Bab 14. Sambal Cumi Asin
Menu lontong dengan kuah santan dan ayam bumbu merah, rasanya memang lezat dan pas untuk makan siang kali ini. Walau sebenarnya aku agak khawatir dengan berat badanku. Aku akan segera menikah sebentar lagi, harusnya aku mulai memikirkan diet.
“Tahu gak? Tadi aku beli cumi-cumi asin. Tuh, aku taroh di jok motor,” ujar Radit di sela suapan makan kami.
“Kamu suka cumi-cumi? Mau dimasak apa?” tanyaku.
“Masak pedas, sambal cumi-cumi campur petai. Hemm, udah gak sabar aku.”
“Emang bisa bikinnya?”
“Apa susahnya? Di rumah juga ada blender, gampang lah.”
“Kalau gitu nanti aku harus minta kalau udah mateng.”
“Iya, lah. Nanti aku bagi-bagi kok.”
Beruntung sekali, punya calon suami yang bisa memasak. Walau bagi sebagian orang, lelaki yang serba bisa itu dianggap kurang jantan. Sejak dulu, memasak dianggap sebagai kodrat perempuan. Padahal kodrat perempuan hanya hamil, melahirkan, menyusui, dan menstruasi. Pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, mengurus anak, tentu itu bisa dilakukan juga oleh laki-laki. Jadi, para suami tidak seharusnya berpikir kalau semua itu hanya tugas istri.
Banyak istri yang merasa terlalu lelah hingga stres, karena harus mengerjakan banyak hal di rumah sendirian. Kurang dapat bantuan, juga kadang masih dianggap tidak memuaskan. Makanan kurang enak, kurang lengkap, rumah masih dianggap berantakan. Semua orang mudah melihat kekurangan, dan tidak pernah memberikan sebuah pujian untuk kerja keras yang dilakukan seorang istri.
Bahkan, banyak juga para istri yang merasa tak dihargai karena tidak punya pekerjaan lain selain mengurus rumah dan anak-anak. Kurangnya perhatian suami, banyaknya sindiran, juga kadang dibuat insecure karena keadaan ekonomi yang semakin sulit.
Mungkin benar, tetap ada kemungkinan aku akan melihat Radit melakukan kesalahan suatu saat nanti. Namun, aku telah menetapkan hati bahwa dia calon imam yang tepat untuk menemaniku melanjutkan sisa kehidupan ini.
“Mau tambah lagi lontongnya?”
“Eum, udah, Dit. Sudah kenyang banget.”
“Belum mau pulang?”
“Aku sih, udah gak mau beli apa-apa lagi.”
“Yaudah, yuk, pulang.”
“Hayuk.”
Aku dan Radit melaju meninggalkan pasar dengan mengendarai motor masing-masing. Di motor Radit terlihat ada beberapa kantung plastik, dari warna merahnya bisa kutebak itu cabe untuk membuat sambal cumi asin pedas.
Sesampai di rumah, kami pun berpisah. Aku masuk ke rumahku, berbaring di atas tempat tidur. Sedang Radit, pasti sedang akan memasak masakan kesukaannya itu. Aku jadi tidak sabar mencoba masakannya.
.....
Pulas tidur siang, aku terbangun mendengar suara ramai berlarian di dekat rumah. Rupanya banyak anak-anak remaja yang sedang bermain bola di depan rumah Radit. Aku mengintip dari jendela, menemukan Radit yang sudah memakai kaos tim bola dengan logo desa Dahian Tunggal.
Aku melangkah ke serambi rumah dan melihat mereka lebih dekat, lalu Radit melihatku dan kembali masuk ke rumahnya. Tak lama dia keluar lagi, terlihat dia membawa setoples kecil.
“Dhea. Nih, sambelnya udah jadi, cobain deh,” kata Radit sumringah, menjulurkan setoples itu padaku.
“Eum, pasti enak. Oiya, mau main bola di mana?”
“Di lapangan desa, ada yang nyerang katanya hari ini.”
“Ohya? Dari mana?”
“Dari Desa Tumbang Tanjung, ini aku mau berangkat, ikut?”
“Eum, aku masih harus ada kunjungan sore.”
“Yaudah kalau gitu, aku main bola dulu, ya?”
“Iya, semoga menang ya.”
Bersama dengan remaja-remaja desa, Radit pun pergi melaju ke lapangan desa. Aku segera berangkat melakukan kunjungan ke rumah bayi baru, siapa tahu aku masih sempat untuk menonton pertandingan tim Radit melawan desa lain hari ini.
....
Usai mendapat teguranku karena membubuhi rempah di pusat bayi, rupanya keluarga bayi mau menerima. Mereka tidak membubuhkan apa-apa lagi, dan bungkusan tali pusat terlihat tidak berubah.
Aku memandikan bayi lalu membenahi bungkusan tali pusat. Besok adalah kunjungan terakhir, atau bisa jadi tidak kalau keluarga pasien masih memintaku datang.
“Kakak berani mandikan bayinya sendiri?” tanyaku pada Ibu bayi yang sepertinya mulai masa pemulihan. Sudah bisa berjalan sendiri.
“Gak berani, Bidan. Kalau ibu berani saja katanya,” jawab Ibu bayi.
“Kalau begitu besok kunjungan saya yang terakhir, tapi saya akan tetap datang lagi untuk cek tali pusatnya sudah lepas atau belum,” lanjutku.
“Oh, gitu ya ,Bidan. Iya. Terserah bidan saja. Saya nanti langsung minta notanya ya, Bidan.”
“Iya, Kak. Gampang kok itu.”
Aku segera menyelesaikan tugasku, lalu melaju ke lapangan. Tanpa meninggalkan tas dinas yang berisi peralatan medis.
Sesampai di lapangan, banyak sekali yang datang menonton. Aku langsung bergabung dengan warga desa lain, dan mulai menyaksikan pertandingan yang sepertinya sudah berjalan setengah pertandingan. Radit berada di posisi depan sebagai penyerang, terlihat makin keren saja dia.
“Ganteng banget ya, Si Radit!”
“Keren banget, gila!”
Terdengar riuh para gadis remaja mengelug-elu kan nama Radit, mereka pasti belum tahu kalau calon istri Radit berdiri di belakang mereka. Huh!
Skor masih dimenangkan tim Radit, unggul dengan empat skor, sedangkan lawan masih dua skor. Keadaan makin memanas, ketika lawan mulai menggocek dengan agresif. Radit dan teman-temannya pun mulai merasakan gangguan.
Penonton juga menjadi tegang, apa lagi dari tim suporter lawan. Kudengar mereka ada yang dalam keadaan mabuk, hingga meluarkan kata-kata tidak pantas untuk memancing emosi tim desa kami.
Aku otomatis menjerit, ketika Radit menerima tekellan keras di kakinya hingga akhirnya dia pun terjatuh. Radit langsung terbaring di tempatnya jatuh, meringis kesakitan karena kakinya yang pasti terkilir parah. Namun, sayangnya tidak ada tenaga medis yang menyertai pertandingan, mereka hanya membawa Radit ke pinggir lapangan. Aku langsung berlari menghampiri Radit yang masih meringis kesakitan.
“Radit!” kataku.
“Duh, Dhea. Tolong ambilin tasku dong, tolong!”
Sebelum aku mengambil, sudah ada teman satu timnya yang mengambilkan tas Radit. Di dalamnya ternyata sudah ada botol penyemprot untuk menghilangkan rasa nyeri. Beberapa kali semprot, Radit terlihat mulai merasa baikan.
Sementara di dalam lapangan, keadaan semakin kacau. Mereka masih melanjutkan permainan tanpa Radit.
“Masih sakit?” tanyaku ragu.
“Masih, lah. Gak bisa main nih,” sahut Radit.
“Kalau gitu aku bantu kamu pulang ke rumah.”
“Gak usah, lagi pula gimana caranya?”
“Kan aku bisa bopong kamu, Dit.”
“Aku tuh berat tau, nih, cukup bawain tas aku. Biar aku minta tolong sama teman, tunggu sampai pertandingan selesai.”
“Yaudah.”
Aku tetap di sisi Radit, duduk dengannya di pinggir lapangan. Menyaksikan sisa jalannya pertandingan. Tim lawan tidak bisa menjebol lebih pertahanan tim Radit. Tim Radit pun sukses memenangkan pertandingan.
Jatuhnya Radit tadi, sempat hampir memercikkan api perkelahian. Radit bukan warga asli sini, dia juga memiliki skill bermain bola yang bagus, hingga teman-teman satu timnya pun merasa segan. Mereka tentu tak ingin pemain andalan mereka sampai cidera.
Radit diantarkan pulang usai pertandingan, temannya pun langsung memanggil Mak Erni untuk datang mengurut kaki Radit yang cidera. Sedang aku, cepat pergi mandi agar bisa kembali menjaga Radit.
Beno, teman satu tim yang Radit minta untuk menemani Radit sebentar. Dia diperlukan untuk membopong Radit ke kamar mandi, lalu setelah selesai, Radit pun membolehkan Beno pulang.
“Kamu tiduran dulu, abis ini Mak Erni mungkin dateng,” kataku, sembari meninggikan bantal Radit untuknya merasa nyaman duduk bersandar.
“Makasih, ya.”
“Udah tugas aku, kan. Sebagai tetangga yang baik.”
“Eumm. Udah makan belum? Sambelnya udah dicicipin?”
“Belum, kan nungguin kamu dulu.”
“Makan dulu sana.”
“Entar, kalau ada Mak Erni aku pulang ambil makan.”
“Terserah deh.”
Tak lama, yang kami tunggu pun datang. Bonusnya adalah juga ada Kak Rina yang datang bersama Mak Erni. Kak Rina tentu datang karena merasa khawatir pada Radit. Dia kan juga tetangga yang baik.
“Udah, jangan main bola lagi, Pak Radit,” ucap Kak Rina.
“Iya, Kak. Kata aku juga gitu. Apa lagi udah mau nikah,” sahutku.
“Namanya juga hoby, kalian ini,” sambung Mak Erni.
Radit diam saja mendengar ocehan kami, hingga kulihat wajahnya meringis kesakitan lagi karena pijatan Mak Erni yang tepat mengenai rasa sakit.
“Di rumah saya ada minyak lawu, minyak khusus untuk jatuh-jatuh atau terkilir. Mau saya ambilkan?” ucap Kak Rina.
“Gak usah, Kak. Tadi udah dikasih minyak kok.”
“Eh, Bidan. Minyak lawu itu beda, lebih bagus dan cepat sembuhnya.” Sahut Mak Erni.
“Saya ambilkan dulu, ya.”
Kak Rina benar-benar pergi untuk mengambil minyak yang disebutnya. Sedang Radit diam saja, membuatku kesal. Pasti dia tidak enak untuk menolak. Semoga minyak lawu itu tidak ditambahkan minyak apa-apa.
Mak Erni menggosokkan minyak lawu dari Kak Rina ke kaki Radit yang sakit. Di dalam botol minyak ada sebuah paku dan banyak jarum kecil. Katanya itu disebut dengan pengaras, sesuatu yang membuat minyak itu cepat manjur menyembuhkan. Tak jarang juga tentu ditambah dengan uang.
Kaki Radit bengkak, dia pun tertidur setelah dipijat. Aku menungguinya sampai Mak Erni dan Kak Rina pamit pulang. Andai hubungan kami sudah halal, tentu aku tidak perlu pulang dan bisa menemaninya. Rasanya tak tega meninggalkan Radit sendirian.
Aku menyiapkan air minum di dekat tempat tidurnya, lalu mengirim pesan pada Beno untuk datang lagi menemani Radit.
“Radit, aku pulang dulu, ya. Nanti akan ada Beno yang datang buat nemenin kamu.”
“Eumm, aku maunya kamu yang di sini juga.” Radit tiba-tiba manja.
“Kan belum mukhrim, gak enak tau. Kamu juga kan guru.”
“Iya, iya. Makasih ya.”
“Iya.”
Radit kembali memejamkan matanya, lalu tak lama kulihat Beno datang. Beno bersedia menemani Radit sampai kondisi kaki Radit membaik. Aku pun bisa pulang ke rumah dengan sedikit tenang.
Kubuka stoples yang tadi diberikan Radit, berisi banyak sambal cumi asin. Sekali colek kucicipi, rasanya benar-benar pedas nagih. Tanpa terasi, akan tetapi terasa gurih. Amis bau cumi-cumi pun tersamar dengan adanya serai dan daun jeruk. Radit benar-benar niat memasaknya. Bersama nasi putih hangat, sambal cumi itu pun tak butuh waktu lama untuk tandas dari tempatnya.