Cahaya matahari yang masuk di sela-sela jendela membuat si penghuni kamar terganggu dari tidur panjangnya. Perlahan Celesse membuka kedua matanya, keduanya masih menyesuaikan dengan cahaya sekitar.
Gadis ini terbangun bukan di tempat putih lagi. Celesse nampak mengernyit ketika dia menyadari jika berada di dalam sebuah kamar. Kamar siapa ini? Tidak ingin menumpuk berbagai pertanyaan di dalam kepalanya, Celesse bergegas bangun dari tidurnya. Dirinya sempat mengernyit tatkala bajunya sudah berganti.
Celesse menuruni anak tangga dengan mata yang terus menjelajah setiap sudut rumah ini. Sebenarnya dia berada di mana sekarang?
Tubuh Celesse seketika terhenti ketika menyadari bahwa ada banyak orang di meja panjang yang ia yakini adalah meja makan. Semua orang yang menyadari sosok lain di sana pun dengan kompak menoleh. Celesse menatap mereka canggung. Frey yang menyadari itu pun dengan cepat berdiri dari tempatnya dan mendekati Celesse.
“Hallo. Akhirnya kamu sudah bangun. Baiklah, lebih baik kamu ikut duduk dan sarapan, nanti kami akan menjelaskan semuanya kepadamu,” ucap Frey ramah.
Wanita itu dengan pelan menggiring Celesse untuk duduk di salah satu kursi yang kosong, di sebelahnya terdapat kursi kosong yang merupakan tempat Axele. Akan tetapi, pria itu belum turun dari kamar sejak tadi.
“Perkenalkan nama saya Mr. Martin. Ini istriku. Dia Reynart putraku, dan Vera putriku. Kemudian, dia Luc, dan gadis yang bersamamu barusan adalah Frey. Jadi ... siapa namamu, Nak?” tanya Mr. Martin yang memperkenalkan satu persatu orang yang ada di tempat ini, kecuali Axele karena dia belum datang.
Terlihat Celesse nampak canggung, apakah orang-orang ini yang menyelamatkannya? Pertanyaan itu terus berada di kepala Celesse.
“Nama saya ... Celesse, Mr,” jawab Celesse.
“Jangan gugup, Nak. Kita tidak akan melakukan hal buruk kepadamu. Oh iya, yang membawamu ke mari adalah Luc dan Frey, kamu bisa menanyakan berbagai pertanyaan kepada mereka,” jelas Mr. Martin lagi membuat Celesse rerfleks menoleh kepada Luc dan Frey yang duduk bersebelahan.
“Jadi, kami menemukanmu di jurang yang ada di hutan, sebenarnya Frey-lah yang mendengar suaramu pertama kali, dan aku membantumu untuk naik ke atas,” jelas Luc.
Celesse pun ingat jika bibinya sudah membuangnya malam itu. Seketika wajah Celesse pun nampak murung, namun dengan cepat dia mengubahnya menjadi normal kembali.
“Terima kasih, Luc, Frey,” ucap gadis ini kepada dua orang yang berjasa dalam hidupny. Mungkin jika tidak ada keduanya, Celesse sudah bertemu dengan kedua orang tuanya di surga saat ini. Reynart yang sejak tadi diam ternyata tanpa sengaja mendengar segala pikiran gadis itu. Dia nampak mengernyit tatkala menyadari jika pasangan dari Axele adalah seorang anak yatim piatu.
“Kamu tinggallah di sini, Nak. Anggap saja kita keluarga,” sela Mrs. Martin.
“Iya, Kak. Rambut Kak Celesse cantik sekali. Bisa kasih tau Vera kakak pakai sampo merk apa?” sambung Vera dengan girang.
Sebenarnya ketika dia pertama kali melihat sosok Celesse yang tertidur di dalam kamar tamu membuatnya bertanya-tanya siapa gadis ini, namun semua pertanyaannya dijawab oleh Frey. Dan Vera juga tahu bahwa Celesse adalah pasangan dari Axele.
“Itu ... aku hanya memakai sampo biasa,” jawab Celesse canggung.
Obrolan mereka terhenti kala mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Axele sudah siap dengan baju kuliahnya serta tas yang ia sampirkan di pundak. Semua nampak memandang was-was kecuali Celesse yang baru mengetahui jika ada satu anggota keluarga yang belum dia ketahui namanya.
Axele yang mengetahui keberadaan Celesse pun hanya memandang gadis itu datar dan dingin. Celesse pun gugup dan menganggap jika pria itu tidak menyukai keberadaannya.
“Axele, makanlah dulu, Nak,” kata Mrs. Martin.
“Terima kasih, Mrs. Tetapi sepertinya saya harus segera berangkat,” jawab Axele cepat. “Rey, hari ini aku bawa mobil sendiri,” ucap pria ini kepada Reynart yang diangguki oleh temannya. Axele pun bergegas keluar rumah meninggalkan semua orang dengan tatapan yang tak terbaca.
Di luar rumah Axele memegang dadanya semakin nyeri ketika menatap gadis itu.
“Dia Kak Axele. Menurut Kak Celesse dia tampan atau tidak?” celetuk Vera memecahkan keheningan di meja makan setelah kepergian Axele barusan.
“Vera, bersikaplah yang sopan kepada tamu,” tegur Reynart membuat sang adik mencibik kesal. Padahal Vera hanya ingin mengetes apakah Celesse benar-benar mate Axele atau bukan.
“Celesse ... dia adalah Axele. Mohon dimaklumi, sikapnya memang begitu,” jelas Mr. Martin yang diangguki oleh Celesse. Melihat sikap awal pria tadi yang sangat tidak bersahabat membuat Celesse bertekad untuk tidak berinteraksi langsung dengannya.
***
“Apakah tidak ada cara untuk kau bisa berdekatan dengannya? Setidaknya kita butuh cara agar rasa sakit itu hilang,” papar Luc.
Keempat orang ini sedang berkumpul di kampus. Di sana Axele tidak akan merasakan sakit karena keberadaan Celesse jauh darinya. Axele hanya memandang kosong ke depan membuat kedua temannya menjadi tidak tega. Frey sementara tidak masuk kuliah karena dia harus mendampingi Celesse di rumah. Luc lah yang meminta hal itu kepada matenya.
“Sadarlah, Axele,” tegur Reynart. “Jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini,” lanjutnya.
“Aku sudah berbicara kepada Ayah. Hanya ada satu cara agar rasa sakit ini hilang,” jelas Axele serius. “Aku harus meminun darahnya.”
“APA?!”
Kedua pria di sana benar-benar terkejut mendengar perkataan Axele. Meminum darah itu artinya Axele harus mengigit Celesse di mana gadis itu akan berubah menjadi vampir.
“Aku tidak ingin mengubah dirinya sepertiku,” kata Axele kembali serius. “Hal itu akan benar-benar menyiksanya jika benar-benar terjadi,” sambungnya.
Reynart menepuk pundak Axele ringan. “Aku akan berbicara kepada ayahku dan mencoba mencari ramuan untuk kalian,” sahutnya. Hanya ini yang bisa Reynart lakukan. Setidaknya dia tidak ingin melihat calon raja vampir ini terpuruk dan tidak bisa bersatu dengan pasangannya sendiri.
“Terima kasih, Rey. Aku sangat menghargai bantuanmu ini.”
“Sama-sama. Dan satu lagi, apakah kau tidak ingin tahu bagaimana kehidupan yang dijalani oleh pasanganmu selama ini? Aku rasa kau harus menggali informasi tentang Celesse.”
“Celesse?” sahut Axele tak paham. Luc dan Reynart baru ingat jika sesi perkenalan tadi tidak ada sosok Axele di tengah mereka.
“Nama gadis itu Celesse,” jelas Luc membuat bunga-bunga di perut Axele seketika keluar.
Nama yang cantik, batin Axele senang.
“Dan aku juga mau meminta maaf, tadi saat di meja makan aku tanpa sadar membaca pikirannya,” seru Reynart yang langsung mendapat tatapan penuh dari temannya itu. Axele cukup iri dengan kemampuan Reynart yang bisa membaca pikiran seseorang dan bisa berbicara lewat telepati saja.
“Apa yang dia pikirkan saat itu?” desak Axele.
“Sepertinya ada alasan kenapa gadis itu berada di jurang. Dan dia sempat berpikir untuk berkumpul bersama kedua orang tuanya di surga. Mungkin gadis itu yatim piatu,” papar Reynart. Dia hanya bisa menyimpulkan dari apa yang dia dapat.
“Sungguh gadis yang malang,” komentar Luc tentang takdir mate dari Axele. Pikiran Axele pun menjadi melalang buana memikirkan hal-hal buruk pasti menimpa gadis itu selama jauh dari dirinya. Apalagi Axele sudah mendapatkan cerita dari Luc mengenai bagaimana dia menemukan Calesse. Sungguh Axele tidak habis pikir kenapa gadis itu berada di jurang. Tidak mungkin untuk mengakhiri hidupnya sendiri, bukan?
“Celesse, apakah kamu nyaman berada di rumah ini?” tanya Frey ketika dia dan pasangan Axele itu duduk berdua di kursi taman dekat kolam. Celesse menatap Frey yang sudah ditetapkan sebagai teman baiknya sekarang.
“Aku tidak tau, Frey. Tetapi, ketika aku berada di sini, aku merasa aman,” jawab Calesse dengan senyum di wajahnya.
Meskipun dirinya baru beberapa jam bangun dari pingsannya, akan tetapi entah mengapa hati Calesse merasa lebih tenang. Mungkinkah ini efek karena dia bisa keluar dari rumahnya yang sekarang diambil oleh bibinya itu. Mengingat satu-satunya harta peninggalan orang tuanya telah diambil oleh bibinya membuat Calesse menjadi sedih.
Frey yang melihat raut wajah Calesse yang bersedih nampak bingung, dia pun menyentuh pundak gadis itu pelan yang membuat Celesse refleks menoleh. “Kamu baik-baik saja?” tanya Frey khawatir. Perubahan pada wajah Calesse benar-benar membuat Frey khawatir.
“Tidak, Frey. Aku baik-baik saja, kok,” jawab gadis itu sedikit tidak yakin.
“Ceritalah jika kamu butuh teman cerita, Cele. Aku janji akan mendengarkan ceritamu hingga selesai,” ucap Frey. Celesse memandang temannya itu dengan pandangan yang sulit diartikan, kemudian terdengar embusan napas dari gadis ini.
“Ini tentang keluargaku, Frey.” Dan pada akhirnya Celesse memilih cerita. Hal yang paling melegakan ketika kita memiliki masalah adalah menceritakan permasalahan itu kepada orang lain. Perasaan lega akan menyelimuti setiap si pencerita apalagi jika ada orang yang benar-benar menjadi pendengar yang baik.
Frey sama sekali tidak berniat memotong cerita Celesse. Ada banyak pertanyaan yang ada di dalam kepala Freya mengingat ketika dirinya membantu membersihkan tubuh gadis ini, dia menemukan beberapa luka di tubuh Celesse.
“Kedua orang tuaku telah meninggal, dan aku diasuh oleh bibiku selama bertahun-tahun lamanya. Hanya mereka yang aku punya saat ini. Akan tetapi, sikap bibi mulai berubah. Bibi tidak mengijinkanku untuk bermain, melanjutkan sekolahku, dan berinteraksi dengan dunia luar. Bibi selalu mengurungku di rumah untuk mengurus segala keperluan rumah.” Gadis ini menahan segala tangisnya, dan Frey dengan cepat menggenggam tangan Celesse. Frey tahu jika gadis ini sudah lama diperlakukan buruk oleh bibinya sendiri.
“Meskipun begitu, aku sangat sayang kepada bibi dan keluarganya. Bagiku, bibi adalah orang tua keduaku. Akan tetapi, sikap bibi semakin kasar,” jedanya yang menatap Frey dengan tatapan sendu. “Bibi membuangku, Frey. Bibi menyuruh orang untuk membuangku ke jurang agar bisa mengambil alih rumah warisan ayah dan ibu.” Dan setelahnya tangis Celesse pun pecah.
Frey langsung memeluk tubuh Celesse yang bergetar hebat. Dia benar-benar tidak menyangka jika hidup gadis ini sangatlah buruk. Dan jika Axele tau, mungkin saja pria itu akan membalas segala perbuatan bibi Celesse yang kejam.
“Tenanglah, Celesse. Kamu sudah aman di rumah ini. Wanita itu tidak akan lagi menyakitimu. Jika dia mencoba menyakitimu lagi, biar orang di rumah ini yang mengurusnya,” yakini Frey membuat hati Celesse menghangat. Celesse tidak tahu perasaan apa yang ia miliki di keluarga ini. Yang jelas Celesse merasa bebas.
“Terima kasih, Frey. Kalau bukan karenamu dan Luc, aku pasti sudah mati di jurang itu,” lirih Celesse yang mengingat bagaiman pria suruhan sang bibi memaksanya terjun ke dalam jurang itu dan meninggalkan dirinya begitu saja.
“Sama-sama. Aku sangat bersyukur bisa menemukan dan menyelamatkanmu saat itu.”
Dan Celesse pun paham jika di sinilah dirinya benar-benar mendapat keluarga. Keluarga yang menganggapnya dirinya manusia dan bukannya binatang.