Kami sama-sama bersandar di dinding ranjangku. Aku masih merasa sangat letih setelah orgasmeku mencoba mengatur nafas ku agar lebih tenang. Tiba-tiba Jarot kembali memainkan payudaraku. “uuuggghhhh” kembali aku mendesah mendapatkan rangsangan darinya. “dasar bocil sange, nggak tau orang masih capek apa” kataku dalam hati. Tiba-tiba ide brilian muncul di otakku. Aku teringat bahwa aku masih memiliki tisu ajaib yang aku beli di minimarket dekat tempatku bekerja. Karena menurut temanku, selain bisa membuat pria tahan lama, tisu ajaib ini juga bisa membuat punggung dan kaki tidak mudah pegal saat aku bekerja. Aku langsung menghentikan Jarot, dan menawarinya sesuatu yang lebih nikmat. Aku mencium bibirnya, kami berciuman lebih lair daripada tadi. Aku merasa Jarot ini adalah anak yang cukup cepat belajar, tadi dia masih begitu kaku namun kini dia sudah mahir melumat bibirku. Bahkan hampir saja aku terlarut dalam ciumannya. Aku melirik Jarot sudah mengocok senjatanya. Aku menahannya, lalu kini aku mualai menciumi dadanya, aku jilati puringnya hingga Jarot mendesah keenakan. “sssttttttt, jangan terlalu keras, nanti adikku dengar” aku menahan Jarot agar tak mendesah terlalu keras. Aku menurunkan ciumanku ke perutnya, sembari tanganku mengelu senjata yang begitu besar ini. Aku menghentikan aktifitasku. lalu aku mengambil tisu ajaib itu, untuk mengoleskannya pada senjata jarot. Kembali raut sedikit kecewa nampak di wajah Jarot. “mbakkk..... “ rengek Jarot melihatku beranjak dari ranjang. "Sssttt, jangan berisik, nanti adekku curiga, aku cuma mau ambil tisue basah untuk membersihkan adekmu itu, pasti kotor, aku nggak mau kaya kamu yang main sikat aja" alibiku, padahal tempo hari di padusan aku juga sudah mengulum senjatanya, tanpe membersihkannya terlebih dulu. “Mampus kau bocil, bakalan jadi dua-satu kita hahaha” kekehku dalam hati. “ughhhh” Jarot kembali mengeluh, saat pucuk senjatanya aku olesi dengan tisu ajaib. “ssttttt pelan-pelan rot” kataku, aku lebih takut ketahuan Nur, daripada digrebeg warga. Karena Nur pasti akan kecewa berat melihat apa yang sudah aku lakukan ini. Tanpa perlu menunggu lama, aku langsung memasukan senjata Jarot kedalam mulutku. “aaahhhhh” pekik Jarot kaget. Aku terus mengocok senjatanya dalam mulutku, sesekali aku juga menjilan kepala Jarot junior ini seperti sedang makan eskrim. Kadang sesekali aku juga menjilati kantung menyan miliknya. Sialan, merasakan batang Jarot yang begitu penuh di mulutku, nafsuku kembali bangkit. Dengan semangat aku terus mengocok senjata Jarot, sampai tiba-tiba Jarot memegangi kepalaku menahan agar senjatanya tak keluar dari mulutku. Aku hampir tersedak karena kaget, hingga croooottt croooot , s****a Jarot keluar di mulutku. "Sialan kamu rot, kenapa kamu tahan kepalaku" haridkku sembari memuntahkan sprema Jarot karena jijik, namun ada sisa-sisa di mulutku, rasanya agak aneh, asin, gurih, namun nikmat. Tapi aku sudah kepalang jijik karena itu keluar dari k****l Jarot. "Maaf Mbak, kepelasan, habis mulut Mbak enak banget hehehe" kata Jarot. Dia bersandar kembali ke dinding dipan mengatur nafasnya. Jarot terngengah-engah menikmati semburan m**i yang kemarin sempat gagal saat aku mempermainkannya di padusan.
Aku mulai cekikikan geli melihat ekspresi Jarot yang kebingungan melihat senjatanya masih berdiri tegak, padahal baru saja dia menembak di mulutku. “mampus kau bocil sangean, rasakan pembalasanku hahaha” ucapku dalam hati. "Wah hebat kamu rot, udah keluar aja masih berdiri gitu, senjatamu luar biasa memang rot, udah besar, awet lagi" godaku. Jarot makin kelihatan bingung dan gusar dengan apa yang sedang dia alami. “mau yang lebih enak Rot?” godaku lagi sembari aku mengocok senjatanya. “Apa mbak?” Jarot makin kebingungan. Aku menyodorkan dadaku kembali ke wajahnya sembari terus mengurut senjata Jarot. Sial aku mulai terangsang lagi, seolah tubuhku menginginkan lebih dari senjata Jarot. Ditambah sekarang Jarot tak hanya menghisap dadaku, tangan kanannya meraih guaku dan mulai mengocoknya. Aku semakin melayang terbawa nafsu yang semakin meninggi. Aku semakin tidak tahan dengan permainan jari Jarot. Aku langsung bangkit dan mengangkangi senjatanya. Ku raih senjata Jarot dan ku gesek-gesekan di bibir memekku. Terasa kenikmatan saat aku melakukan itu. Aku merasa memekku semakin basah dan siap untuk ditembus k****l pertama kali. Sial. Kenapa aku jadi menikmatinya, harusnya aku balas mempermainkan Jarot. Tapi sudah kepalang tanggung, aku sudah keburu nafsu. Dengan sedikit hentakkan, akhirnya senjata Jarot terbenam sepenuhnya kedalam memekku. “AAAAHHHH” “UGHHH” kami mendesah bersamaan. Perih, geli, penuh, nikmat bercampur menjadi satu di sana. Memang aku sudah sering bermasturbasi, dan mungkin selaput daraku pun sudah robek, namun untuk batang berurat milik laki-laki, Jarotlah yang pertama. Ada sedikit air mata ku yang keluar karena rasa perih itu. Setelah sedikit tenang aku langsung mulai menggoyangkan pantatku naik turun, sesekali aku putar sehingga aku dan Jarot semakin kenikmatan. Tangan Jarot kembali memainkan payudaraku yang menggantung bebas dan bergoyang-goyang di depan wajahnya. Dia remas dan sesekali dipelintir p****g susuku, membuatku semakin bernafsu dan bersemangat bergoyang. Desahan demi desahan kami saling bersahutan, kini kami sudah tidak perduli lagi jika Nur atau orang lain mendengar suara kami. Hanya menikmati setiap kenikmatan dari silaturahim kelamin kami. Semakin lama aku merasa ada yang mau meledak dari memekku, aku percepat goyanganku hingga akhirnya “aaahhhhh mbak keluar Rot” kataku saat tubuhku ambruk diatas tubuh kecil Jarot. Setelah beristirahat sejenak aku meminta Jarot untuk gantian menggenjotku. “Aku ga tau caranya mbak” jawab Jarot polos. Kembali aku cekikikan mendengar jawaban bocil polos sangean ini. “Pokoknya kamu keluar masukin aja kontolmu di m***k mbak” jawabku. Aku sudah sangat liar sehingga kata-kata yang keluar dari mulutku pun sudah kasar. Segera Jarot memposisikan dirinya di atasku, aku membimbing senjatanya ku gesek-gesekan dan memasukannya ke memekku. “Aaaaahhhhhh” desah kami bersamaan saat senjata Jarot masuk seutuhnya ke dalam guaku. Jarot mulai menggerakan pinggulnya, terasa masih sedikit kaku, namun lama-kelamaan dia melakukannya dengan sangat baik, hingga aku kelonjotan merasakan kenikmatan. Memang sekali lagi harus aku akui, Jarot adalah anak yang cepat belajar. Jarot menundukan kepalanya, menghisap dadaku, sepertinya dia memang terobsesi dengan p******a. Ketika aku hampir sampai aku memintanya untuk mempercepat tusukannya, "Aaahhhhh, rot enak banget rottt, kencengin lagi rot, mbah udah mau sampai". " Jarot juga mbak, ahhhh, enak banget mbak memeknya". "Ayo rot, kita keluar bareng rooottt... ahhhhhh". Suara "plok, plok, plok" saat Jarot menghujamkan senjatanya mengiringi desahan kami. "Mbak aku keluar mbakkk... aahhaahhhhhhhhhhh". "Mbak juga keluar rottt, ahhhh kontolmu enak sekali rotttt". Terasa cairan hanggatnya menyembur banyak sekali di dalam guaku. Sial pembalasanku gagak total, aku ikut menikmati persetubuhan ini. Tubuh kami basah penuh keringat, nafas kami terengah-engah, detak jantung kami berpacu sangat cepat. Tubuh Jarot masih berada di atasku menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami alami. Aku masih mengutuki diriku yang hanyut dalam permainan ini, sehingga aku tidak bisa membalas dendam pada Jarot. Tiba-tiba terlintas pikiran untuk mengerjai Jarot, "Rot, mbak lupa kasih tau kamu biar ga dibuang di dalem, kalau dibuang di dalem nanti mbak bisa hamil rot. kalau mbak hamil, kamu mau tanggung jawabkan?" kataku yang membuat wajah Jarot menjadi merah padam dan ketakutan. “YESSS, tetap dua-satu rot” kataku dalam hati. Tentu aku tidak akan hamil, karena aku bisa mengambil pil KB darurat yang dijual di tempatku bekerja besok pagi.