Jam sudah berdetik ke angka sepuluh lebih, tapi mata Athaya tidak memberat sama sekali malah semakin lebar. Rasa tidak nyaman membuatnya tidak mengantuk. Dia melirik ke belakang, mencoba menggerakkan badannya yang pegal. “Enggak. Ini hukuman buat lo biar lo tau siapa suami lo. Buat apa caper ke cowok lain, hah? Gak akan ada yang mau nerima lo,” kata Miguel dengan mata terpejam, tapi nyatanya masih terjaga. Athaya merutuk dalam hati. Kenapa dari sekian banyak hukuman yang bisa dia terima, Miguel malah terpikir untuk memeluknya semalaman sih? Miguel menyeringai. Dia mulai paham kalau untuk menghukumnya bukan dengan kekerasan, tapi momen yang tak pernah didapatkannya. Sudah jelas Athaya tidak pernah dekat dengan lelaki layaknya pasangan, mungkin hanya Gabrian. Tangan Athaya diam-diam men

