Saras berdiri, menatapku yang penuh kecanggungan. Mungkin ia berpikir bahwa aku terlihat seperti monyet yang dibedaki dengan pakaian serba tertutup ini. “Gunakan ikat pinggang itu!” ujarnya seraya menunjuk sebuah tali lebar terbuat dari kulit yang keras. Lalu, ia meletakkan nampan bawaannya. Nampan itu berisi sepiring nasi, tempe, sambal dan segelas air untuk minum. Aku rasa makanan itu untukku. Setelah meletakkannya, Saras meraih ikat pinggang itu dan berjongkok di hadapanku. Aku sempat melihat belahan dadanya yang membusung seakan memintaku untuk meremasnya. Pemandangan itu membuat batang kejantananku bangkit dari tidurnya~bangkit dari tidur panjangnya. Kuperhatikan tangannya melingkar di pinggangku dan menyelipkan ujung ikat pinggang itu di tepian pakaian bagian bawahku. Lalu ia m

