“Mas Abi.” “Mas.” Agni mendengar lelaki itu menghela nafasnya disusul dorongan pada kursi rodanya berhenti. Wanita itu mendongak, meletakan telapak tangannya diatas tangan Abimanyu. Bola matanya menatap lelaki itu yang mencoba membuang emosinya. “Mas Abi tenang ya,” pintanya pada sang suami. “Kita disini dulu ya, Mas. Daffi belum makan,” ujarnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah Kadaffi. “Daffi laper kan, nak?” tanyanya. Bocah itu mengangguk sambil cemberut. “Mau disuap Ibu,” katanya membuat Agni mengusap rambut bocah itu. “Daffi enggak mau disuap Ayah?” tanya Abimanyu tiba-tiba membuat Agni dan Kadaffi menoleh ke arah pria itu. “Emang Ayah mau suapin Kadaffi?” tanya Daffi riang membuat hati Abimanyu tersentil medengar pertanyaan anaknya. Dulu ia memang begitu sibuk bahkan tak j

