Elvano duduk di ruang kerjanya yang luas, tapi malam itu ruangan itu terasa menyempit. Dinding-dinding kayu ek tua, rak buku yang dulu jadi simbol kejeniusannya, meja kaca besar yang mengilap oleh pencahayaan hangat, semua tampak membungkam. Tak ada yang memuji kejayaannya malam ini. Ia menatap layar ponsel. Tidak ada pesan dari Aurelia. Tidak akan ada. Tiba-tiba ia memutar ulang dalam kepalanya momen di mana Lavinia berdiri dengan Seth di gala dinner, di mana bibirnya menyentuh pipi pria itu tanpa gentar. Dan bukan ciumannya yang mengiris harga dirinya, tapi cara Lavinia melakukannya. Dingin. Sadar. Dengan kekuasaan penuh. Seolah dunia milik mereka berdua, dan dia, Elvano Mahendra, hanya figuran yang terlambat masuk naskah. Ia menggeram pelan, memijit pelipis. Gambar wajah Aurelia se

