Mereka mulai menampakkan wujudnya di hadapanku.
Gangguan datang silih berganti.
Aku yang tidak tau apa-apa hanya bisa menyimpan semuanya sendiri.
Sampai aku bertemu mereka yang memiliki kemampuan sama denganku.
***
Masuk ke SMP tidak banyak yang berubah. Aku tetap tidak mempunyai banyak teman di kelas, dari dulu aku kesulitan bersosialisasi. Hanya Hikmah, Meidy, dan Eka yang dekat denganku. Kebanyakan teman sekelasku adalah anak orang berada dan punya pangkat. Jadi tindakan semena-mena terhadap murid biasa sering terjadi.
"Neng, kau piket sendiri ya. Sibuk nih."
Nani menyerahkan sapu padaku sambil menunjukkan senyum tidak berdosanya dan merangkul pundakku saat aku sudah bersiap pulang.
"Hmm ya oke." Aku hanya bisa pasrah, secara fisik aku kalah dengan Nani yang bertubuh besar.
"Kau yang terbaik Neng. Semangat!" Nani melambaikan tanganya dan meninggalkanku sendirian di kelas.
Aku mulai membersihkan kelas dari depan hingga belakang, meski kelasku berada di lantai dua ruangan kelasku paling luas di sekolah. Jadi membersihkannya cukup membuatku kelelahan apalagi aku hanya seorang diri.Teman sekelasku memang jorok, lihat saja sampah yang terkumpul memenuhi tempat sampah.
Setelah memastikan semua sudah bersih aku menutup semua jendela dan menguncinya. Aku menoleh ke sekeliling untuk memastikan semua sudah terkunci. Setelah semua beres aku menutup pintu kelas dan bergegas pulang karena hari sudah sore.
Door..
Terdengar suara tembakan dari lantai atas saat aku sampai di belokkan tangga. Setengah berlari aku kembali ke atas. Kosong tidak ada siapapun di lantai dua. Tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di sini. Aku kembali turun karena tidak menemukan apa.
"To..long.. saa.. kit.."
Aku menoleh, suara rintihan perempuan terdengar jelas dari atas tangga. Padahal aku sudah memastikan tidak ada orang di atas. Bau amis mulai tercium, menambah ciut nyaliku. Aku melihat ke bawah saat merasakan kaki menginjak sesuatu yang basah. Kakiku begetar tanpa aku perintah. Darah pekat tergenang tepat di bawah kakiku. Darah itu mengalir dari atas tangga, mataku menelusuri arah aliran darah. Di ujung tangga ada perempuan berkepaya putih, terdapat bekas tembakan disekujur tubuhnya. Darah yang keluar dari bekas tembakan mengalir melewati tangga hingga tergenang di bawah kakiku. Tubuhnya tiba-tiba jatuh ke bawah dan berhenti tepat di hadapanku.
Aku tidak bisa merasakan kakiku dan jatuh tertunduk. Wajahnya langsung bertatapan denganku, terlihat kulitnya yang putih pucat. Tanganya terulur memegang pipiku. Aku mencoba menjauh darinya tapi punggungku malah menabrak dinding. Suaraku tertahan di tenggorokan, air mataku mengalir takut mulai menguasaiku. Tangannya terasa dingin saat menyentuh pipiku. Matanya langsung bertatapan denganku.
Bahuku berguncang hebat.
"Nduk, kenapa nduk?"
Sosok perempuan dihadapanku hilang diganti bapak penjaga sekolah. Aku menoleh ke sekitar berusaha mencarinya tapi nihil.
“Kamu kenapa nduk? Tadi bapak dengar suara teriakan dari lantai atas.” Penjaga sekolah mengulang pertanyaannya.
“Tadi ada…” Aku tidak bisa meneruskan kalimatku.
Penjaga sekolah sepertinya paham dengan apa yang aku alami dan segera menuntunku turun ke bawah. Saat sampai di pos satpam depan beliau memberiku segelas teh hangat.
“Habis diganggu di lantai dua ya pak?” Pak satpam ikut duduk di sebelahku.
“Iya pak. Saya temukan di tangga.” Penjaga sekolah menimpali.
Setelah cukup tenang aku baru bertanya. “Berarti saya bukan yang pertama ya pak?”
“Setiap tahun ajaran selalu saja ada yang diganggu. Tahun ini kamu yang kena nduk, mungkin memang kamu pas lagi apes saja. Hehehe.” Penjaga sekolah menertawakanku.
“Lain kali jangan pulang terlalu sore, soalnya mereka selalu mengganggu jika ada anak yang sendirian.” Pak Satpam menasehatiku.
Sambil menunggu angkot datang aku mengobrol dengan pak satpam dan pak penjaga sekolah. Dari mereka aku jadi tahu mengenai sosok yang menggangguku. Sosok itu cukup sering menampakan dirinya, dia muncul di area sekitar gedung kelas tujuh. Konon dia adalah korban pembunuhan di masa penjajahan dulu dan mayatnya dibuang tidak jauh dari lingkungan sekolahku.
Saat aku menelusuri mengenai sosoknya, aku menemukan fakta dia memang terbunuh oleh penjajah saat melewati daerah ini pada malam hari. Dia tidak mau menyebutkan namanya. Aku biasa memanggilnya Putih karena dia menggunakan kebaya warna putih.
Putih selalu menampakan diri karena ingin orang lain tahu mengenai penderitaannya selama ini. Dia masih menyimpan dendam pada penjajah yang membunuhnya. Apalagi sebenarnya Putih baru melakukan lamaran dengan seorang pejuang dan akan melakukan pernikahan seminggu setelahnya.
Aku pernah melihatnya melayang di lorong kelas, dia hanya diam dan berkeliling melihat murid yang sedang belajar. Sampai aku lulus SMP, dia tidak pernah mau berkomunikasi denganku. Putih hanya salah satu penghuni sekolahku yang bersinggungan denganku. Aku akan menceritakan lebih banyak lagi.