Hana menghela nafas berat, “Kamu tahu hari ini Kak Calista Menikah? Aku dapat infonya dari Bi Inah. Katanya akadnya juga sore. Aneh banget kan! Biasanyakan akad nikah itu pagi atau siang Clara. ”
“Ya,trus? Kamu nggak usah datang! Mau subuh, siang, malam, sore, hari raya sekalipun dia nikah ngapain kamu peduli. Toh nggak bakal diundang juga sama keluarga b******k itu!? “
“Huss.. Clara. Kok kamu ngomongnya gitu! “
Terdengar decakan keras dari Clara, “Lah kan emang kenyataannya begitu! Mereka lebih mentingin si bicth itu dari pada kamu yang dibiarin pergi dari rumah dan hidup sendirian selama ini!”
Hana tersenyum mendengarnya, Clara mengingat betul sejarah hidupnya. “Aku nggak pernah sendirian. Ada Allah dan Kamu yang selalu dukung aku selama ini, kan? “
“Heumm...! Yaudahlah intinya kamu nggak perlu mikirin mereka lagi. Aku kasih kamu bebas deh hari ini! Biar urusan kantor aku yang tangani.”
Senyum di bibir Hana semakin merekah. “Makasih,beb! Emang kamu yang terbaik deh! Badabest banget sahabat aku ini!”serunya gembira.
“iya, iya. Udah jelas Clara yang terbaik. Kamu pasti mau kesana, kan? “
“Iya. Nggak apa-apa kan? Mumpung pas lagi di sini.”
“Its oke. Tapi jangan pulang kemalaman. Senyaman-nyamanya tempat itu, lebih nyaman apartemen kita buat tidur! “
“Muehehhe...,iya iya. Nggak mungkin juga aku tidur di sana. Aku bakal cepet pulang kok.“
“Aku tunggu kamu dirumah, bye Han. Assalamuaaikum!”
“Bye, Ra. Waalaikumsalam!”
Hana menutup telponya. Dia kemudian berjalan kembali sampai tempat yang ditujunya mulai terlihat dengan lambang danau di pinggir jalan yang sudah terlihat.
Dan dia harus berjalan sedikit lebih jauh agar bisa sampai ke danau indah tersembunyi di jalan terpencil yang biasa di lewatinya ketika pergi ke kantor.
Tak banyak yang tahu danau indah itu karena tertutup pohon-pohon besar di sepanjang jalannya. Hana saja menemukannya tempat itu ketika dia masih remaja dan tersesat di jalan dan kini menjadi tempatnya menenangkan diri.
Jalan yang masih beralaskan tanah dan rumput itu, tampak begitu licin dan basah.
“Sepertinya baru hujan deras di sini?” gumam Hana, berjalan dengan hati-hati dengan tangannya sesekali memegang pohon agar tidak terpeleset.
Dia mengeluh sejenak, “Kalau tujuanku bukan tempat yang indah, mungkin aku tidak akan melewati jalan licin ini, “
Tak lama danau yang diinginkannya mulai terlihat. “Wahh..., indahnya!” seolah rasa lelah itu sirna begitu saja.
Cahaya matahari yang terpantul di jernihnya air danau membuatnya tampak semakin bersinar. Sebuah kursi kayu di pinggir danau adalah tempat favoritnya. Dan ada satu hal indah lagi yang begitu Hana tindakan di danau itu.
Mata coklat Hana tak bisa berhenti berbinar dan senyuman yang terus mengembang. Dia berjalan mendekat. Tepat di samping kursi kayu itu sebuah pohon besar dengan daun hijau, serta bunganya yang merah merona kini juga telah mekar.
Itu adalah pohon Flamboyan. Tanaman yang khas dengan pohon besar, dan bunga-bunga merah cerah. Bunga Flamboyan bersama mawar disebut queen of flame yang artinya ratu para bunga.
Kata Flamboyan sendiri berarti cemerlang. Maka dalam konteks ini, bunga Flamboyan melambangkankesegaran dan kecemerlangan.
Itulah kenapa Hana begitu merasa tenang, segar dan bahagia ketika berada di tempat ini.
Tangan halus Hana menyentuh batang pohon besar itu. Dia kemudian mengusapnya lembut sambil mengucap salam.
“Assalamuaaikum, queen!” bisiknya. Hana suka memanggilnya dengan sebutan Queen karena cocok dengan keindahan bunga flamboyan itu.
Sejak Hana remaja bunga itulah yang menemaninya di danau itu di kala dia sendirian.
“Hei, queen. Aku mengunjungimu lagi setelah 1 tahun ya? Dan kamu selalu mekar setiap aku kemari. Bungamu semakin indah saja! “
Sreeeettttt. ...
Angin bertiup kencang membuat kelopak bunga flamboyan beterbangan menyambutnya.
Hana memejamkan matanya ketika angin bertiup lembut padanya. Membuat kain hijabnya berayun.
“Terima kasih sambutannya...,Queen. Aku mempunyai sahabat sekarang. Namanya Clara, dan dia lebih bawel dan mengesalkan dari pada aku. Aku sering menceritakanmu padanya, mungkin nanti aku akan Membawanya kemari.”
Saat Hana tengah menikmati ketenangannya.
Samir pun baru sampai di tempat yang sama. Jefri memarkirkan mobil mereka di pinggir jalan.
Setelahnya dia keluar lebih dulu untuk memeriksa keamanan untuk Tuan Mudanya.
Dia berjalan menelusuri jalanan lembah yang licin itu. “Astaga! Bahaya banget nih untuk Tuan Muda! Aku saja sudah terpeleset beberapa kali! “katanya menggerutu.
“Aku harus mengatakan apa kepada Tuan Muda? “ Dia di buat pusing dengan jalanan yang licin it. “Pasti akan bahaya kalau menggunakan kursi roda Tuan Muda! “
Jefri kembali menghadap pada Samir yang masih menunggu di dalam mobil.
Pintu mobil terbuka, Namun Samir sama sekali tak memandangnya. “Tuan, jalanan di sana sangat licin dan mungkin akan berbahaya bagi Anda. Tuan yakin tetap ingin kesana?”
“Aku tidak peduli! Aku ingin kesana. “ujar pria itu datar.
Jefri berusaha menjelaskan. “Tapi Tuan..., “
“Bukankah tugasmu untuk menjaga? Untuk apa kau bekerja jika tidak berguna! “
“Asemmm...nyelekit sampek ubun-ubun cuy omongannya! Sabar Jef, sabar! “rutuk dewa batinnya. “Baikalah Tuan! “pasrah Jefri dengan membungkuk hormat serta senyum paksa di bibirnya.
Dengan perlahan dia menurunkan Kursi roda dan menuntun Tuan Mudanya untuk duduk perlahan.
Jefri mendorong dengan hati-hati walau sesekali rodanya tergelincir dan dia berhasil menyeimbangkannya kembali.
“Berhati -hatilah Jef! Kau mau membunuhku ya! “omel Samir.
“Tidak Tuan. Mana saya berani. Sudah kukatakan kalau jalananya licinkan. Anda saja yang ngeyel! “
“Kau mengatakan sesuatu!”
Glekk...
“Ti-tidak Tuan! “Jefri merasa hampir mati menahan nafas ketika mengira Tuan Mudanya mendengar dumelannya.
Tiba-tiba saja roda itu tersangkut oleh akar pohon dan membuat kursi roda itu terlepas dari pegangan Jefri.
“Tuaannn....! “Jefri berteriak histeris ketika kursi roda Tuan Mudanya berpacu turun karena tanahnya yang menurun. “Astaga Tuan! “
“JEFRI APA YANG KAU LAKUKAN?! KAU BENAR-BENAR INGIN MEMBUNUHKU YA?! “Samir pun tak kalah panik ketika dia terus melaju turun bahkan dia sudah bisa melihat danau itu.
Dia berpikir dia akan jatuh ke danau dan mati tenggelam.
Dari Jauh Jefri yang mengejar Tuan Mudanya melihat sosok gadis yang berdiri di pohon besar dan berteriak padanya.
“NONA... TOLONG TANGKAP DIAA NONA?! “pekik Jefri panik ketika Tuan mudanya hampir mencapai danau.
Hana tersentak ketika suara keras itu mencapainya. Dan dia menoleh ke depan, dan benar saja .Matanya melotot lebar ketika kursi roda itu melaju kencang.
“TUAN! “teriak Jefri.
Hana langsung berlari dan menahan bagian depan kursi roda itu. Mata Samir terpejam saat itu seolah dia pasrah ketika membayangkan dia akan jatuh.
Namun dia tersentak dengan jantung berdebar karena ketakutan ketika kursi roda itu tiba-tiba saja berhenti.
Mata Samir masih terpejam. Sampai ketika suara lembut memanggilnya.
“Anda tidak apa-apa Tuan? “
Samir membuka matanya. Dan melihat untuk pertama kalinya sosok Hana yang tepat berada di depannya yang memandangnya dengan sorot khawatir .
“Tuan? Anda baik-baik saja? “lagi Hana bertanya karena pria itu tampak masih terpaku karena terkejut.
#Bersambung