Kucing Pencuri Segalanya

1478 Words
Ia tahu, banjir akan surut. Tapi rasa bersalah—itu akan tinggal. Mengendap. Seperti bau lembap yang tak pernah benar-benar hilang meski rumah sudah diterpa terik mentari berhari-hari. *** Ketika suara yang memanggil di balik pintu depan itu terdengar, Dani dan Risa masih berdiri dekat jendela, separuh terbuka, membiarkan udara malam yang dingin mencubit kulit mereka. Nafas mereka belum kembali teratur. Pelukan mereka baru saja lepas, tapi tubuh mereka belum pulih. Di d**a masing-masing masih ada sisa detak yang terlalu cepat, terlalu keras. “Bu, Bu.. buka pintunya…!” untuk kedua kalinya suara itu terdengar lebih jelas. Suara itu—berat, lelah, dan jelas. Bukan sekadar panggilan. Suara itu adalah kenyataan yang datang mengetuk, menghancurkan selimut keintiman mereka yang semu. Risa tersentak. Wajahnya langsung pucat, seperti darahnya tersedot turun bersama genangan. “Itu… suara suamiku…” bisiknya. Seketika ruangan terasa lebih dingin. Udara di antara mereka mengeras. Dani menoleh cepat, matanya liar. “Aku harus bersembunyi di mana?” Kepanikan terpancar di wajahnya. Tapi Risa, meski gemetar, mencoba berpikir cepat. Matanya mencari celah di rumah yang tak punya banyak ruang untuk berbohong. “Kamu jangan sembunyi...” suaranya gemetar, tapi tegas, “Kamu harus keluar dari rumah ini sekarang…” Hening sejenak. Suara hujan menjadi satu-satunya yang terdengar, deras dan mengancam, seakan langit ikut menyaksikan aib yang baru saja terjadi. “Bu, Bu… tolong buka pintunya…!” Ketukan menyusul. Lebih keras, lebih dekat. Risa menggigit bibir, tubuhnya hampir tak bisa digerakkan oleh panik. Ia menatap Dani sejenak, lalu: “Naik ke loteng. Terus lompat ke loteng rumahmu…” Suaranya serak. Ia tak tahu apakah itu ide yang bagus. Tapi tak ada pilihan lain. Dani mengangguk, pelan. Tak ada waktu untuk membantah. Kecipak air di lantai menyertai langkahnya, seperti suara tubuh yang menyeret beban rasa bersalah. Risa berlari kecil ke arah pintu. Suaranya meninggi, memaksakan nada wajar: “Sebentar, Mas!” Tangga menuju loteng sempit dan tua. Kayunya basah, mengelupas di beberapa tempat. Dani naik perlahan, tubuhnya gemetar, bukan karena kedinginan, tapi karena ketakutan yang menggerogoti nyali. Loteng itu bukan tempat bernaung—hanya tempat menggantung jemuran. Atap sebagian dicor, sisanya beratapkan genting yang sudah kusam. Di sana juga tersimpan alat tak terpakai. Dari atas, Dani bisa melihat loteng rumah sebelah. Hanya dinding tipis dan sedikit lompatan yang memisahkan dirinya dari penyelamatan—atau kehancuran total. Ia mengambil napas. Lalu melompat. Krengggg! Suara seng yang terinjak memecah keheningan. Suara itu seperti peluru yang tak terlihat—menembus malam, menembus hati Risa yang masih berdiri di depan pintu. Dani tercekat. Tapi ia tak sempat berpikir. Ia terus bergerak. Turun ke ruang tengah, menyusuri ruang yang juga tergenang. Rumah itu senyap, gelap. Tak ada suara dari dalam kamar. Ia menapaki lantai perlahan, menuju kamarnya sendiri, dan merebahkan tubuh yang masih gemetar. Napasnya masih tak karuan. Di rumah sebelah, Risa membuka pintu. Wajah Amrin muncul—dingin oleh gerimis, tapi tetap tenang. Tak tahu apa yang baru saja terjadi hanya beberapa detik sebelumnya. “Maaf, Mas… tadi lagi beres-beres berkas di kamar, takut kena banjir.” Risa menunduk, menelan ludah. “Tidak apa-apa, maaf juga tadi saya gedor terlalu keras,” jawab Amrin, melepas sepatu. “Motormu ditaruh di mana?” “Dekat kantor kelurahan…” Mereka bicara sebentar, basa-basi tentang banjir yang menyergap komplek seperti tak ada batas. Tapi Risa hampir tak mendengar. Di telinganya masih terngiang suara seng. Di dadanya, jantungnya berdenyut tak karuan, seperti hendak pecah kapan saja. Di dapur, ia membuatkan kopi. Tangan sibuk, tapi pikiran kacau. Matanya terus mencuri pandang ke arah tangga. Loteng. Tempat terakhir Dani berpijak di rumah ini. Jalur itu kini seperti jejak dosa yang membekas. Ia bisa membayangkan kembali suara langkah Dani di atas sana—pasti gugup dan tergesa. Ia bisa membayangkan wajahnya, ketika pelukan mereka terlepas karena suara di luar memanggil. Ada sisa hangat di kulitnya, tapi hati Risa terasa seperti baru dicelupkan ke dalam air es. Dan lalu—ketukan lagi. Pintu kembali digedor. Dua petugas keamanan perumahan berdiri di sana. Basah, tangannya masih menggenggam senter. “Permisi, Pak… Bu… Tadi kami lihat seperti ada sesuatu di loteng. Bayangan lewat. Tapi saya kurang jelas, semoga hanya seekor kucing…” Risa merasa kakinya seperti lumpuh. Tapi wajahnya tetap tersenyum. “O ya? Mungkin memang kucing, Pak. Saya sering lihat kucing naik ke atas. Kadang dari talang air.” Petugas saling pandang. Tidak yakin. Tapi tak ingin memperpanjang. Setelah mereka pergi, Risa langsung berkata: “Mas, aku mau cek loteng, ya.” “Ayo, aku juga penasaran.” “Minum dulu kopinya, nanti keburu dingin…” Risa menahannya. Waktu. Ia butuh waktu. Di atas loteng, angin membawa sisa-sisa aroma tubuh yang tadi menyelinap. Risa berdiri lama, memandangi loteng sebelah. Hampa. Tapi bekas kehadiran Dani masih terasa, seperti jejak luka yang tak bisa diseka. Udara malam yang dingin menggigit kulitnya, tapi yang lebih menusuk adalah hening yang datang setelahnya. Hening yang menelanjangi pikirannya sendiri. “Kucing,” katanya barusan. Ya, itu memang ‘kucing’. Pencuri. Ia mencuri segalanya. Ia mencuri bahkan sebelum masuk rumah ini. Mencuri dalam tatapan dan percakapan yang terlalu menyentuh hati. Amrin naik beberapa menit kemudian. Risa berpura-pura melihat-lihat, padahal ia hanya mencoba memastikan satu hal: tidak ada bukti. Tidak ada jejak. Tidak ada Dani. “Gak ada apa-apa,” katanya pelan. “Iya. Ayo turun.” Ucap Amrin Di bawah, kopi sudah tidak mengepul lagi. Malam makin larut. Tapi dingin yang menggigit bukan hanya datang dari gerimis. Melainkan dari hati yang retak. Risa menyalakan ponsel. Mencari satu nama yang tak boleh ditemukan siapa pun. Adik Pak Johan. Ia kirim pesan. Hanya satu kalimat. Lalu menghapusnya. Balasannya datang cepat. Ia hapus lagi. Tangannya gemetar, dadanya sesak. Ia ingin menangis, tapi air mata terlalu takut keluar. Ia berbaring. Di sebelahnya, Amrin duduk di tepi kasur, mengelap kakinya yang basah. Ia merebahkan diri pelan, menyender ke kasur, tanpa tahu ranjang itu baru saja menjadi saksi pengkhianatan. Mata Risa terpejam. Tapi pikirannya tak bisa tidur. Ia merasa terkurung dalam tubuhnya sendiri, dikelilingi genangan banjir, kebohongan, dan rasa yang tak pernah ia duga akan lahir dari dalam dirinya. Malam itu, dunia tetap berputar. Tapi hidup Risa, rasanya tak akan pernah kembali sama. Di sebelahnya, Amrin sudah mulai tertidur. Napasnya berat dan berirama, tanda kelelahan setelah perjalanan pulang dari tempat kerja yang juga sempat tergenang. Risa diam saja, menatap langit-langit kamar mereka yang mulai lembap di sudut-sudut. Bayangan retakan kecil terlihat samar, seperti luka yang tak bisa ditambal. Tubuhnya rebah, tapi pikirannya menolak istirahat. Dalam hatinya, rasa bersalah tumbuh seperti karang—keras, dingin, dan menyakitkan. Ia bisa mencium bau tubuh Dani yang masih tertinggal samar di bajunya, aroma yang berbeda dari Amrin, lebih muda, lebih liar. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Tapi juga... ada bagian dari dirinya yang belum bisa melepaskan. Ia memalingkan wajah ke arah Amrin. Wajah suaminya begitu damai. Lelaki itu tak pernah membentaknya, tak pernah menyakitinya secara fisik. Tapi ada yang kosong di antara mereka. Seperti jendela yang selalu tertutup, tak peduli secerah apa cuaca di luar. Perkawinan mereka sudah berjalan tujuh tahun. Tujuh tahun yang penuh rutinitas. Bukan keburukan, tapi juga bukan cinta yang membuat jantung berdegup. Mereka lebih seperti dua orang yang tinggal dalam kontrak sosial, bukan dalam pelukan rasa. “Kenapa aku melakukannya…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. Ia tahu Dani adalah bahaya. Bukan hanya karena ia adik dari tetangganya sendiri, tapi juga karena Dani membuka bagian dalam dirinya yang sudah lama terkunci—bagian yang haus akan perhatian, akan gairah, akan rasa hidup. Semua itu datang bersamaan di tengah banjir. Ironi, pikir Risa. Saat air naik dan menggenangi rumah, justru tubuhnya tenggelam dalam hal yang lebih kotor: pengkhianatan. Kenapa aku lakukan ini? Pertanyaan itu muncul, bukan untuk pertama kalinya. Tapi malam ini, pertanyaan itu terdengar lebih keras. Lebih jujur. Ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Tidak Amrin, yang diam-diam terlalu tenang dan terlalu sibuk. Tidak juga Dani, yang datang seperti badai kecil di tengah ketandusan hatinya. Tidak ada yang ia bisa salahkan, kecuali dirinya sendiri—yang membiarkan semuanya terjadi, meski tidak sesempurna seperti harapan Dani. Meski hanya menggunakan tangan. Tapi tubuhnya dipeluk, bibirnya di… sudahlah. Tetap saja itu penghianatan. Ia tahu, banjir akan surut. Tapi rasa bersalah—itu akan tinggal. Mengendap. Seperti bau lembap yang tak pernah benar-benar hilang meski rumah sudah diterpa terik matahari berhari-hari. Sementara itu, di rumah sebelah, Dani terbaring di tempat tidur kecil dengan seprai lusuh. Dinding kamar yang tipis membuatnya bisa mendengar suara gemericik air dan nyamuk berdengung. Ia menatap langit-langit kamarnya, yang tampak lebih gelap dari biasanya. Dalam pikirannya, bayangan Risa masih hidup. Bau rambutnya, desah napasnya, bisikan tergesa di telinga. Tapi setelah itu datang rasa bersalah yang lebih keras dari suara seng yang tadi diinjaknya. Ia menginginkan Risa lebih dari yang seharusnya. Diam-diam, ia menyukai cara perempuan itu memanggil namanya dengan nada yang berbeda dari wanita lain. Dani menggenggam ponselnya, menarik napas dalam-dalam, lalu membaca lagi pesan singkat dari Risa. Besok, Risa mengejak bertemu di suatu tempat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD