Part 26

1883 Words
RAJA menuruni anak tangga satu persatu dengan lambat. Matanya beredar mengelilingi seluruh penjuru rumah besar itu dengan teliti, mencari keberadaan Aleah-istri kecilnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, dan istrinya itu sudah menghilangkan diri sejak subuh. Ya, akhirnya tadi malam mereka menginap di rumah Eyang setelah Raja menyerah akan rengekan Lea. Dan yang lebih parahnya lagi, Lea sama sekali tak mau tidur sekamar dengannya. Ia lebih memilih meringkuk disamping Eyang tercintanya sampai pagi- kalau saja Raja tidak mengangkatnya ke kamar mereka-membuat Raja kalang kabut sepanjang malam. Pria itu tak henti - hentinya berspekulasi, apa sebenarnya yang sedang dirasakan oleh Lea. Ia sama sekali tak punya clue akan perasaan gadis itu. Apakah ia sedang marah atau tidak? Ekspresi santai Lea setiap kali ia berbicara pada gadis itu menunjukkan bahwa gadis itu tidak marah padanya, tapi melihat kenyataan bahwa Lea lebih memilih tidur dengan Eyang daripada dengannya membuat persepsi itu goyah. Kalau tidak marah, kenapa Lea tak mau tidur dalam pelukannya seperti biasa? Padahal Raja tahu, selama ini-sejak malam itu- pelukannya adalah tempat ternyaman bagi istrinya itu. Atau itu hanya anggapannya saja? Akhirnya setelah tengah malam, ia menyeret langkah menuju kamar Eyang tempat istrinya berada. Tak lagi untuk memastikan tentang perasaan Lea, tapi karena ia yang tak bisa tidur jika tak memeluk 'guling'nya yang satu itu. Sounds creepy, right? Yeah, He know! Tapi Raja sendiri tak mengerti entah sejak kapan dia merasa seperti itu. Memiliki Lea dalam pelukannya membuatnya merasa... senang. "Loh, Aden udah siap toh?" Mbok Sar menghampiri Raja yang masih berdiri di pangkal tangga sambil tergopoh - gopoh. "Lea kemana, mbok?" tanya Raja begitu matanya tak kunjung mendapati sosok istrinya di rumah ini. "Noni udah di gazebo belakang sama Nyonya, den. Aden langsung kesana saja, sarapan juga sudah siap." kata mbok Sar. Wanita tua itu menyunggingkan senyum manisnya pada menantu muda keluarga majikannya itu. Raja menggaruk lehernya bingung. Udah di belakang? Kok Lea nggak ngajak gue sekalian? "Kenapa den?" tanya mbok Sar, seolah mengerti bahwa suami Noni kesayangannya itu tampak seperti orang linglung. Raja menggeleng cepat. "Nggak apa - apa, mbok. Saya kebelakang dulu ya..." Raja melangkah cepat menuju gazebo belakang. Meninggalkan sang mbok yang menatap punggungnya dengan tatapan geli. 'Pasti mereka lagi punya masalah!' batinnya sebelum berlalu kembali melanjutkan pekerjaannya. *** Sesampainya di gazebo, Raja juga tak melihat istrinya sama sekali. Disana hanya ada Eyang ditemani oleh Lisa- perawat pribadinya yang baru. Eyang sedang asyik berbicara dengan sang suster sambil melahap buburnya. "Selamat pagi Eyang..." Raja mengecup pipi Eyang dan melemparkan senyum tipis pada suster Lisa. Suster muda itu tampak sedikit salah tingkah, tapi kemudian dengan cepat berlalu dari tempat itu. Raja mengambil kursi disamping Eyang. Tangannya yang kokoh dengan cekatan mengambil sarapan untuknya sendiri karena perutnya juga sudah memberontak minta diisi sejak tadi. Dua potong croissant dan secangkir kopi rasanya cukup untuk mengganjal perutnya sampai nanti siang. "Aleah dimana Eyang?" tanya Raja. Ia menatap piring berisi mi goreng yang tinggal separuh diatas meja. Pasti itu piring Lea. "Mengangkat telpon. Dia dapat telpon dari Swedia..." kata Eyang. Raja mengangguk - angguk. Swedia? Papa? Mama? Ada apa Papa dan Mama menelpon Lea? Perasaan Raja mulai tidak enak. Terakhir kali Mama mertuanya menelpon, sukses membuat Lea uring - uringan berhari - hari. Meskipun Lea tak menceritakan apapun tentang isi pembicaraan mereka, tapi Raja tahu, perubahan sikap Lea pastilah ada hubungannya dengan Papanya itu. "Nggak usah khawatir, dia akan baik - baik saja..." suara Eyang menghentikan niat Raja untuk mencari Lea. Pria itu berusaha kembali menyeruput kopinya dengan tenang. "Kamu ada masalah sama Lea?" tanya Eyang lagi. Raja terkesiap. Bagaimana Eyang tahu dia ada masalah dengan Lea? Err... bisakah disebut masalah jika dia sendiri pun masih bingung dengan sikap istrinya itu? "Eyang mengenal Lea seumur hidupnya, Raja. Dia cucu Eyang. Eyang pasti tahu jika ada sesuatu yang terjadi padanya..." kata Eyang dengan senyum lembut. Nada bicaranya sama sekali tak mengintimidasi, tapi tetap sukses membuat Raja merasa bersalah. Pria itu menghela napas seraya kembali meletakkan croissant-nya di atas piring. "Raja juga nggak ngerti, Eyang. Tadi malam kita memang sempat sedikit berdebat, Raja mengatakan sesuatu yang membuat Lea sakit hati. Raja sudah minta maaf, dan kata Aleah dia sudah memaafkan, tapi sikapnya seolah - olah dia belum memaafkan Raja. Dia memang biasa saja, tapi dalam hati seperti ada yang masih mengganjal rasanya..." Eyang terkekeh pelan. "Dia memang sudah memaafkanmu..." kata Eyang. Raja langsung tersenyum lebar. satu kalimat dari Eyang itu sontak membuat kekhawatirannya sirna seketika. "Tapi kamu harus tahu, Lea itu pendendam, kalau boleh Eyang bilang..." lanjut Eyang lagi. Nada suaranya kali ini membuat bulu roma Raja berdiri. Pendendam? Apa maksud Eyang? Oh God! Ini terasa lebih menyeramkan dari pada belum dimaafkan! "Mak...maksud Eyang bagaimana?" "Cucuku itu memang tak pernah marah berlama - lama. Dia bisa memaafkan orang dalam sekejap, tapi dia tak pernah melupakan dengan cepat. Kamu tahu, seperti anak kecil yang selalu mengingat setiap kemarahan dan bentakan dari orang tuanya sampai mereka dewasa..." Raja menelan ludah susah payah. "Dia sudah dilukai banyak kali oleh Papa dan Mamanya, Raja. Haydan dan Mitha tak pernah memanjakan Lea seperti mereka memanjakan Rene dan Ergan, dan kamu tahu sendiri penyebabnya. Bagi Haydan dan Mitha, Lea bukan anak yang mereka harapkan terlepas dari bagaimanapun cantik dan baiknya hati anak itu... "Tapi Lea selalu memaafkan mereka. Eyang sangat bangga akan hal itu. Tapi Lea tak pernah melupakan apa yang dikatakan Papa dan Mamanya." Wajah Eyang berubah sendu. Maniknya menatap Raja lekat - lekat, seolah memastikan bahwa pria muda disampingnya ini benar - benar akan menjaga cucu kesayangannya itu sepenuh hati. "Lea sudah berhenti berharap akan bisa bermanja - manja pada Papa dan Mamanya sejak umurnya masih kecil, Raja. Tapi ia tak pernah berhenti menyayangi mereka. Dia lebih memilih membuktikan pada Haydan dan Mitha bahwa dia juga pantas berada di keluarga ini daripada terus bersikap cengeng dan menuntut. Itu yang membuat Eyang mencurahkan lebih banyak kasih sayang pada Lea dari pada cucu - cucu Eyang yang lain. Kamu yang terlahir dari keluarga yang berlimpah cinta dari Mommy dan Daddy-mu pasti tidak akan bisa membayangkan itu." Raja menggigit bibir. Tiba - tiba saja ia merasa bodoh sekali. Ucapannya tadi malam benar - benar keterlaluan. Ia tahu bahwa keluarga adalah topik sensitif bagi Lea, terutama Mama dan Papanya, tapi ia dengan idiotnya malah membahas hal itu. Dengan hinaan pula! You are truly jerk Rajata! Ia tak terima Lea membanding - bandingkan dirinya dengan Elang yang penyayang. Ia marah karena Lea mengatainya bukan anak kandung keluarga Mahendra, walaupun Raja yakin Lea sama sekali tak mengetahui tentang hal itu- fakta bahwa ia bukanlah anak kandung Mommy-nya.  Kecemburuannya pada Elang sejak dulu... Padahal jika dipikir - pikir, rasa iri dan cemburunya pada Elang selama ini tidak berarti apa - apa jika dibandingkan dengan rasa cemburu Lea yang sudah pasti membuat gadis itu merasakan sakit berkali - kali lipat. Ia cemburu karena ia bukanlah anak kandung, tapi Lea cemburu karena diabaikan dan dibandingkan dengan dua kakaknya. Meski bukan anak kandung, ia tetap diberikan kasih sayang berlimpah oleh Mommy-nya, ia tak pernah dibedakan dengan Elang. Sementara Lea tak mendapatkan kasih sayang itu meskipun ia anak kandung. Apa lagi yang lebih menyedihkan bagi seorang anak di dunia ini selain tak diakui oleh orang tuanya? "Maaf Eyang..." kata Raja pelan. "Untuk apa?" "Karena belum bisa menjaga cucu kesayangan Eyang dengan baik." Eyang tersenyum bijaksana. "Dalam setiap rumah tangga itu pasti ada pasang surut, Raja. Dan Eyang menyadari, begitu kamu dan Lea menikah, tidak berarti tanggung jawab Eyang pada Lea juga lepas. Tapi sebagai dua orang yang sudah dipersatukan dalam pernikahan, pasangan harus banyak belajar untuk lebih bersabar. Terutama untuk kamu dan Lea yang sewaktu menikah belum begitu kenal satu sama lain. "Eyang juga sudah mengatakan hal ini pada Lea. Jadi Eyang harap kalian bisa lebih saling menghormati satu sama lain..." Raja terdiam mendengar ucapan Eyang. Apa yang dikatakan Eyang benar. Dia seharusnya bisa lebih bersabar setelah menikah. Dia tak boleh lagi hanya mementingkan ego dan harga dirinya sementara ia malah melukai perasaan istrinya. "Raja minta maaf, Eyang..." Eyang menepuk bahu Raja lembut. "Sudahlah, ayo kita lanjutkan sarapan..." Eyang dan cucu menantu itu kemudian kembali menekuni sarapan masing - masing. Tak ada lagi obrolan tentang Lea dan Raja. Eyang malah bersemangat begitu mendengar cerita Raja bahwa ia akan berkolaborasi dengan Primaganda Group- perusahaan property terbesar nomor lima se-Asia untuk membangun jaringan hotel baru mereka di Jepang. Lea menghampiri mereka dengan wajah kusut. Gadis itu kembali duduk disamping Raja dan meraih piring mi gorengnya. Jari lentiknya memainkan garpu di tangannya dengan malas - malasan. Membuat Raja dan Eyang saling pandang. "Kenapa?" Raja yang sudah menyelesaikan sarapannya mengelus rambut Lea perlahan. Mengamati wajah gusar istrinya itu dengan khawatir. Lea tersenyum lemah dan melirik kearah Raja sekilas. Gadis itu menggeleng pelan kemudian kembali menatap mi goreng di piringnya. Ia bahkan mengabaikan tatapan lembut yang dilayangkan Raja padanya, membuat suaminya itu salah tingkah sendiri. "Kakak udah selesai? Lea harus berangkat ke kampus sekarang..." kata Lea beberapa menit kemudian setelah ia bergegas menyelesaikan sarapannya. Raja mengangguk. "Sure..." katanya sambil berdiri. "Eyang, kami berangkat dulu ya... besok - besok Lea kesini lagi..." Lea memeluk Eyangnya dengan sayang. Sang Eyang balik memeluk cucunya itu dengan erat. "Ingat pesan Eyang, Le..." Lea mengangguk pelan di bahu Eyangnya. "Iya Eyang..." Raja meraih tangan Lea dan membawa gadis itu masuk kedalam rumah. Lea harus naik mengambil tas dan buku - bukunya sebelum mereka berangkat menuju kampusnya. *** Perjalanan menuju kampus terasa sangat lengang. Raja beberapa kali berdehem untuk menarik perhatian istrinya itu, tapi Lea malah tampak asyik dengan earphone dan buku di tangannya, seakan tak mau diusik sama sekali oleh suaminya itu. Raja mendesah. Kesunyian ini seakan membunuhnya pelan - pelan. Ia terbiasa mendengar celotehan tak penting Lea. Dan istrinya yang bungkam seribu bahasa seperti ini benar - benar tampak...menyeramkan di mata Raja. Padahal dulu dia selalu menyukai wanita yang pendiam dan anggun. Jadi seharusnya Aleah yang diam dan serius seperti saat ini lebih baik daripada Aleah yang bar - bar dan cerewet kan? Lea keluar dari mobil dengan cepat setelah menyalimi tangan Raja dan menyunggingkan senyuman lebar begitu mobil mereka sampai di kampus gadis itu. Raja bahkan tak sempat berpesan apapun karena begitu ia bersiap hendak bersuara, suara ponsel Lea memotongnya. Akhirnya, dengan pikiran yang masih campur aduk, ia kembali menjalankan mobilnya menuju kantor. Bahkan Raja tak bisa fokus dengan pekerjaannya hari ini karena sampai menjelang makan siang, tak satupun sms atau chat dari Lea masuk ke handphonenya. Pria itu sudah seperti manusia kurang waras karena berkali - kali mengecek ponselnya bahkan saat meeting sedang berlangsung. Kemana gadis kecil itu? Padahal selama ini ia selalu rajin merecokinya dengan pesan - pesan tak bermutunya itu... Sampai ia pulang kerja sore harinya, Lea juga tak kunjung mengabarinya. Perkataan Eyang 'dia sudah memaafkanmu' tadi pagi hanya berarti sebagai ucapan biasa bagi Raja saat ini. Karena nyatanya, Lea belum memaafkannya sama sekali. Raja meraup wajah kasar. Ia menyadari, setelah menikah dengan Lea ia terlalu banyak berubah. Emosinya lebih mudah tersulut, stok kesabarannya makin menipis, sifat tenang dan berwibawanya seperti hilang entah kemana jika sudah berurusan dengan Aleah. Padahal ia tak pernah merasa seperti ini dengan dua mantan kekasihnya dulu. Saat berpacaran dengan Melanie dan Friska, ia selalu merasa aman - aman saja. Tak seperti saat ia sudah menikahi Lea. Tapi sekarang dunianya seperti sudah terpusat pada satu titik itu, Aleah Mahendra... Ini benar - benar mengganggu. Tapi sialnya, ia sangat menyukai gangguan seperti ini!  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD