BAB 6

1038 Words
“Ada apa Ayah memanggilku?” tanya Axele langsung ketika pria ini baru saja menginjakkan kaki di ruangan sang ayah. Di sana ternyata sudah ada Berta yang tidak Axele ketahui memiliki urusan apa di sini. “Duduklah, Nak,” perintah Baz yang langsung dilakukan oleh Axele. “Berta, silakan mulai,” ucap Baz kepada wizard tua itu. Axele pun paham jika pembicaraan ini pasti serius. “Tanaman yang kemarin dibawa oleh prajurit ternyata peringatan dari alam bahwa akan terjadi hal besar di kerajaan immortal, Pangeran," ungkap satu-satunya wizard di kerajaan ini. "Dan saya memprediksi jika fenomena ini tidak hanya terjadi di sekitar Kerajaan Vampir saja, kerajaan lainnya seperti ikut mendapat peringatan ini juga,” jelas sang wizard membuat Axele mengangguk paham. “Ini bukanlah fenomena biasa, mungkin kejadian berjuta-juta tahun lalu akan terjadi lagi,” lanjutnya membuat kernyitan di dahi Axele. Wizard tua itu menatap Axele dengan serius. “Dan sangat disayangkan jika penerawangku akhir-akhir tertuju kepada Anda, Pangeran,” ujar Berta tiba-tiba. “Aku?” tanya Axele bingung yang diangguki oleh Berta. “Entah apa yang akan terjadi, akan tetapi itu adalah hal besar. Hal besar yang mungkin mempengaruhi seluruh jagat raya ini.” “Berta, apakah hal besar yang kamu maksud adalah perang?” sahut Raja Baz yang mulai mengeluarkan suaranya. Entah mengapa pikiran sang raja mengarah ke sana, meskipun pada dasarnya tidak ada perang sejak lama. “Saya tidak yakin, Raja. Yang jelas ini akan menjadi sejarah juga,” jelas sang wizard yang sangat penuh teka-teki. “Baiklah, kita akan segera mempersiapkan untuk hal besar itu. Sekarang lanjutkan penerawanganmu kepada Axele. Sepertinya dia harus tau satu hal tentang takdir besar yang sudah ada sejak dirinya lahir,” kata sang raja semakin membuat Axele tidak mengerti dengan apa yang ayahnya katakan. Wizard ini pun mengangguk dan menatap Axele dengan serius. “Pangeran, kelahiran Anda di keluarga ini sangatlah ditunggu-tunggu terutama bagi Ratu Felis,” jeda Berta, “akan tetapi, takdir Pangeran tidaklah bagus dalam hal ini. Pangeran pasti tahu tentang sejarah berjuta-juta tahun lalu yang menewaskan raja wizard, bukan?” “Ya, Berta. Ibu sering menceritakannya kepadaku sejak masih kecil,” timpal Axele. Bahkan Axele mengingat betul bagaimana cerita pengantar tidurnya itu. Bisa dikatakan itu bukanlah dongeng pengantar tidur yang indah karena ending tragis dari sang raja wizard sungguh menyayat hati. “Itu bukanlah sekedar cerita ataulah dongeng pengantar tidur, Pangeran. Peristiwa itu benar-benar nyata,” tutur Berta. “Dan sangat disayangkan Anda terikat dengan peristiwa itu,” sambungnya membuat Axele benar-benar tak mengerti. Entah sudah berapa kali dirinya mengernyit di pembicaraan mereka kali ini. “Aku tidak mengerti, Berta.” “Apakah Anda masih ingat kutukan yang dilontarkan raja wizard kepada raja vampir?” tanya Berta. Axele pun terdiam dan mencoba mengingat apa yang sang ibu katakan dulu ketika bercerita kepadanya. "Aku mengutukmu! Akan aku pastikan keturunanmu yang ke tujuh tidak akan pernah mendapat kebahagiaan. Keturunanmu tidak akan pernah bisa bertemu dengan pasangannya, dan sampai kapan pun tidak akan pernah. Aku pastikan keturunanmu akan berhenti di angka tujuh!" Axele mengucapkan kutukan itu sesuai dengan apa yang dia dengar. Berta mengangguk paham. “Dan Pangeran Axele adalah keturuan ke tujuh raja vampir.” “APA?!” Sungguh omong kosong yang tidak ingin ia dengar saat ini, pikir Axele. Tidak mungkin dia adalah keturuan ke tujuh raja vampir. Axele pun menatap sang ayah dengan pandangan menuntut mencoba meminta jawaban yang pasti. Dan dirinya berharap apa yang dikatakan oleh wizard Berta tidaklah benar, akan tetapi Baz malah mengangguk dan membenarkan pernyataan yang keluar dari wizard ini. “Itu semua benar, Nak. Ayah adalah keturuan ke enam raja vampir, dan itu artinya dirimulah keturuan ke tujuh,” jelas Baz. Selama 200 tahun lamanya akhirnya dia dengan berani mengatakan yang sebenarnya kepada putranya ini. Baz tidak memiliki pilihan lain, meskipun pada awalnya Felis menentang dirinya untuk berkata jujur. Tetapi, ini semua ia lakukan untuk kebaikan putranya. “Haha, sungguh konyol, Ayah. Tidak mungkin. Itu tidak mungkin. Kutukan? Yang benar saja!” seru Axele yang sepertinya benar-benar tidak terima dengan takdir hidupnya sekarang. “Maaf menyela, Pangeran. Akan tetapi kutukan itu adalah benar. Tetapi, saya sudah mempelajarinya. Ada satu cara yang bisa mematahkan kutukan itu," ungkap Wizard Berta. "Apa?" "Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menemukan pasangan Anda lebih dulu,” terang sang wizard membuat Axele muak mendengarnya. “Ayah, jangan bilang ini hanya akal-akalan kalian agar aku pergi ke dunia manusia?” timpal Axele. Mungkin saja cerita tentang kutukan itu hanyalah bualan semata agar Axele mau pergi ke dunia manusia untuk mencari pasangannya. “Apakah Raja Baz sudah mengatakannya?” tanya Berta menatap raja vampir itu. “Mengatakan apa, Berta? Lebih baik kau katakan langsung kepadaku dan jangan melalui perantara Ayahku,” desak Axele. Dia sudah lelah menjadi orang terakhir yang tahu akan segala takdirnya. “Saya mendapat penerawangan jika Pangeran akan menemukan pasangan yang sudah lama Anda cari di dunia manusia,” jelas Berta membuat Axele tidak bisa berkata-kata lagi. “Jika bisa saya sarankan, lebih baik Pangeran segera mencarinya,” tambah wizard ini. “Manusia? Serius? Takdirku adalah seorang manusia? Sungguh tidak masuk akal. Aku adalah calon raja vampir, tidak mungkin pasanganku adalah manusia,” papar Axele yang sepertinya tidak menyukai takdir miliknya saat ini. “Manusia atau makhluk immortal, kita semua tidak tau takdir yang sudah digariskan oleh sang pencipta, Pangeran. Dan satu lagi, sepertinya fenomena di sekitar akan terus terjadi jika Anda tidak segera menemukan pasangan Anda secepatnya,” imbuh Berta seperti mendesak pria ini untuk segera menemukan pasangannya. Axele berdiri dari duduknya dan menatap tajam kedua orang di dalam ruangan ini, bahkan dirinya tidak peduli jika menatap tajam sang ayah secara terang-terangan. “Persiapkan keberangkatanku besok,” ucap Axele tegas yang setelahnya segera keluar dari ruangan itu. Dia benar-benar muak dengan ikatan sialan serta kutukan itu. Jika bisa memilih, Axele lebih memilih menjadi prajurit saja dibandingkan harus berjibaku memikirkan pasangan hidupnya. Akan tetapi, jika Axele menjadi prajurit, maka artinya tidak ada penerus kerajaan vampir. Tentu saja dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan jika memang kutukan itu ada, maka ia akan mematahkannya. Cerita mengenai raja vampir dan raja wizard terdahulu hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur. "Jika kau terus egois, maka masa depan kerajaan ini akan goyah dan bisa saja Kerajaan Vampir akan menjadi kerajaan tertinggal. Harapan Ayah hanya padamu, Axele. Kau harus memperjuangkan kerajaan ini, bahkan jika pada akhirnya kau harus berkorban." Sepertinya kata-kata yang Raja Baz katakan kepadanya masih diingat oleh pria ini. Dunia manusia? -------- Gimana kelanjutan pencarian Axele menemukan belahan jiwanya di dunia manusia? Yuk, simak kelanjutannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD