MENIKAH

1057 Words
"Apa? Dokter gila, ya? Menikah? Saya baru saja kabur dari pernikahan dan sekarang Dokter malah mengajak saya menikah?” Emma mengeluarkan isi pikirannya. “Apa kepala Dokter jadi gila setelah kabur dari pernikahan? Perlukah kita ke rumah sakit untuk periksa?” Hugo masih dengan posisi yang sama memperhatikan Emma dengan serius. “Saya tidak gila, Saya sehat dan masih bisa berpikiran jernih. Lagi pula tidak ada yang salah dengan ide barusan jika kita berdua menikah.” "Tidak, saya tidak mau." Emma membantah sambil menyilangkan tangan di depan d**a menatap tajam ke arah Hugo. Sikap Emma yang seperti itu terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk di hadapan Hugo. “Terus, kamu kembali ke rumah dengan status yang sama? Jomlo?” Emma membalas dengan sengit. "Apa Dokter tidak tahu yang namanya trauma terhadap pria? Butuh waktu lama untuk memperbai-" “Dengar. Bukan waktunya memikirkan trauma. Jika kamu kembali, mereka pasti akan menuntutmu kembali menikah. Lagi pula, tidak ada yang salah dengan saya. Tampan, kaya, pintar dan kau pasti tidak akan kekurangan apa pun. Saya kabur dari keluarga untuk sembunyi supaya mereka tidak bisa menyeret saya ke tempat pernikahan lagi. Jika kita berdua menikah, saya akan mengubah kehidupanmu yang menyedihkan itu." Hugo memotong perkataan Emma dengan tampang yang terlihat angkuh di mata wanita yang berjarak beberapa langkah darinya. Emma dikata menyedihkan oleh musuh sendiri membuatnya sedikit kesal, namun tidak bisa ditunjukan terang-terangan. Karena musuhnya adalah sang atasan. “Jadi, bagaimana? Kamu mau menikah? Saya serius,” ucap Hugo dengan mata serius ke arah Emma. “Saya akan memindahkan seluruh aset yang saya miliki atas namamu agar mereka tidak membuat ulah.” “Saya tidak bilang setuju, ya, Dok! Emangnya nggak takut kalau harta situ saya bawa kabur semuanya?" Emma tengah menantang Hugo membuat mata pria itu sedikit menyipit melihat ke arahnya. “Gampang. Saya tinggal bunuh saja kau. Lagi pula, saya bukan dokter hewan biasa, Emma. Mengurusi satu wanita yang telah membawa kabur harta, itu sangat mudah.” Hugo tersenyum setelah selesai mengatakan hal itu membuat Emma menjadi merinding. Emma tahu mengenai hal itu, saat magang di rumah sakit hewan milik Hugo, jika pria itu bukan hanya dokter hewan biasa, dia juga dokter spesialis bedah ortopedi untuk manusia. Hubungan sosial dokter dihadapannya sangat luas. "Saya tidak akan berbasa-basi, saya saat ini membutuhkan calon istri untuk bisa menangani orang-orang di sekitar. Dan kamu juga pasti membutuhkan saya. Kita sama-sama saling membutuhkan.” Emma tertawa canggung. "Tapi- keluarga Dokter pasti menolak dan keluarga saya—“ "Masalah kerugian yang dialami oleh mantan tunanganmu itu saya akan menggantinya jika dia menuntut. Lagipula, lebih baik orang lain mendengar kita berdua kawin lari, daripada hanya sembunyi karena takut menikah." Perkataan Hugo memang masuk akal, Emma juga tergoda dengan harta yang dikatakan pria di hadapannya. "Apakah Dokter tidak rugi memberikan harta kepada saya? Mengingat keluarga saya sangat matre, mereka lebih peduli pada anak haram daripada anak sah." "Saya akan mengatur kamu keluar dari daftar kartu keluarga supaya mereka tidak bisa memanfaatkan kamu, lalu kita membuat perjanjian pra-nikah. Saya hanya ingin mengamankan aset jika keluarga Bharion menyentuh seluruh aset milik saya." "Bukannya Dokter bisa menuntut mereka?" "Tidak, saya tidak bisa menuntut mereka." Hugo memiringkan kepala dan menampilkan wajah sedih. "Biar bagaimana pun, saya masih memiliki orang tua. Tidak semudah yang kau katakan." Emma tiba-tiba memiliki empati terhadap Hugo. "Apa, Dokter ingin menikah dengan saya hanya ingin menghindari pajak?" "Apa?" "Memindahkan harta atas nama saya, apa Dokter ingin lari dari membayar pajak? Bukankah orang kaya kebanyakan seperti itu?" Hugo sedikit kesal dengan ucapan Emma. "Wah, rendah sekali saya di mata kamu." Emma berteriak di dalam hati. Memang! "Jadi, kamu setuju kita menikah?" "Saya dapat uang berapa?" tanya Emma. "Apa?" Mata Hugo membulat dengan pertanyaan Emma. Uang berapa? "Aku merelakan tubuh dan hati ini dijual untuk menjadi istri Dokter. Jadi … berapa harga saya?" Emma tidak bodoh, dia harus mendapatkan bayaran yang setimpal dengan apa yang akan dia lakukan. "Kamu—" Hugo hendak menjawab seluruh hartanya bisa dia gunakan selama menjadi istrinya, tapi menyadari di saat yang tepat. Dia bukan tipe orang yang langsung percaya pada orang lain, hanya saja-kenapa Emma bertanya seperti itu? Apakah belum puas dengan memindahkan harta atas namanya? "Apakah saya terlihat bodoh?" tanya Emma. "Pasti kita akan membuat perjanjian pra-nikah, dan harta itu dikembalikan ke kau. Kau hanya ingin menjadikan saya sebagai tameng dari keluarga." Hugo menaikkan salah satu alis, tidak membantah perkataan Emma. "Senang ternyata calon istri saya masih memiliki otak." Emma memutar bola mata dengan kesal. "Jika kita tentukan berdasarkan waktu, akan ada yang curiga. Kok satu tahun? Kok hanya enam bulan pernikahan?" "Kau ingin bercerai setelah menikah?" "Dokter tidak ingin bercerai?" Hugo dan Emma saling bertatapan lama. “Sangat aneh jika Dokter tiba-tiba menawarkan pernikahan kemudian menjadikan aset atas nama saya, dan membuat perjanjian pra-nikah. Saya tidak sebodoh itu Dok. Pasti akan ada perceraian, mungkin tidak dalam dua tahun tapi mungkin lima tahun ke depan.” Pria itu paham dengan apa yang dimaksud oleh Emma. Hugo memutus tatapan mereka dan bertanya. "Apa yang kamu inginkan?" Senyum Emma mengembang. "Saya ingin kuliah sambil bekerja. Tentunya semua pembayarannya dari Dokter.” "Hah?" "Tidak setuju?" Hugo bukannya tidak setuju, hanya saja permintaan Emma terlalu klise. Dia pikir akan meminta sebagian aset miliknya tapi wanita yang di hadapannya itu hanya menginginkan kerja sambil kuliah. "K-kamu yakin hanya meminta itu saja? Apa tidak ada lagi yang kamu inginkan, seperti rumah atau barang-barang berharga lain?” Emma melihat ke arah Hugo. “Saya bukan seperti wanita yang Dokter pikirkan. Lagipula saya tidak sedang berhutang. Dokter berjanji akan membayar seluruh kerugian mengenai pembatalan pernikahan. Saya tidak butuh rumah ataupun hal lain. Daripada itu semua, ide yang paling baik adalah mendapatkan uang dengan bekerja dan juga meningkatkan kualitas diri dengan kuliah." Hugo tidak bisa berkomentar, mendengar penjelasan ngawur Emma. Namun, kalimat terakhir Emma mampu membuat daya tarik tersendiri di hati Hugo. Hugo mulai tertarik padanya? "Jika dua hal itu, diberikan. Saya tidak keberatan untuk menikah. Ah, satu lagi- bisakah ada asisten rumah tangga yang bisa membersihkan rumah? Saya orangnya pemalas kalau berurusan dengan pekerjaan rumah,” tambah Emma sambil cengegesan dengan kalimat terakhir. Hugo menghela napas panjang, seolah melepas beban yang menghimpitnya. “Oke. Kita akan tulis semuanya di dalam perjanjian pra-nikah nanti.” “Jadi, kapan kita akan menikah?” “Kamu ingin segera menikah dengan saya atau ingin tidur dengan saya?” Hugo setengah menggoda Emma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD