Agni - 10

2127 Words

“Ibuukkk...” “Iya, sayang sebentar.” Agni datang dari dapur dengan tergopoh-gopoh, wanita itu kemudian duduk disebelah Kadaffi yang nampak lemas di sofa ruang keluarga. “Minum dulu, nak.” Wanita itu membantu bocah laki-laki itu untuk meminum air putihnya. Namun, baru seteguk, Kadaffi sudah menjauhkan mulutnya dan menggeleng. “Pait, Buuu.” Agni bertambah cemas, sejak semalam Kadaffi tiba-tiba diserang panas. Ia sudah memberikan obat penurun panas dan plaster penurun panas instan di dahi bocah itu. Tapi, ketika bangun pagi. Demam bocah itu sama sekali tak menurun, malah semakin naik. Akhirnya, saat pagi, ia meminta pada Araka dan Arasi untuk sarapan di sekolah saja karena ia harus segera membawa Kadaffi ke rumah sakit. Kekhawatiran Agni bisa sedikit lenyap ketika anak itu hanya di diagn

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD