3. MSC

1879 Words
Beberapa hari kemudian terlihat sosok laki-laki yang berparas tampan memasuki sebuah rumah besar dengan langkahnya yang terburu-buru sekaligus wajahnya memperlihatkan kekhawatiran. “ Mama… mama… mama.” Panggil laki-laki tersebut dengan langkahnya yang cepat untuk memasuki sebuah kamar. “ Mama dimana bi.” Tanyanya. “ Nyonya di kamarnya mas. Dia sedang istirahat setelah minum obat.” Jawab bi Ami. Langkahnya pun ia lanjutkan. Saat ini dirinya sudah ada di dalam kamar sang mama. Dia pun mendekat dan duduk di inggir ranjang mamanya. Tatapan sedih pun ia tampilkan saat melihat kepala mamanya berbalut perban. “ Maafin Akhtar ma, Akhtar ngga tahu kalau mama kecelakaan. Dan kenapa mama juga harus menutupinya dari Akhtar.” Ucapnya lirih. Tapi ternyata suaranya sudah membangunkan mamanya. Tangan sang mama pun langsung menggenggam tangan Akhtar. “ Karena ini yang ngga mau mama lihat. Mama tahu kamu pasti akan langsung sekhawatir ini kalau sampai kamu tahu mama kecelakaan.” Jawab mamanya. “ Tapi Akhtar berhak tahu ma, dan apa jadinya kalau sampai hal yang lebih buruk terjadi pada mama. Apa mama mau Akhtar jadi anak yang buruk membiarkan mamanya terluka seperti ini.” Ucapnya dengan nada sedikit tinggi. “ Sekarang kamu lihat mama baik-baik aja kan.” Balas mamanya sambil bangun untuk duduk. “ Please ma, lain kali jangan sembunyikan masalah seperti ini lagi dari Akhtar.” Pinta Akhtar dan mamanya langsung mengangguk. “ Iya Akhtar mama janji. Oh ya bagaimana kerjasamanya.” Tanya mamanya. “ Alhamdulillah ma semuanya lancar.” Jawab Akhtar. “ Alhamdulillah.” Mereka berdua pun langsung melanjutkan perbincangan dengan berbagai hal. Bu Hanin pun menceritakan tentang Shanum yang telah menolongnya. Akhtar pun juga terkejut mendengar nazar yang mamanya buat untuk dirinya. “ Ya Allah ma, tolong dong ma jangan bicara atau buat nazar sekonyol itu.” Ucapnya yang kesal karena mamanya membuat nazar ingin menikahkannya dengan wanita yang menolong mamanya. “ Untung aja itu wanita udah nikah dan punya anak.” “ Ya abisnya mama kesal sama kamu. Karena kamu sampai sekarang ngga pernah ngenalin pacar ataupun wanita yang kamu sukai pada mama tar. Mama kan juga pingin ngliat kamu menikah seperti anak-anak teman mama tar. Mama juga pingin punya cucu.” Jawab mamanya. “ Ya Allah ma, berapa kali sih Akhtar harus bilang ke mama. Kalau sampai kapanpun Akhtar ngga akan menikah. Dan masalah mama pingin cucu Akhtar bisa kok ngadopsi anak jadi mama bisa punya cucu.” Jawabnya asal. Dan hal tersebut membuat mama Akhtar sangat kesal pada putranya, dia langsung mencubit Akhtar. “ Awww sakit ma.” “ Kamu tuh ya, memang ngga bisa buat mama seneng, selalu aja punya cara untuk buat hati mama terluka. Ya beda lah tar, mama ingin memiliki cucu, dan itu dari kamu sendiri bukan ngadopsi. Dan sampai kapan kamu bisa melupakan masa lalumu yang ngga jelas itu tar. Mama ingin kamu bisa membuka hatimu untuk wanita lain tar, dia sudah meninggal dan ngga mungkin bisa kembali.” Ungkap mamanya. “ Please ma jangan bahas masalah ini lagi dan sampai kapanpun jawaban Akhtar akan sama. Jadi mama ngga perlu menanyakan hal yang sama juga. Sebaiknya sekarang mama lanjutin istirahatnya. Akhtar pun mau kembali ke kamar buat istirahat, Akhtar cape ma.” Jawabnya yang kemudian keluar dari kamarnya. Mama Akhtar pun terlihat kecewa melihat Akhtar seperti itu. “ Sampai kapan akan seperti ini nak, dan siapa wanita yang bisa membuatmu menutup hati seperti ini. Walaupun dia sudah meninggal kamu masih mencintainya.” Ucap mamanya setelah Akhtar keluar dari kamarnya. *** Keesokan harinya Shanum menemui putranya yang ternyata telah dijemput oleh Naufal Dan saat ini sedang diajak makan siang oleh Naufal. Tanpa Shanum duga disana pun juga ada Nasha. “ Asalamualaikum.” Salam Shanum. “ Waalaiakumsalam.” Balas Naufal dan Nasha. Sedangkan Wafi masih asyik melahap makanannya. “  Ya Allah anak bunda makannya lahap banget sampai ngga dengerin salam bunda.” Wafi pun langsung menoleh serta beralih menyalami bundanya. Shanum pun langsung mengambil tempat disamping Nasha. “ Mba Shanum mau pesen apa mba.” Tanya Nasha. “ Mba ngga pesen apapun sha.” Jawab Shanum. “ Oh iya ini kan hari kamis, Nasha lupa kalau mba Shanum lagi puasa maaf ya mba.” Ujar Nasha. “ Ngga papa kok sha, oh iya tumben kalian bareng.” Tanya Shanum. “ Tadi abis ketemu sama klien num.” Jawab Naufal. Dan Shanum pun hanya mengangguk mengerti. “ Bunda, Wafi pingin ke kamar mandi.” Ucapnya. “ Ya udah ayo tante anterin, kasihan bunda baru sampai pasti cape.” Nasha menawarkan diri mengantarkan Wafi. “ Makasih ya sha.” Ucap Shanum. Dan Nasha hanya tersenyum, kemudian Nasha dan Wafi pun beranjak ke kamar mandi. Ditempat itu kini hanya tertinggal Shanum dan Naufal. Melihat kebaikan Nasha, Shanum jadi teringat tentang perasaan Nasha ke Naufal. Shanum pun memandang Naufal yang sedang melahap makanannya, tapi Naufal yang merasa dipandangi oleh Shanum pun menghentikan makannya. “ Kamu kenapa ngliatin aku begitu, nanti naksir lho.” Ledek Naufal. “ Mas sampai kapan kamu akan mengabaikan perasaan Nasha.” Tanya Shanum dan Naufal hanya menghela nafas setelah mendengar ucapan Shanum. “ Kenapa selalu itu yang menjadi pertanyaan kamu num, sekarang aku pun mau tanya ke kamu. Sampai kapan kamu mengabaikan perasaanku.”  Tanya balik Naufal. “ Mas jangan mengalihkan pertanyaan dong, khasus aku sama kamu beda mas. Dan kamu pun sudah tahu jawabanku.” Jawab Shanum. “ Kamu pun udah tahu jawabanku num.” Balas Naufal. “ Tapi Nasha wanita baik mas, dia pantas untuk mendapatkan cintamu. Aku yakin jika sedikit saja kamu membuka hati untuknya. Kamu akan bisa mencintai dia.” Ucap Shanum. “ Aku pun tahu Nasha wanita yang baik num, tapi kamu tahu sendiri perasaan tak bisa dipaksakan.. Seperti aku yang ngga pernah memaksakan perasaanmu.” Balas Shanum. “ Tuh kan selalu begitu kalau ditanya. Kasihan tante Maya mas, dia pingin banget ngliat kamu menikah.” Ujar Shanum membujuk Naufal. “ Memangnya mama ngadu apa lagi ke kamu.”  Tanya Naufal yang sudah paham, karena mamanya selalu berkeluh kesah pada Shanum. “ Mas jangan terlalu mengabaikan perasaan tante maya. Shanum mohon kamu bisa mencoba membuka hati ke yang lain.” Pinta Shanum dan Naufal hanya memandang Shanum dengan pandangan putus asanya. Tak lama kemudian Nasha dan Wafi pun kembali dari kamar mandi. Shanum dan Naufal pun menghentikan percakapan mereka, karena tak enak pada Nasha. Mereka pun lanjut membicarakan hal lain. Dan selama bersama Nasha banyak menunjukan perhatian-perhatian kecil pada Naufal. Shanum yang melihatnya pun senang. “ Aku harap ketulusan cinta Nasha bisa membuka hatimu mas.” Batinnya. Shanum dan Wafi pun pamit pada mereka untuk pulang terlebih dahulu. Karena Shanum harus kembali ke toko bunga. Dalam perjalanan Shanum titelfon oleh karyawannya bahwa ada tamu yang menunggunya di toko. Shanum pun berfikir munkin itu pelanggan yang akan memesann bunga atau membuat acara dan membutuhkan karangan bunganya. Sesampainya disana, Shanum pun langsung memasuki tokonya. “ Assallamualaikum.” Salamnya. “ Waalaikumsalam.” Balas Dina, karyawan Shanum. “ Dimana ibu yang nyariin aku din.” Tanya Shanum. “ Oh dia disana mba.” Jawab Dina sambil menunjuk seseorang yang sedang melihat-lihat bunga. Dan Shanum pun langsung menghampiri pelanggannya. “ Asalamualaikum.” Salam Shanum. “ Waalaikumsalam.” “ Bu Hanin.” Ucap Shanum saat melihat bu Hanin yang saat ini ada didepannya. “ Shanum.” Ucap bu Hanin, dan dia pun langsung memeluk Shanum. “  Alhamdulillah Shanum seneng banget bisa bertemu dengan bu Hanin lagi. Dan Shanum makasih banget ibu mau main ke toko Shanum.” Balas Shanum. “ Ibu pun seneng num, bisa bertemu kamu lagi. Ibu dirumah ngga bisa tenang, sekarang bawaannya ibu selalu mikirin kamu. Ibu kangen sama kamu.” Jawab bu Hanin. Kemudian pandangan bu Hanin pun beralih ada anak kecil yang berdiri disamping Shanum. Wafi yang tak kenal dengan orang didepannya pun hanya diam. Bu Hanin pun langsung jongkok dihadapan Wafi. “ Ini pasti Wafi kan.” Tebak bu Hanin dan Wafi pun langsung mengangguk dengan percaya diri. Tanga bu Hanin pun langsnung memegang wajah Wafi. “ Tampan sekali cucu nenek ini.” “ Nenek.” Ucap Wafi sambil menatap bundanya, seolah-olah meminta penjelasan pada bundanya. “ Iya sayang ini nenek Hanin, ingat ngga saat mama cerita ke Wafi tentang bunda yang menolong nenek Hanin.” Tanya Shanum, dan Wafi langsung mengangguk serta menyalami bu Hanin. “ Halo nenek, kenali saya Muhammad Akhzan Wafi. Wafi seneng bisa ketemu sama nenek. Dan Wafi juga seneng ngliat nenek udah sehat, setiap malam bunda sama Wafi selalu doain nenek supaya nenek tetap sehat.” Ucap Wafi. Bu Hanin yang mendengarkan ucapan Wafi pun merasa terharu. Dia bahagia ada yang memanggilnya nenek, karena memang nama itu yang sudah lama ia impi-impikan. Namun belum bisa terlaksana sampai saat ini. “ Makasih ya sayang, kamu memang anak pintar nenek seneng banget bisa bertemu dengan Wafi.” Ucap bu Hanin yang kemudian memeluk Wafi. Mereka pun lanjut berbincang di ruangan Shanum. Sesekali terlihat tawa membahagiakan, berkat ulah Wafi yang begitu menggemaskan. *** Hampir setiap hari bu Hanin mampir ke toko bunga milik Shanum. Dia sangat bahagia bisa berjumpa dengan Wafi. Terkadag dirinya juga mengajak Wafi untuk jalan-jalan. Apalagi jika Shanum sedang sibuk mengurusi pekerjaannya, jadi dia berinisiatif mengajak Wafi. Shanum pun tak bisa meminta bantuan pada Naufal untuk menjaga Wafi jika dirinya sedang mendekor di suatu acara, karena sementara ini Naufal sedang tugas di luar kota. Seperti hari ini bu Hanin habis mengajak Wafi ketaman bermain, karena ini adalah hari libur. Shanum pun yang sedang libur ikut pergi berama putranya. Setelah ke taman bermain bu Hanin pun mampir ke rumah Shanum. Sudah beberapa kali bu Hanin singgah di rumah Shanum, dan disana dirinya merasa tenang dan nyaman. Namun ada hal yang menggajal perasaan bu Hanin setiap dia ada di rumah Shanum. Disana dia tak pernah melihat suami Shanum, bahkan disana hanya ada foto Shanum dan Wafi. Karena penasaran bu Hanin pun memberanikan diri bertanya pada Shanum. “ Shanum, boleh ibu bertanya sesuatu ke kamu. Tapi sebelumnya ibu minta maaf ya kalau pertanyaan ibu mungkin terdengar lancang bagi kamu.” Ucap bu Hanin. “ Aduh, ibu kok nakutin Shanum sih. Insyaallah Shanum akan menjawabnya bu. Memangnya apa yang ingin ibu tanyakan.” Tanya Shanum. “ Mmmm, selama ibu main ke toko kamu dan bahkan ke rumah kamu. Ibu belum pernah bertemu dengan suami kamu nak. Apa dia bekerja diluar kota.” Tanya bu Hanin. Sedangkan Shanum yang mendengarkan pertanyaan bu Hanin pun bingung sekaligus gelisah. Apa yang akan ia jawab. Apa iya akan berbohong atau sebaiknya jujur dengan keadaannya. Tapi Shanum merasa bersalah jika sampai ia membohongi wanita baik seperti bu Hanin. Dia pun merasa bu Hanin orang yang peduli padanya. Mungkin ia harus jujur pada bu Hanin tentang dirinya yang sebenarnya. Shanum pasrah jika nanti bu Hanin menjauhinya, yang penting dirinya sudah berusaha jujur. “ Maaf bu mungkin nanti jawaban Shanum akan mengejutkan ibu. Tapi Shanum hanya berusaha jujur. Dan untuk selanjutnya terserah ibu masih mau menganggap Shanum atau pun ngga.” Ucap Shanum, yang juga sedang berusaha mengontrol hatinya agar tak terbawa suasana. “ Memangnya kenapa nak.” Tanya bu Hanin “ Shanum ngga punya suami bu.” Ucapnya dan bu Hanin pun terkejut. “ Maksudnya suami kamu sudah meninggal. Atau kalian sudah bercerai.” Tanya bu Hanin yag menebaknya. Namun Shanum hanya menggeleng. “ Kenapa kamu menggeleng nak. Ibu ngga paham maksudnya.” “ Shanum belum pernah menikah bu.” Ucapnya dan bu Hanin tambah terkejut mendengar jawaban Shanum. “ Kamu belum menikah, lalu Wafi.” Tanya bu Hanin dengan wajah yang penuh dengan kebingungan. “ Wafi anak Shanum bu, anak kandung Shanum.” Jawab Shanum dengan kekhawatirannya melihat wajah bu Hanin yang berubah. “ Jadi maksudnya kamu hamil sebelum menikah.” Tanya bu Hanin dengan suara lirih, karena takut membangunkan Wafi yang saat ini sedang tertidur. Dia juga tak ingin Wafi mendengar ucapannya yang mungkin tak dimengerti olehnya. “ Iya bu.” Jawab Shanum Tubuh bu Hanin pun lemas mendengar semua kenyataan dari Shanum. Ia tak tahu harus bahagia atau sedih setelah mengetahui bahwa Shanum belum menikah. Yang saat ini ia fikirkan apa yang terjadi pada Shanum. Mengapa gadis sebaik Shanum bia mengalami dan melakukan dosa besar dengan berzina. Walaupun bu Hanin sedikit kecewa mengetahui keadaan Shanum, tapi dia pun tak bisa menghakimi orang lain seperti ini. Pasti Shanum punya alasan sendiri sampai ia melakukan perbuatan seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD