Sabtu adalah hari dimana kelas XI MIPA 1 berolahraga. Itu adalah kelas Dinda.
Dinda, Ava, Zoya dan Kinan tengah bersiap untuk pelajaran olah raga hari ini. Mereka baru saja mengambil baju olah raga mereka masing-masing di loker.
Setelah itu, mereka berjalan beriringan menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Dinda adalah orang pertama yang selesai mengganti bajunya. Gadis itu berdiri di depan pintu kamar mandi, menunggu teman-temannya selesai mengganti baju mereka.
Selang dua menit, tiba-tiba pintu utama kamar mandi terbuka dan terlihatlah Nayya dan Selena memasuki kamar mandi tempat dimana Dinda menunggu ketiga temannya.
Dinda yang posisinya sedang sendirian, dia dihampiri kedua gadis yang memandangnya dengan tatapan benci.
Nayya mencekal tangan Dinda kasar. Dinda yang sudah tau kalau akan diperlakukan seperti ini oleh Nayya hanya diam saja. Dinda acuh, tidak peduli sama sekali.
"LIHAT SINI LO!!" bentak Nayya.
Dinda hanya memandang Nayya malas, sedangkan Selena. Gadis itu berdiri di belakang Nayya.
"Lo tau kan kalo gue benci banget sama lo," ujar Nayya. "Dan lo juga tau kan kalo gue suka sama Alaska."
Lagi dan lagi, Dinda hanya memandang malas Nayya. Dia hanya diam, tak merespon sedikit pun.
"JAWAB!!" bentak Nayya lagi.
Dinda menghela napas pelan. "Tau," balasnya singkat.
"Kalo lo tau, KENAPA LO DEKET-DEKET SAMA ALASKA?!" bentaknya lagi. "Itu makin bikin gue benci sama lo. LO SADAR GAK SIH!!"
Dinda semakin dibuat malas karenanya. Malas meladeni gadis seperti Nayya.
"Jauhi Alaska, atau lo bakalan nyesel," ancam Nayya.
"Lo ngancem gue," ujar Dinda dengan smirk yang tercetak jelas di bibir mungilnya. "Asal lo tau, gue paling gak suka diancem."
"Apalagi sama orang kaya lo," tambahnya.
Nayya naik pitam, gadis itu menarik kasar tangan Dinda yang di cekalnya. "BERANINYA LO BILANG GITU SAMA GUE!!"
Teman-teman Dinda yang mendengar suara gaduh dari luar, mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi. Dengan segera, masing-masing dari mereka keluar dari dalam kamar mandi dan menghampiri Dinda yang sedang di desak oleh Nayya.
"Ngapain lo kesini?!" Ava emosi.
"Lepasin tangan Dinda," ujar Zoya
Kinan satu langkah maju lebih dekat dengan Nayya. "Jangan sakitin sahabat gue," ujarnya lalu melepaskan cekalan tangan Nayya dari tangan Dinda.
"Sini Din," tangan Dinda ditarik menjauh dari Nayya oleh Zoya.
Nayya berdecih. "Cih, main kroyokan. Najis banget lo semua."
Kinan menyeringai. "Kenapa? Lo takut?"
"Gak salah denger gue?" Nayya tersenyum miring.
"Udah Nan, biarin aja," ujar Dinda memisahkan. "Orang kaya dia kalo diladeni, malah makin seneng. Dia cuma cari perhatian. Lagian, ini masih bisa di toleransi kok."
"Bener kata Dinda Nan," Zoya setuju. "Dia cuma caper doang, gak usah dianggep. Mending kita ke lapangan sekarang."
Tangan Kinan ditarik Ava menuju pintu keluar kamar mandi. Keempat gadis ini menjauh pergi meninggalkan Nayya dan Selena.
Selena sedari tadi hanya diam, gadis itu sebenarnya kurang suka dengan sikap Nayya. Namun, dia hanya bisa diam. Dia takut tidak punya teman, karena semua siswa SMA Nasional sudah terlanjur menjauhinya. Mereka menjauhinya karena dia berteman dengan Nayya, gadis yang sangat dibenci oleh seluruh siswa SMA Nasional karena sikapnya yang arogan.
"Kenapa lo diem aja daritadi?!" Nayya emosi. "Cabut!" titahnya.
***
"Gila aja si Nayya. Makin lama makin ngelunjak dia kalo di diemin," gerutu Ava kesal.
"Udah Va, sabar. Nayya kan emang kaya gitu sifatnya," ujar Dinda. "Dia kan udah sering ngancem-ngancem gue kaya tadi, gue gapapa kok."
"Tapi Din, kayanya kali ini dia bakalan makin nekat deh. Soalnya dia udah bawa-bawa Alaska," balas Ava. "Dia kan bucin banget sama Alaska."
"Kaya Zoya yang bucin sama Jericho," tambah Ava.
"Apaan lo bawa-bawa pacar gue. Kaya lo gak pernah bucin aja sama Gibran," Zoya tidak terima.
"Kaga, gue gak pernah bucin sama Gibran," elak Ava. "Gue sama Gibran mah pacarannya yang wajar-wajar aja. Gak kaya lo sama Jericho, bucin akut."
"Enak aja bi--," ujar Zoya terpotong.
"Udah woi, debat mulu lo berdua," Kinan memisahkan.
"Intinya nih ya, kita harus lebih hati-hati sama Nayya," Ava mulai serius. "Terutama lo Din. Karna yang paling deket sama Alaska itu lo dan yang paling dibenci sama Nayya itu lo."
"Kok gue? Gue gak deket kali sama Alaska."
"Setelah kejadian di kantin kemarin, lo pikir Nayya bakalan diem aja?" ujar Ava.
Dinda termenung sejenak. "Tapi kan, dia cuma nolongin gue."
"Ya itu menurut lo Din, tapi menurut Nayya?" ujar Kinan.
"Ish, apaan sih Nayya. Lebay banget, padahal gue gak ngapa-ngapain," Dinda mulai kesal.
"Udah jelas sih ini, Nayya makin benci sama lo Din," ujar Ava.
"Lebih tepatnya sih iri," koreksi Zoya.
Ava dan Kinan manggut-manggut setuju. Tanpa mereka sadari, tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Alaska harus tau," ujar orang tersebut.
***
Galen datang dengan napas ngos-ngosan. Cowok itu langsung menyeruput habis jus jeruk milik Ken, membuat Ken mencak-mencak ditempatnya.
"Galennnn, jus jeruk gue," Ken menatap nanar gelas jus jeruknya yang sudah kosong. Bahkan dia belum meminum jus jeruknya itu.
"Lebay lo ah. Pesen lagi aja sana, gue bayarin," Galen berucap cepat. "Ini ada hal yang lebih penting dari sekedar jus jeruk."
"Apaan," ujar Ken masih kesal.
"Soal Dinda," ujar Galen membuat seluruh anggota inti Avender yang ada disana terfokus menatapnya.
"Kenapa tuh cewek?" tanya Alaska.
"Dia tadi diancem sama Nayya," to the point Galen. "Katanya, Dinda harus jauhin lo."
Mata Alaska melotot seketika. "Tau dari mana lo?"
"Gak sengaja denger, waktu Dinda sama temen-temennya lagi ngobrol," balas Galen.
"Nguping dasar," cibir Idrus.
"Gue gak sengaja denger. Bukan nguping," elak Galen.
"Udahlah, jangan ributin hal gak penting," Satya menengahi.
"Tau, urusan Dinda lebih penting," ujar Bian setuju.
Alaska menggebrak meja kantin tiba-tiba, membuat seluruh siswa yang sedang berada di kantin menoleh padanya.
"Kenapa lo Al," ujar Galen bingung.
Alaska hanya diam, wajah cowok itu merah. Menandakan dia sedang marah.
"Heh!" tegur Galen karena tidak mendapatkan jawaban dari Alaska.
"Lo diem Len," ujar Anjas. "Duduk Al," lanjutnya.
Alaska tak menggubris Anjas, cowok itu malah melangkahkan kakinya meninggalkan kantin.
"Jangan gegabah," ujar Anjas membuat Alaska berhenti. Cowok itu berbalik, menunggu Anjas melanjutkan ucapannya.
"Lihat dulu gimana sikapnya ke Dinda. Kalo dia kelewatan, lo baru bisa kasih peringatan," ujar Anjas lagi.
"Kenapa gak sekarang aja?" tanya Alaska.
"Kalo lo kasih dia peringatan sekarang, itu malah terkesan lebay," balas Anjas. "Inget, lo bukan siapa-siapanya Dinda."
Alaska berpikir sejenak. Benar juga kata Anjas, dia bukan siapa-siapa untuk Dinda.
Dia harus sadar diri.
***
Mata Dinda menyipit melihat seorang cowok dengan jaket levi'snya sedang duduk di kantin bersama teman-temannya.
Memang awalnya terlihat tidak ada yang aneh. Sampai kedatangan Nayya yang langsung menerobos masuk diantara cowok-cowok itu membuat Dinda merasa kesal.
Dinda menghentakkan kakinya memasuki kantin. Gadis itu duduk sendiri di salah satu bangku kosong disana. Yang jelas tidak bersama anggota Avender.
Dinda mengerucutkan bibirnya. Dia hanya memesan segelas jus jeruk.
Dinda memang datang ke kantin sendiri. Gadis itu sebenarnya sedang malas berada di kelas. Karena teman-temannya terus-menerus membicarakan Alaska, Alaska dan Alaska.
Eh, malah disini. Dinda melihat Alaska bersama dengan rivalnya. Nayyara Sammira.
Bu Darmi mengantarkan jus jeruk yang sudah dipesan Dinda. Gadis itu tersenyum simpul. "Trimakasih bu."
Dinda menyeruput jus jeruknya hingga tandas. Gadis itu ingin segera pergi dari sini. Mau kemana saja, asalkan jangan di kantin juga di kelas.
Saat Dinda berdiri ingin pergi, gadis itu dikejutkan dengan kedatangan teman-teman Alaska yang berjalan menghampirinya.
"Mau kemana?" tanya Galen. "Disini aja, kita temenin."
"Iya, disini aja lagi," tambah Bian.
"Udah, biasa aja sama kita," ujar Ken tenang. "Kita kan temenan sekarang."
Dinda tersenyum kikuk. Gadis itu mengangguk. "Duduk," katanya karena bingung mau berkata apa lagi.
Semua teman-teman Alaska ikut bergabung bersama Dinda. Kecuali Alaska tentunya. Cowok itu malah duduk berdua bersama Nayya.
Aneh sekali, Dinda merasa kesal melihat itu.
"Eh iya Din. Sebenernya, lo udah tau nama kita belum sih?" tanya Idrus yang menyadari. Bahwa mereka, belum memperkenalkan diri.
"Udah kok, siapa juga anak sini yang belum kenal kalian," balas Dinda masih dengan senyum kikuknya.
"Bagus kalo gitu," ujar Bian. "Jadi kita gak perlu kenalan-kenalan dulu."
Dinda mengangguk. Gadis itu benar-benar bingung harus bersikap seperti apa. Dia melirik Alaska yang tak menoleh sedikit pun kearahnya.
Galen menyadari mata Dinda yang berulang kali melirik kearah Alaska. Apa mungkin, Dinda menyukai Alaska?
"Kenapa Din, ada masalah lagi sama Alaska?" tanya Galen membuat Dinda gelagapan.
"Eh eng-enggak kok. Gak ada masalah," gugupnya. Galen manggut-manggut seakan percaya.
"By the way, lo ngapain ke kantin sendirian? Jam pelajaran lagi," tanya Galen lagi.
"Gapapa, gue lagi haus aja," jawab Dinda. "Mumpung jamkos juga."
Galen menarik kursi kayunya mendekat kearah Dinda. "Emang, lo sama Nayya ada apa?" bisik Galen.
Dinda sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Ada apa?" beo Dinda. "Gak ada apa-apa lah," ujarnya takut-takut.
"Jujur aja," Galen sedikit memaksa. "Gue kemarin denger obrolan lo sama temen-temen lo dilapangan."
Dinda terdiam kaku. "Jangan bilang siapa-siapa ya," ujarnya memohon.
"Emang kenapa?" tanya Galen bingung. "Kalo anak sini tau, gue yakin. Mereka pasti bakal belain lo," ujar Galen terdengar sangat meyakinkan.
"Bukan masalah itu," balas Dinda, keringat mulai bercucuran di wajah gadis itu. Ada apa?
"Lo kenapa? Lo gapapa kan?" tanya Galen khawatir melihat tubuh Dinda yang mulai gemetaran.
Ken yang duduk di sebelah Dinda juga melihat tubuh Dinda gemetaran dibuat panik. "Dinda! Lo kenapa?"
Alaska mendengarkan suara gaduh dari teman-temannya. Dia juga mendengar suara teman-temannya yang kepanikan.
Alaska berdiri meninggalkan Nayya untuk menghampiri mereka.
"Gue gapapa, gue gapapa," ujar Dinda berusaha untuk terlihat tenang. "Gue balik kelas dulu," ujarnya kemudian buru-buru berlari menjauh.
"Dia kenapa?" tanya Alaska yang baru saja datang.
"b**o!" maki Galen. "Kita kayanya kecolongan."
"Kecolongan?" beo Alaska.