Villa Langit sore mulai meredup, membiaskan warna jingga ke pekarangan villa saat Diandra melangkah masuk. Udara masih hangat, aroma dedaunan yang tersapu angin bercampur dengan bau antiseptik yang samar dari kapas di tangan Bik Tati. Wanita tua itu berdiri di dekat meja, sibuk membersihkan sudut bibir Diandra yang robek, sementara Diandra meringis, menahan rasa nyeri yang masih menyengat. "Au! U-udah, Bik, biar aku saja yang obati lukanya," ucapnya dengan pelan, suara sedikit bergetar menahan perih. Bik Tati memandangnya dengan sorot mata penuh iba. "Sakit ya, Non?" tanyanya lembut. "Nanti Bibik lakukan lebih pelan lagi." Diandra menggeleng pelan, napasnya sedikit berat. "Nggak usah, biar aku aja nanti. Bibik lanjut saja pekerjaan sana," tolaknya tanpa ragu. Bukan hanya rasa sakit yan

