Ruang tamu di lantai bawah rumah utama Mahendra sunyi, meski cahaya matahari pagi menyinari setiap sudutnya. Langit-langit tinggi, lukisan klasik, dan aroma kopi dari dapur tidak mampu menghapus ketegangan yang menggantung di udara. Elvano duduk di salah satu sofa panjang, kaki disilangkan, kemeja putih lengan panjang yang digulung rapi. Rambutnya acak sedikit, seperti baru bangun tapi memaksakan diri terlihat tenang. Di seberangnya, duduk sang ayah dan ibu. Berhadapan. Tapi tak satu pun dari mereka tersenyum. “Jadi, itu sudah menyebar?” tanya Elvano datar, menatap ke arah ayahnya. Ayahnya tidak menjawab langsung. Ia mengambil cangkir kopinya, meneguk sedikit, lalu menaruhnya kembali dengan gerakan terukur. “Beberapa partner dari Hong Kong menanyakan langsung. Mereka tidak sebut nama,

