"ALASKAAAA!!!"
Itu adalah suara teriakan Bu Dewi, salah satu guru killer di SMA Nasional. Guru yang memiliki perawakan gendut ini melotot melihat Alaska yang malah tersenyum sok ramah.
"Eh Bu Dewi cantikkk," ujar Alaska. "Kenapa manggil saya bu? Kangen yaaa."
"SEMBARANGAN KAMU!!" bentak Bu Dewi. "Sini ikut saya!" ujar Bu Dewi menarik tangan Alaska untuk ikut bersamanya.
"Loh bu, kok ibu pegang-pegang tangan saya sih," ujar Alaska. "Wah bener ini, Bu Dewi suka sama saya ya? Terus saya mau dibawa kemana ini bu? ke pelaminan? Jangan deh bu, saya belum siap, saya masih mau sekolah lo."
"JANGAN NGELANTUR KAMU!!" teriak Bu Dewi lagi, guru tersebut menjewer telinga Alaska dan menariknya menuju ruang bk.
"Aduh bu sakit," erang Alaska. "Jangan ditarik dong bu telinga saya, kan malu saya bu."
"MASIH PUNYA MALU KAMU!!" ujar bu Dewi ngegas.
"Saya kan manusia bu, masa manusia kaya saya yang baik hati dan tidak sombong ini gak punya malu," balas Alaska. "Bu Dewi kenapa sensi banget sama saya sih, daritadi saya di bentak mulu, hati saya kan lembut bu, gampang rapuh kalo di bentak."
"DIAM KAMU ALASKA!" lagi-lagi bu Dewi membentak Alaska. Lagi dan lagi pula, Alaska tertawa karenanya.
"Kan saya punya mulut bu," balas Alaska lagi. "Kasihan bu orang tua saya susah-susah ngajarin saya ngomong, tapi malah disuruh diem."
"Ngomong itu seperlunya Alaskaaaa," Bu Dewi berusaha sabar.
"Nah gitu dong bu, kalo ngomong yang kalem, kan makin cantik."
Bu Dewi hanya menghembuskan napas kasar, memang harus ekstra sabar menghadapi murid seperti Alaska.
Kini Alaska dan Bu Dewi sudah sampai di ruang bk.
Saat di ruang bk, Alaska di introgasi dengan beberapa pertanyaan yang menyangkut soal Avender.
"Kenapa geng kamu kemarin malam buat onar di jalan raya dekat perkotaan?" tanya Pak Suripto, entah sudah berapa kali pertanyaan tersebut di lontarkan untuk Alaska.
"Avender tidak pernah membuat onar," ujar Alaska penuh penekanan.
"Saya dapat laporan, geng kamu buat onar disana, mau ngelak apalagi kamu?" desak Pak Suripto.
"Kan saya sudah bilang pak, Avender tidak pernah membuat onar," ujar Alaska sabar. "Bapaknya gak percaya banget sama saya."
"Yasudah, coba kamu jelaskan kejadian kemarin malam Alaska," ujar Bu Dewi memberi kesempatan Alaska untuk menjelaskan.
"Kemarin malam Avender memang terlibat tawuran, tapi waktu itu kejadiannya saya sama temen-temen saya lagi konvoi. Pas kita lewat jalan raya deket perkotaan, kita di hadang sama anak jalanan yang ada disana."
"Mau gak mau, kita fight sama mereka, tapi itu semata-mata untuk melindungi diri," jelasnya panjang lebar.
"Sekarang terserah bapak sama ibu deh mau percaya sama saya apa enggak," Alaska meninggalkan ruang bk begitu saja.
"Saya percaya dengan Alaska pak," ujar Bu Dewi. "Walaupun dia sering membuat onar di sekolah, tapi saya paham seperti apa Alaska, dia mau mengakui kesalahannya. Sebaliknya, jika dia tidak bersalah, dia akan membela kebenaran atas dirinya."
Pak Suripto mengangguk setuju. Memang benar, selain menjunjung tinggi solidaritas, Alaska juga sangat menjunjung tinggi kejujuran. Apalagi dalam hal kesalahan yang dia perbuat.
Alaska berjalan dengan langkah lebar menghampiri teman-temannya yang berkumpul di basecamp mereka. Basecamp yang letaknya tepat berada di belakang sekolah mempermudah mereka untuk berkumpul sewaktu-waktu. Bahkan saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
"Dari mana aja lo Al," tanya Galen, orang pertama yang menyadari kedatangan Alaska.
"Biasalah," ujar Alaska. "Singgasananya Pak Suripto."
"Kena masalah apa lagi lo," Idrus ikut bertanya.
"Gak usah dibahas, gak penting juga," balas Alaska acuh. Cowok itu menyuruh Ken untuk membelikannya minum. Yang disuruh pun mau-mau saja, toh Alaska adalah sahabatnya.
"Nih pak bos minumnya," ujar Ken menyerahkan kantong kresek yang berisi dua air mineral. Alaska menerima kantong kresek tersebut dan mengambil satu botol air mineral kemudian menenggaknya hingga tersisa setengah.
"Thanks Ken."
Ken hanya mengacungkan jempolnya, cowok itu beralih menyalakan lcd proyektor dan sound yang memang tersedia di basecamp mereka.
"Mau nonton apaan lo Ken," tanya Satya waspada.
"Mau nonton blue film lo ya," tuduh Bian.
"Kalo mau maksiat jangan ajak-ajak kita dong Ken," ujar Idrus.
"Wah gila sih lo," serang Galen.
"Bacot," acuh Ken setelah berhasil menyalakan film yang sangat ingin dia tonton, cowok itu lalu kembali duduk bergabung dengan teman-temannya.
Opening film sudah terputar di layar lcd proyektor, menampilkan beberapa iklan disana. Disaat detik-detik film tersebut akan terputar, Idrus berteriak histeris.
"Ken bangsatttt!!!" teriak Idrus menutup matanya dengan telapak tangan. "Gue mau tobat woi, gue mau tobat."
Semua orang yang berada di basecamp Avender menoleh kearah Idrus, kecuali Anjas. Cowok itu malah memainkan game di ponselnya, tak peduli dengan keadaan sekitar.
"Lihat dulu njing!" ujar Ken berusaha menyingkirkan telapak tangan yang menutupi wajah Idrus. Alaska yang melihat ekspresi lucu Idrus malah tertawa terbahak-bahak.
"Ogah gue. Dosa Ken dosa," racau Idrus.
"Biarin udah biarin," ujar Alaska masih dengan tawanya.
Film yang sudah di tunggu-tunggu Ken akhirnya terputar. Gambar yang pertama kali muncul adalah Istana Arendelle.
Yaps! Ken menyalakan film Frozen II.
Sontak, Idrus terduduk tegap memandang layar lcd proyektor, lalu cengar-cengir bodoh.
"Hehe, ternyata lo nonton Frozen II ya Ken," ujarnya.
"Haha hehe haha hehe," Ken menempeleng kepala Idrus. "Main nuduh aja sih lo."
"Ya mana gue tau kalo lo mau nonton Frozen II," Idrus membela diri.
"Makanya lihat dulu baru komen. Jangan kaya netizen +62," sewot Ken. "Pikiran lo negatif semua."
"Anjir," ujar Idrus menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
***
Tepat saat tengah malam, gadis dengan nama Ladinda Agatha terbangun dari tidurnya.
"Kok gue laper ya," ujarnya sambil memegangi perutnya. "Makan nasi goreng enak nih."
Gadis itu mengambil jaket di dalam lemarinya lalu menuruni anak tangga dengan langkah pelan, takut membangunkan Arka.
Tepat disaat Dinda akan melangkah keluar rumah. Suara Arka terdengar nyaring di sepinya tengah malam.
"Mau kemana dek?"
Dinda berbalik dan menangkap sosok Arka yang berjalan dari arah dapur menghampirinya.
"Beli nasi goreng bang."
"Jangan keluar tengah malem," ujar Arka khawatir. "Bahaya dek."
"Yaelah bang. Depan komplek doang juga," Dinda berusaha meyakinkan. "Kan deket, boleh ya."
"Gak usah, biar bang Arka aja yang beliin," ujar Arka berjalan menuju ke kamarnya, mungkin ingin mengambil kunci motor dan jaket.
"Jangan bang," cegah Dinda segera. "Dinda mau beli sendiri aja."
"Dadah abang, assalamualaikum," ujarnya buru-buru keluar rumah.
"Ati-ati dek, waalaikumsalam," Arka hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya itu.
Selesai membeli nasi goreng, Dinda memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya. Dia menyebrang di jalan raya yang pada saat malam itu terlihat sangat sepi. Namun siapa sangka, tiba-tiba dari tikungan dekat komplek, terdapat segerombolan remaja laki-laki menaiki motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hal itu sempat membuat Dinda terkejut bukan main.
"Aaaaa," teriak Dinda.
Tepat pada saat Dinda berteriak, cowok yang memimpin segerombolan remaja itu mengerem mendadak motor yang di kendarainya. Setelah motor yang di kendarai cowok tersebut berhenti. Dinda berjalan mendekati sang pemimpin tanpa ada rasa takut sedikit pun di dalam dirinya.
"Heh, turun lo!" ujar Dinda pada pemimpin segerombolan remaja tersebut.
Lelaki itu melepas helmnya lalu turun dari motornya dan berdiri tepat di depan Dinda.
"Alaska?" ujar Dinda memandang orang yang ada di hadapannya tak percaya. Siapa yang tidak kenal Alaska? ketua Avender yang sangat diidam-idamkan oleh hampir seluruh kaum hawa di SMA Nasional, termasuk teman-temannya.
"Iya gue, mau apa lo," ujar Alaska angkuh.
"Lo masih nanya gue mau apa?" heran Dinda. "Lo udah malem-malem gini, kebut-kebutan di jalan raya, hampir nabrak gue lagi. Lo masih nanya gue mau apa? Lo punya otak gak sih?!"
"Lo tanya gue punya otak apa nggak?" Alaska menyeringai. "Yang harusnya tanya gitu gue!" bentaknya tepat di depan wajah Dinda.
"Lo pikir dengan lo bentak gue, gue bakal takut gitu sama lo?" ujar Dinda dengan smirknya. "Gak sama sekali," tegasnya.
"Terus lo mau apa? Uang ganti rugi karna gue hampir nabrak lo?" Alaska meremehkan, dia mengambil seluruh uang yang ada di dompetnya.
"Nih!!" ujarnya melempar uang tersebut tepat di depan wajah Dinda.
Uang tersebut berserakan. Dinda memunguti satu persatu uang yang dilemparkan Alaska sampai semuanya terkumpul. Hal itu sempat membuat Alaska tersenyum menghina. Namun ternyata, Dinda malah melakukan hal yang membuat semua teman-teman Alaska menatapnya tidak percaya.
"Gue gak butuh uang lo!" ujar Dinda melemparkan uang-uang tersebut tepat di depan wajah Alaska.
Hal itu sontak membuat Alaska naik pitam.
"Terus lo mau nya apa?!" bentaknya.
"Gue mau lo minta maaf sama gue."
"Kalo gue gak mau?" Alaska tersenyum miring.
"Gapapa. Gue gak bakal maksa," ujar Dinda santai. "Buang-buang waktu aja."
"Gak guna!" ujar Dinda lagi.
Dinda berbalik, berjalan pergi kembali ke rumahnya. Tak peduli tatapan tak percaya dari teman-teman Alaska dan tak peduli dengan tatapan tajam dari Alaska.
"Siapa dia?" tanya Alaska dengan suara berat, menahan emosi. Cowok itu menatap lurus punggung Dinda yang berjalan menjauhinya.
"Ladinda Agatha," balas Galen.
"Jadi dia yang namanya Ladinda Agatha," batin Alaska.
"Wah gila sih dia," Ken menggelengkan kepalanya, cowok itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Dinda terhadap Alaska.
"Ganas banget njir," ujar Idrus.
"Gue suka cewek kaya dia," ujar Satya tepat di samping telinga Alaska.
"Kok gitu?" tanya Ken menyahuti.
"Ya lo pikir aja Ken, emangnya selama ini ada cewek yang berani marah-marah sama Alaska kaya tadi," balas Satya tenang. "Gak ada, cuma Dinda yang berani."
"Lah? bener juga ya," Ken baru sadar.
"Jangankan cewek Sat, cowok aja nyalinya juga pada ciut kalo udah berhadapan sama Alaska," sahut Galen menanggapi.
"Gue mundur njir," ujar Bian tiba-tiba.
"Mundur apaan?" tanya Idrus.
"Mundur buat deketin dia."
"Yee, Dinda juga mana mau sama lo, fakboy," cibir Ken menempeleng kepala Bian.
"Bangsat."
***
Pagi yang cerah menyambut Dinda hari ini, dengan senyuman manis diwajahnya, Dinda berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya.
Saat Dinda hendak berbelok, tangannya di cekal oleh seorang siswa laki-laki yang sama seperti orang yang nyaris menabraknya kemarin malam. Ya, Alaska.
"Apa-apaan lo," ujar Dinda berusaha melepaskan cekalan tangan Alaska.
"Ikut gue."
Alaska membawa Dinda ke gudang sekolah, entah apa yang akan dilakukannya.
"Mau apa lo bawa gue kesini," Dinda masih berusaha memberontak.
"Gak usah banyak tanya."
Alaska menarik Dinda masuk di dalam gudang yang kotor dan gelap.
"Lepasin gue Al."
Alaska mendudukkan Dinda di kursi gudang lalu mengikat tangannya.
"Gue gak bakal apa-apain lo Ladinda Agatha," ujar Alaska membungkukkan badannya untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Dinda.
Dinda hanya diam menatap wajah Alaska yang ada di depan matanya.
"Gue cuma mau lo temenin gue bolos disini," ujar Alaska lagi.
"Gak! gue gak mau bolos," ujar Dinda. Gadis itu memang paling anti dengan yang namanya bolos.
"Sekali aja ya?"
Alaska duduk di samping Dinda lalu menyalakan seputung rokok yang baru saja diambil dari saku seragamnya.
"Jangan Al," cegah Dinda membuat Alaska yang tadinya ingin menyesap rokoknya mengurungkan niat.
"Kenapa lo?"
"Jangan ngerokok disini," ujar Dinda. "Pengap Al, gue gak bisa hirup asap rokok."
Alaska menaikkan alisnya sebelah. "Emangnya gue peduli?" ujarnya lalu menyesap rokoknya tanpa peduli dengan Dinda yang tersiksa dengan perbuatannya itu.
Dinda merasa dadanya begitu sesak karena terlalu lama menghirup asap rokok, ditambah dengan gudang yang ditutup rapat oleh Alaska membuat asap rokok memenuhi udara sekitarnya.
Dinda berusaha mengatur napasnya, karena percuma saja dia meminta Alaska untuk mematikan rokoknya, cowok itu pasti tidak mau. Buang-buang tenaga saja.
Kepala Dinda terasa begitu pusing, pandangannya mengabur, tubuhnya nyaris ambruk.
Alaska yang sadar Dinda nyaris terjatuh langsung menangkap tubuh kecil gadis tersebut dan membawanya kepangkuannya.
"Heh!" Alaska menepuk pipi Dinda.
"Sesak," ujar Dinda dengan mata tertutup. "Pusing."
Alaska panik, cowok itu segera membawa Dinda ke uks. Dia tidak sekejam itu dengan membiarkan Dinda yang sakit karenanya.
"Kenapa gue jadi khawatir sama keadaan tuh cewek ya," gumam Alaska frustasi memandang Dinda yang sedang ditangani petugas uks.