5. Rendang nista

903 Words
Laras berjalan dengan kesusahan, ringisan dan keluhan di bibir menandakan bahwa nyeri di kakinya masih ada. Sungguh Laras tak habis pikir bahwa Candra sangat tak berperikebosan, jiwanya terlalu Lucifer untuk menjadi Medusa. Laras bersungut-sungut, kala mengingat wajah bosnya yang tampan tetapi kelakuan bak iblis. Ingin mengeluh juga sangat tidak bisa, protespun berakhir di pecat. Sungguh amat nelangsa hidupnya. Tetapi Laras tak begitu sedih, justru ini adalah kesempatan emasnya dapat membalas segala kelakuan bosnya itu. Siapa yang setuju-setuju saja di perlakukan seperti Laras. kalau Laras sudah pasti memasang bendera perang. Kini ia sudah berada di warung depan kantor, bukan warung tapi lebih tepatnya rumah makan yang sederhana. Dengan memesan mie ayam untuk mengganjal perutnya yang sedikit melilit dan rendang pesanan bosnya sendiri. Setelah siap, pertama-tama Laras menyantap mie ayam tersebut penuh nikmat sampai melupakan kakinya yang begitu nyeri. Dengan berbekal duit enam ratus ribu hasil malak orang yang membuatnya terjatuh, kini Laras bisa memesan apa saja. Bahkan kacang goreng berbungkus-bungkus ia habiskan, niatnya sih ingin menyantap makanan orang kaya jika tak ingat biaya hidup kedepannya. Mie ayam yang ada di mangkok tandas seketika, Laras merasa kenyang dan siap menghampiri rendang yang ia bungkus untuk bosnya itu. Meski kakinya ia paksa untuk melangkah, Laras tetap kuat untuk melanjutkan perjalanan. "Semuanya empat puluh ribu mbak." Laras menyodorkan dua lembar uang hijau, setelah menerima sebungkus rendang. Senyum kemenangan terbit di bibir merah mudanya, berharap rencananya kali ini berhasil. Sembari menenteng sepalstik rendang, Laras berjalan tertatih-tatih menuju gedung yang menjadi tempatnya bekerja. Semoga saja Candra terkena imbasnya kali ini, Laras benar-benar tidak terima di perlakukan seperti babu. Kantor nampak sepi, mengingat semua pegawai berlenggang pergi makan siang. "Pak." Laras memanggil dari luar sembari mengetuk pintu "Masuk." Sebelum masuk, Laras berdehem terlebih dahulu menyiapkan diri untuk merasa puas atas kerja kerasnya, sebelum melihat Candra yang kepedasan dengan rendang yang dipesannya. Laras masuk, tak melupakan rendang racun itu. "Ini pak." Laras meletakkannya di hadapan Candra. "Apa itu?" Katanya, melirik kantong kresek "Rendang, sesuai pesanan bapak." Kata Laras, dalam benak ia sudah benar-benar tak sabar melihat reaksi bosnya itu. "Sajikan dong! Kamu suruh saya makan di kantong kresek?" Laras menganga hebat, geram sekaligus jengkel bahkan tangannya sudah terkepal ingin meninju angin. Mana berani Laras meninju bosnya yang berduit itu. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Laras menuju meja pantry meletakan rendang itu diatas piring. Lalu menyodorkannya kearah Candra "Silahkan dimakan pak. Jika membutuhkan saya.." "Ya, sudah sana jangan mengganggu acara makan saya." Laras memutar bola matanya kesal. Lalu berpamitan untuk menuju meja kerjanya. Kakinya terasa nyeri, Laras bahkan belum sempat mengobati. Sudahlah, memang tugasnya harus pasrah dengan keadaannya yang sekarang. Tangannya memijit pelan kakinya, berharap nyeri yang dirasakannya bisa memudar. Meski harus meringis, merasakan sakit Laras terima asalkan bisa secepatnya mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk membeli tanah dan memamerkan kekayaannya kepada para sepupu. "Laras...!!" Teriakan itu menggema di ruangan Candra. Wanita itu terjingkat, namun bibirnya melengkung sempurna. Rencananya berhasil, membuat Candra sakit perut habis-habisan. "Ya, ada apa pak?" Laras menahan tawanya sebisa mungkin, melihat raut wajah Candra yang memerah belum lagi air mata yang menggenang di pelupuk. Pastilah pria itu sangat kesusahan "Ambilkan saya air minum, cepat!" "Baik pak." Laras berjalan untuk mengambilkan segelas air minum. "Ini pak." Lalu menyodorkannya kepada Candra. Dengan buru-buru lelaki itu minum hingga tandas. "Kamu gila?" "Maaf pak, saya ada keperluan untuk buang air besar." Laras berbalik, cekikikan dan dengan cepat pergi meninggalkan Candra yang berteriak murka. Ah rasanya, Laras lega sekali sudah membalas kejahatan pria itu. Memangnya Laras takut, tidak sama sekali. Toh, lagi pula lelaki itu yang memulai semuanya wajarlah jika Laras menerima bendera perang itu. Ia benar-benar tak tahan dengan sikap bosnya yang seenaknya, seakan-akan menjadikan Laras seorang babu bukanlah sekretaris bos. Oh ya tuhan, bagaimana bisa Laras terjerat di perusahaan macam ini?. Sudahlah, Laras tak ingin mengambil pusing. Ia ingin menenangkan pikiran dengan duduk di meja kerjanya. Ya, Laras membatalkan alasannya untuk membuang air besar karena sebenarnya Laras ingin keluar dari tanggung jawab. Sama seperti Candra yang meninggalkannya begitu saja di trotoar jalan. Hari yang sangat melelahkan bagi Laras, baru saja pertama kali bekerja begitu banyaknya kejadian yang terjadi. Ia sudah merapikan meja kerjanya yang ia buat berantakan tadi, meninggalkan Candra yang memarahinya habis-habisan karena balas dendam yang berhasil. Laras terima semuanya dengan masa bodoh, siapa peduli jika Candra marah-marah padanya. Lagi pula satu hari Laras membuat kesalahan pria itu tak sedikitpun mengucapkan kata pemecatan yang membuat hati Laras merasa lega. Wanita itu berjalan keluar gedung, menunggu ojek online yang sudah di pesannya. Baru saja hendak melangkah meninggalkan bangunan itu, seseorang meneriaki namanya. Sebelum berbalik, Laras memutar bola matanya malas. "Ada apa pak?" Tanya Laras yang sudah sangat kelelahan "Nanti malam temani saya untuk kelaundry jas." Mata itu melotot sempurna, apa bosnya buta? Bahkan kakinya belum benar-benar di obati. "Maaf pak, saya tidak bisa. Lagi pula jam kerja saya hanya pagi sampai sore kan?" Candra berdecak. Pria itu tak suka penolakan. "Sebagai pegawai baru, saya akan melihat kinerja kamu. Ternyata kamu sangat.." "Baik pak." Telak Laras, Candra tersenyum menang. "Bagus. Dimana alamat kamu?" "Bapak jemput saya?" Lelaki itu menggeleng, yang membuat Laras keheranan. Kesambet apa Candra tiba-tiba baik seperti itu. "Heran?" Laras mengangguk jujur. "Beritahu saja, dimana rumahmu?" "Komplek indah, kontrakan Fifi." "Oke. Saya duluan." Laras mengangguk, mempersilahkan bosnya untuk pulang. Kemudian barulah ia menunggu ojek online yang di pesannya. Meski letih Laras tetap bersemangat kerja. Tujuan yang selama ini di gapai harus bisa Laras wujudkan, paling tidak salah satu di antara mimpinya dapat terkabulkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD