“Hey yo angkasa! Akunya ada rasa, kamunya biasa aja. Annyeong istrinya Migi.”
Athaya mengernyit bingung plus khawatir. Migi? Apa mereka temannya Miguel?
Kalau begitu, tidak seharusnya Athaya membuka pintu tadi. Mau masuk pun dia takutnya dianggap tak sopan sebagai tuan rumah, tapi kalau diladeni Athaya takutnya mereka tahu kalau dia bisu. Miguel pasti akan marah.
Vano tersenyum jenaka. “Lo pasti kaget terheran-heran ‘kan kenapa kita bisa tau rumah lo?”
“Kasih tau, Vin!” Ferran memukul punggung Alvin membuat pria itu menatapnya tajam. Alvin paling tidak suka diganggu apalagi dipukul begitu.
“Paan si. Lo aja sana,” decak Alvin.
“Jadi, kita yang cariin rumah ini. Tadinya mau bawa selametan buat rumah baru, cuma bingkisannya abis dicemilin si Ferran gobl*k,” kata Vano menjitak dahi Ferran.
“Enak aja. Ngibul lo, orang kita gak ada bawa apa-apa.”
Athaya hanya bisa terdiam di depan pintu bak patung, melirik ke sana-sini. Candaan Ferran dan Vano sama sekali tidak terdengar lucu di telinganya karena terlalu sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menghindari ketiganya.
Alvin melirik Athaya curiga. Respons wanita itu sama seperti waktu itu bertemu dengannya, hanya diam dan ingin menghindar. “Kenapa sih diem aja? Lo gak suka kita ke sini ya?”
Ferran dan Vano ikut menatap Athaya, sadar dia hanya diam saja. Athaya menggeleng cepat. Aduhh, mau gimana menjelaskannya? Kalau pakai notes atau ponsel sama saja memberi tahu mereka kalau dia bisu.
“Si Migi gak bolehin lo ngobrol sama kita? Emang bener-bener tuh cowok satu,” kata Ferran.
“Lo pada ngapain di sini?”
Keempat orang itu menoleh ke arah gerbang. Athaya menghela napas lega, Hasna datang bak pahlawan di saat yang sangat dibutuhkan. Kakaknya itu melirik teman-teman Miguel bingung dan tak suka.
“Lah, elu. Lu yang ngapain di sini?” tanya Vano.
“Gue mau ketemu adik gue lah.”
“Emangnya adek lo siapa?”
Ferran menoyor kepala Vano. “Oy! Tuh si Migi ‘kan adik iparnya peak.”
“Oh iya forget saia.”
Hasna mendekat, senantiasa mendelik ke para tamu tak diundang itu sinis, terutama Vano dan Ferran. Dia mendorong Ferran yang berdiri tepat di hadapan Athaya. “Buset kagak selo,” gerutu Ferran.
“Athaya, mereka gangguin kamu?” tanya Hasna. Athaya menggeleng.
“Kagak lah, orang kita ajak ngomong aja dia gak nyaut.”
“Ya lo gila. Athaya ‘kan bisu mana bisa jawab.”
“Hah?! Bisu?!”
***
Miguel mengernyit bingung saat mendapati sebuah mobil terparkir di depan rumah barunya. Lho? Dia tidak mengenali plat atau ciri-ciri mobil itu punya siapa. Ini kebetulan ada yang parkir di sana atau memang dia kedatangan tamu? Tak hanya satu, tapi ada dua.
Dari luar, bisa dia dengar cekikikan beberapa orang di dalam. Miguel lekas menutup pintu pagar dan masuk ke dalam.
Pria itu membelalakkan matanya marah. “Ngapain kalian semua di sini?!” sentaknya membuat kelima orang yang sedang makan-makan sambil menonton teve itu menoleh. Meja kecil di depannya penuh oleh banyak makanan cepat saji: pizza, burger, bungkus bekas nasi padang. Sejak kapan mereka di sini?
“Selametan rumah barulah, ngapain lagi?” sahut Vano santai.
“Kenapa gak bilang dulu ke gue? Kurang ajar ya lo semua.”
“Kenapa? Lo gak mau kita tahu Athaya itu bisu?” Alvin bertanya sinis, menggigit ujung potongan pizzanya tak acuh akan kemarahan Miguel.
“Ya, kita udah tau. Dan apa sih yang lo khawatirin sampe gak mau kita tau dia bisu? Gak papa kali. Sekarang harusnya semua orang udah welcome sama disabilitas, bukan disembunyiin kayak aib,” kata Ferran.
Vano menutup mulutnya yang menganga sambil melirik Ferran kaget. “Widih, yang ngomong barusan itu lo, Ran? Tumben banget seorang Ferran bijak gitu. Faktor kebelet kawin ya.”
“Kalau lo keberatan nerima adik gue, kenapa lo gak tolak perjodohan waktu itu? Kalau gue males banget jadi boneka bonyok.” Hasna ikut menghakimi Miguel. Benar ‘kan dugaannya kalau Miguel melakukan itu hanya untuk perusahaan? Cih, dasar keluarganya pintar mengambil muka.
Athaya mengusap kepalan tangan kiri dengan telapak tangan kanan terbuka. [Udah.]
“Ya. Pernikahan yang dijodohin gak semuanya berakhir kontrak kok. Banyak yang kejadiannya malah saling suka, kayak nyokap bokap gue.”
“Gue gak perlu ceramahan lo semua. Pergi sekarang.”
“Kita belum mau pulang. Kalau lo keberatan, gak usah gabung.”
Rahang Miguel mengeras mendengar ucapan Alvin. Dia di rumahnya sendiri, tapi dia yang diusir? Sialan. Miguel pergi ke kamarnya dengan langkah lebar, lalu membanting pintu.
Ferran dan Vano geleng-geleng melihat ketidakakuran dua teman mereka. “Ck ck. Kadang gue heran kenapa kalian bisa jadi temenan. Tiap ketemu perasaan lebih sering ribut dibanding akur,” kata Ferran.
“Lo bilang tuh ke temen lo. Dia yang lebih butuh buat disadarin.”
“Udah udah. Makan lagi sana, jadi pada ribut,” Hasna menengahi, mendahului mengambil potongan pizza yang masih utuh.
Athaya melirik pintu kamarnya khawatir. Apa Miguel akan marah? Tanpa sadar tangannya bergerak gusar menebak apa yang akan dilakukan suaminya setelah teman-temannya tahu dia bisu.
Namun, apa yang dibilang Hasna dan teman-temannya benar. Athaya tidak boleh selalu pasrah di bawah Miguel selama dia tidak bersikap selayaknya suami. Sesekali dia harus berani melawan, atau paling tidak jangan mau didominasi sepenuhnya oleh Miguel.
“Has, lo bisa bahasa isyarat?” tanya Vano dengan mulutnya yang penuh.
Hasna mengedikkan bahu. “Kagak masuk-masuk gue. Dari dulu udah belajar, tetap aja lupa.”
“Halah bacot. Sejak kapan lo pernah belajar?”
“Mau gue tampar lo ya?”
“Tuh ‘kan. Makanya jomblo terus, adek lo dah nikah. Mana ada cowok yang mau sama lo,” timpan Ferran.
“Ada, yang jelas bukan cowok kayak lo pada,” gerutu Hasna. Kalau mereka statusnya masih anak kuliahan, sudah baku hantam kayak biasa di kampus. Ferran dan Vano memang langganan jadi sasaran kejengkelan Hasna.
Alvin jadi pihak yang paling kalem dan waras hanya menatap ketiga orang itu datar. Males banget ngaku temen astaga.
Hasna melirik Athaya, lalu merangkul adiknya. “Athaya, lain kali jangan sungkan bilang sama aku. Inget ‘kan kode di kertas waktu itu.” Athaya mengangguk pelan.
Ferran menyetujui ucapan Hasna. “Betul. Lo jangan takut-takut sama si Migi. Bilang aja ke kita kalau dia macem-macem. Atau tendang aja tit*dnya.”
“Nah ‘kan, berarti ajaran gue bener.”
“Kalau lo yang bilang jadi ajaran sesat.”
“Lo tuh setan.”
Vano memelototi Ferran dan Hasna yang berantemnya sangat enggak kenal tempat dan waktu. Dia menepuk pundak Athaya. “Lo gak perlu takut gak ada yang bela lo. Ada kita-kita. Walaupun kita temennya Migi, kalau soal kemanusiaan kita pasti bantu.”
Seumur hidup, hanya anak-anak panti dan Hasna yang mau berteman dengannya. Mendapatkan orang-orang yang peduli padanya menghangatkan hati. Athaya membuka menegakkan jari-jari tangan kanannya, lalu meletakkan di bawah dagu dan menariknya ke depan. [Makasih.]
“Nah ini gue tau nih. Makasih,” ujar Hasna sombong.
“Sok tau banget, as*,” ejek Vano.
“Searching kalau gak percaya. Kalau bener lo gue bogem ya dua kali.”
Alvin melerai malas, “Udah udah. Kayak anak kecil lo berdua.”
Hasna mendelik. “Daripada lo, kayak engkong-engkong,” sungutnya. Memang circle pertemanan Miguel enggak ada yang waras. Dia melirik jam dinding, lalu berkata, “Eh, gue ada pemotretan nih. Ay, aku pergi dulu ya.”
“Iki pirgi dili yi,” ejek Ferran, spontan Hasna menabok pria itu sebelum membereskan barang-barangnya. “Sialan lo!”
“Eh, kita juga cabut deh yak. Ntar kapan-kapan kita ke sini lagi,” Vano ikut pamit.
Athaya mengangguk pelan meski merasa tak senang. Bersama mereka, dia tidak takut lagi pada Miguel. Untuk pertama kalinya Athaya merasa punya teman sungguhan selain Hasna. Apalagi sejak kecil dia homescholling, hanya Hasna dan anak-anak panti yang jadi temannya.
Setelah membereskan kekacauan dari pesta dadakan tadi, mereka berempat pulang. Athaya mengantarkannya sampai gerbang.
“Apa yang gue bilang soal temen-temen gue gak boleh tau?”
Athaya berjengit kaget, tapi tidak takut seperti biasanya. Dia menoleh biasa saja pada Miguel yang ada di belakangnya dengan tatapan tajam, Athaya melewatinya bak tak ada orang di sana.
Ingat, harus berani. Apa yang dibilang teman-temannya tadi benar, Athaya tak boleh terus-terusan didominasi oleh Miguel.
Miguel mendengus, menarik kasar lengan Athaya dan menghempaskannya ke dinding. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa senti. “Mulai berani ya lo?” sinisnya.
Athaya mengetik : Memangnya salah aku kalau temen-temen kamu ke sini?
“Ya lo bisa menghindar apa kek. Gak usah temuin temen-temen gue.”
Mereka juga bakal tau akhirnya.
Wanita itu mendorong Miguel keras sampai dia mundur beberapa langkah. Athaya langsung lari ke kamarnya dan menutup pintu, bersandar dengan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat.
Astaga, apa tadi itu dia? Hanya dengan dorongan sedikit saja dia bisa seberani itu?
Senyum Athaya tercetak lebar. Semua yang didengarnya tadi mulai terdengar masuk akal dan mungkin. Baiklah, mulai hari ini dia tak akan lagi menjadi boneka suaminya sendiri.
Di luar kamar, Miguel menatap bingung pintu kamarnya bak itu adalah hal teraneh di dunia. Tadi itu Athaya? Kenapa dia mendadak jadi berani dan melawannya?
Sialan. Bagaimana Miguel akan membuatnya tidak nyaman kalau dia mulai membalas?
***
Krukkk!
Athaya menekan perutnya yang terus berbunyi kelaparan. Aduhh, jangan dulu sekarang. Miguel masih ada di luar kamar, gengsi dong kalau keluar sekarang. Lagian biasanya pria itu akan pergi dan baru pulang malam. Kenapa sekarang lain?
Sudah jam 7 malam. Pantas saja perutnya berbunyi. Athaya tidak makan banyak tadi bersama yang lain, dia hanya memakan sepotong pizza dan kentang goreng. Pasalnya Gabrian dan Angela bilang makanan cepat saji itu tidak baik.
Ah, masa bodo.
Dia tak dapat lagi menahan tangannya agar tidak menekan handel pintu. Biarlah Miguel akan mengejeknya atau apa pun, yang penting perutnya terselamatkan.
“Halo, Sayang. Kamu lagi ada di mana?”
Athaya mendengus. Tahu sejak tadi sedang asyik dengan tunangannya dari tadi dia keluar. Toh Miguel tak akan memperhatikan.
Miguel hanya melirik tak peduli pada Athaya yang menuju dapur. Dia akan memasak malam ini bermodalkan ilmu dari Bi Arni dan mbah Google. Selain membantu belanja, Hasna dkk juga membantu Athaya membereskan yang lainnya.
Menu makan malamnya sederhana, nasi goreng. Athaya belum tahu banyak nama-nama menu untuk dicari, jadilah masakan sejuta umat saja yang dia masak. Kebetulan semua bahan ada dan cara masaknya simpel.
Niatnya sih untuk makan sendiri, tapi agak lebihan enggak apa-apalah. Hitung-hitung kewajiban istri. Mau Miguel makan boleh, enggak juga terserah. Athaya tak akan lagi jadi istri yang lembek saat suaminya sendiri tak menghargainya.
[“Aku lagi jalan sama temen-temen nih.”]
“Kapan pulang?”
Dengar saja perbedaan cara bicara Miguel pada Viona dan Athaya. Ibaratnya pada Viona hanya di oktaf 1 atau 2, Athaya sampai ke angka 6. Pria emosian seperti Miguel sampai melembutkan suaranya begitu, malah terdengar serem.
[“Kayaknya maleman deh. Kenapa?”]
“Males banget harus di rumah bareng si gagu.” Athaya mendongak bersamaan dengan Miguel yang meliriknya, mereka kompak mengalihkan tatapan.
[“Kamu main aja sama temen-temen kamu.”]
“Mereka sama-sama malesin,” dengus Miguel. “Apa lo liat-liat?”
Sebenarnya Athaya ingin minta bantuan Miguel untuk mengambilkan wajan yang letaknya cukup tinggi, tapi melihat pria itu ‘sibuk’ Athaya enggan memintanya. Jadi dia mengalihkan pandangannya, mencari sesuatu untuk menambah tingginya agar bisa menjangkau rak.
[“Siapa?”]
“Siapa lagi.”
Walau terdengar bodo amat, nyatanya dia melirik penasaran dengan apa yang akan dilakukan Athaya di dapur. Alisnya terangkat sebelah, menantikan usaha wanita itu mengambil wajan.
Athaya mendesah lega saat wajan sudah berada di tangannya, lalu menaruhnya ke kompor. Selanjutnya dia membuka ponsel, mengetikkan sesuatu di sana. “Hasil untuk resep nasi goreng.”
“Heh, mau ngapain lo?” sentak Miguel menatap tajam Athaya. Dia tak yakin istrinya bisa masak, salah-salah malah jadi buat masalah.
Athaya hanya diam, mendadak jadi takut lagi.
“Woy! Lo tuli juga, hah?”
[“Udahlah biarin aja.”]
Miguel berdecak, melirik Viona yang mengelilingi mall dengan banyak tas belanjaannya. “Kamu yakin gak bisa pulang cepet?”
[“Gak bisa, Sayang. Udah lama ini gak hang out sama temen-temen.”]
“Ya udah temenin dulu ngobrol.”
Yahh, Athaya sibuk dengan masakannya dan Miguel sibuk dengan obrolannya enggak jelasnya. Belum mulai memasak sih, dia membaca resep dengan seksama dan mengumpulkan semua bahannya di samping kompor. Konsep dapurnya terbuka sehingga Athaya bisa langsung melihat Miguel vc-an dengan Viona.
Hih, kayak ABG.
Athaya memasukkan minyak sesuai instruksi, memanaskannya sebelum memasukkan telur sambil membaca kembali resep. Saat minyaknya dirasa sudah panas, telur dimasukkan. Akan tetapi, Athaya tidak menghancurkannya langsung. Ketika sadar dan hendak menghancurkan telur, tangan Athaya terkena percikan minyak.
Miguel terkekeh mengejek melihat Athaya beringsut mundur sambil menekan kulitnya. “Mampus. Sok-sokan masak segala.”
Athaya tidak mengindahkan ejekan suaminya, lanjut masak meski agak melenceng sesuai resep. Wajar saja, ini ‘kan kali keduanya memasak dan kali pertama masak sendiri. Untuk seukurannya Athaya sudah lumayan tidak menggosongkan makanan.
Oke, meski tidak seenak masakan Bi Tini, Athaya bangga akan masakan pertamanya. Dia tak berharap banyak akan enak, melihatnya jadi saja sudah cukup. Soal Miguel ... kalau dia tak suka ‘kan bisa beli makanan sendiri. Tak perlu makan.
[“Yang, udah dulu ya. Aku mau lanjut hang out nih.”]
“Okey.”
Athaya mengetik di ponselnya dan mengirimkannya pada Miguel. [Makan dulu. Aku mau makan di atas.] Dia membawa nampan berisi sepiring nasi goreng, air putih, dan ponselnya ke lantai atas. Baru dia lihat sekilas bersama Hasna, tempatnya lumayan nyaman kalau sudah dibereskan.
Tak terdapat keberadaan Athaya, Miguel perlahan menghampiri meja makan. Cih, hanya nasi goreng saja hebohnya kebangetan. Tangannya hendak menutup lagi tudung saji, tapi tak jadi.
Jika dipikir-pikir, Dewi saja tak pernah secara langsung memasakkannya. Begitu pula Viona. Mereka tipe wanita yang tak mau ribet selama ada yang mudah, delivery. Lalu, kenapa Athaya mau-mau saja memasakkannya? Padahal sikapnya sama sekali tidak baik.
Tanpa bisa dicegah, dia menyendok sesuap nasi dan mencicipinya. Hm, tak buruk.
Prang!
Miguel menjatuhkan sendoknya, lalu berdecak. Sialan! Dia benci tidak tahu langkah musuhnya. Apa yang sebenarnya sedang direncanakan Athaya? Kenapa dia masih baik padanya?
Sialan! Dan ada apa juga dengan detak jantungnya?!
***
Apakah Migi sudah mulai luluh?
Pengen tau dong. Kalian #timMigiAthaya atau #timduo-A alias Athaya Ahsan? Atau ada couple lain yang kalian ship?
Btw, aku oleng ke Alvin nih. Kayak diem-diem menghanyutkan gitu loh, sekali ngomong savage bener.