Last War?

1548 Words
“Vin, ngampus lo?” Seorang cowok keluar dari Land Cruiser hitamnya. Lelaki berparas cool dan tampak lebih normal dibandingkan yang lain, tapi herannya mau main dengan geng Alvin. Vanta dan Alvin yang juga baru turun dari mobil menoleh bersamaan, lalu Alvin menjawab singkat. “Yo.” “Bukannya lo nggak ada kelas hari ini?” tanya Toto menekan tombol pengunci mobilnya. “Nganter dia.” Alvin menunjuk Vanta dengan dagunya. “Gue nggak minta dianter!” protes Vanta. “Heh, udah bagus gue mau berbaik hati sama lo.” “Nggak berbaik hati juga nggak pa-pa. Kan tadi gue bilang nggak usah!” Toto cuma melongo melihat kedua orang di depannya. Belum lama ia mendapatkan dua makhluk di depannya ini bak Belanda dan Indonesia, penjajah dan yang dijajah. Pertempuran sengit yang seperti “Perang Dunia” juga sudah berlangsung beberapa kali di antara mereka. Tapi sekarang, apa Belanda telah mengibarkan bendera putih? Ehem, tentu saja Belanda itu maksudnya Alvin. “Kok kalian bisa....” Pertanyaan Toto terhenti saking bingungnya hingga sepasang alisnya berkerut menyatu. Kalau kalian bertanya, apa yang terjadi setelah peristiwa tadi pagi, Vanta menjitak kepala kudanil itu setelah terpeleset jatuh ke pangkuannya. Ya maksudnya kepala Alvin, siapa lagi? Gila, pokoknya dia nggak mau lagi dekat-dekat musuh bebuyutannya. Dia nggak bisa berjarak kurang dari setengah meter dari cowok itu karena jantungnya terus saja berisik kalau ada di dekatnya. Setelah Vanta bilang mau pulang ke rumah karena harus buru-buru ke kampus, lelaki itu malah ngotot mau mengantarnya. Alasannya, kalau Vanta pingsan lagi gimana? Padahal dia sudah merasa jauh lebih baik dan sehat-sehat saja. Seharusnya cowok itu nggak usah peduli. “Woi!” Terdengar suara lain yang lebih heboh, membuat ketiga orang yang berdiri di parkiran menoleh. Andre rupanya. Sama seperti Toto, Andre juga menatap Alvin dan Vanta bergantian dengan kening berkerut, nyaris keriting. “Pagi-pagi lo udah ngerjain anak orang, Vin?” “Enak aja! Temen berbuat baik kok malah dituduh,” gerutu Alvin. “Terus ni anak lo apain?” Pandangan mata Andre tertuju padanya. Alvin menyunggingkan senyum lebar. ”Dia abis nginap di rumah gue.” “HAH?!” Toto dan Andre terperangah. Sementara Vanta cuma menunduk menahan malu. Kalimat ambigu makhluk sial satu itu bisa bikin orang lain salah paham. “Lo apain dia?” sergah Toto langsung. “Gila lo, Vin! Bales dendam sampe berujung di ranjang segala?! Kenapa nggak ngajak gue?” Tanpa sadar ketiga cowok itu membuat wajah Vanta benar-benar merah. Ingin menyanggah kata-kata Alvin, tapi suaranya tidak bisa keluar saking malunya. Hanya bisa menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Habis sudah, mau ditaruh di mana mukanya? “Sorry kawan, gue lupa.” Si biang kerok menyeringai lagi. “Eh, lo apain dia?” Pertanyaan yang sama diberikan Toto. Tapi sayang pertanyaan itu lagi-lagi tidak diacuhkan karena Vanta yang ada di sisi lain mobil Alvin mendekati mereka kemudian menjerit, membuat Alvin cs menutup kedua telinga dengan telapak tangan. “DIAMMM!! GUE NGGAK ADA APA-APA SAMA DIA, GUE NGGAK NGAPA-NGAPAIN SAMA DIA, TITIK!” Andre dan Toto melepaskan tangan mereka dari telinga masing-masing sambil meringis, sedangkan Alvin terus berusaha menahan tawa. Akhirnya lelaki itu mengambil andil untuk menjelaskan. “Dia kemarin pingsan di depan gue. Sebagai sesama umat berprikemanusiaan, ya gue tolong. Gue nggak tau rumah dia, jadi gue bawa ke rumah gue, deh. Masa iya gue bawa ke hotel? Lebih menggemparkan lagi, dong.” Kedua kawannya ternganga. Yang paling parah Vanta. Ia tidak menyangka cowok itu akan dengan sukarela bercerita. Tapi kenapa bawa-bawa hotel? Bocah gendeng! “Sejak kapan lo punya rasa prikemanusiaan?” Toto menimpali. “Nah, si Pepsi kan pingsan,” Andre menyandarkan sebelah tangannya di pundak Alvin kemudian melanjutkan, ”Berarti nggak menutup kemungkinan buat lo curi-curi kesempatan dong?” Wajah Vanta semakin melepuh, bahkan kini sudah menjalar ke telinganya. Kalau ada lubang di sekitarnya, ia mungkin sudah terjun bebas ke sana. Dia benar-benar berharap Alvin tidak memperkisruh keadaan. Namun laki-laki itu malah menjawab, ”Menurut lo?” Seraya menoleh ke arah Vanta dengan sudut bibir mengembang selebar lapangan basket. Tentu saja membuat Toto dan Andre kembali ternganga. ‘Bunuhh gue. Bunuuhh!’ Vanta membelalak kesal. ”Apa-apaan sih, lo?!” Saraf perasaan Alvin untungnya masih sedikit berfungsi meskipun agak-agak tidak beres. Dengan sumringah ia berkata, ”Nggak mungkin gue nyentuh cowok, Ndre. Gue cowok tulen, masih normal. Lah si Pepsi, nggak jelas cewek atau cowok ‘kan?” Dengan sebelah tangan terangkat menunjuk Vanta. Alvin cs sontak terbahak. Toto yang sempat memandang Alvin dengan tatapan tajam pun seketika melunak. Pertama serasa dilecehkan, sekarang dijadikan bahan guyonan. ‘b******k ni cowok!’ Rutuk Vanta dalam hati. Akhirnya dia berjalan pergi dengan langkah lebar, meninggalkan Alvin cs yang masih tertawa. “Gimana ceritanya, Vin?” Andre kembali bertanya ketika tawanya reda. “Ya kayak yang gue bilang tadi. Gue tanya si gendut dimana rumahnya Pepsi, tapi dia nggak tau. Tanya sama temen ceweknya yang siapa itu namanya─yang nempel sama dia melulu─nggak tau juga. Gila itu cewek, sok misterius! Tadi gue antar pulang, tapi dia nyuruh gue nunggu di pinggir jalan. Gue nggak boleh antar sampai depan rumahnya, alasannya takut gue lemparin bom. Buset, emang gue kayak terorris apa?” “Iya sih, tampang lo itu meragukan banget, Vin,” ledek Toto. “Wajar aja kalo dia nggak percaya sama lo.” Andre manggut-manggut setuju. ”Siyalan lo semua! Temen gue apa bukan lo?” desis Alvin. Toto dan Andre menyeringai geli. “Eh, gue susul tuh cewek dulu. Obatnya sama gue. Ntar malah ngerepotin lagi tu anak,” Alvin langsung meninggalkan kedua temannya. Andre dan Toto saling tatap. “Sejak kapan dia bisa kuatir sama cewek?” “Apa lagi Pepsi yang dikuatirin,” sahut Andre. “Bukannya dia biasa alergi ya sama cewek?” “Mungkin si Pepsi dianggep bukan cewek?” *** “Eh! Obat lo nih,” Alvin berlari kecil menghampiri Vanta yang hendak memasuki lift. Di dalam lift, beberapa mahasiswa dari lantai atas─entah dari lantai berapa─menatap dua makhluk di depan mereka sambil terpaku di tempat, menahan napas. Hampir mirip seperti reaksi Toto dan Andre sebelumnya. Empat orang yang ada di lift tidak percaya dengan penglihatan mereka. Kebetulan orang-orang itu mungkin orang yang sering melihat pertunjukkan Vanta dan Alvin. Saat pintu lift telah terbuka, mereka tidak juga beranjak dari tempat masing-masing. “Nggak usah deh, lo bawa aja,” tolak Vanta malas. “Elo tuh ya! Ntar lo pingsan lagi malah bikin repot orang tau!” “Gue nggak bakal pingsan lagi kok!” Sadar pintu lift telah terbuka, sadar kalau empat pasang mata tengah menatapnya, Alvin melemparkan pandangan tajam pada mereka. Namun keempat orang itu telah dilingkupi keterpanaan. “Ngapain lo semua diam di sana? Nggak mau keluar?” ketus lelaki itu ketika beberapa mahasiswa masih bergeming tak kunjung keluar dari dalam lift. Kontan mereka dengan sopan mengucapkan permisi kepada Alvin dan keluar dari lift, sepertinya semester di bawah Alvin. Setelah mereka keluar, lelaki itu menahan pintu lift. Menarik tangan Vanta masuk bersamanya. “Bawa! Jangan lupa diminum abis makan siang nanti.” Cowok itu menyodorkan kantong plastik putih pada Vanta. Tetapi Vanta menggeleng. “Gue udah sembuh...” Dia paling tidak suka minum obat. “Ha-rus!” perintah Alvin tak terbantahkan. Dengan terpaksa ia menerima plastik itu. Ambil aja dulu. Perkara diminum atau nggak, lihat aja nanti. Orangnya juga nggak bakal ngebuntut terus. Pikir Vanta. “Jangan coba-coba buat berpikir nggak minum obat itu, CCTV gue ada di mana-mana.” Vanta tersentak. Cowok itu seolah bisa membaca pikirannya. Suara dentingan lift menyadarkan mereka. Alvin mengikuti Vanta keluar dari lift menuju galeri. Kemarin Vanta sempat meninggalkan peralatannya di sana karena dia menganggap akan merepotkan membawanya semua. Maka hari ini ia akan mencicil membawanya pulang. Selesai mengambil beberapa peralatan yang ada di dalam tas kain kecil di sudut ruangan, sepasang matanya kembali menatap lurus pada sebuah lukisan. Ya, lukisan yang sangat disukainya di galeri. Lukisan warna monokrom malaikat dengan mawar. Seperti yang sudah-sudah, Vanta bergeming seraya memerhatikan lukisan itu. Berapa kali pun ia melihatnya, seberapa sering pun ia melihat lukisan itu, rasanya tidak akan bosan. Alvin menatap Vanta yang berdiri membelakanginya dengan kening berkerut. Cewek itu sedang mengamati lekat-lekat sebuah lukisan malaikat dengan mawar merekah yang tidak asing baginya. Tentu saja karena lukisan itu sudah berada di galeri sejak dua tahun lalu. Tiba-tiba lelaki itu bersiul nyaring. Membuyarkan konsentrasi Vanta. “Masih di sini lo?” tanya Vanta menoleh sejenak ke Alvin, lalu kembali menatap lukisan di depannya. Alvin tidak menghiraukan pertanyaan Vanta. Dia malah balik bertanya, “Kenapa? Liat lukisannya sampai hampir nempel gitu mata lo.” “Lo tau nggak siapa yang ngelukis? Bagus banget. Feel-nya dapet. Rasa sedih, kesepian, luka, seolah campur jadi satu.” Vanta masih menatap lukisan itu dengan kagum. Dengan senyum seakan mengerti apa yang dirasakan si pelukis saat melukis lukisan tersebut. Lelaki itu tersenyum singkat ketika Vanta masih membelakanginya. ”Begitu?” “Apa?” Vanta membasahi bibirnya dan menoleh kembali ke arah Alvin. “Feel yang lo dapet kayak gitu?” Sebagai jawaban, Vanta mengangguk. “Lo ada kelas jam berapa?” Diliriknya jam di pergelangan tangan, kemudian gadis itu memekik. “Astaga! Bentar lagi gue masuk. Gue cabut duluan.” Dengan pandangan mata, ia mengikuti kepergian Vanta. Masih diam berdiri di di tempat, Alvin beralih memerhatikan lukisan yang barusan dilihat mereka dalam keheningan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD