Bab 4

3735 Words
4. MAAFKAN AKU  Coba hargai sekecil apapun usaha seseorang, karena berusaha itu tidak semudah mulut berbicara..   Ketika sampai dikantornya Hans lantas menghubungi nomor yang tadi sempat dia reject. Berkali-kali nada tunggu yang terdengar ditelinga Hans. Pikiran Hans mulai menerka-nerka kemana perginya orang itu? Selama beberapa jam Hans mencoba untuk fokus dengan pekerjaannya akan tetapi tidak berhasil. Pikirannya terus tertuju pada ponsel dimejanya. Jemarinya dengan lincah menekan beberapa kombinasi nomor yang sudah sangat dia hapal. Tapi kembali Hans hanya dihadapkan dengan nada tunggu. "Arrgghhhh.. sial. Kemana sih perginya?" Geram Hans. Dia langsung saja pergi untuk mencari tahu atas pertanyaan yang ada dipikirannya saat ini. Ditengah kemacetan jalan raya ibukota, ponsel Hans kembali berbunyi. Hans mengambil earphonenya dan menghubungkan pada ponsel. Tanpa melihat nama yang tertera dilayar ponselnya, dia langsung saja mencaci maki si penelepon itu. "Kemana saja hah? Dari tadi aku hubungi. Sudah sibuk? Lupa dengan ku !!!" Bentak Hans. Karena kaget dengan suara Hans, si penelepon hanya bisa diam membisu. Dia masih terus mendengarkan caci maki yang Hans katakan kepadanya. "Kenapa diam? Jawab aku bodoh !!" Bentaknya lagi. "AHH, aku tahu apa yang bisa membuat mu bicara. Aku blockir semua fasilitas mu baru kau mengemis lagi pada ku!!! Dasar manusia menyebalkan !!!" "Hans..." panggilnya lirih. Fokus Hans yang tadinya pada kemudi, tiba-tiba saja buyar karena mendengar suara itu. Tanpa sengaja bamper mobil depannya menabrak sebuah bis yang berada didepannya. Hans mendesah kesal. Hari ini memang hari tersial baginya. Mengapa setelah puas mencaci maki baru suara yang tidak diharapkan yang terdengar. "Umi, nanti aku hubungi lagi, ada masalah dijalan" ucapnya. Tok.. tokk.. tok.. Supir bis yang Hans tabrak mengetuk kaca mobil Hans dengan kasar. Mau tidak mau Hans keluar untuk berbicara langsung pada sang supir. "Bapak gak liat bis saya lagi ngetem cari penumpang?" Bentak sang supir. "Begini pak, mobil saya juga rusak. Perbaikan mobil saya lebih mahal dari bis bapak." "TAPI BAPAK YANG SALAH. SAYA MINTA GANTI RUGI" didorongnya bahu Hans dengan keras. "Bukan saya saja yang salah pak, anda juga. Disini bukan terminal untuk mencari penumpang. Apa bapak tidak liat rambu didepan, dilarang berhenti. Seenaknya bapak bilang sedang cari penumpang. Saya bisa saja tuntut bapak karena tidak tertib lalu lintas" ucap Hans. Dia membersihkan bahu kemejanya yang kotor karena tangan supir itu. "Mentang-mentang orang kaya bisanya mengancam" gerutu supir itu sambil pergi meninggalkan Hans yang masih bertolak pinggang. Niat hati supir itu ingin minta ganti rugi, malah mendapatkan ancaman dari Hans. "Manusia tidak berotak. Terlalu pasrah dengan kenyataan" gumam Hans. Hans memutar balik kendaraannya menuju kantornya yang berada dikawasan tomang raya. Mobil nissan juke hitam yang tadinya mulus sekarang harus remuk dibagian depannya. Saat tiba dikantor, beberapa security yang mengenali mobil bosnya langsung mendekati mobil Hans yang tengah parkir. "Minta ganti lewat asuransi" ucap Hans pada salah satu security itu. Pikirannya yang tengah kalut, ditambah mobilnya hancur membuatnya semakin tidak bersemangat. Apalagi dia harus menghubungi Umi saat ini untuk menjelaskan semuanya. Jika tidak maka habislah dia. Bisa-bisa dia akan gagal menikah dengan Umi. Hans terus menghubungi Umi melalui ponselnya tapi tidak juga diangkat oleh Umi. Benar-benar hari ini Hans sial berkali-kali lipat. Bukan satu orang yang mengabaikannya. Tapi saat ini bertambah menjadi dua orang. Karena merasa tidak enak, Hans mengirimi Umi pesan singkat melalui bbmnya agar Umi mau mengangkat telepon darinya. ⓡHans Ass, mi. jika tidak sibuk bisa angkat telepon ku? ☆Umi ツ Ass itu apa? ⓡHans Maksud ku itu salam, masa begitu aja gak tau. Katanya anak psikolog. ←_← ☆Umi ツ Hans yang bodoh. Berapa nilai bahasa inggris mu dulu? ⓡHans Sudah pasti 100. Kamu tahu sendiri kan ayah ku orang mana? ╰_╯ ☆Umi ツ You must translate "Ass" in your google translate ⓡHans Mi, aku serius. Angkat telepon ku. Apa hari gini masih jaman bbman? Kayak gak ada modal pulsa telepon. ☆Umi ツ Yang mengirimi aku bbm duluan siapa? HAH? ˋˍˊ ⓡHans Oke aku yang kirim. Sekarang aku telepon ya. Jangan marah cantik ╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯♥ Hans mengakhiri acara bbman ria dengan Umi. Dia langsung mencoba menghubungi nomor Umi untuk yang kesekian kalinya. "Assalamu'alaikum.. mi" "Kenapa bukan disingkat lagi jadi ass?" Ketus Umi. "Ya ampun mi, masih bahas tentang ass aja. Emang kenapa sama si ass?" "Hans bodoh !!!" Teriak Umi. Jantung Hans hampir saja lepas karena terlalu kaget dengan teriakan Umi dari ponselnya. Dia merasa ngeri sendiri mendengar wanita jika sudah marah. Apalagi yang marah itu adalah seorang Umi. "Mi, gak usah teriak-teriak lah. Aku masih bisa dengar" keluh Hans. "Kalau dekat sudah ku pukul !!! Kamu tidak tahu arti ass? Ya Allah mengaku muslim tapi mengucap salam saja disingkat!!!" Maki Umi "Untung jauh ya, jadi aman" gumam Hans sambil mengusap-usap kepalanya. "Apa kamu bilang Hans???" "Gak ada Umi ku, wanita terbawel yang pernah ku kenal. Nanti mau dijemput jam berapa?" "Jam 4 jangan telat !!" "Oke. Siap tuan putri" Setelah mengucap salam. Hans tersenyum sendiri, walau saat tadi berbicara dengan Umi dia tidak bisa melihat wajah Umi langsung. Tapi ekspresi kesal Umi dapat terbaca olehnya. Hans yang masih saja senyum-senyum sendiri tersadar saat ponselnya kembali berbunyi. "Ya Umi sayang, ada apalagi?" "Umi? Siapa Umi?" Dengan cepat Hans melihat nomor yang tertera dilayar ponselnya. Bagai jatuh kecebur disumur, tadi baru saja dia membujuk Umi karena sudah salah menduga orang. Dan sekarang dia melakukan kesalahan itu lagi. "Maaf sayang, aku gak tahu kalau kamu yang..." "Yang apa? Jadi benar kamu mau ninggalin aku? Siapa yang selalu ada untuk mu saat kamu terpuruk? Siapa yang sudah mendukung mu? Itu aku Hans bukan perempuan itu !! Apa yang kamu cari dari dia? Jika kepuasan aku selalu berikan untukmu kan?" Hans mengepalkan tangannya. Dia tidak suka jika orang ini sudah mengungkit-ungkit masalah ini. Memang benar ketika dia terpuruk saat ditinggal oleh Lara selama-lamanya, orang ini yang membantunya. Tapi tidak selamanya Hans tergantung dengannya. Hans juga ingin hidup normal. "Nanti sore aku tunggu di apartement ku" Diputuskannya sambungan telepon secara sepihak. Dalam hati Hans berkali-kali mengeluh. Jika waktu bisa diulang, dia tidak ingin terikat seperti ini. Dosa yang telah dia lakukan sudah sangat besar. Hans tidak berharap papa mama nya tahu akan aib dari dirinya. Keinginan hatinya ingin berubah sudah besar. Tapi apalah daya, hingga saat ini dia masih belum mampu.   *****   Tepat pukul 4, Hans sudah tiba di lobby depan kantor Umi. Baru saja dia ingin menghubungi Umi, matanya menangkap Umi yang sedang berbicara dengan salah satu pria disana. Mereka nampak begitu akrab hingga membuat Hans terbakar oleh cemburu. Dirinya selalu beranggapan hanya boleh dia lah yang akrab dengan Umi. Hans tidak ingin kehilangan lagi untuk kedua kalinya. "Mi..." panggil Hans dari dalam mobil. Hanya kaca mobilnya saja yang diturunkan. Dia malas untuk keluar dari mobil. Karena Hans takut tidak bisa mengkontrol emosinya. "Loh, Hans. Mobil siapa ini?" Tanya Umi saat sudah duduk disamping Hans. "Mobil kantor" jawab Hans dingin. "Mobil kantor bagus banget" selidik Umi. "Kamu tahu kan perusahan ku bergerak dibidang apa" ucap Hans dingin. "Mobil mu kemana emangnya? Kalau tau mobil mu rusak, aku bareng teman ku saja" jelas Umi. "Teman apa pacar?" Sindir Hans. "Pacar? Kamu kenapa sih? Aneh banget" Umi meneliti wajah Hans yang sudah kusut seperti pakaian yang habis di peras airnya. "Aku lelah mi.." lirih Hans. "Istirahat kalau lelah.." ucap Umi. Pandangannya sudah tidak lagi tertuju pada Hans. "Mi, kita nikah besok ya" ucap Hans tiba-tiba. "Besok?" Umi mengulang kata 'besok' agar meyakinkan apa yang dia dengar. "Hans kalau kamu udah gila gak usah ngajak-ngajak kali" ketus Umi. "Masalahnya, mama papa ku mau ke Jerman 2 hari lagi" "Lalu? Apa hubungannya sama nikah besok?" "Biar aku..." kalimat Hans kembali terputus saat ponselnya menampilkan nomor yang begitu dia hapal. "Diangkat coba" ucap Umi. "Gak penting mi, cuma orang-orang yang butuh uang" gumam Hans. Umi yang bingung dengan ucapan Hans, mencoba mencari tahu dari tatap mata lelah Hans padanya. Walau Hans tidak menjelaskan apapun pada Umi, dia tahu Hans memiliki banyak masalah. "Hans dengerin aku. Manusia hidup itu pasti punya masalah. Tapi jika kamu lari dari masalah, apa masalah itu akan selesai? Gak kan" "Mi, kalau aku minta kamu percaya sama aku. Kamu bakalan percaya?" Kedua pasang mata mereka saling menatap satu sama lain. Mereka membiarkan mata mereka yang saling bicara kali ini. Namun tak sampai satu menit, Umi sudah mengeluarkan suaranya. "Eh bodoh. Percaya itu sama Tuhan" ucap Umi sambil menoyor kening Hans. "Astagfirullah al'adzim.. mi, aku ini calon suami mu" "Terus kalau calon suami gak boleh ditoyor kalau salah?" "Susah memang bicara dengan orang seperti mu" gerutu Hans. Mobil mercedes benz seri GL berwarna silver telah terpakir dihalaman rumah mami. Pak Kardi yang juga baru saja tiba menjemput Sabrin tersenyum ke arah Hans yang baru saja turun dari mobil. Sedangkan sosok Umi sudah masuk terlebih dahulu kedalam rumahnya. "Waduh bawa mobil baru bang" pak Kardi yang melihat Hans tipe pria suka bersenda gurau dengan berani menggoda Hans kali ini. "Iya nih pak. Tadi mobil saya nabrak bis metro mini" keluh Hans sambil mengacak-acak rambutnya. "Kok bisa?" "Biasalah pak, anak muda" "Mantap dah si abang satu ini. Cocok banget sama non Umi" "Doain aja pak, Umi nya belum mau saya nikahin" jelas Hans sambil tersenyum lebar kepada pak Kardi. "Pak saya masuk dulu ya" "Assalamu'alaikum.." ucap Hans dengan lantang. Tapi tak ada yang menjawab satu orang pun. Hanya hembusan angin yang menyambut kedatangan Hans. "Yaelah. Mana nih mama mertua, tumben gak nyambut calon mantu" gerutu Hans. Dia melangkahkan kakinya menunju dapur. "AHHHHH...." teriak Umi. Dia kaget melihat Hans sudah berada didapur. Apalagi Umi lupa dia sudah melepas kerudungnya. Umi pikir Hans sudah langsung pulang. "Astagfirullah al'adzim, bikin kaget aja kamu" ucap Hans melihat sekilas ke Umi. Saat dia tahu Umi tidak menggunakan kerudungnya, Hans segera mengalihkan pandangannya kearah gelas yang dia pegang. Dia kembali meneguk air minum yang berada didalam gelasnya. Umi yang kepergok dengan Hans hanya bisa menunduk malu. Dia lantas ingin kabur dari hadapan Hans saat ini. "Sudah sana kalau mau kembali kekamar, aku gak liat mi" ucap Hans santai. Dia mengambil beberapa biji buah anggur yang berada dikulkas. Mendengar hal itu, Umi langsung saja berlari menuju kamarnya kembali. Diambilnya hijab berbahan katun berbentuk bergo agar mudah digunakan. Saat Umi keluar kamar kembali, dia melihat Hans sudah duduk bersama Fatah di ruang keluarga. "Loh mas, kapan sampai?" Tanya Umi. "Barusan. Mas lihat Hans sendirian, mas temani dia." "Dia juga mau pulang kok" ketus Umi. "Kamu ngusir aku mi?" Hanya tidak yakin kata-kata Umi ditujukan untuknya. "Mi gak boleh gitu. Kamu tahu kan dalam Islam bagaimana adab menerima tamu yang baik" "Iya tau mas..." "Tuh mi, jangan marah-marah terus sama tamu" sindir Hans. "Dalam etika silaturahim maka kita dianjurkan untuk menghormati, menghargai, dan memuliakan para tamu yang datang ke rumah kita. Seperti peribahasa tamu adalah raja maka sudah wajar ketika kita harus memuliakan serta bersikap sopan terhadap tamu dari mulai awal datang ke rumah sampai mereka keluar dari rumah kita. Bahkan disalah satu hadits Rasulullah dijelaskan yaitu :   مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ "Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari) . Apa kamu masih mau bersikap seperti itu pada tamu?" "Aduh mas, kalau tamunya bener sih gak papa. Lah tamu nya macem begini" tunjuk Umi pada Hans yang masih terpukau dengan penjelasan Fatah. "Hus, gak boleh begitu. Sama saja kamu menilai seseorang dari luarnya saja, tanpa tahu sebenarnya dia seperti apa" tegas Fatah. Hans refleks mengangkat kedua ibu jarinya pada Fatah. "Mas Fatah biasa makan apa? Bisa begini? Waktu mas Fatah seminar dulu dikampus penjelasannya bagus banget. Dan dulu sebelum saya menikah dengan Lara, saya melakukan semua nasihat mas Fatah diseminar itu. Tapi nasib emang menakdirkan begini" "Jangan disesali apa yang sudah berlalu. Sekarang kamu mau nikah sama Umi sudah melakukan langkah-langkah yang aku kasih?" Tanya Fatah ingin tahu. Hans menatap intens kearah Umi yang salah tingkah. "Gimana mau melakuin tahap itu, orangnya aja masih belum mau nikah" "Ih, Hans. Ember banget sih!!" Sebuah bantal kursi melayang tepat mengenai kepalanya. "Mas bisa lihat sendiri, belum menikah tapi sudah KDRT" Fatah yang berada ditengah kedua pasangan muda ini hanya bisa tertawa. Dia tidak berani memikirkan apa pernikahan Umi dan Hans nantinya dapat berjalan lancar atau tidak. "Sudah-sudah. Mas kedalam dulu. Jangan berduaan, gak baik" nasihat Fatah. "Saya mau pulang dulu mas. Makasih nasihatnya. Bermanfaat sekali" "Iya Hans, sama-sama. Mas senang kalau bermanfaat". Setelah mengucap salam, Hans keluar dari rumah Umi menuju mobilnya. "Mi, aku pulang dulu ya. Besok aku gak bisa jemput. Ada meeting soalnya. Kamu gak papa kan naik motor?" "Iya. Gak papa" walau sedikit kecewa, Umi tidak ingin Hans mengetahuinya. Mobil yang dikemudikan Hans sudah jauh menghilang dari pandangan Umi. Tapi senyuman tak lepas dari bibir Umi. Dia tidak tahu ada apa hari ini dengannya. Yang jelas perasaan aneh ini membuatnya bahagia.   *****   Umi baru saja melipat mukenanya selepas dia menunaikan sholat isya, dia mendengar suara berisik dari luar kamarnya. Langkah kakinya terburu-buru melihat ada apa gerangan yang terjadi didalam rumahnya. Terdapat banyak orang yang sedang sibuk mengangkut banyak barang masuk kedalam rumah. Mulai dari banyaknya parsel yang berisikan berbagai macam pernak-pernik. Hingga barang-barang besar seperti tempat tidur, lemari pakaian hingga meja rias. "Ma, ada apa sih?" Umi bertanya pada mama yang sibuk menata barang-barang itu. "Ini seserahan dari Hans. Tadi mama sama papa bertemu langsung dengan kedua orang tua Hans. Mereka ingin pernikahan dipercepat. Karena papa nya Hans akan tinggal lama di Jerman" "YA AMPUN..." Umi menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak yakin akan secepat ini. "Terus Hansnya mana ma?" "Ya dia dirumahnya lah. Besok pagi acara ijab kobulnya" "APA??? ma.. jangan seenaknya gini dong. Kan Umi belum bilang mau menikah secepat ini!!" "Lantas sampai kapan? Mama gak mau kamu selalu diantar jemput dia tanpa ada status halal diantara kalian. Apalagi jaman sekarang.. ya ampun. Mama ngeri sendiri melihat pergaulan anak sekarang" "Ya Allah ma, jadi mama gak percaya sama Umi?" "Karena mama percaya kamu, jadi mama menerima percepatan pernikahan. Mama yakin kamu gak akan menolakkan?" Ucap mama. "Lagi juga apalagi sih nduk yang kamu tolak? Kamu kenal Hans cukup lama. Apalagi yang membuat mu ragu?" "Umi gak yakin ma, bisa bertahan seperti mama dan papa. Masih tetap saling mencintai hingga tua seperti ini". Tangan lembut mama mengusap pipi Umi dengan sayang. Dia lantas tersenyum melihat kekhawatiran Umi. "Jangan takut nduk.. yakinkan hatimu jika pernikahan yang kamu jalani bukan karena kamu ingin hidup bersamanya. Tetapi menikahlah karena kamu tidak bisa hidup tanpanya" "Mama yakin Umi bisa?" Umi menggigit bibir bawahnya ingin menangis. "Mama percaya Umi bisa. Umi bisa menjadi istri yang baik, dan Umi juga bisa menjadi ibu yang baik. Jangan pernah ragu bertanya sama mama jika dirimu bimbang" "Iya ma.. terima kasih.." Umi memeluk sayang mama yang sudah melahirkannya. Walau dia sering berdebat dengan mama, tapi tetap saja mama adalah orang yang paling berarti untuk Umi.   *****   "Saya terima nikah dan kawinnya Umi Marifah Al Kahfi binti Hadi Al kahfi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dengan uang sebesar 23.082.015 dibayar tunai" ucap Hans dengan lantang. Sah.. Sah.. Puluhan orang yang masih berstatus keluarga dari kedua belah pihak menjadi saksi prosesi ijab kobul Hans dengan papa. Tak henti-hentinya Hans mengucap syukur karena telah lancar melafazkan kalimat sakral itu. Bagi semua pria muslim, disitulah tantangannya. Bukan tantangan mengucapkanya, tetapi tantangan perjanjiannya dengan Allah dan ayah dari calon istrinya. Ketika proses ijab kobul selesai, Umi dijemput oleh mama dan mama Rima kedalam kamar. "Ayo nduk kita keluar" ajak mama. "Kamu cantik banget sayang" ucap mama rima. "Aduh ma, Umi gak usah keluar deh. Malu..." tolak Umi. "Loh malu kenapa?" Mama rima nampak bingung dengan menantu barunya ini. "Ya pokoknya malu aja. Suruh Hans aja yang kesini" "Hus, Hans.. Hans.. dia suami mu sekarang. Sopan sedikit" marah mama. Setelah bujuk rayu yang cukup lama, Umi berhasil dibawa keluar oleh mama dan mama Rima. Semua keluarga tersenyum senang melihat kecantikan Umi. Wajahnya memang selalu memukau banyak orang, tubuhnya yang mungil membuatnya menjadi awet muda. "Akhirnya ya mi..." bisik Sabrin. "Kak Sabrin, awas ya" ketus Umi. Hans yang dihadapkan dengan Umi nampak bahagia. Baru kali ini dia melihat pipi Umi bersemu merah. Apa Umi malu bertemu dengan Hans? "Cantik banget kamu" goda Hans. Dikedipkan sebelah matanya pada Umi. "Hans genit.." bukannya mencium tangan Hans, Umi lebih tertarik mencubit perut Hans. "AHHHH... UMI..." teriak Hans. Semua orang yang melihatnya nampak tertawa. Baru kali ini ada sepasang pengantin bertingkah konyol dihari pernikahannya. Hari ini memang tidak ada pesta mewah, karena memang acara resepsinya diundur sebulan dari sekarang. Untuk itu Umi bisa bernapas lega, setidaknya masih ada waktunya menyiapkan diri untuk dipajang didepan semua orang. "Umi marifah al kahfi akhirnya menikah juga" sorak Adel. Kali ini Adel sudah sangat berlebihan dengan pernak pernik layaknya seorang cheerleaders. Umi yang melihat itu hanya mendengus kesal. "Tunggu pembalasan ku..." geram Umi. "Akhirnya kamu nikah juga mi, aku ucapin selamat ya" ucap Sabrin. "Jangan kayak anak kecil lagi, udah nikah sama Hans jangan galak-galak sama dia" nasihat Fatah yang berdiri berdampingan dengan Sabrin. "Satu lagi, cepet-cepet kasih mama cucu" bisik Sabrin. Umi yang digoda sana sini hanya bisa meringis tidak suka. Dia merasa hari ini benar-benar sudah dipermalukan oleh keluarganya. Kali ini Umi lebih memilih menjauh dari serangan Adel, Sabrin dan Fatah. Dia mendekat pada Hans dan duduk tepat disamping Hans. Hans yang awalnya sedang melamun menjadi fokus dengan Umi. Tanpa mengeluarkan suara, Hans memajukan dagunya kearah Umi. Seperti memberi isyarat ada apa. "Abis ijab kobul jadi gak bisa ngomong kamu?" Ketus Umi. "Iya.. abis kena wejangan dari papa mu" keluh Hans. "Wejangan apa? Pasti suruh jagain aku kan." Ucap Umi antusias. "Huh, papa emang is the best" Umi mengedip-ngedipkan kedua matanya pada Hans. Bulu mata tebal yang dipakai Umi membuat bentuk matanya seperti mata sebuah boneka. Hans tertawa senang melihat tingkah Umi yang konyol itu. "Kamu kayak boneka susan" ucapnya jujur. "Apa? Susan? Laki-laki gak tau diri. Gak liat aku udah cantik begini, masa dikatain kayak boneka susan" kesal Umi. Dicubitnya dengan kuat perut Hans hingga Hans menjerit meminta ampun. "Ampun mi..ampun.. iya.. iya, aku salah..kamu cantik kayak susana bukan boneka susan" "APA SUSANA???" teriak Umi. Hans menangkap kedua tangan Umi sebelum Umi mencubit dirinya lagi. "Habis apa dong? Kamu aku bilang mirip boneka susan gak mau, ya udah susana aja" keluhnya. "Istrinya sendiri dibilang susana" kesal Umi. "Akhirnya ngaku juga udah jadi istri ku" goda Hans. "Emang bener kan aku istri mu? Nyesel nikahin aku?" "Mi denger, aku dilahirkan cuma sekali, dan sekali juga aku hidup, mati pun aku sekali dan yang lebih penting aku akan sekali mencintai seseorang. Yaitu kamu" Hans mulai menyerang Umi dengan rayuan gombalnya. Tetapi bukannya Umi senang, Umi lebih terlihat seram kearah Hans. "Denger ya Hans, aku gak butuh rayuan gombalmu. Yang aku butuhkan doa mu agar semua pintu surga terbuka untukku" "Oke..oke.. asal jangan galak-galak sama aku." ucap Hans mengerti. "Hans, ada teman mu mencari" panggil Fatah. Wajah Hans seketika pucat saat melihat siapa yang datang. Padahal Hans tidak memberitahunya jika hari ini dia akan menikah. Lantas dari mana dia tau semua ini. "Siapa?" Tanya Umi yang berdiri disamping Hans. "Teman ku" jawab Hans singkat. Sepasang pria dan wanita mendekat kearah Umi dan Hans. Mata Umi terus meneliti dari atas hingga bawah wanita yang datang menyalami dirinya dan Hans. Sedangkan Hans nampak canggung ketika berjabat tangan dengan sang pria. Mata tajam pria itu terus saja melihat kearah mata Hans. Mereka berdua memang tidak berbicara apapun, tapi dari mata mereka saja sudah mengartikan hal lain. Sedangkan wanita yang berdiri disamping pria itu tersenyum mengejek kepada Hans. Wajahnya tidak suka melihat Hans telah bahagia saat ini. "Pria hebat menikahi wanita hebat, tapi pria hebat tidak pernah bersembunyi dibalik wanita hebat" ucap wanita itu dengan nada menyindir. "Terima kasih" ucap Hans. "Semoga bahagia" ucap pria yang mengaku teman Hans. Dipeluknya tubuh Hans sambil dengan erat. Pria itu berbisik ditelinga Hans, namun sayang Umi tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Umi menilai tidak ada gunanya kedua orang itu datang. Karena sehabis mereka mengucapkan selamat, mereka langsung pamit pergi. "Tamu gak tau diri" ketus Umi. "Kamu kenal dari mana manusia macam mereka?" "Mereka teman Lara" lirih Hans. Seketika itu juga Umi bungkam. Dia hampir saja lupa dengan status Hans saat menikahinya. Hans adalah seorang pria yang ditinggal mati istrinya dihari pernikahan. "Maafkan aku Hans, aku tidak tahu..." lirih Umi. Atmosfir dingin begitu terasa ditengah Hans dan Umi. Untuk itu Umi memilih pergi meninggalkan Hans seorang diri. Kali ini Umi biarkan Hans meratapi kesedihannya tentang masa lalunya. Tapi lihat nanti, Umi berjanji akan membantu Hans melangkah untuk masa depannya. "Mi.. "panggil papa. "Iya pa" "Ada apa?" Walau papa jarang bertemu Umi karena sibuk dengan pekerjaannya. Tapi papa tau Umi sedang menyimpan masalah. "Umi takut pa, Umi gak bisa buat Hans bahagia" keluhanya. "Jangan takut nak, dengarin kata-kata papa. Terima dan sambutlah suamimu ini dengan sepenuh cinta dan ketaatan. Layani ia dengan kehangatanmu. Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasanmu. Bantulah ia dengan kesabaran dan doamu. Hiburlah ia dengan nasihat-nasihatmu. Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutanmu. Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaqmu. Niscaya semua akan berakhir dengan indah. Manakala telah kamu lakukan itu semua, tak ada gelar yang lebih tepat disandangkan padamu selain Al Mar'atush-Shalihah, yaitu sebaik-baik perhiasan dunia. Sebagaimana Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-: الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة ( مسلم)    (Dunia tak lain adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.) Inilah satu kebahagiaan hakiki -bukan khayali- yang diidam-idamkan oleh setiap wanita beriman. Maka bersyukurlah, sekali lagi bersyukurlah kamu untuk semua itu, karena tidak semua wanita memperoleh kesempatan sedemikian berharga. Kesempatan menjadi seorang isteri, menjadi seorang ibu. Terlebih lagi, adanya kesempatan, diundang masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. Yang demikian ini mungkin bagimu selagi kamu melaksanakan sholat wajib lima waktu -cukup yang lima waktu-, puasa -juga cukup yang wajib- di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan -termasuk menutup aurat- , dan ta'at kepada suami. Cukup, cukup hanya itu. Sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-: إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها قيل لها: ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت (أحمد عن عبدالرحمن بن عوف)   (Jika seorang isteri telah sholat yang lima, puasa di bulan Ramadhan, menjaga k*********a, dan ta'at kepada suaminya. Dikatakan kapadanya: Silahkan masuk ke dalam Surga dari pintu mana saja yang engkau mau.) ..." jelas papa sambil membenarkan posisi hijab yang dipakai Umi. "Terima kasih pa nasihatnya" "Papa doakan yang terbaik untukmu kelak anakku" diciumnya kening Umi dengan penuh kasih sayang. Hans yang melihat kejadian itu dari kejauhan hanya meringis. Hatinya sakit, bahkan baru dihari pertama pernikahannya dia telah berbohong pada Umi. Lalu apakah dia masih bisa disebut suami yang baik? ----- Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD