Bab 43

1259 Words

Sore itu terlalu sunyi. Elvano Mahendra berdiri di beranda belakang rumah keluarga Mahendra, mengenakan setelan santai berwarna arang. Di tangannya, rokok yang tak menyala, hanya digenggam seperti pelarian bagi kegelisahan yang tak bisa diucapkan. Ia sudah lama tidak merokok. Tapi malam-malam terakhir ini membuatnya seperti kembali ke tahun-tahun sebelum ia mengenal kontrol diri. Langkah kaki terdengar dari arah pintu kaca. Seth. Datang seperti biasa, selalu tepat waktu, tanpa suara, dan tanpa ragu. Tapi kali ini bukan Lavinia yang memanggilnya. Melainkan Elvano. Seth berhenti tiga langkah di hadapan suami nonanya. Tegap, tenang. Kedua tangan di belakang tubuh, seperti biasa. Seperti penjaga kerajaan yang terlalu diam untuk dicurigai, tapi terlalu awas untuk diabaikan. “Elvano,” uc

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD