputar memikirkan kilas balik apa yang telah dia lakukan selama 2 tahun ini. Tumpukan kesalahan yang telah terjadi tidak akan mampu dia hapus. Dia memang bukan laki-laki baik. Tapi dia juga tidak ingin menjadi buruk. Apalagi harus buruk didepan Umi. Wanita yang selama ini selalu disisinya.
Dulu sebelum mengenal Lara, Umi lah yang selalu berada disisinya. Bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai sahabat berbagi cerita. Namun semenjak dirinya mengenal Lara, Hans menjadi buta akan cintanya pada Lara. Yang ada dipikirannya hanya wanita itu saja. Hingga hubungannya dengan Umi merenggang tak hangat seperti dulu lagi. Dan sekarang saat Lara sudah tidak ada lagi, mengapa sulit mengembalikan hubungan itu. Umi memang sudah menjadi istrinya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal diantara dia dan Umi. Yaitu masa lalu kelamnya bersama orang itu.
"Aarrggghhhh.. sial..." Hans mencengkram kuat rambut hitamnya. Mengapa dia harus menyesal saat ini. Setelah nasi sudah menjadi bubur.
Hans mendekati meja kerjanya, dia mengambil ponsel yang sejak tadi dia letakan didalam laci. Wajahnya mendadak pucat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Umi.
"Astagfirullah al'adzim.. kenapa aku bisa sampai melupakan dia" lirih Hans. Sekali lagi dia merasa telah menyakiti Umi dengan semua perlakuan kotornya. Sambil menunggu panggilannya terhubung dengan Umi, Hans memijit-mijit batang hidungnya yang terasa sakit.
"Assalamu'alaikum.. sayang"
"Hans... kamu dari mana aja sih?" Maki Umi.
"Maaf sayang, aku sibuk banyak kerjaan di pabrik" kilah Hans. Padahal Umi sudah tahu keberadaan Hans dimana. Tapi pria itu masih saja berkilah didepan Umi.
"Oh, sibuk di pabrik. Ya sudah lanjutkan saja. Aku ingin istirahat" lirih Umi
"Nanti aku akan segera pulang sayang. Tunggu aku ya" Tanpa mengucap salam Umi langsung mematikan panggil telepon dari Hans. Saat panggilannya terputus, Hans menatap layar ponselnya yang sudah mati. Dia tahu Umi marah padanya. Tapi kenapa Umi marah? Bukannya tadi pagi Umi bahagia sekali mendapatkan kiriman bunga.
*****
Masih berada dilobby kantor, Umi menatap jauh kedepan. Pikirannya kosong entah kemana. Matanya perlahan meneteskan air mata yang tak tahu mengapa harus mengalir. Apa karena Umi sudah tahu Hans sedang berbohong padanya. Tak ada terbesit sedikit pun di pikiran Umi jika Hans akan melakukan hal buruk seperti ini padanya. Sejak awal mengenal Hans, dia adalah pria baik-baik. Karena yang Umi tahu Hans tidak pernah sedikit pun menyakiti Umi saat mereka bersahabat.
"Apa setelah menikah semua pria akan berubah?" Lirih Umi. "Apa setelah menikah semua keburukan akan terbuka?"
Dengan punggung tangannya, Umi menyeka aliran air mata dipipinya. Sakit hati yang dia rasakan begitu menusuk. Orang yang seharusnya dia percayai seumur hidupnya lebih memilih berbohong kepada Umi. Lalu setelah ini apa yang harus dia ketahui sisi lain dari Hans.
Perlahan Umi bangun dan berjalan meninggalkan gedung kantor yang megah ini. Dia sudah lelah dibohongi. Mana janji Hans yang ingin mengajaknya untuk memulai dari awal.
Umi sama sekali tak pernah menyesal mengenal Hans selama ini. Namun yang dia sesali, Hans tidak pernah mengenal dia sama sekali. Dengan mudahnya Hans membalas kebaikan Umi dengan semua kebohongannya.
Seharusnya sejak dulu Umi sadar, bahwa semua kebaikan yang Hans berikan hanya sebuah kebohongan belaka. Yang membuat Umi harus terjatuh berkali-kali pada jurang yang sama.
Ditengah lamunan Umi menunggu taksi datang, ponselnya bergetar. Nama yang terpajang dilayar ponsel Umi adalah nama sahabatnya itu, Adel.
"Assalamu'alaikum" salam Umi.
"Wa'alaikum salam. Mi, kamu dimana? Masih dikantor ya? Kita jalan yuk" ajak Adel antusias.
Umi menarik napasnya sesaat, dia butuh oksigen untuk meredam perasaan sedih, marah, dan sakit hatinya. Jujur saja Umi memang butuh Adel untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini.
"Del, aku ke apartemen mu ya" lirih Umi.
"Loh.. loh.. kok diapartemen. Kita keluar aja yuk. Aku tunggu di cafe biasa ya" Selepas menjawab salam, Umi mematikan ponselnya. Kadang dia merasa tidak yakin menceritakan semua ini pada Adel. Tapi hanya Adel satu-satunya sahabat yang dia miliki sejak kecil.
Saat tiba tepat disebuah restaurant yang sudah dijanjikan Adel, Umi masuk kedalamnya. Restaurant itu nampak sepi karena memang waktu makan siang telah selesai sejak lama. Umi mencari-cari sosok Adel dengan matanya.
"Umi...." panggil Adel. Dilambai-lambaikan tangannya kearah Umi dengan senyum yang tak lepas dari bibir Adel.
"Udah lama sampai del?" Umi memilih duduk didepan Adel lalu meneguk air yang telah ade minum setengah.
"Haus bu? Emang udah gak mampu beli minum?" Goda Adel.
"Aku banyak masalah del" keluh Umi. Kedua matanya menatap Adel dan berharap Adel akan merasakan penderitaannya. Tapi ternyata dia salah, Adel memilih tertawa bahagia melihat wajah lesu Umi.
"Ya Allah mi, baru nikah beberapa hari aja kamu jadi kucel begini. Emang si Hans itu gak mampu kasih kamu uang ya?" Ledek Adel.
"Please del, aku serius"
"Ya deh, maaf.. maaf. Ada apa memangnya?" Dengan sabar Adel menunggu Umi bercerita. Dimulai dari pengunduran diri Umi dari kantornya. Lalu masalah perempuan yang dia lihat dikantor Hans, hingga Hans yang telah berbohong kepada Umi.
"Begini ya mi, aku kasih saran satu-satu. Yang pertama, keputusan mu bagus keluar dari kantor itu. Untuk apa bekerja dengan p****************g macam bos mu itu. Kamu gak kerja juga suami mu dan papa Hadi masih mampu kasih uang untuk mu. Dan yang kedua, mungkin saja memang itu rekan bisnis Hans. Kamu kayak gak pernah kerja aja mi. Dalam dunia bisnis, apalagi yang berbinis adalah wanita kadang mereka akan melakukan cara apa saja agar bisnisnya lancar. Termasuk dengan berdandan seperti layaknya, yah you know lah. Mengapa mereka demikian? Agar patner bisnisnya tertarik menanamkan saham pada perusahaan mereka. Kan kamu tahu sendiri mi, suami mu memiliki perusahaan besar. Jadi kita harus positif thinking. Perempuan patner bisnis Hans boleh tidak benar, tapi kamu harus percaya Hans tidak akan macam-macam. Dan untuk yang terakhir, Hans kan tidak tahu kamu dikantornya mungkin dia berkata begitu pasti ada alasannya" jelas Adel.
Umi menatap kedua mata bulat Adel. Rasanya dia ingin benar-benar mempercayai Adel. Tapi sebagian dari hatinya berkata jika Hans tengah menutupi sesuatu yang dia tidak tahu apa itu.
"Dia suami mu mi, dia imam mu. Percayalah padanya. Jika dia salah, tegur dia. Jangan hanya pikiran-pikiran buruk yang terus kau tanamkan" sambung Adel.
"Tapi?"
"Kamu pernah denger almarhum UJ pernah bilang gini, setiap insan yang hidup dimuka bumi ini pasti akan diuji dengan sesuatu yang dicintai. Yah seperti kamu ini, kamu cinta kan sama Hans?"
Baru ditanya seperti itu saja, pipi Umi sudah merona merah. Dia tidak memungkiri memang dia telah jatuh cinta dengan sosok Hans sejak lama. Namun dia baru mengakuinya saat Hans sudah mengucapkan janji setia sehidup semati dengannya.
"Ye, malah malu-malu begitu. Gini deh mi, saat Allah turunkan ujian kepadamu. Coba tanyakan padaNya, mengapa kamu yang dipilih? Mengapa harus kamu yang diuji. Bahkan pasti dihati kecilmu pernah terpikir, mereka diluar sana jauh lebih lalai dari padamu. Mengapa bukan mereka yang di uji oleh Allah. Malah banyak yang lalai tapi Allah tetap memberikan kesenangan hidup kepada mereka. Pernah gak kamu berpikir seperti kata ku ini mi?" Ucap Adel.
Umi mengangguk-anggukan kepalanya. Benar semua yang diucapkan Adel. Bahkan dia merasa Tuhan tidak adil padanya.
"Sekarang begini, coba kamu bersujud padaNya. Curahkan semua gundah mu pada Allah. Ceritakan semua yang kamu rasakan. Ingat loh mi, nikmat dunia itu tidak kekal. Kadang sifat manusia terlalu tamak akan nikmat dunia hingga mereka tidak sadar sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah telah berikan. Salah satunya kamu punya keluarga mi, yang bahkan aku pun iri melihatnya sejak dulu. Kamu punya ibu yang siap kapan saja dapat memelukmu dan mengusap air mata mu. Kamu punya ayah, karena hanya ayah satu-satunya pria yang tidak akan membuat mu menangis, kamu punya kakak yang selalu melindungimu dari kerasnya dunia luar. Dan yang harus kamu lebih syukuri, kamu punya suami. Kamu punya imam yang sudah siap menanggung semua dosa mu. Kamu punya imam yang bisa kamu jadikan poros hidupmu. Harusnya kamu berucap syukur mi. Inilah nikmat yang kadang kau lupakan. Tapi baru sedikit Allah memberikan cobaan dihidup mu, kamu sudah mengeluh. Kamu sudah menjerit. Lalu apa mau mu?"
Berkali-kali Umi mengusap air matanya. Semua perkataan Adel benar. Dia memang kurang bersyukur atas semuanya. Dia baru saja diberikan sedikit ujian merasa sudah tidak mampu. Ya Allah, apa ini contoh sikap buruk manusia?
"Kamu benar del, aku telah memiliki semuanya. Tapi aku masih saja mengeluh" lirih Umi.
"Siapapun dirimu, menjadi apapun dirimu. Bersyukurlah selalu. Sebab yang tahu seperti apa dirimu, sebab yang paling tahu kekuatan mu, sebab yang tahu kelemahan mu, hanya kamu sendiri" ucap Adel sambil mengusap air mata Umi. "Janganlah bersedih saudara ku, tetaplah kuat disaat semua cobaan menimpa mu. Namun, tetaplah sadar jika kamu hanyalah seorang hamba yang lemah dihadapanNya. Lantas bersyukurlah selalu agar Allah memberikan kemudahan untuk mu selalu" sambung Adel dengan seuntai senyum dibibirnya.
"Terima kasih del, kamu emang sahabat dan keluarga terbaik" lirih Umi. Dipeluknya tubuh Adel yang sedikit lebih besar darinya. Lalu mereka berdua sama-sama tertawa setelah lama berpelukan.
"Umi. Kok aku ngerasa kita kayak kartun jaman dulu ya?"
"Aku mau yang warna merah kalau gitu" sahut Umi yang tak kalah bahagia mengingat masa kecil mereka.
"Ya udah aku yang warna kuning" jawab Adel yang tak kalah senang.
"Iya kamu kuning ngambang dikali" goda Umi.
"Jadi gini ya, udah bisa ngeledek sekarang" kedua tangan Adel terlipat didada, dia berusaha marah didepan Umi. Tapi sekali lagi dia tidak mampu. Umi sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Apalagi mereka dibesarkan dalam satu keluarga yang sama. Bahkan mama pernah menjadi ibu s**u dari Adel. Karena itu mama tidak mengijinkan sama sekali saat tahu Adel menyukai Fatah. Laki-laki dan perempuan yang satu susuan tidak boleh menikah satu sama lain. Itu sebabnya Adel mengubur semua kekagumannya kepada Fatah. Cukup sekarang Fatah adalah sosok kakak laki-laki baginya dan juga Umi.
"Mau marah ni? Kamu mah gak akan bisa marah dari ku del" ledek Umi.
"Aku memang gak akan bisa marah pada saudara ku sendiri..." lagi-lagi Adel memeluk Umi dengan sayang. Umi mengusap punggung Adel dengan sayang, begitupun sebaliknya.
Berkali-kali Umi bersyukur dilahirkan dilingkungan penuh cinta seperti ini. Ada mama yang begitu sayang padanya walau banyak sekali perdebatan diantara mereka. Tapi satu yang Umi yakini pasti, mama adalah sosok ibu yang tak pernah tergantikan. Sedangkan papa, walau tak banyak bicara. Namun dari sifat diamnya, Umi sadar betul papa terus memperhatikannya. Dan Fatah, kakak laki-lakinya. Umi bahkan tidak tahu bagaimana mengucap syukur memiliki kakak laki-laki seperti Fatah. Dia kakak segalanya untuk Umi.
Lantas apalagi yang harus dia cari?
Umi percaya hubungan pernikahannya dengan Hans memang tidak akan berjalan baik. Tapi jika dia menyikapinya dengan cara dewasa, dia yakin dia mampu mempertahankan segalanya bersama Hans. Sosok imam dalam hidupnya yang telah lama dia rindukan.
Aku tidak pernah cemburu melihat mereka yang jauh lebih cantik dari padaku..
Aku tidak pernah cemburu melihat mereka yang jauh lebih kaya dari padaku..
Aku tidak pernah cemburu melihat mereka yang jauh lebih seksi dari padaku..
Tapi..
Aku cemburu melihat kedekatan hati mereka lebih istiqomah dari padaku..
Aku cemburu melihat mereka lebih mencintai Allah..
Dan aku cemburu saat cinta ku pada Allah tak terbalaskan..
Tolong jangan bandingkan aku dengan yang lebih sholeha seperti mereka..
Tolong jangan gelarkan aku sholeha seperti mereka.
Karena dilihat dari sisi manapun, aku masih jauh dari itu...
------
continue..
Masih mau lanjut?