“Tenang dulu, Yang. Dan jangan mikir yang macem-macem, okay?” Edo menyentuh bahu Gina dan meminta perempuan yang sejak tadi sibuk mondar-mandir itu untuk duduk. “Gimana aku bisa tenang, Yang. Ini udah hampir tengah malam dan kita semua nggak tahu Rara ada di mana. Kita tanya Reyhan juga dia nggak tahu. Rara nggak bisa dihubungin dari tadi dan dia nggak meninggalkan petunjuk apapun ke mana dia pergi.” Sore sepulang kerja tadi, Gina mendapati rumah dalam keadaan kosong. Aurora tak ada di kamarnya, namun ponselnya tak bisa dihubungi. Berkali-kali Gina mencoba menelponnya, namun tak satupun panggilan tersebut tersambung. Karena masih sore, Gina mencoba berpikir positif saja. Barangkali sahabatnya itu sedang pergi ke suatu tempat. Entah ke mall, ke cafe, atau ke mana saja. Nanti dia akan pula

