Jealousy

1852 Words
Kelas Vanta hari ini berakhir lebih cepat. Namun, ia masih harus mengikuti kelas selanjutnya. Terakhir untuk hari ini. Kampus sudah tidak terlalu ramai saat hari menjelang sore. Sinar matahari tidak lagi begitu menyengat, justru terasa hangat. Menarik napas perlahan, cewek itu memandang sekeliling kampus. Senyumnya mengembang, sepertinya saat ini adalah waktu paling aman untuk pergi ke kantin, duduk dan bersantai sejenak membaca komik online sambil menunggu kelas berikutnya. Setibanya di kantin, ia mengambil salah satu tempat duduk di sebeleh jendela kaca kantin yang menghadap ke pelataran kampus. Sebelum memulai ritualnya, tidak lupa memakai kacamata berlensa minus yang hanya digunakan pada saat membaca atau belajar. Di sisi lain, Alvin yang sejak tadi berada di smoking area berjalan menuju kantin. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis—yang lagi-lagi—mengenakan kemeja longgar, duduk di salah satu bangku, menunduk menekuri sesuatu di meja. Cewek berkacamata itu menampilkan raut serius menatap ponselnya. Alvin yang semula ingin pulang mengurungkan niatnya. Menarik bangku tinggi yang menghadap ke tempat duduk cewek itu. Kantin yang sepi sore itu menimbulkan kesan sunyi dan tenang. Alvin terus memerhatikan apa yang dilakukan Vanta, setiap gerak-gerik, serta ekspresi cewek itu. Kali ini dia tersenyum kecil dengan ponsel yang dipegangnya, lalu melepaskan kacamatanya. Tebakan Alvin, sepertinya gadis itu sedang membaca atau menonton. Sebelah sisi wajahnya tersorot oleh serpihan cahaya matahari sore yang menembus kaca jendela. Diperhatikan lekat-lekat wajah cewek itu. Bola matanya hitam mengilat, rambut panjangnya yang hitam legam sering dikuncir rapi ke belakang, hidungnya mungilnya menghiasi wajah yang tirus. Hari ini gadis itu memakai kemeja yang─untuk ukuran cewek─kebesaran seperti biasanya. Memang setiap Alvin bertemu dengan gadis itu, dia selalu tampil cuek dan santai. Memakai baju yang gayanya bisa dibilang tidak jauh dari style Alvin sendiri, kaus atau kemeja. Tapi dengan penampilan yang biasa saat ini, mendadak dia terlihat... imut? Benar-benar manis. Alvin terus memerhatikannya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. Tidak lama kemudian cewek itu menegakkan badan, menoleh ke jendela kaca, dan beralih ke jam tangannya. Alvin yang menyadari tindakannya barusan segera membuang fokus terhadap cewek itu. Diliriknya sekali lagi Vanta telah beranjak dari tempat duduknya. Ketika tatapan mereka bertemu, cewek itu diam sejenak, lalu membuang muka. Alvin tersentak dengan reaksinya. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Dia jadi penasaran, ekspresi seperti apa saja yang bisa ditunjukkan seorang Vanta? *** Perasaan lega dirasakan Vanta selama hampir seminggu. Ia curhat pada Jessi tentang Alvin yang tidak mengerjainya lagi selama tiga hari berturut-turut dalam minggu ini. Sungguh keajaiban yang perlu dirayakan. Mungkin cowok itu sudah lelah mengganggunya. Saat Vanta berderap ke kantin ingin membeli makan siang, panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya. Dia mengernyit bingung sebelum menjawab. ”Halo? Siapa ya?” ”Hai Ta... Ini gue, Ferdi,” ujar suara lembut di seberang sana. “Hari ini gue bawa kamera. Mau coba?” “Mau banget! Habis lunch?” “Oke. Bareng yuk.” Ternyata Ferdi tipe orang yang menepati janji. Buktinya dia sampai mengabari Vanta saat membawa kamera. Ajakan Ferdi membuat Vanta merasa senang, entah mengapa ia tidak bisa melepas senyum yang mengembang di bibir usai menerima telepon. Pertama kalinya dia akan mencoba kamera yang asli. Rasanya nggak sabar. Sampai ketika memasuki galeri, Arya, teman sejurusan Vanta sekaligus mantan tetangganya bertanya, “Hayoo... Ngapain lo mesem-mesem gitu?” “Nggak pa-pa,” jawab Vanta masih dengan senyum cerah di wajahnya. “Abis nonton bokep ya?” tanya Arya asal. ”Heh! Sembarangan aja kalo ngomong!” Memukul lengan Arya galak. Mereka memang cukup akrab waktu masih bertetangga. Akhir pekan mereka habiskan waktu dengan bermain bersama anak-anak tetangga lain saat masih SD. Arya cekikikan setelah meledek Vanta. Mahasiswa kelasnya hari ini berkumpul di galeri. Mengamati hasil karya yang terpampang di sana. Semua yang ada di galeri merupakan karya terbaik, siapa pun yang berhasil memajang lukisan, desain, foto, dan karya lainnya di sana, pasti akan merasa bangga. Bagaimana tidak, hal itu menunjukkan bahwa karya mereka diakui semua dosen jurusan DKV. Pak Hery, Pak Anton, dan Bu Dewi adalah senior di bidang desain. Mereka kini menjadi dosen jurusan DKV yang terkenal jenius, tegas, serta tidak mudah bagi mereka memuji hasil karya anak didiknya. Bisa dibayangkan, sebagus apa karya-karya yang di pajang di galeri. Mata Vanta kemudian terarah pada satu lukisan yang tergantung di dinding. Lukisan itu merupakan ilustrasi seseorang atau mungkin malaikat yang memeluk setangkai mawar besar yang dibuat dengan cat minyak warna monokrom. Sosok yang memegang mawar hitam yang merekah, dengan beberapa helai kelopak yang gugur. Meski hasil akhir warnanya monokrom, tapi Vanta yakin, perpaduan warna yang digunakan bukan hanya cat hitam dan putih saja. Orang itu mampu menyihir lukisan ini menjadi begitu indah dan elegan. Gradasi warna pada kelopak mawar itu menimbulkan kesan hidup. Setiap goresan kuasnya tampak nyata. Namun dalam lukisan ini terkandung sarat kesepian dan kesedihan yang dalam. Vanta merasa tersentuh sekaligus kagum dengan lukisan di depannya. Si pembuat lukisan benar-benar berhasil menyampaikan perasaannya lewat lukisan ini. Orang itu pasti melukisnya dengan sepenuh hati, mencurahkan segenap perasaannya. Hebat, seperti melihat karya seniman di pameran besar. Dia jadi bertanya-tanya, apakah orang itu melukisnya untuk mencurahkan kepedihan? Cukup lama menatap lekat pada lukisan itu. Sampai ia teringat harus bergegas ke kantin menyusul Ferdi. *** Jessi dan Ferdi sudah tiba di kantin lebih dulu. Vanta mengambil tempat di sebelah sahabatnya, meletakkan tas di bangku. “Eh, Vanta udah dateng. Gue pesen makan dulu, ya.” “Oke, Fer,” jawab Jessi dan Vanta serempak. Setelah Ferdi menjauh, Jessi langsung menoleh pada Vanta. Berubah mode jadi mode penggosip. “Asiiik, udah mulai ‘pedekate’ nih!” “Ish, apa sihhh? Dia cuma bilang hari ini dia senggang dan bawa kamera. Jadi mau ajarin gue.” “Nah, itu udah tanda-tanda tau, Ta...” “Tanda apa?” “Ah, jangan pura-pura nggak tau.” “Udah, deh! Jangan mikir yang macem-macem, Jesslyn.” “Eh, eh... Itu Nathan.” Tunjuk Jessi saat dilihatnya sosok gempal lelaki—membawa nampan makanan—yang belum lama mereka kenal. Vanta menoleh, mengikuti arah pandang Jessi. “Oh iya. Nath! Sini, duduk bareng.” Dengan tergopoh Nathan menghampiri meja mereka. “Pindah lo Ta,” Jessi mendorongnya. “Hah? Pindah ke mana?” “Ke seberang, Nathan sama gue. Lo di sebelah Ferdi.” Cerdas memang teman Vanta yang satu ini. Kalau soal jadi mak comblang, dia paling cepat tanggap. Ada saja idenya buat jodohin teman. Vanta berdecak malas, tapi akhirnya bangun juga dari duduknya. Pindah ke bangku di seberang Jessi. Ketika Jessi sedang berceloteh ria pada Vanta dan Nathan sambil makan, Ferdi datang membawa nampan makanannya. Mereka makan sambil mengobrol. Tapi Vanta lebih banyak tersenyum dan mendengarkan. Hanya mengeluarkan suara saat ditanya. Diam antara grogi dan tidak tahu harus ngomong apa. ”Ta, gue duluan ya,” pamit Jessi selesai makan, menyandangkan tasnya di bahu. ”Loh? Mau kemana lo? Bukannya lo masih ada kelas?” ”Jalan-jalan bentar sama temen gue, abis itu ke sini lagi,” jawabnya sambil tersenyum pada Vanta dan Ferdi. ”Nathan, yuk.” Tiba-tiba Jessi menggamit tangan Nathan dan mengajaknya pergi dari kantin. ”Eh, eh, kok sama Nathan juga?” Pertanyaan Vanta tidak digubrisnya, Jessi sudah keburu melangkah cepat dengan Nathan yang mengikutinya dengan raut bingung. Vanta cuma bisa melongo melihat temannya yang meninggalkannya begitu saja. ”Terus, kita jadi?” tanya Ferdi memastikan. “Eh, jadi kok, di mana?” “Di taman aja gimana? Kan adem di situ. Pemandangannya lumayan juga buat dijadiin objek.” ”Oke. Yuk,” Vanta dan Ferdi duduk di salah satu gazebo di taman kampus. Di situ memang tempat yang strategis, taman yang letaknya berada di tengah gedung kampus ditanami banyak pepohonan dan beberapa jenis bunga. Ferdi mulai mengarahkan kameranya pada salah satu tanaman merambat, dan mengambil gambarnya. Cara ia memegang kamera, ekspresinya di balik kamera, dijamin bikin cewek yang melihatnya langsung pingsan saking terpesonanya. ”Nih, lo coba.” Suara Ferdi mengejutkan lamunan Vanta. “Eh, iya.” Vanta menerima kamera yang diulurkan Ferdi, dilihatnya pemandangan dari balik lensa kamera. Rasanya menyenangkan mengambil gambar. Sesekali Ferdi menjelaskan jenis-jenis lensa yang dipakainya. Vanta mendengarkan dengan seksama dan mencatatnya di kepala. “Wah… Lo tau banyak ya tentang kamera?” tanya Vanta membidikkan kamera itu ke sembarang arah. “Nggak kok. Namanya juga cuma sekadar hobby.” Ferdi tersenyum memerhatikan wajah Vanta yang serius, kemudian bertanya, “Jadi, lo biasa dipanggil Tata?” “Nggak, cuma Jessi doang yang manggil gue Tata. Panggilan sayang katanya,” ujar Vanta yang kemudian terkekeh. ”Oh, jadi panggilan lo apa dong?” “Ya panggil Vanta aja. Kalo di rumah sih, gue dipangil Ata,” “Ata?” “Iya, karena waktu kecil gue nggak bisa nyebutin nama gue dengan jelas. Jadi Ata gitu kedengerannya. Aneh ya?” “Nggak, malah lucu kok.” Ferdi tersenyum. Ah, lagi-lagi senyum itu bikin Vanta melumer. “Kakak gue aja dipanggilnya Oka,” ”Lo punya kakak? Cewek atau cowok?” ”Punya, cowok....” ”Kalo kakak lo namanya siapa?” ”Vodka, hehe...” Vanta menyuarakan tawanya dalam suku kata. ”Wow, unik ya nama kalian berdua. Lo dua bersaudara?” ”Yup. Kalo lo?” ”Gue tiga bersaudara, cowok semua.” Vanta tersenyum, lalu bertanya, ”Lo anak ke berapa?” “Di tengah-tengah, penetralisir keributan.” “Pantes keliatan bijak,” ”Masa?” Ferdi terkekeh pelan mendengar pujian Vanta. ”Hmm, keliatannya sih begitu. Nggak tau sebenernya gimana?” Sambil membidikkan kameranya ke arah Ferdi. Sementara itu di koridor sebelah utara, Alvin dan kawan-kawan sedang berjalan menuju lift. Ia melintasi lorong yang mengelilingi taman utama kampus. Andre yang memalingkan wajah seketika berseru, ”Eh, eh, liat tuh!” Dengan serempak Alvin dan yang lainnya menoleh ke arah yang ditunjukkan Andre. ”Weits, ada yang mojok, Vin. Gangguin lah,” ujar Edo menepuk bahu Alvin. Toto yang sifatnya netral-netral saja hanya diam ikut memerhatikan. “Iya, udah berapa hari kita nggak liat lo ngerjain Pepsi Blue nih,” Pepsi Blue yang dimaksud Andre adalah Vanta. Sebutan itu diberikan oleh Alvin yang sudah tahu nama Vanta, dan kebetulan ia pernah melihat Vanta berpenampilan serba biru. Belum lagi motor cewek itu berwarna biru. Lalu secara spontan sebutan Pepsi Blue itu tercipta. Alvin menatap ke arah taman dengan pandangan menerawang, ia melihat gadis itu sedang bercakap-cakap tersenyum gembira memegang kamera dengan seorang cowok di sebelahnya yang juga sedang tersenyum. “Siapa cowok itu?” Menunjuk ke arah cowok di sebelah Vanta dengan dagunya. “Itu anak komunikasi kalo nggak salah,” jawab Toto sang informan. “Oh... Cowoknya?” Alvin masih memerhatikan Vanta sambil memainkan permen karetnya di dalam mulut. “Setau gue sih, cowok itu nggak punya pacar.” Lagi-lagi Toto yang menjawab. Memang cowok ini selain ingatannya kuat, juga up-to-date mengenai berita tentang mahasiswa dan seputar kampus. “Oke, besok kita siap-siap buat ngerjain ’Pepsi berjalan’ itu,” kata Alvin mengomandani teman-temannya. Ia tidak mengerti, tapi mungkin ini takdirnya untuk menjadi musuh besar Vanta di kampus. Saat cewek itu menjerit kesal kepadanya, dia senang, dia puas. Saat cewek itu terlihat bahagia mengobrol dengan orang lain, ia yang merasa kesal, merasa tidak adil. Namun satu pertanyaan muncul dalam benaknya, bagaimana bila gadis itu tersenyum dan tertawa karena dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD