Part 22

2459 Words
BENAR kata orang, orang kaya itu biasanya lebih ramah karena mereka bersaudara. Tak peduli kulitnya putih atau hitam, tua atau muda, ganteng ataupun muka ancur - ancuran, asal saldo bank nya miliaran, sudah dipastikan punya banyak kenalan dimana - mana. Begitu juga yang dipahami Lea sejauh ini. "Itu tadi siapa?" tanya Lea pada Raja begitu mereka berlalu dari sepasang suami istri yang tadi sempat berbincang dengan mereka. "Menurut kamu?" Raja balik bertanya. Ia melanjutkan ucapannya begitu melihat raut Lea yang menatapnya kebingungan. "Pak Gustian itu rekan Daddy. Aku hanya pernah bertemu beberapa kali dengannya." "Tapi katanya kakak sempat mau dijodohin sama anaknya dulu?" "Aku nggak tau pasti soal itu. Mungkin aja iya, kamu tau sendiri gimana sikap Mommy ke Friska dulu." Mereka kembali melanjutkan langkah. Setelah tadi sempat mengucapkan selamat dan memberikan hadiah pada Papi dan Mami Ken, Raja membawa Lea berkeliling menyapa para undangan yang sebagian besarnya adalah keluarga dan rekan bisnis keluarga mereka. Dan sejauh ini semuanya berjalan baik. Semua wajah - wajah orang yang hadir di pesta ini dipenuhi senyum sumringah. Semuanya memakai setelan jas, gaun dan perhiasan mahal. Seakan - akan tujuan mereka datang ke pesta hanya untuk pamer Harta dan kekayaan. Tapi biarlah, tak baik berburuk sangka. Sejujurnya, Lea tak pernah menyukai pesta. Atau lebih spesifiknya pesta - pesta orang kaya. Baik itu pesta pernikahan, anniversary, bahkan ulang tahun dan makan malam sekalipun. Gemerlap penampilan dan pembahasan mereka membuatnya jengah, sehingga tak jarang ia selalu izin untuk pulang lebih awal jika ia dipaksa menghadiri pesta tersebut. Untuk hal yang satu ini, ia mirip sekali dengan Eyang. Eyang kesayangannya itu selalu lebih mementingkan kekeluargaan daripada kemewahan. Contohnya saja Adiwangsa Group, sejak Eyang yang mengambil alih perusahaan, tak pernah lagi diadakan pesta mewah setiap kali tiba hari ulang tahun perusahaan. Tapi sebagai gantinya, perusahaan akan meluncurkan banyak dana dan barang untuk pembangunan sekolah di daerah sulit atau santunan ke panti asuhan sebagai sarana berbagi. Sama seperti Lea yang lebih suka merayakan ulangtahun dengan keluarga dan kedua sahabatnya daripada menghabiskan uang untuk pesta pantai. Buat apa memberi makan orang kaya yang gudang rumahnya dipenuhi bahan makanan jika diluar sana masih banyak orang kelaparan dan bahkan kesulitan untuk mencari tempat tidur? "Rajata Mahendra..." Mereka kembali berhenti begitu sebuah suara memanggil Raja. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, sepasang suami istri sebaya Mommy dan Daddy berjalan kearah Raja dan Lea dengan senyum sumringah. Lea memperhatikan raut Raja yang tiba - tiba saja berubah. Pria itu seperti sedikit kikuk dan gelisah begitu pasangan suami istri itu mendekat. "Om Pasha, tante Amber, apa kabar?" Raja mengulurkan tangan pada pasangan suami istri itu yang dibalas antusias. "Baik... Baik... Om baik, tante juga baik. Dan kayaknya om nggak perlu tanya kabar kamu gimana, ya?" pria yang dipanggil Raja Om Pasha itu melirik kearah Lea sekilas. Raja tersenyum. "Oh iya, ini istri saya, Aleah Mahendra." Raja memperkenalkan Lea pada pasangan suami istri itu. "Dan sayang, ini Om Pasha dan tante Amber Renaldi," Lea tersentak dan refleks memandang kearah Raja. Pria itu menatapnya dengan sorot paling lembut yang pernah dilihat Lea. Hah? Apa katanya tadi? Sayang? Dia nggak salah dengar, kan? Lea mengerjap kemudian melepaskan genggaman tangan Raja. Ia mengulurkan tangan pada kedua suami istri didepan mereka sambil tersenyum ramah. "Aleah..." Nyonya Amber Renaldi menarik Lea untuk melakukan cipika cipiki . Dari sorot matanya, Lea bisa melihat bahwa kedua suami istri di depannya ini adalah orang - orang yang menyenangkan. "Oh, jadi ini anak bungsu Haydan Adiwangsa itu ya?" tanya Om Pasha seraya meneliti Lea dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangannya. Pria itu tersenyum berbinar. Lea meringis, tak tahu harus bersikap seperti apa. Ia memang benar anak Papanya, tapi apa mereka tahu bagaimana hubungan mereka ayah - anak yang sebenarnya? "Cantik ya? Pintar sekali kamu milih calon istri, Raja!" seru tante Amber. "Pantas saja kamu udah nggak lirik Melanie, orang istrinya aja cantik begini! Iya kan Pa?" Lea mengerutkan kening. Melanie? Raja dan Om Pasha tertawa. Mereka melanjutkan obrolan seputar bisnis, sedangkan Lea berbicara dengan tante Amber. Lima belas menit kemudian, mereka kembali melanjutkan langkah meninggalkan Om Pasha dan Tante Amber Renaldi. Tapi baru beberapa langkah berjalan mereka kembali berhenti begitu Alven memanggil mereka. Raja menarik Lea kearah Alven dan teman - temannya. Selain Alven, disana ada Ken, Alan-pengacara sekaligus sekretaris dadakan Ken, Malik- suami Karina, juga beberapa pria yang tak dikenali Lea sama sekali. Mereka menyambut Raja dan Lea heboh, dan beberapa menit kemudian, mereka sudah tenggelam dengan obrolan mereka. "Kak, Lea ke toilet dulu, ya?" bisik Lea di telinga Raja. Pria itu mengangguk sekilas kemudian kembali fokus dengan obrolan antar-lelaki itu. Tak berinisiatif untuk mengantar istrinya sama sekali. Huh! Dasar pria gak peka! Lea berjalan sebal menuju bangunan rumah keluarga Dirgantara. Ia sebenarnya bukan ingin ke toilet, tapi sengaja ingin melarikan diri dari situ karena tak tahan dengan pandangan dua orang pria yang seakan ingin menelannya hidup - hidup. Ia risih! Tapi Raja terkesan tak peduli sama sekali. "Toilet disebelah sini, tuan putri!" sebuah tangan pemilik suara familiar menarik Lea dengan cepat masuk kedalam rumah. Lea terperanjat. Tak menyangka sosok di depannya ini juga hadir di tempat ini. "Alfian?" Alfian memamerkan senyum lebar, membuat Lea yang tadinya sedikit tegang ikut tertular senyum itu. "Hi, tutor..." "Kamu kok bisa disini?" tanya Lea heran. "Emang gue gak boleh berada disini?" Lea tertawa. "Kenapa nyolot? Aku nanya aja kali!" Alfian menarik Lea duduk di kursi pantry dapur seraya meletakkan gelas jusnya diatas meja. Lea mengikuti dengan senang hati. Yah, hitung - hitung dia tak mati kesal disini. "Gue nganterin nyokap. Nyokap gue temenan sama Nyonya yang punya rumah ini. Begitu sampai, mereka langsung nostalgia, biasalah emak - emak. Walhasil, gue diabaikan. Gue udah hampir putus asa tadi, dan tiba - tiba lo lewat di depan gue. Awalnya gue gak yakin mau negur, takut salah orang. Lo keliatan... Beda! Jadi lebih cantik." Lea mengangguk paham. "Gila aja! Ini udah gak bisa dikategorikan sebagai rumah loh, anjir guede buanget! Selera keluarga Dirgantara emang gak main-main, ya?" gumam Alfian seraya menelusuri setiap sudut rumah sambil berdecak. "Kira - kira mereka menggaji pembantu berapa orang, ya?" Lea ikut meneliti sudut yang dipandangi Alfian. Memang benar, interior rumah ini memang terkesan sedikit berlebihan jika dibandingkan dengan rumah Mommy dan Daddy. Rumah Mommy dan Daddy juga besar dan mewah, tapi interiornya tak se-wah rumah ini. Mommy dan Daddy lebih suka memajang aksesoris simpel dan minimalis daripada memajang guci - guci besar seharga ratusan juta seperti ini di dalam rumah. "Ini kira-kira pajaknya berapa ya Le?" tanya Alfian lagi. Lea terkekeh, tak percaya anak kedokteran satu ini masih sempat - sempatnya memikirkan pajak negara di waktu seperti ini. Padahal Lea yakin, pajak rumahnya sendiri pasti juga mahal. Kenapa jadi bahas - bahas pajak? "Oh ya, lo sendiri ngapain disini?" tanya Alfian. "Bukannya nemenin suami, malah keluyuran..." "Sama kayak kamu, aku bosan disana. Kak Raja lagi ngobrolin bisnis and bola sama temen - temennya, jadi biar ajalah dulu..." Mereka terdiam beberapa saat. Lea masih mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah, sedangkan Alfian menyeruput jus semangkanya yang masih penuh. Dua orang pria dengan seragam waitress bolak - balik di dapur sambil membawa mangkuk - mangkuk sink, mungkin makanan - makanan yang akan dibawa ke halaman. "Iya, dia! Lo gak liat dia nempelin Raja kayak lintah begitu? Pasti takut lakinya direbut cewek lain." "Tapi ngapain khawatir? Kalau gue jadi dia mah, santai aja. Dianya aja udah cantik begitu. Kaya lagi! walaupun masih terkesan kayak remaja, sih!" "Zaman berubah, Laura! Para pria sekarang lebih suka wanita liar daripada yang polos!" Suara tiga orang wanita dibalik tembok itu membuat Lea dan Alfian refleks berpandangan. Lea tahu, mereka pasti membicarakan mereka karena ia sempat mendengar nama Raja disebutkan. Alfian langsung berdiri. Amarah lelaki itu sudah membumbung tinggi begitu mendengar ucapan mereka, tapi gelengan kecil dan cengkraman tangan Lea yang menahan lengannya mengurungkan niatnya untuk melabrak tiga wanita itu. "Nggak usah, Alfian! Biarin aja mereka. Ayo duduk lagi!" Lea menarik tangan Alfian dan mendudukkannya kembali dengan paksa diatas kursi. "Buat apa cantik dan kaya kalau bego?" "Kayak lo nggak bego aja!" "Nggak sebego dia kali! Apalagi dia keturunan Adiwangsa, dan setahu gue yang namanya keturunan Adiwangsa gak ada yang bego. Atau jangan - jangan dia anak angkat, ya?" "Eh, kalian pernah denger berita, gak? Cewek itu awalnya pacarnya Erlangga, loh! Tapi begitu Erlangga mati, eh, malah ngegodain kakaknya!" "Beneran Ka? Waaahh... Dasar penjilat! Gak dapat adek, abang pun jadi! Gak takut apa digentayangin sama Elang?" "Amit - amit! Rajata Mahendra itu juga bodoh, mau - maunya aja bekas adiknya!" Wajah Alfian sudah memerah sampai ke ubun - ubun, tapi Lea masih tampak santai. Begitu Alfian berniat berdiri, Lea langsung menatapnya dengan tatapan tajam seolah memperingatkan 'jangan ikut campur, Alfian!', jadi mau tak mau Alfian duduk kembali. Tapi kali ini lelaki itu menutup telinga Lea dengan kedua telapak tangannya. "Jangan didengerin!" katanya. Satu hal yang tadi lupa disebutkan, orang kaya memang ramah, tapi hanya di depan saja mereka bermuka manis. Sedangkan dibelakang mereka, hanya beberapa persen saja dari mereka yang memang bersikap baik didepan dan dibelakang. Sisanya? Jangan tanya! Sudah tentu mereka bertransformasi menjadi jelmaan - jelmaan makhluk model tiga wanita ini! Tapi Lea tak masalah sama sekali. Meskipun tak menyangkal bahwa hatinya saat ini tersinggung bukan main, tapi ia masih waras dan seratus persen sadar dengan keadaan sekitar. Mereka saat ini berada di wilayah teritori orang lain, tak bijak rasanya jika ia memulai perkelahian- karena tiga wanita yang sedang asyik bergosip sambil becermin itu tampaknya memang hobi berkelahi dan jambak - jambakan. Ada nama dan harga diri dua keluarga yang dibawanya saat ini. Keluarga Adiwangsa dan keluarga Mahendra. Jadi lebih baik ia diam dan pura - pura tak dengar saja. Toh, ia sudah biasa dengan semua hal itu. "Menang banyak ya, tuh cewek! Udah kayak tuan putri aja hidupnya dikelilingi cowok - cowok ganteng plus tajir. Kayaknya gue juga mau pasang image polos deh, siapa tau aja bisa ngegaet Alven Dirgantara atau Ken Dirgantara, gitu? Kali aja satu keluarga besar seleranya begitu semua!" "Kalau nggak, lo pelet aja Raja Mahendra itu, San. Tajir melintir, pewaris satu - satunya lagi! Siapa yang nolak coba laki model begitu? Jadi istri simpanan pun gue rela." Lea menghembuskan napas berat. Wanita zaman sekarang sampai segitunya niat merebut suami orang. Anarkis! Sedangkan Alfian meneguk ludah kasar menahan amarah dan menatap Lea prihatin. Seumur hidupnya baru kali ini ia bertemu dengan perempuan seperti Lea. Begitu pasrah dengan keadaan. Jika situasi seperti ini dihadapkan pada perempuan lain, sudah pasti bakal lain lagi ceritanya. Ia berani bertaruh rumah luas ini sudah pasti jadi ring tinju dadakan. "Well... Well... Look at who is here!" suara seorang pria membuat Lea dan Alfian kembali berpandangan. Itu... suara Ken Dirgantara, si tuan rumah! "Sania Wijaya, Laura Sudjatmiko, and... Cantika Prasetya? Wah... Saya harus merasa tersanjung atau terhina dengan kehadiran kalian disini?" "Ke... Ken..." "Ya, saya Ken Dirgantara. Welcome to our home, ladies..." Tak ada sahutan dari ketiga wanita itu. Tapi Lea tahu, suasana di balik tembok itu pasti sedang mencekam meski sapaan Ken terdengar sangat ramah. Ramah yang mematikan! "Kalian sadar siapa yang kalian bicarakan tadi? Aleah Mahendra, dia saudara ipar saya. Dan kalian tau apa artinya itu? Mencari masalah dengannya sama saja mencari masalah dengan tiga keluarga besar sekaligus. Keluarga Mahendra, keluarga Dirgantara, dan keluarga Adiwangsa." kata Ken dengan suara rendah sarat ancaman. "I... Itu..." "Kalian bayangkan, kalau seandainya gosip kalian ini saya laporin ke Raja Mahendra, apa yang bakalan terjadi? Let's count! First, say goodbye to your Bvlgari and prada, karena nggak akan sampai sebulan dari sekarang perusahaan - perusahaan keluarga kalian nggak akan bisa selamat dari Mahendra Group. Second, also say goodbye to your carrier in modelling, especially you, miss Sudjatmiko. Karena saya sendiri yang akan memastikan anda nggak akan bisa diterima di agensi modelling manapun di belahan dunia ini. Anda pikir itu mustahil? No, it just a piece of cupcake for me.” Lea dan Alfian saat ini sudah mengintip pembicaraan keempat manusia itu dari balik tembok. Ketiga wanita yang tadinya bergosip ria seakan tak ingat dunia itu terdiam membisu mendengar ucapan seorang Ken Dirgantara. Alfian sampai tak bisa menahan kikikannya melihat tangan wanita - wanita itu bergetar tak karuan dibalik tubuh mereka. "Sadis ya, saudara ipar lo..." kata Alfian geli. "Dan apa tadi? Oh, soal selera keluarga besar kami terhadap wanita ya..." Ken melipat kedua tangannya diatas d**a. Matanya menatap sinis kearah tiga makhluk bersurai panjang didepannya. "Benar, kami suka tipe polos dan baik hati, jadi, wanita 'ULAR' dan berbisa seperti kalian jangan mimpi masuk kedalam keluarga kami. There's no empty space for somebody like you, even for maid! So now, leave! Sebelum hati saya tergerak untuk merealisasikan apa yang saya katakan tadi!" Ketiga wanita itu langsung terbirit - b***t berlalu dari sana dengan wajah merah padam. Entah karena marah, ataupun karena malu. "Aku gak nyangka ternyata kamu hobi menguping, nyonya Mahendra!" kata Ken santai. Pria itu perlahan mendekat ke balik tembok, tempat Lea dan Alfian sedang bersembunyi saat ini. Lea menyembulkan wajah dengan malu - malu diikuti oleh Alfian di belakangnya. Ia tak menyangka Ken juga tahu ia dan Alfian tadinya menonton acara itu secara live. "Ha...hai Kak Ken..." sapa Lea salah tingkah. Alfian disebelahnya ikut melambaikan tangan. Ken menatap Lea dan Alfian bergantian. "Ini siapa?" tanyanya. "Oh, ini Alfian, teman Lea." Lea menarik baju Alfian dan memaksa lelaki itu memperkenalkan diri. "Hai Alfian, gue Ken. Kakak iparnya Lea... Atau adik ipar Le?" Ken meminta pendapat pada Lea dan ditanggapi dengan gedikan bahu oleh gadis itu. Ken mengangguk - angguk. "Whateverlah... By the way, lo ganteng, dan kayaknya fotogenic juga. Mau gak jadi model di agensi gue?" Alfian mengedipkan mata bingung menatap Ken dan Lea bergantian. Tak menyangka CEO Zk Entertainment ini mengajukan pertanyaan sefrontal itu padahal mereka belum pernah bertemu sama sekali sebelumnya. Ken malah belum mendengar suaranya sama sekali! "Uppss... Sorry kalau gue terlalu blak - blakan, profesi yang bikin gue suka excited sama cowok ganteng dan cewek cantik. Well, selain ganteng, lo juga kelihatan baik. So... Yeah..." Alfian tersenyum dan menggeleng. "Terima kasih tawarannya, tapi jadi artis atau model gak ada dalam list hidup gue." "Oke, gak masalah kalau lo gak mau. Itu hanya tawaran. Tapi gue juga serius dengan tawaran gue. So, kalau lo berubah fikiran kasi tau aja ke Lea. Gue lagi gak bawa kartu nama soalnya..." "Dia ini dokter muda kak..." Lea menyela. "Oh ya? Ahh... Ngomongin soal dokter, tiba - tiba aja aku jadi sakit kepala karena terlalu banyak bicara sama orang - orang gak berguna itu." Ken tiba - tiba memijit keningnya. "Ayo Lea, kita cari dimana si bodoh itu. Nggak berguna jadi laki, sembarangan ninggalin bininya kayak gini. Kalau dipatuk ular gimana? Nggak tau apa tempat ini sarangnya kobra sama buaya?" katanya dengan nada gemas seraya menyeret Lea disebelahnya untuk dikembalikan pada Raja, si suami Lea yang kata Ken, nggak berguna! "Kita duluan ya Alfian!"    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD