pagi harinya, hari minggu Anika sudah bangun dan masih malas malasan di tempat tidurnya. memikirkan rencana ia akan kemana hati ini untuk menghindari ibu dan kaka nya Rama. ia sungguh malas jika nanti Rama dan ibu membahas hal yang sama lagi. Anika mengecek HP nya dan membaca lagi chat dari Dewa. Dewa mengajak Anika jalan hari ini dan akhirnya Anika membalas chat dari Dewa dan setuju pergi jalan dengan Dewa hari ini untuk menanyakan apa Dewa tau masalah perjodohan ini.
Anika bersiap dan Dewa sudah datang menjemput Anika. setelah berpamitan dengan ibu, Anika dan Dewa langsung jalan. ibu dan Rama senang melihat Anika dan dea jalan bersama hari ini, ada kemungkinan Anika akan menerima perjodohan ini pikir ibu.
Anika dan Dewa pergi ke pantai lagi karena Anika suka sekali dengan pantai. setelah sampai Anika dan Dewa memilih untuk duduk di kafe sambil menikmati air kelapa muda dengan cemilan.
" Anika" ucap Dewa memulai pembicaraan
" kenapa? " jawab Anika penuh selidik menatap mata Dewa
" kamu udah dengar tentang perjodohan kita? " tanya Dewa
" udah, kemarin"
" terus kamu mau? "
" ya mas mau? " tanya Anika balik
" mas akan ikut keputusan kamu"
" Anika nggak bisa mas, ralat Anika nggak mau, Anika udah anggap mas seperti kaka Anika sendiri mana mungkin nikah, lagian Anika udah punya Arya pacar Anika "
" kamu udah punya pacar? "
" ya punya dong, masak cewek cantik kayak Anika nggak punya pacar, makanya mas, mas jangan mau ya Anika masih ingin kerja melakukan banyak hal "
" setelah menikah juga bisa Anika, " kata Dewa lagi
" nggak, mas tau sendiri keadaan Anika baru mulai membaik ini adalah saat terbaik dalam hidup Anika dan menikah bukan bagian dari rencana Anika saat ini. oh ya mas mau ya ketemu dengan Arya pacar Anika "
"ee malah mau di kenalin ke pacar nya!" protes Dewa
" Anika, mas juga bingung disisi lain mas tidak mau melawan keinginan mama, dan kamu... " ucapan Dewa terputus. Dewa menatap Anika dalam sekali dan Anika pun membalas tatapan Dewa
" kenapa tatapan mas Dewa berubah pada Anika tidak seperti biasa, Anika melihat tatapan itu sejak mas Dewa kembali. Anika tidak mau mas, jangan berubah pada Anika, Anika nggak siap. mas adalah orang yang penting buat Anika mas teman, kaka juga pengganti sosok ayah untuk Anika sepenting itu mas buat Anika, Anika tidak siap jika hubungan kita berubah.
Anika tidak mau kita serius seperti ini" kata Anika lagi sambil bersandar di bahu Dewa
" mas mau ya ketemu Arya, kalau besok gimana abis pulang kerja? "
" oke " jawab Dewa lagi
sampai dirumah Dewa langsung ke kamarnya. duduk lagi di sofa menatap lagi langit langit kamar nya. memikirkan ucapan Anika.
" kenapa sesulit ini? " gumam Dewa memijit pelipis nya
" apa akhirnya kita bisa bersama Anika, mas tau ini tidak mudah buat kamu, begitu juga untuk mas Anika tapi gimana mama dan ibuk. gimana dengan perjanjian mereka dan perasaan mas Anika... "
Dewa makan malam dengan keluarganya. belum ada yang memulai pembicaraan tentang jawaban Anika. mama Dewi terlihat semakin lemah dan tidak nafsu makan.
" gimana Dewa jawaban Anika? " tanya mama pelan
" Dewa belum membahas itu dengan Anika ma, " jawab Dewa berbohong Dewa tidak ingin melihat mama nya kecewa
" maafin Dewa ma" ucap Dewa dalam hati
" nggak papa Dewa cari waktu yang tepat " ucap papa Haris
" pasti pa, "
" mama harus banyak istirahat dan makan ya" ucap Dewa lagi
Dewa sangat bingung dengan keadaan sekarang ini, Dewa sudah mendengar penolakan Anika dan mengerti namun disisi lain Dewa sudah menyetujui perjodohan ini namun bagaimana dengan Anika, memaksa Anika juga bukan jalan yang tepat. memaksakan sebuah hubungan apa lagi sebuah pernikahan bukan jalan yang benar. walau sudah dekat sejak kecil tapi akan berbeda seperti yang dikatakan Anika. mudah... tentu tidak. namun menolak.... juga tidak mungkin. memaksa.... akan membuat lebih susah menjalani nya. lalu bagaimana?
Anika berhak menjalani hidup sesuai pilihan dan keinginannya. Anika juga masih muda banyak hal yang ingin ia capai, tapi apakah menikah benar-benar akan menghalangi tujuannya, tentu tidak. lalu bagaimana cara anika akan bersatu dengan Dewa. bukankah cinta akan datang karena terbiasa.