Karpet merah tergelar sepanjang pintu masuk gedung. Disisi kanan dan kirinya berdiri tiang-tiang sebatas pinggang yang saling terhubung satu sama lain. Terhias bunga-bunga cantik berwarna-warni. Serta kain-kain sutra yang menutupinya.
Pelataran parkir gedung terlihat ramai malam itu, dipenuhi mobil-mobil mewah para tamu undangan.
Di bagian depan gedung terlihat banyak sekali wartawan-wartawan infotainment yang berlalu lalang. Bahkan ada beberapa yang tengah melakukan wawancara dengan beberapa tamu dari kalangan aktris dan aktor terkenal yang datang malam itu.
Pernikahan merupakan momen yang spesial bagi setiap pasangan, terlebih bagi para aktris maupun orang-orang terpandang di Indonesia. Untuk memeriahkan hari bahagianya itu, mereka sengaja menggelar pernikahan dengan konsep yang tidak biasa. Hingga berhasil membuat siapapun yang menyaksikannya akan tersenyum takjub.
Namun berbeda halnya dengan yang dirasakan Katrina. Dia tidak terbiasa menghadiri acara-acara besar nan megah seperti acara pernikahan Dara saat ini. Membuatnya merasa gugup dan canggung. Belum lagi saat beberapa wartawan memintanya untuk berfoto. Padahal Hardin inikan bukan berasal dari kalangan publik figur, tapi kenapa sepertinya para wartawan itu sangat mengenalnya. Pikir Katrina bingung.
"Mba liat ke arah kamera ya, sebentar," ucap seorang wartawan yang bernama Zidan. Nama itu terlihat dari name tag yang terkalung di lehernya.
Katrina mendongakkan kepalanya. Dan beberapa jepretan fotopun berhasil di ambil.
Tangan Katrina masih menggenggam lengan Hardin. Suaminya terlihat santai mengobral senyuman termanisnya di depan kamera. Hingga beberapa wartawan itu mulai menghampiri mereka dan mewawancarai Hardin.
"Apa benar Dara itu merupakan bagian dari masa lalu, anda, Pak?"
Hardin tersenyum. "Saya dengan Dara hanya berteman biasa. Tidak ada hubungan spesial di antara kami,"
"Tapi berita mengenai foto anda yang sedang berciuman dengan Dara di lombok itu sampai saat ini belum ada konfirmasi pasti dari Anda maupun Dara sendiri, Pak? Apa foto itu hanya sekedar foto editan untuk menaikan pamor Dara di dunia perfilman?"
Laki-laki ini, masih saja membahas masalah yang jelas-jelas sudah ditutup kasusnya. Rutuk batin Hardin, geram.
Hardin masih mencoba untuk memasang senyumnya meski dalam hati dia mulai gerah dengan pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh wartawan-wartawan itu.
"Foto itu tidak benar. Sudah terima kasih. Masuk dulu ya,"
Hardin hendak beranjak dari tempat itu, tapi Zidan masih belum puas dengan jawaban Hardin. Dia justru melayangkan pertanyaan berikutnya yang membuat Hardin semakin tidak enak hati dengan Katrina.
"Pak, satu pertanyaan lagi, bagaimana dengan kasus perceraian Angel Kamila, model majalah dewasa yang kini dikabarkan berpisah dengan sang suami karena menjalin hubungan gelap dengan Anda?"
"Hubungan saya dengan Angel sudah lama sekali berakhir. Jadi perceraian Angel dengan suaminya tidak ada kaitannya dengan saya, sudah ya, Oke," Hardin mengacungkan ibu Jarinya seraya berdadah ke kamera. Dia berjalan kembali menapaki karpet merah utama dan menyadari lengannya sedikit sakit, sebab genggaman tangan Katrina yang meremas lengannya dengan sangat kuat.
"Tidak usah cemburu, itu hanya kabar bohong, mereka itu hanya sekedar mencari sensasi," bisik Hardin di telinga Katrina.
"Aku tidak cemburu." jawab Katrina singkat. Suaranya terdengar kesal.
Hardin tersenyum genit.
"Kalau tidak cemburu, tidak usah lenganku jadi sasaran, sakit tau!"
Tapi mendengar hal itu Katrina justru semakin menjadi. Hardin semakin dibuatnya meringis. Meski, masih sanggup ditahan oleh Hardin. Tapi dalam hati, Hardin sangat senang melihat Katrina cemburu.
Kini langkah mereka sudah semakin dekat dengan singgasana mewah yang terpampang dihadapan mereka. Tempat dimana ke dua mempelai kini terlihat duduk sambil terus menebar senyum bahagia.
Hardin membantu Katrina untuk menaiki tangga kecil. Kini mereka sudah berada di atas stage utama yang mengusung konsep mewah dan gemerlap dengan warna dasar gold. Ke dua pengantin terlihat berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Wah-wah-wah, bos besar Company Group yang tampan ini datang juga akhirnya," ucap mempelai pengantin pria, bernama Dave Driandro. Dia adalah anak bungsu dari menteri keuangan Indonesia yang kini memiliki usaha travel terbesar di asia.
"Sobat nikah masa gue nggak dateng, selamat ya, Bro?" ucap Hardin, mereka berpelukan sesaat.
"Ini istri lo?"
"Iya ini istri gue, Katrina namanya,"
Katrina mengangkat dan menyatukan ke dua telapak tangannya di depan d**a. Cara bersalaman yang biasa dia lakukan dengan non muhrim.
"Nggak sangka, pebisnis viral kayak lo bisa dapetin yang bercadar? Hebat!"
Hardin tertawa bangga.
"Hati-hati loh sama Hardin, dia ini bukan publik figur tapi fansnya banyak banget. Persiapkan diri untuk sakit hati," Dara menyela. Dia melirik ke arah Katrina yang terus menunduk.
Hardin menatap Dara tak suka. Meski setelahnya dia langsung tersenyum. "Bisa aja kamu, Dar. Oke, selamet ya, sukses buat kalian,"
Hardin menarik lengan Katrina untuk segera beranjak dari tempat itu sebelum Dara kembali mengucapkan kalimat-kalimat yang tak enak didengar.
"Omongan Dara tidak usah di dengar, dia bicara seperti itu hanya karena dia dendam padaku sebab pernah kutolak," suara Hardin kembali terdengar saat mereka mulai menikmati hidangan.
"Iya, aku mengerti." Jawab Katrina pelan. Tiba-tiba saja Katrina merasa perutnya sakit. Seperti ada sesuatu yang menusuk-nusuk dari dalam. Dia memegangi perutnya dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain bertumpu pada meja hidangan. Dia merasa pandangannya mulai berkunang-kunang. Hardin yang berjalan di depannya belum menyadari hal itu sampai akhirnya dia menoleh ke belakang dan mendapati Katrina yang juga tak beranjak mengikuti langkahnya. Hingga akhirnya, tubuh Katrina jatuh terhempas ke lantai.
Katrina pingsan.
Dan suasana pesta mendadak menjadi riuh. Beberapa tamu undangan dan pelayan terlihat menghampiri Katrina, tak terkecuali Hardin.
"Katrina?" teriak Hardin yang langsung berlari ke arah istrinya. Tanpa pikir panjang Hardin menggendong Katrina keluar dari ruangan luas itu. Dia berlari dengan sangat tergesa-gesa dan langsung melajukan marsedes benznya ke rumah sakit.
Dia benar-benar bingung!
*****
"Keadaan kandungan ibu Katrina cukup mengkhawatirkan, kami akan berikan vitamin penguat kandungan agar kandungannya bisa bertahan melewati masa-masa rentan kehamilan. Hamil muda itu memang sangat rentan mengalami resiko keguguran. Itulah sebabnya Ibu katrina sekarang harus bed rest total di rumah. Tidak boleh melakukan aktifitas apapun dulu. Termasuk berhubungan seks, Pak. Sebab sedikit saja kandungannya mengalami goncangan atau tekanan, itu bisa berpengaruh besar bagi kondisi janin. Mudah-mudahan semuanya belum terlambat. Ini resepnya nanti bisa bapak ambil di bagian obat."
"Terima kasih, Dok. Ayo, Trina." Hardin memapah Katrina keluar dari ruangan dokter Mira. Dia sungguh khawatir dengan keadaan sang istri. Terlebih kondisi janin di dalam perut Katrina. Menjadi seorang ayah adalah hal yang sangat dia nanti-nantikan selama ini. Terlebih anak itu berasal dari rahim wanita yang sudah jelas sangat-sangat dia cintai.
"Maafkan aku Hardin, seharusnya aku menuruti perintahmu sejak awal untuk memakai jasa asisten rumah tangga dan tidak memaksakan diri untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian," Katrina menyesali tindakannya yang ceroboh. Dia merasa bersalah pada Hardin.
Hardin tersenyum di balik kemudi. Saat ini mereka sudah berada di perjalanan menuju rafless hills.
"Aku sudah memutuskan untuk membawamu ke Bandung besok pagi. Aku tidak akan tenang bekerja jika istriku sedang dalam kondisi seperti sekarang. Meski ada pembantu, tapi aku tetap tidak mau ambil resiko. Kalau kita tinggal di Bandung, kan ada Omah dan Opah yang stand by di rumah mengawasimu. Aku tidak percaya padamu. Kalau tidak ada yang mengawasi dirumah, nanti kamu bosan tidur, lalu kamu melakukan aktifitas berat di rumah. Kamu itukan orangnya ngeyel kalau di kasih tau," jelas Hardin panjang lebar.
"Iya, aku ikut saja apa keputusanmu. Lagipula aku juga tidak mau kalau harus kehilangan anakku,"
"Anak kita, ralat."
"Iya, anak kita."
"Kan aku yang menanam saham di rahimmu, jadi itu lebih pantas dibilang anakku,"
"Tapikan aku yang akan mengandung anak ini selama sembilan bulan dan aku juga yang akan melahirkannya nanti, aku yang akan menanggung sakitnya, bukan kamu yang bisanya cuma menanam saham saja! Selepas itu kamu lepas tangan! Dasar laki-laki! Seenaknya saja bicara!" gerutu Katrina kesal.
Hardin tertawa. Digenggamnya tangan Katrina.
Katrina kesal hingga dia tidak menoleh sedikitpun pada Hardin.
"Sudah jangan cemberut. Akukan hanya bercanda," Hardin kembali buka suara. Matanya menelisik melalui celah mata.
Katrina tidak menjawab.
"Oh ya, mungkin aku juga akan memberimu libur selama beberapa minggu ke depan. Sampai kondisi janin di perutmu stabil dan lebih kuat. Dokter menyarankan untuk kita berhenti berhubungan intim dulu,"
"Bagus kalau begitu! Akukan bisa tidur lebih awal jadinya. Kalau perlu, liburnya sampai aku melahirkan," ucap Katrina, meledek.
"Apa-apaan? Itu sih namanya penyiksaan. Mana kuat aku menahannya selama itu? Satu hari saja kita tidak berhubungan kepalaku sakit, apalagi sembilan bulan! Sama saja kamu membunuhku pelan-pelan,"
Katrina tertawa kecil. Sadar Hardin mulai terpancing emosi.
"Memang mana yang lebih penting bagimu? Berhubungan intim denganku, atau kesehatan janin di dalam perutku, calon anak kita?"
"Ya, jelas kesehatan janinmu. Aku sudah tidak sabar ingin menggendong bayi kita nanti, apalagi jika dia seorang jagoan kecil, aku yang akan memberinya nama," Hardin terlihat sangat antusias. Dia memang sangat ingin memiliki anak laki-laki. Menurutnya kalau memiliki anak pertama seorang laki-laki, itu bisa menjadi pengganti untuk menjaga ibunya di saat ayahnya tidak ada. Karena laki-laki cenderung memiliki langkah yang lebih panjang dan yang pasti laki-laki itu lebih kuat. Seorang anak laki-laki bisa menjadi pelindung bagi keluarganya kelak. Begitulah kiranya apa yang ada di dalam pikiran Hardin.
"Baiklah kalau begitu kita libur selama aku hamil. Titik."
Hah? Libur? Selama itu?
Hardin langsung melongo!
Yang benar saja, dia tidak akan sanggup!