Ia merasa seperti orang asing yang tertinggal di luar cerita—padahal dalam benaknya, ia pernah merasa Risa adalah bagian dari dirinya.
***
Dani mematut wajahnya di depan cermin sebelum berangkat. Ia sudah meminjam sejumlah uang dari temannya, cukup untuk bekal perjalanan. Tujuannya satu: menuju Ciater, Subang—tempat Risa dan Santa merencanakan pertemuan rahasia.
Jantungnya berdegup kencang, mengiringi kecemburuan yang merasuki setiap relung nadinya.
Ia berangkat lebih pagi, naik bus ekonomi, lalu berganti kendaraan umum hingga sampai ke lokasi.
Udara dingin pegunungan menyambutnya, tapi hati Dani justru semakin gerah. Ia memilih duduk di sebuah kantin sederhana dekat area parkir. Dari sana, ia bisa mengawasi setiap kendaraan yang datang.
“Lagi ada yang ditunggu ya?” tanya pedagang kantin, sambil menyimpan gelas kopi di dekat Dani.
“Iya, Bu… dia HP-nya mati, jadi tak bisa kuhubungi,” jawab Dani.
Waktu terasa berjalan dengan lambat, bagi Dani. Tapi beberapa jam kemudian, sebuah mobil yang ditunggu-tunggu, avanza hitam, akhirnya muncul, dan melaju ke sebuah hotel, lalu berhenti perlahan di pelataran parkir hotel.
Jantung Dani berdegup keras saat melihat pria itu turun lebih dulu dari mobil, Santa. Ia membuka pintu penumpang, lalu menuntun Risa keluar.
Mereka tertawa kecil, lalu bergandengan tangan dengan mesra menuju lobi. Pemandangan itu membuat d**a Dani terasa sesak.
Dani hanya bisa menatap dari kejauhan. Ia tak punya cukup uang untuk menyewa kamar hotel, agar bisa lebih jelas melihat apa yang terjadi—meski ia sudah tahu apa yang akan terjadi ketika sepasang manusia yang dikuasai asmara dalam jiwanya berada di ruang tertutup tanpa ada siapa-siapa.
Dani tetap duduk di kantin, menyeruput kopi, menghisap rokok, sambil sesekali melirik ke hotel itu. Tak lama kemudian, Santa dan Risa keluar dari lobi dengan pakaian yang telah berganti—pakaian santai untuk berendam di pemandian air panas.
Risa mengenakan kaus oblong longgar dan celana kain tipis selutut. Rambutnya dibiarkan terurai, tapi tetap tampak memesona di mata Dani.
Santa tampak santai dengan sandal dan kaus oblong, membawa tas kecil. Mereka berjalan beriringan ke arah tempat pemandian air panas.
Dani mengikuti mereka dari kejauhan. Untungnya tiket masuk ke tempat itu masih bisa dijangkau oleh uang yang ia pinjam.
Dengan langkah hati-hati, ia menjaga jarak sambil memperhatikan sekeliling. Hatinya sangat gelisah, namun matanya terus terpaku pada pasangan itu.
Di kolam air belerang, Santa dan Risa duduk berdampingan, kaki mereka terendam, dan sesekali saling menyiram air ke tubuh masing-masing.
Tawa mereka pecah dengan ringannya, penuh kehangatan yang bagi Dani terasa seperti hunjaman jarum bertubi-tubi, sangat menyakitkan. Ia merasa seperti orang asing yang tertinggal di luar cerita—padahal dalam benaknya, ia pernah merasa Risa adalah bagian dari dirinya.
Air hangat dan angin Ciater mungkin menyembuhkan bagi banyak orang, tapi bagi Dani, hari itu justru menjadi luka menganga.
Setiap kebersamaan Risa dan Santa yang ia saksikan terasa seperti pengkhianatan, meski ia tahu tak ada janji yang pernah diikrarkan antara dia dan Risa. Tapi rasa yang tumbuh di hatinya tak bisa dibohongi, apalagi saat ia melihat wanita itu kini bersandar di bahu Santa.
Ia merogoh ponselnya. Kemudian memotret kemesraan Risa dan Santa, setelah sebelumnya memijit fitur zoom.
Ia memandang foto mereka di ponselnya. Beberapa jenak menggigit bibirnya. Ia ingin marah, ingin berteriak, ingin menghampiri dan menuntut penjelasan. Tapi siapa dirinya?
Mestinya Amrin yang melakukan itu, tapi Dani begitu yakin, Amrin pasti tidak mengetahui wajah asli Risa dibalik topeng kesetiaannya.
Dani hanya diam, tertelan di antara kepulan uap belerang dan bayang-bayang rasa tak berdaya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap, meredam gejolak, dan memendam luka.
Ketika Risa dan Santa berjalan menuju bilik ganti untuk mengakhiri sesi berendam, Dani memutuskan untuk segera pergi.
Ia tahu, tak ada yang bisa ia lakukan di sana selain menyakiti dirinya sendiri. Tapi satu hal pasti, hari itu menjadi titik balik—bukan hanya untuk perasaannya, tapi juga untuk rencananya ke depan.
Dani sempat menoleh sekali lagi ke arah bilik, seolah berharap ada keajaiban kecil—mungkin tatapan Risa yang sekilas tertangkap matanya, atau senyum lirih Santa yang mengundang perkelahian batin dalam hatinya.
Tapi yang ia lihat hanyalah tirai yang bergoyang pelan, dan suara tawa lembut yang membuat dadanya nyeri.
Tanpa sadar, langkah kakinya membawanya mendekati bilik kamar rendam. Ia tahu, ia tak seharusnya berada di situ, tapi perasaan kosong dan rindu yang mengakar dalam dirinya mendorong untuk melihat, walau sejenak, sosok perempuan yang diam-diam telah merampas hatinya.
Namun sebelum matanya sempat menangkap lebih dari sekadar bayangan, secepat itu pula tubuhnya tersiram air dari arah samping. Dua anak muda, lelaki dan perempuan, tertawa ceria sambil saling menyiram satu sama lain.
Wanita muda itu hanya memakai kaus tipis yang telah basah kuyup, membentuk lekuk tubuhnya yang lentur dan menggoda.
"Maaf, Mas… kami tidak sengaja," ucap perempuan muda itu sambil menunduk malu.
Sementara pasangannya, pria sebaya Dani, ikut meminta maaf.
Dani terhenyak sejenak. Basah kuyup, tapi tidak marah. Ia justru tersenyum, menahan getir dalam d**a.
“Tidak apa-apa,” balas Dani pelan, sambil mengangguk.
Saat mereka melenggang pergi, Dani mendadak merasa konyol. Dirinya yang mengendap-endap seperti pencuri perasaan orang lain, yang bersembunyi di balik bayangan, berharap mendapatkan serpihan cinta dari wanita bersuami yang kini sedang bersama selingkuhannya.
Ia basah bukan hanya oleh air, tapi oleh rasa malu yang menamparnya bulat-bulat.
"Sudah cukup," gumam Dani.
Tak ada gunanya ia mengintip Risa dan Santa. Tak ada kebanggaan dalam menyaksikan cinta yang tak bisa ia miliki.
Dan kalau pun Risa tahu, yang akan ia dapatkan bukan balasan cinta, tapi iba dan mungkin jijik. Dani sadar, ia tak lebih dari lelaki kalah—yang tak memiliki kuasa, tak memiliki nama, tak memiliki harga.
Ia duduk sebentar di sebuah batu, tak jauh dari tempat berendam air belerang. Sejenak memejamkan mata. Percik cinta dalam dirinya semakin kuat, bahkan bukan lagi percik melainkan gelombang. Tapi gelombang itu kini bercampur dengan amarah dan rasa perih.
Ia melangkah pergi, pelan tapi pasti. Setiap langkah seperti mengikis sesuatu dari dalam dirinya—kenangan, harapan, dan mungkin sisa-sisa kepolosan yang pernah ia miliki.
Hari itu menjadi titik balik. Bukan hanya untuk perasaannya, tapi juga untuk tekadnya. Cinta yang ditolak mungkin akan pudar, tapi luka karena cinta yang tak terbalas… bisa bertahan seumur hidup, dan membentuk jalan baru yang entah ke mana akan membawanya.
Tiba-tiba amarahnya menguasai batin Dani. Amarah itu mendorong Dani untuk tidak tinggal diam. Sehingga hati Dani merasa tak rela wanita yang membuatnya begitu gelisah siang-malam, kini jatuh dalam pelukan pria yang salah—salah dalam pandangannya.
Dani tahu, jalan yang akan ia tempuh tidak akan mudah, tapi ia siap menghadapi semuanya—demi gelombang rasa yang tak mampu ia hadang.