BERHARAP MEMILIKI

1754 Words
"Viola Sayang, tapi kamu makan baru beberapa suap. Ini seperempatnya saja belum habis?" Radit sangat cepat tanggap kalau soal Viola. Dia khawatir. Bisa ditebak kalau dia sangat mencintai istrinya. "Kepalaku pusing, kurang istirahat semalam, Sayang. Kamu tahu kan, kalau aku tak enak badan, aku tidak bisa makan banyak," dusta Viola yang sebetulnya tidur pulas setelah puas semalam. Bangun pagi saja dia kesiangan. Justru suaminya yang tak bisa tidur padahal sudah kelelahan dan baru tidur menjelang subuh. “Baiklah, ayo kutemani ke kamar." "Bisa kita pulang ke rumah kita sekarang, Suamiku?" pinta Viola masih dengan menunjukkan kondisinya yang lemah. Padahal tadi dia bisa memekik kuat saat tantrum dan melempar garpu. Viola memang penuh intrik. Tadi dia juga menegaskan dengan sebutan 'Suamiku' kalau Radit adalah suaminya, miliknya, jadi jangan coba-coba mencurinya. Nada sadar akan penekanan tadi. Hatinya ingin tergelak. Siapa juga yang mau merebut Radit darinya? Membayangkan saja Nada tak pernah! Drama queen Viola tak mempan untuk Nada. Malah makin jijik dengan jawaban penegasan Radit ke Viola. "Baiklah Istriku," setelah mengelap bibirnya dengan serbet, Radit mengecup punggung tangan Viola sebelum memerintahkan bi Siti. "Bi, tolong suruh pelayan mengambil koper di kamar saya dan di kamar Denada. Masukkan ke bagasi mobil saya." What? Nada lemas! Dia ingin penjelasan makanya matanya menatap Radit tapi bibirnya tak bisa mengeluarkan satu katapun. "Kita tidak tinggal di sini. Tapi kamu ikut pulang ke rumahku." Radit yang sadar dengan tatapan itupun tak ingin membuat kakeknya salah paham. Dia menjawab cepat dengan tangannya yang lain juga merangkul Nada. Rasanya, Nada ingin meninju pria di sampingnya ini karena kesal seperti dianggap selir istri kedua. Enak sekali dia merangkul wanita kanan kiri! Sudah Nada kesal karena semalam, kini tambah kesal lagi dengan rangkulan itu dan bayangan tinggal bertiga bersama Viola dan Radit. Nada sudah menjerit dalam hatinya. "Perlakukan istrimu dengan adil, yo Le." Tapi tak ada yang dapat dilakukan Nada selain pasrah setelah mendengar ucapan eyang Prawiryo. Dalam hatinya, Nada bertekad meninggalkan Radit secepatnya setelah melahirkan. Dia tak butuh perlakuan adil Radit karena Nada yakin, pria seperti Radit tak akan bisa adil. Peristiwa semalam, bagaimana Radit memperlakukannya sudah cukup membuat Nada sadar dimana posisinya. "Aduh sayang, tolong pijat kepalaku," sontak Radit melepaskan rangkulannya dari bahu Nada lalu memijat Viola. Nada merasa lega, tapi tidak dengan ibu Radit. "Apa harus pergi sekarang? Istrimu masih makan, Radit,” ucap Riyanti yang kecewa melihat sikap putranya. Dia lebih tegas dari eyang Prawiryo. Riyanti memang lebih berani menunjukkan kebenciannya pada Viola. Dia juga tahu, istri Radit ini hanya bersandiwara. "Istriku Viola sakit, Bu. Kepalanya pusing. Dia harus pulang karena obatnya ada di rumah. Lagipula, kami memang harus pulang. Banyak pekerjaan kantor yang harus aku urus," jawab Radit berusaha sopan. "Apa butuh aspirin, Dit? Ibu ada kalau mau." Riyanti menawarkan solusi yang Nada sudah yakin, pasti ditolak. "Gapapa, Bu. Obat Viola beda, aku gak berani kasih obat sembarangan. Kami pulang saja." Nada adalah mahasiswi kedokteran. Dia tahu kandungan obat sakit kepala. Dan semua rata-rata sama. Mau tertawa dirinya mendengar jawaban Radit. Sungguh terlalu lebay! Kalau tak ingat ibunya yang butuh biaya, Nada sudah tak akan tahan untuk diam. "Nduk, habiskan makananmu, baru ikut pulang sama suamimu." Prawiryo menjadi penengah, karena tak ingin Riyanti makin emosi. Dia tahu, menantunya itu sudah mulai tak bisa menahan amarah ke anak semata wayangnya. "Tak apa, Eyang. Aku juga sudah kenyang. Tadi aku sempat makan pisang goreng sama ayah sebelum ke sini, sepertinya perutku masih full!" dusta Nada yang tadi memang melihat ayahnya punya sebungkus pisang goreng di samping kopinya. Nada hanya berharap kakeknya Radit tak akan bertanya ke ayahnya. Atau dia ketahuan berbohong. "Tuan Muda, semua kopernya sudah ada di dalam mobil,” ucap bi Siti. Radit pun baru mau berdiri, tapi tangan Viola menahan. "Sssh, sakit sekali kepalaku ...," Viola berakting memegang kepalanya seperti tadi. "Duduklah dulu, nanti kugendong!" Radit kembali mendudukkan Viola di kursinya, lalu Radit sendiri menghampiri Prawiryo, Bambang dan Riyanti untuk berpamitan sembari meminta maaf istrinya tak bisa pamitan karena sakit kepala. Sungguh membuat Nada makin mual melihat Radit yang terlalu bodoh menurutnya. Diam-diam netra Nada sempat menangkap di ujung cermin dinding Viola tersenyum sinis. Nada makin yakin semua hanya drama yang dibuatnya. Hal yang paling dibenci Viola di keluarga Prayoga adalah merendahkan diri dengan mencium tangan, seperti yang Radit lakukan sekarang. Jadi, dia sengaja berpura-pura kesakitan agar tidak perlu melakukan itu. "Denada, ayo kita berangkat sekarang!" seru Radit, yang sudah membopong tubuh Viola. "Eyang, aku pamit dulu. Nanti aku bakalan sering kemari untuk mengobrol dengan Eyang!" Nada salim dan mengecup punggung tangan Prawiryo dengan bibirnya. "Ehmm. Tuan ...." "Kamu bisa panggil saya ayah, dan istri saya ibu. Karena kamu sudah jadi mantu saya." Bambang suka sekali dengan sikap sopan Nada.. "Nggih ... Ayah, Ibu saya mau pamit dulu!" Nada berpamitan sama seperti pada Prawiryo. "Hati-hati, ya Nduk! Jaga kesehatanmu! Kabari jika butuh sesuatu, ini simpan nomor Ibu. Itu, bawa juga sarapanmu yang sudah disiapkan Siti." Riyanti yang sangat khawatir dengan Nada memberikan sedikit peringatan dalam kalimatnya. Dan tadi sempat mengintruksi Siti juga membungkuskan makanan. Dia tak yakin Nada sudah makan. Nada hanya mengangguk, mengambil nasi gudeg yang sudah di kotak makan. Setelah itu, dia pun setengah berlari menyusul Radit dan Viola yang sudah meninggalkannya. *** "Sayang, berhentilah bermain handphone, Kepalamu nanti tambah sakit." Mobil yang dikemudikan Radit melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah besar keluarga Prawiryo. Untuk awal perjalanan tak ada masalah, semua berjalan lancar dan normal untuk Nada. Viola dan Radit yang duduk di kursi depan bahkan tak berbicara apa pun. Hanya tangan kiri Radit saja yang sesekali mengubah pegangannya dari kemudi lalu menggenggam tangan Viola. Baru tadi suara Radit memecah kesunyian setelah setengah jam mobil yang mereka tumpangi berjalan sangat sunyi tanpa suara, bahkan musik pun tak dinyalakan. "Maaf, bukan aku mau mengatur, tapi matamu bisa rusak kalau main handphone dengan kondisi mobil berjalan, Sayang." Radit memberikan alasan lagi. Lalu tangan kirinya mengusap lembut rambut Viola. "Hmmm ...kamu benar, Sayang. Aku lebih baik mengobrol denganmu!" Viola menjawab lalu menaruh handphone-nya dalam handbag-nya. Sementara Nada yang duduk di kursi belakang berusaha tidak peduli pada pasangan suami istri di depannya. Matanya fokus menatap ke sebelah kiri jalan mengamati kendaraan melalui kaca jendela mobil. "Suamiku, apa kamu ingat saat pertama kali kita melewati jalan ini?" tanya Viola membuka obrolan. "Tentu saja! Sepuluh tahun lalu, saat kita datang menemui keluarga besarku, sehari setelah kita menikah. Ada apa, Sayang?" tanya Radit sambil melirik ke arah Viola sebentar. "Apa yang kamu katakan padaku saat itu?" Radit tampak bingung. Tidak mengerti maksud Viola. Melihat kebingungan Radit, Viola pun mengingatkan. “Dulu kamu bilang padaku kamu sangat mencintaiku. Dan akan selamanya mencintaiku. Until the end of time, until death separated us." Setelah mengatakan itu, Viola membayangkan pikiran Nada sambil menempelkan kepalanya di bahu Radit. Dia memang tak menengok ke belakang. "Tentu saja! Sampai kapan pun akan selalu seperti itu!" Radit menggenggam tangan Viola erat. "Kamu yakih tak akan menyakitiku?" tanya Viola lagi. "Tentu saja, Sayang!" ucap Radit pasti. Suaranya tanpa keraguan sedikit pun, membuat Viola merasa menang. Viola merasa dirinya menang karena berhasil menyudutkan Nada. Dan satu lagi yang Viola ingin bahas saat melihat pergelangan tangan Radit. "Hmmm ... Suamiku, sepertinya kamu harus pakai jam baru, jam ini sudah model lama, sudah sepuluh tahun kamu tak menggantinya!" Viola memegang pergelangan tangan Radit, menunjuk ke jam model kuno yang saat ini dipakai suaminya. "Apa? Aku tak akan pernah mengganti jam ini! Bahkan setelah sepuluh tahun ke depan dan jam ini akan semakin usang, aku tak akan pernah menggantinya, Sayang." Radit bicara dengan intonasi tinggi. “Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya tidak mau penampilanmu terganggu karena itu. Bagaimanapun kamu kan seorang atasan, bisa aja karyawanmu mengomentari penampilanmu out of date karena jam itu.” Radit pun tersadar jika tadi dia berkata keras pada Viola. "Maaf aku tidak marah, Viola. Aku tidak peduli dengan perkataan orang. Kamu tahu kan betapa pentingnya jam ini untukku? Ini hadiah yang kamu berikan padaku saat kita berbulan madu di Switzerland. Aku tak ingin mengganti jamnya karena ini pemberianmu jadi sangat penting untukku!" penekanan kata penting bahkan diberikan dua kali oleh Radit. Skak mat! Akhirnya, kamu terpancing, Radit! Viola pun tersenyum penuh kemenangan. Dia ingin menunjukkan pada Nada bahwa Radit hanya mencintainya. Nada harus sadar posisinya kalau dia sama sekali tidak memiliki kesempatan memiliki Radit. "Terima kasih kamu masih mau menyimpan pemberianku yang tak seberapa itu, Radit. Maafkan aku, andai aku tahu itu alasanmu tak ingin mengganti jam, aku pasti akan membelikan jam yang baru sebagai gantinya ... maafkan aku." Viola berbicara dengan suara dibuat sedih. "Bukan salahmu, aku memang menyukai jam tangan ini. Jam tangan ini special untukku, kamu tak perlu memberikan jam tangan baru untukku. Kamu terus berada di sisiku itu sudah cukup bagiku, Viola!" Radit bicara sangat lembut dan penuh kasih sayang, tulus dari relung hatinya. Di kursi belakang, Nada yang sedari tadi hanya menjadi orang ketiga dan mendengar obrolan romantis mereka pun hanya mendengus pelan. Cuma satu yang disesalkan Nada, kenapa harus dirinya yang terjebak dalam hubungan penuh intrik ini! Apa salah dan dosanya pada Tuhan? Nada yakin, selama ini dia sudah jadi anak yang baik dan berbakti. Tapi sudahlah, daripada mengeluh dan merusak paginya, Nada memilih tidur saja! Toh semalam dia kurang tidur. Dia tak peduli dengan keduanya. "Denada?" "Eh, i-iya Tuan, maaf, saya ketiduran." Setelah hampir satu jam berkendara, akhirnya mobil memasuki pelataran sebuah rumah yang masih cukup mewah walaupun tak sebesar rumah besar keluarga Prayoga. Dan Viola sbeetulnya sebal karena Nada tidur. Percuma dia bicara berbusa sepanjang sisa perjalanan dan tak didengar Nada. Apa jangan-jangan Nada juga tak mendengar perihal jam tadi? Duh, awas saja! Viola ingin membuat pembalasan nanti! "Lanjutkan tidurnya nanti di dalam! Ayo turun!" "Suamiku, aku ingin cepat ke kamar kita! Kepalaku pusing!" Radit segera membuka pintu lalu bergegas membopong Viola yang tak suka melihat atau mendengar suaminya memperhatikan Nada. "Pasutri lebay!" Nada mendengus! Dia tak langsung turun karena kepalanya mendadak pusing. Nada sering begini kalau bangun tidur dikagetkan. Dia punya darah rendah dan gampang pening. Beberapa saat, sampai kondisinya stabil, baru Nada turun dari mobil. Mengingat kopernya masih ada di bagasi, Nada segera ke belakang mobil dan ingin membuka bagasi. Namun, tiba-tiba saja tubuhnya terhuyung. "Kamu gak apa-apa?" untung pergelangan tangannya digenggam oleh sebuah tangan kekar sehingga tak tumbang. Nada pun menengadahkan kepalanya, dan menatap si pemilik tangan itu. Di sana, Radit sudah berdiri memegang tangan Nada sambil menatap wanita itu terlihat matanya khawatir. "Kamu tadi tidak seimbang. Kenapa?" tanya Radit saat mata mereka bertemu. Sesaat Nada terperangah. Tertegun dengan perhatian Radit. Dan tangan mereka yang bersentuhan pun menghantarkan getaran aneh di hatinya. Benarkah Radit kembali karena peduli padanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD