Azura menatap wajahnya pada cermin kecil yang terpajang di kamar mandi. Rambutnya dibiarkan basah tanpa dibalut dengan handuk. Sungguh, Azura merasa tubuhnya seperti cangkang kosong yang tak bernyawa. Selama beberapa hari, Azura terus mencoba fokus pada persidangan yang masih bergulir. Namun, pikirannya selalu pecah setiap kali Azura mengingat Gavin. Ada perih yang tak bisa disangkal, meski Azura sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan perasaannya. Bulan demi bulan, persidangan terus berlanjut. Setiap harinya, Azura membawa harapan bahwa keadilan akan ditegakkan. Laura dengan profesionalismenya yang tinggi, terus berjuang untuk memenangkan kasus tersebut. Di balik rumitnya perihal perasaan, jujur saja Azura mengagumi kekuatan dan dedikasi Laura, dan Azura sangat berterima ka

