Kegiatan Lucy baru-baru ini ialah menyaksikan dari jauh orang yang beberapa bulan lalu telah ia terima kehadirannya. Sayangnya, kini dia telah pergi meninggalkannya. Kedua kaki Lucy seringkali tak bisa ditahan, ingin sekali menghampiri pria itu. Lagi, hatinya menolak melakukan itu. Ia merasa malu bertemu dengan dia, ayah dari anaknya, Tian. Dug ... Dug ... Anaknya mungkin merasakan ketidakhadiran sang ayah. Kerjaannya menendang terus. Beruntung anaknya masih ada dalam kandungan, jika sudah lahir pasti menangis tiada henti dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Tangis yang melebihi tangisnya mungkin. "Tian ... Aku .... " Lucy menunduk seraya mencengkram bagian bawah gaunnya, Tian di sana sudah hilang dari pandangannya memasuki kantor. Atha bilang, Tian lebih menyibukkan diri di kantor

