"Mas kenapa? Kalau sakit, kita batalkan saja pergi jalan-jalannya," kataku seraya mengetuk pintu kamar mandi. "Mas enggak apa-apa, Sayang. Hanya melilit sedikit. Sebentar, ya!" sahutnya dari dalam. "Mas, sih, makan baksonya semalam kepedesan. Sudah dibilang sambalnya jangan banyak-banyak," omelku. "Iya, nih. Kamu tunggu di bawah saja, ya. Nanti Mas nyusul!" "Iya!" sahutku dari luar sini. "Ayo, Sayang." Aku menuntun Alva keluar kamar. "Papa tenapa, Ma? Papa cakit?" "Iya. Papa sakit perut, Sayang." "Mama, Mama ... dendong, Ma," pintanya manja seraya mengulurkan kedua tangan. "Jagoan Mama mau digendong, hm?" Aku tersenyum seraya berjongkok di depannya. Dia mengangguk cepat sembari melompat-lompat kecil, tak sabar ingin digendong olehku. "Ayo!" Kuangkat batita berpipi gembil ini hing

