Jantungnya berdetak kencang, bercampur antara cemas, takut, dan pasrah. Ia tahu sebentar lagi pintu itu akan terbuka, dan Ronal, pria yang sangat ia benci, akan masuk membawa janji, dan mungkin semacam intimidasi. *** Siang itu sebuah kafe di Jakarta Selatan tidak terlalu ramai. Aroma kopi yang baru diseduh bercampur dengan suara musik lembut dari pengeras suara. Di sudut ruangan, dua wanita cantik duduk berhadapan. Risa memainkan gagang cangkir dengan gelisah, sementara Relina menatapnya dengan dahi mengernyit. “Bu Risa... ini sangat berahaya,” ucap Relina lirih, sambil menggeleng pelan. “Ibu tadi bilang sudah tahu betul bagaimana kelicikan Si Ronal. Kalau sekali saja ibu beri celah, dia akan memanfaatkan ibu seumur hidup. Dan ibu harus ingat, bagaimana kalau Pak Roki tahu...” ia ber

