Agni - 7

1512 Words
“Uwekk! Uwekk!” “Ayo, semangat Kak Reka!” seru Abian memberi semangat. “Uwekk!” “Iwhh!” Kadaffi menjauh dari Araka. “Ternyata kamu masih hobi muntahin makanan kalo udah kekenyangan ya, Kak,” komentar Abimanyu sambil memperhatikan putranya. Araka melirik tajam ke arah Abimanyu, Abian juga Kadaffi yang berada cukup jauh darinya. Ketiga lelaki berbeda usia itu terus saja merecokinya. Abian dan Kadaffi sih, tidak masalah, usia mereka masih cocok untuk bertingkah seperti anak-anak. Namun Ayahnya yang tidak tahu umur itu malah ikut menontoninya seolah ia adalah seekor anjing laut yang terdampar di gurun. Dan, apa-apaan Ayahnya itu menjauh darinya? Jijik dengan muntah anak sendiri? Baru saja hendak memaki Ayahnya, tenggorokannya tiba-tiba terasa panas, perutnya kembali diaduk-aduk. “Uwekk! Uwekkk!” “Ihh, ayamnya keluar lagi hihihi.” Kadaffi tertawa terkikik saat melihat isi perut kakaknya keluar.  “Ssst, diem, Daffi. Kak Raka lagi konsentrasi.” Konsentrasi? Emang dia lagi ulangan? Batin Araka. “Tolong ambilin air anget Kak Abian,” ujar Agni yang sedari yang berada disamping Araka, wanita itu mengurut tengkuk remaja lelaki itu agar lebih mudah memuntahkan isi perutnya. “Mau muntah lagi, Kak Raka?” tawar wanita disamping Araka membuatnya merasa orang tua tiri disini adalah ayahnya. Pasalnya Agni sama sekali tidak merasa jijik dengan muntahnya yang lumayan menjijikan untuk dirinya sendiri. “Udah habis, tuh, isi perutnya,” jawab Abimanyu sambil melirik ke arah bak wastafel yang mengalir air dari keran. Araka melirik tajam ke arah Ayahnya, situ namanya Araka? “Makasih, ya. Kak.” Agni mengambil air hangat yang dibawa Abian. “Minum dulu, Kak.” Lalu membantu Araka untuk meminum airnya. Baru setengah gelas, lelaki itu sudah menggeleng karena merasa eneg sehingga air yang berada di gelas sedikit mengenai bajunya. “Ganti aja bajunya sekalian, gih,” suruh Agni. Araka mengangguk lemah. Sumpah demi apapun, ia juga tak mau seperti ini. Kebisaanya dari kecil yang sampe sekarang belum menghilang adalah mengeluarkan lagi isi perutnya ketika perutnya terisi sangat penuh, sangat kekenyangan. Padahal ayam goreng yang dibuat Agni sangatlah enak sehingga ia bisa makan kekenyangan seperti ini. Ah, jika diingat lagi, Araka tak pernah merasakan seperti ini semenjak ibu kandngnya tiada. “Kak Raka, bisa naik ke atas?” tanya Abian dengan bola mata bulat yang menatapnya. Araka tak bisa membedakan bola mata yang memancarkan rasa khawatir atau bukan, karena menurutnya bola mata itu semua sama, hanya beda warna. Jadi, ia hanya mengangguk saja, lagi pula tubuhnya sudah sangat lemah. “Aku bantuin tuntun jalannya, pegang Daffi, Kak Bian!” Kadaffi memegang tangan Abian yang sedang membantu Araka berjalan.  Abimanyu yang melihat tingkah anak-anaknya tertawa, mereka seperti bebek bersaudara yang sedang berjalan bersama untuk menyebrangi jalan. “Mau aku buatin kopi atau teh, Mas?”  Abimanyu menolehkan kepalanya ke arah Agni yang tengah menghidupkan wastafel guna membersihkan bekas muntahan milik Araka. Gadis itu nampak biasa-biasa saja, seolah itu hanya muntahan biasa. Iya, padahal itu memang hanya muntahan, terlebih lagi muntahan anaknya yang terbuat dari bagian tubuhnya sendiri. Tapi, kenapa Abimanyu geli melihatnya? “Agni,” panggil Abimanyu. “Iya, Mas?”  “Araka suka ayam goreng buatan kamu,” ujar Abi sambil mengambil tempat di meja makan. Lelaki itu menarik kursi lalu mendudukinya. “Saya sudah lama tidak pernah melihat Araka makan sesemangat itu.” Lelaki yang mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek seletut itu menghela nafasnya. “Atau memang saya yang tak pernah lagi makan semeja dengan Araka.” “Dari mana Mas tahu Araka suka masakanku?” tanya Agni seolah melupakan kejadian di meja makan tadi, saat Araka dan Abian serta si kecil Kadaffi yang berebut ayam gorengnya.  Agni hanya ingin lelaki yang berstatus suamianya itu bercerita, ia ingin lebih lama bersama lekaki itu. Ia ingin bisa lebih terbiasa dengan kehadiran Abimanyu, maupun sebaliknya. Mendengarkan suaranya menjadi salah satu lagu baru kesukaannya. “Araka akan makan sampai perutnya penuh padahal ia tahu akibatnya, memuntahkannya lagi.” “Teh,” ujar Abimanyu saat Agni mengangkat bubuk kopi dan bubuk teh dengan kedua tangannya. Agni mengangguk. “Saya pernah bertanya pada Araka sewaktu dia berumur 5 tahun. Dia sering kali makan hingga kekenyangan lalu memuntahkannya lagi. Saat saya bertanya, apa alasannya. Dia menjawab, walau makanannya cuman numpang sebentar diperut Raka tapi rasanya akan lama di hati Raka.” “Saya tidak tahu apakah anak usia limat tahun benar-benar mengerti tentang hati? Tapi, yang jelas terima kasih telah membuat saya melihat Araka kecil.” “Mas—-“ “AYAHHH! KAK RAKA NGAMUKK!” perkataan Agni terpotong ketika Kadaffi turun dari tangga dengan berlari yang membuat jantung wanita dan lelaki dewasa yang berada disana berdetak hebat. “Awas lo bocil, gue bakar lo besok!” seru Araka dari atas lantai dua lalu dengan tatapan tajam dan garang kemudian menghilang dan disusul bunyi bedebam dari pintu kamarnya. “Daffi ngapain Kakak emangnya?” tanya Abimanyu sambil mengangkat tubuh anaknya untuk dipangku. “Lho kok Daffi yang disahalahin? Kenapa enggak Kak Raka?” tanya anak itu dengan bibir cemberut. Khas sekali ia merasa kesal. “Daffi ngeletak— em, ngelempr ponsel kak Raka ke bathupnya,” ujar Abian yang baru selesai turun tangga dengan perlahan, karena menurutnya anak baik tak turun tangga dengan tergesa-gesa. “Hapnya panas, Daffi dinginin di air deh,” ujar bocah itu dengan polosnya. Jangan lupakan bibirnya yang sedikit maju dan pipinya yang menggembung membuat Abimanyu tak kuasa memarahinya. “Kadaffi mau ibu buatin s**u?” tanya Agni kepada bocah itu ketika mendapati dirinya menguap. Dan, benar saja, jam telah menunjukan pukul sembilan malam. “Heem,” angguknya dengan tubuh yang menyandar ke d**a Abimanyu. “Lho? Kok udah mau tidur? Enggak mau nemenin Ayah keluar dulu?” tanya Abimanyu sambil mencolek pipi tembam anaknya. “Mau kemana emangnya, Yah?” tanya Abian yang sedari tadi disamping Abimanyu. Ikut duduk disana bersama Agni. “Mau beli sesuatu. Kak Bian mau ikut enggak?”  “Mauu!” seru Abian. “Paket jaket ya, Kak,” ingat Agni karena bocah itu mudah sekali masuk angin. Apalagi angin malam sekarang yang tengah kencang-kencangnya berhembus. “Daffi mau Kakak anter ke kamar? Ayok!” ajak Abian ketika melihat adiknya itu nampak sudah sangat mengantuk. Kadaffi mengangguk, ia menjulurkan tangan mungilnya yang langsung disambut Abian.  Senyum milik Abian terukir ketika melihat Kadaffi yang begitu menggemaskan. Mata bocah itu berkedap-kedip karena menahan kantuk, membuat Abian mengeratkan genggamannnya. Ingatan bocah dua belas tahu itu kembali ke masa lalu ketika ia sangat menginginkan adik dan—- ah, Abian menggelengkan kepalanya itu semua tak perlu diingat kembali. “Mas mau kemana emangnya?” tanya Agni ketika dua anaknya sudah menaiki tangga ke lantai atas. Kini posisi keduanya saling berhadapan diatas meja makan. “Mau membeli sesuatu?” “Sesuatu apa?” tanya wanita itu penasaran. “Nanti saya beritahu.” Agni menghembuskan nafasnya kesal dan itu terlihat jelas dipandangan Abimanyu. “Kamu kesal Agni?” tanya Abimanyu membuat Agni kembali ke arah Abimanyu. “Tidak, Mas.” “Kamu jadi irit bicara sekarang.” “Perasaan aku lagi enggak enak aja, Mas.” Abimanyu mengerutkan dahinya, beberapa kali lelaki itu membasahkan bibirnya. “Apa... apa kamu sedang datang bulan Agni?” tanya Abimanyu dengan nada pelan yang membuat Agni mengerjapkan matanya beberapa kali. “Tidak, Mas,” ujarnya membuat letupan-letupan di d**a Abimanyu seraya menggema. “Tapi....” “Tapi apa?” tanya Abimanyu harap-harap cemas. “Tapi, kenapa kamu tanya itu?” “Ohh... tidak.” “Ayah! Abian udah siap!” seru anak lelaki itu turun lengkap dengan jaket biru bergambar kartun didepannya. Abimanyu mengangguk namun Agni lagi-lagi harus menahan keingintahuaannya. Wanita itu menghela nafasnya, mungkin Abimanyu belum seyakin itu dengannya sehingga tak ingin memberi tahunya. Lagi-lagi Agni hanya orang beruntung yang bisa berdampingan dengan keluarga ini. “Agni.” Panggil Abimanyu ketika ia hendak keluar dari rumah. “Iya, Mas.” “Persiapkan dirimu nanti malam, saya akan meminta hak saya.” Deg! Jantung Agni berdetak begitu keras ketika mendengar perkataan suaminya itu. Astaga! Agni merasakan pipinya memerah, tunggu, tapi seluruh tubuhnya ikut memanas. Otaknya mulai melakukan traveling-traveling kemana-mana. Hingga panggilan dari Abian tak ia dengarkan. “Ibukkk...” panggil Abian gemas sambil sambil menarik lengan daster Agni. “Hah? Kanapa, nak?” “Bian sama ayah pergi dulu ya, Buk. Assalamualaikum!” “Walaikumsalam. Hati-hati!” Abian mengangcungkan jempolnya sambil berlari menuju pintu depan yang sudah ada Abimanyu lebih dulu. Bocah lelaki itu langsung menuju garasi ketika tak menemukan Ayahnya didepan rumah. “Ayoo Kak!” Jika tadi jantung ibunya yang berdetak kencang, kini jantung Abian pun merasakan hal yang sama. Keringat dingin sebesar biji jagung muncul diwajah anak lelaki itu. Jaketnya ia remas kuat-kuat ketika bayang masa lalu beberapa tahun yang lalu muncul di kepalanya saat melihat Abimanyu duduk diatas motornya yang menyala. “Ayoo Kak!” Ayahnya dulu juga memanggilnya seperti itu tapi—- “Kak Bian! Kak Bian kenapa, nak?” Abian mengerjapkan matanya beberapa kali saat tersadar dari lamunannya. Tiba-tiba Abimanyu sudah berdiri dihadapannya dengan tatap khawatir sambil mengguncangi bahunya. “Abian kenapa, nak?” Bukannya menjawab, Abian malah mengalihkan pandangan ke arah garasi dan tak lagi melihat motor yang tadi sempat digunakan Ayahnya. “Abian enggak papa kok, Yah.” “Kita naik mobil aja, yah? Cuacanya lagi dingin ini.” Abian mengangguk lalu berjalan memasuki mobil Abimanyu. Sedangkan Abimanyu terdiam sebentar sebelum menyusul Abian masuk ke dalam mobil, ia sempat melihat ke arah motor yang tadi hendak ia gunakan sudah dipindahkan ke balakanh mobilnya. Abimanyu tidak tahu apa yang terjadi pada Abian, anak itu sepertinya memilik trauma dengan motor. Akhirnya mobil milik Abimanyu keluar melintasi perumahan yang mereka tempati. Sesekali selama perjalanan Abimanyu melirik ke arah Abian yang tadi hanya diam dengan kepala menunduk. Hal itu membuat jiwa Abimanyu sebagai seorang Ayah terganggu, jika memang Abian memeliki trauma, maka harus cepat diobati. “Abian mau beli apa, nak? Cemilan? Atau pengen yang lain?” tanya Abimanyu membuat Abian mendongakan kepalanya menatap ke arah kaca pengemudi. “Abian enggak mau apa-apa, yah.” Anak itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah jendela disampingnya. “Abian,” panggil Abimanyu lagi setelah tawaran pertamanya di tolak. “Iya?” “Ayah boleh tanya?”  Anak laki-laki itu mengangguk. “Abian kenapa ngelihat Ayah pake motor, emmm, apa Abian takut naik motor?” tanya Abimanyu sebisa mungkin untuk menjaga perkataannya. “Abian enggak takut naik motor,” ujar anak laki-laki itu membuat Abimanyu menghela nafasnya lega, ia kira Abian memiliki trauma jatuh dari motor sehingga tak ingin lagi menaiki kendaraan beroda dua itu. “Abian..” anak laki-laki itu menelan ludahnya. “Abian cuman jadi ingat waktu dibonceng Ayah naik sepeda motor, kami ditabrak mobil hingga Ayah meninggal.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD