Peristiwa malam terakhir sebelum Darta pergi, memang tidak pernah ia ceritakan secara utuh. Bagian intimnya ia simpan rapat-rapat. Tapi mungkin saja Kamta sudah bisa meraba. *** Di balik meja kerjanya, Relina memandangi layar laptop yang sejak tadi tak kunjung ia sentuh. Tumpukan dokumen menunggu untuk diperiksa, tapi jemarinya hanya menatap kaku di atas keyboard. Matanya kosong, pikirannya jauh. Ucapan Kamta semalam terulang lagi di kepalanya, kata demi kata, dengan nada datar yang menusuk: “Kalau kamu merindukan hubungan seks, mari kita bercerai saja secara baik-baik.” Saat itu, ia menjawab spontan. Refleks menolak. Bukan karena sudah mempertimbangkan matang-matang, tapi karena di lubuk hatinya, ia memang tak ingin berpisah. Kamta adalah rumahnya, orang yang selalu ia kenal, yan

