DEFINISI 'bulan depan' memang tak seharusnya tiga puluh hari kedepan. Jika sekarang tanggal tiga puluh satu januari, maka tanggal satu februari keesokan harinya juga sudah termasuk 'bulan depan'. Begitu juga halnya dengan 'bulan depan' yang tercantum dalam surat penawaran studi banding itu. Hari ini sudah tanggal dua puluh empat november, sedangkan deadline keberangkatan Lea ke Perancis adalah tanggal tujuh desember. Alhasil, setelah mendapatkan full izin baik dari suami, mertua, maupun Eyang kesayangannya, Lea jadi sibuk mengurusi segala sesuatu yang diperlukan menjelang keberangkatannya.
Hari berganti. Tak hanya Lea, Raja juga ikut - ikutan kalang kabut karena diganggu dan dipaksa ini itu oleh istri kecilnya. Hari ini menemani ke kedutaan mengurus visa, esoknya menemani ke mall untuk mencari pakaian musim dingin karena sekarang sudah masuk bulan desember dan musim gugur di Perancis juga sudah berakhir.
Ditengah kerepotan mempersiapkan fisik dan mental untuk kembali pulang ke negara keduanya, Lea juga disibukkan dengan UAS yang akan tiba hari senin mendatang. Tak lagi mengeluh seperti biasanya, UAS kali ini dihadapi gadis itu dengan semangat. Setelah persiapan ke Perancis rampung sembilan puluh persen, kini hari - hari Lea hanya diisi dengan buku - buku diktat dan makalah. Ia akan betah duduk berjam - jam di sofa balkon atau gazebo belakang rumah ditemani Diandra dan terkadang juga Lili menghafal materi dan melahap kisi - kisi soal yang diberikan oleh dosen. Mata kuliahnya di jurusan ilmu ekonomi jelas mendapat porsi perhatian yang ekstra. Untung saja ia memiliki seorang tutor yang sudah tak diragukan lagi kemampuannya untuk membimbingnya. Siapa lagi kalau bukan Diandra?-karena sejak perselisihannya dengan Raja malam itu, ia tak pernah lagi menerima bantuan apapun dari Raja terkait dengan masalah kuliahnya.
"Lo berangkat hari sabtu kan Le?" tanya Diandra sore itu. Gadis urakan itu baru saja tiba di rumahnya karena ia berjanji untuk membantu Lea dengan mata kuliah pengantar akuntansi II nya.
Lea hanya mengangguk dan berdehem pelan seraya membantu bik Asti membawa nampan berisi satu jar jus melon dan seloyang coklat cake menuju gazebo belakang. Sementara Diandra kebagian jatah membawa piring kecil dan sendok.
"Lo dari dulu nggak berubah ya, setiap kali belajar cemilannya seabrek gini. Gak takut gendut apa? mana olahraga males banget..." gerutu Diandra.
Lea hanya menampilkan cengiran lebarnya. Sejak dulu makanan memang jadi peralihan setiap kali ia sedang setres karena sesuatu. Baik itu karena masalah kuliah, maupun masalah keluarga. Tapi herannya, semua makanan yang masuk ke perutnya tak pernah jadi lemak sama sekali meskipun ia termasuk tipe orang yang menganggap olahraga sebagai musuh. Tubuhnya cenderung kurus dan langsing, dengan tonjolan di beberapa tempat yang tepat. Tak seperti Diandra dan Lili yang cepat mengalami kenaikan berat badan. Untung saja kedua sahabatnya itu adalah atlet dan dokter yang sangat mementingkan kesehatan diatas segalanya. Jadi tubuh mereka juga ideal karena rajin berolahraga.
"Kalau kamu takut gendut gak usah makan deh! Nanti biar aku mintain makanan rendah kalori sama bik Asti..." kata Lea. Ia mulai memotong cake yang kini sudah selamat sampai di meja kecil di gazebo dan memisahkannya ke dalam tiga piring kecil.
Diandra mendesah. "Bukan gitu maksud gue, lo kalau makan suka kalap, Le! Lemak dan kolesterol berlebihan nggak baik buat kesehatan..."
Lea hanya diam. Meladeni Diandra berbicara tentang gizi tak akan pernah ada habis - habisnya. Sebagai atlet-ralat-mantan atlet taekwando nasional, konsumsi karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan zat besi secara seimbang adalah keharusan bagi Diandra. Meski sudah pensiun dari karir atlet, gadis cantik yang satu itu tetap menjalani pola hidup sehat sampai sekarang. Entahlah itu sebuah kewajiban ataupun rutinitas, Lea pun tak mengerti. Padahal menurut Lea yang memiliki pemikiran simple dan praktis ini, makanan apa saja layak dimakan asalkan enak dan mengenyangkan. Lemak dan kolesterol urusan belakangan. Dan jika sakit bisa datangi rumah sakit.
"Gimana bahu kamu?" Lea mengalihkan pembicaraan. Ia menyeruput jus melonnya dengan gembira. Melon segar ples es batu memang kombinasi sempurna saat cuaca panas seperti hari ini.
Diandra langsung memijat pelan bahu sebelah kirinya begitu Lea menanyakan tentang bahunya. Sesekali gadis itu memutar tangan kirinya kedepan dan kebelakang untuk merasakan kembali dengan baik bahunya itu. "Udah baik sih, pennya udah dilepas, tapi kata dokter Almeera gue nggak bisa ikut pertandingan sampai tiga tahun kedepan. Kalau sampai cedera sekali lagi bisa fatal banget..."
Lea menatap Diandra prihatin. Ia sangat tahu menjadi atlet adalah mimpi dan hidup sahabatnya itu. Tapi karena kecelakaan yang menimpanya, Diandra harus menyerah dengan mimpinya itu.
Diandra tertawa melihat ekspresi Lea yang seakan ditinggal mati hewan piaraan kesayangannya. "Hey, santai aja kali! Gue juga udah nggak apa - apa. Masih banyak hal lain yang bisa gue lakuin untuk hidup gue selain jadi atlet, kan? Lagian gue mau kasi kesempatan ke junior - junior gue buat berkembang. Nggak adil dong kalau sampai lima tahun kedepan gue terus yang nyabet emas..."
Lea menggesek hidungnya yang tiba - tiba saja gatal. Ia mengalihkan pandangan dari mata Diandra yang meskipun tertawa, tapi sarat dengan luka. Diandra mungkin saja bisa mengelabui orang lain dengan ekspresi cerianya, tapi tidak dengan Lea dan Lili yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama.
"Kenapa kita jadi bahas tentang bahu gue, sih? Katanya lo minta diajarin pengantar akuntansi, mana bukunya? Sini..." Diandra membolak - balik buku - buku dan diktat yang bertumpuk di lantai gazebo. Begitu menemukan buku itu, ia langsung fokus dengannya. Membuat Lea yang tadinya masih ingin membahas tentang bahunya, mengurungkan niat seketika.
"Lili kemana ya? Dari tadi katanya on the way, tapi gak nyampe - nyampe..." Lea melirik jam dinding yang tergantung di gazebo.
"Biarin ajalah dia. Kalau kesini pun palingan kerjaannya cuma ngabisin cemilan..." kata Diandra.
Semenit kemudian, mereka sudah berkutat dengan soal - soal pengantar akuntansi yang rumitnya bukan main. Diandra menjelaskan dengan sabar dan teliti tentang segala sesuatu yang tak difahami Lea. Lea sampai heran, padahal Diandra sudah pass mata kuliah ini semester empat yang lalu, tapi sampai sekarang gadis itu masih saja ingat tentang segala rumus dan turunannya. Salut!
Sampai setengah jam kemudian, Lili menampakkan wajahnya dari dalam rumah. Kedatangan gadis itu membuat keasyikan dua sahabatnya yang sedang belajar dan mengajar itu terganggu. Bagaimana tidak? Wajah sumringah gadis itu benar - benar silau dipandang mata-walaupun selama ini Lili memang sosok yang periang.
"Hola girls..." sapanya sambil mencium pipi Lea dan Diandra bergantian.
"Get away, Liliana!" teriak Diandra garang. Sementara Lea hanya tertawa. Diandra memang selalu risih jika Lili sudah sampai mencium - cium pipi seperti saat ini.
Lili mengibaskan rambut panjangnya dan mengambil tempat duduk di samping Lea. Gadis itu langsung mencomot piring kecil yang sudah berisi cake cokelat dan memasukkannya kedalam mulut. "Hm... bik Asti emang the best deh, pokoknya! Cake mbak Murni aja kalah..." katanya sambil mengangguk - angguk.
"Itu aku yang bikin loh..." bisik Lea di telinga Lili.
Lili dan Diandra langsung melotot horor. Lili sampai kembali memuntahkan cake yang sudah dikunyah itu dari dalam mulutnya dan langsung meneguk jus melon milik Lea sampai tandas mendengar ucapan sepupunya itu. Wajahnya mulai berkeringat. Bukan karena cuaca yang panas, tapi karena syok.
Terakhir kali mereka makan masakan Lea, mereka sampai diopname tiga hari di rumah sakit karena keracunan!
Waktu itu hari kelulusan mereka dari SMA. Mereka mengadakan barbeque party kecil - kecilan di rumah Eyang untuk merayakan hari terakhir mereka di masa putih abu - abu itu. Lili kebagian membakar ayam, Diandra mengatur tenda, meja dan kursi untuk acara memanggang mereka, dan Lea kebagian membakar jagung. Eyang sedang ada urusan bisnis di Australia, dan mereka hanya ditemani oleh pembantu dan sopir di rumah. Apa yang bisa dilakukan pembantu dan sopir jika cucu majikan mereka sudah bertekad-selain menurut?
Untung saja mereka tak mengundang teman - teman lain. Kalau tidak, pasti akan lebih banyak korban berjatuhan, dan juga pasti banyak tuntutan yang akan dilayangkan. Media jadi heboh, dan Papa Lili juga pasti bertambah sibuk karena mengurusi masalah sepele yang ditimbulkan oleh anak dan keponakannya yang ceroboh itu.
Lebih tepatnya masalah yang ditimbulkan karena saos sambal yang sudah kadaluarsa.
Bagaimana mungkin dapur se-elit kediaman Adiwangsa saos sambalnya kadaluarsa? Jawabannya...Entahlah! Mungkin karena di rumah itu tak ada yang doyan makan saos sambal, jadi stok saos di lemari penyimpanan makanan kering tak pernah diperhatikan. Sedangkan Lea yang ceroboh itu asal comot saja tanpa bertanya. Jadinya yah... begitulah!
"Kali ini aman kok! All ingredients are checked, and all of them are fresh! Aku masak ini juga dibawah pengawasan bik Asti dan Mommy. So, silakan dimakan nona - nona..."
Tak langsung percaya, Lili langsung mengendus - endus cake cokelat itu. Memang tak ada yang aneh, tekstur dan rasanya pun lumayan meskipun tak selembut cake - cake yang dijual di secret recipes. Akhirnya dengan hati yang diyakin - yakinkan, Lili kembali melahap cake itu. Yang penting enak! Kalau misalnya pisang berbuah dua kali pun, ia memilih untuk ikut prinsip Lea, rumah sakit cukup dekat dengan rumah ini.
Iya kalau masih muntah - muntah, kalau mulutnya langsung berbusa trus innalillahi gimana?
Gak mungkinlah! Emang sianida?
"By the way... tadi sebelum kesini gue ketemu Alfian loh, di cakery..."
Lea dan Diandra langsung menolehkan pandangan pada Lili dengan tatapan tertarik.
"Ngapain lo ke cakery?" tanya Diandra.
"Gue nemenin Aji nyari kue ulang tahun buat pacarnya. Hhh... kekinian banget kan adek gue? Masih bau kencur begitu udah punya pacar aja. Lah gue? Yang udah mau tamat kuliah ini, boro - boro pacar, gebetan juga gak punya..." Lili menopangkan dagu dengan tangannya. Nada bicaranya memelas, tapi Lea dan Diandra tahu, gadis itu hanya berpura - pura. Lili yang mereka kenal malah lebih nyaman dengan status jomblo-nya, terbukti selama ini, setiap ada laki - laki yang berusaha dekat dengannya, gadis itu selalu saja menjaga jarak. Punya pacar itu memusingkan, katanya.
"Kamu gebet aja tuh, si Alfian..." kata Lea enteng.
Lili langsung mendelik. "Gila lo? Meskipun cantik gini, gue nggak PHO ya!" katanya tajam.
"PHO gimana? Orang Alfian udah putus kok sama pacarnya, siapa itu namanya... Rose? Rosa?"
"Rosie..." sahut Lili. "Sejak kapan mereka putus? Maksud gue, Rosie itu anaknya cukup baik loh, kenapa mereka bisa putus?" tanyanya heran.
Lea hanya mengedikkan bahu. Meski ia tahu penyebab Alfian putus dengan mantan pacarnya itu, ia tak berniat untuk bercerita lebih lanjut.
"Terlalu posesif, kali!" celetuk Diandra. "Lo liat kan Le, gimana protektifnya dia waktu lo ngasih les Alfian di kafe bang Ke waktu itu?"
Lili manggut - manggut. "Boleh jadi, sih! Pantas aja dia sampai nyamperin gue nanyain Alfian ada hubungan apa sama Lea. Ternyata..."
"Haahh? Dia nyamperin kamu?!" Lea tak bisa menahan rasa terkejutnya. Tapi, kata Alfian kemarin, mereka putus karena Rosie cemburu sama Lili, bukan sama aku...
"Hm... suspicious..."
"Menurut lo, ada kemungkinan gak sih, Alfian itu suka sama Lea?"
PFFFTTTT.....
Jus melon di mulut Lea langsung tersembur kemana - mana. Sebagian membasahi baju yang dipakainya, sebagian lagi muncrat ke wajah Diandra yang duduk tepat didepannya. Lili langsung memasang wajah jijik, sementara Diandra langsung meraih tisu tanpa berkata - kata. Salahnya juga berbicara seperti itu saat mulut Lea penuh dengan jus melon.
"Maksud gue, ya kalian tahu sendiri lah, Alfian langsung putus sama pacarnya setelah ketemu Lea..." kata Diandra lagi. Ia masih menyeka wajahnya dengan tisu dengan santai. Seperti air yang membasahi mukanya itu tak berbeda dengan air kolam biasa.
"Sorry, Di..." rengek Lea dengan raut penuh penyesalan. Tapi seolah tak terjadi apa - apa, Diandra hanya melambaikan tangan. "It's okay, salah gue juga..." katanya.
"Dia putus bukan gara - gara aku kok. Hubungannya sama Rosie itu emang udah lama renggang. Kata Alfian dia terlalu mengekang dan menuntut, sementara Alfian lebih memilih pendidikannya. Yeah, something like that..." kata Lea.
"Tapi katanya dia ikut tim kalian ke Perancis, Le..." Kata Lili.
"APA? SERIUS LO?" Diandra terbelalak. "Lo udah tahu tentang ini Le?"
Lea yang juga tak kalah terkejut refleks menggeleng. "Dia nggak cerita..."
Diandra dan Lili langsung kembali misuh - misuh. Kali ini mereka membicarakan kemungkinan Alfian ikut ke Perancis karena mengikuti Lea. Sementara Lea bermain dengan fikirannya sendiri. Sibuk menyangkal semua kemungkinan - kemungkinan tak masuk akal yang diutarakan kedua sahabatnya itu.
"No way..." katanya lirih.
"Everything is possible, Aleah! Bukan cuma Alfian, banyak laki - laki di luar sana yang masih terang - terangan mengharap lo walaupun pesta pernikahan lo sama kak Raja disiarin di tivi dan jadi wedding of the year, cuma mereka nggak se-agresif dulu. mungkin karena sadar gak akan mungkin menang bersaing sama laki lo yang tajir melintir itu..." kata Diandra santai.
Lea hanya meringis. Setelah pernikahannya dengan Kak Raja, ia seolah jadi selebriti. Tapi hidupnya malah lebih tentram dari sebelumnya. Para lelaki di kampusnya yang dulunya suka memberi coklat dan bunga kini tak tampak lagi batang hidungnya. Diandra dan Lili yang dulunya jadi bodyguard cuma-cuma pun sudah pensiun dari tugas mereka 'menjaga' Lea. Tapi tak urung juga, masih ada beberapa orang dari lelaki di luar sana yang terang - terangan menatap Lea. Hanya saja, nama 'Mahendra' yang tersemat di belakang namanya membuat Lea semakin sulit digapai.
"Riko, Candra, Gustian, trus yang sekelas sama lo di sastra Perancis, siapa namanya... Mario?"
"Hm... dan Mario juga ikut tour ke Perancis nanti..." kata Lea.
Diandra dan Lili saling berpandangan. "Lo harus hati - hati Le... meskipun lo udah nikah belum tentu juga lo aman diluar sana sendirian..." Lili memperingatkan.
Lea tertawa geli. "Omongan kamu kok bikin aku merinding ya Li? Nggak mungkinlah ada yang berani macam - macam sama aku, disana kan nanti rame..."
"I just remind you, Lea sayang..."
"Udah deh... kita terusin belajarnya Le. Lo harus UAS duluan besok, kan? Fokus... fokus...Kalau ngomongin fans - fans lo diluar sana sampai besok pagi juga gak bakalan kelar. Udah resiko orang cantik itu mah, dikejar - kejar walaupun buntutnya ntar sampai belasan..." Diandra menengahi perdebatan dua sepupu itu.
"Siapa yang ngejar - ngejar kamu?" sebuah suara yang sangat familiar mengusik perbincangan mereka. Ketiga gadis itu sontak menoleh kearah sumber suara. Diandra dan Lili kompak melongo, sedangkan Lea sampai melotot saking terkejutnya.
"Ka... Kak Raja..."
Oh my God!