Tiga Puluh Delapan

766 Words

Pagi ini, usai mendatangi Lucy di rumah orang tuanya. Rumah yang ia rasa hawanya panas saat ia datang. Bagaimana tidak? Pelototan dua pasang mata menghantuinya. Dirinya 'kan manusia biasa. Tidak bisa digituin. Tian sudah berada di kantornya. Lengkap dengan stelan kerja. Hari ini ada meeting penting, lanjutan dari meeting sebelumya yang ia pimpin. Tidak bisa digantikan. Ditambah Atha belum menguasai materinya. Lagipula, ia ada urusan penting dengan asistennya tersebut. "Tuan." Baru tiba lantai ruangannya, Tian melihat Atha berdiri di depan pintu. Pria itu terlihat gugup. Mungkin sadar akan kesalahannya. "Jam berapa kita meeting?" tanya Tian, pura-pura tidak tahu akan kegugupan asisten pribadinya tersebut. "Jam Sembilan, Tuan," jawab Atha, pria itu menunduk tanpa mau melihat Tuannya. I

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD