Pernikahan kita hanya berteman angan kesepian. seperti inikah yang disebut kebahagiaan pernikahan dalam duniamu yang gemerlap? – Zavira Aline
Jadwal terlalu padat, aku sampai tidak ada waktu memainkan ponselku. Aku juga sudah lupa masalahku dengan Aline. Pekerjaanku selalu berhasil membuatku lupa dari segala hal.
“ Aduh, badan gue rasanya pegal bangeeet..” keluhku di samping Shinta. Aku memutar lenganku dengan sengaja, berusaha menarik perhatiannya yang sedang sibuk dengan ponsel ditangannya.
“Jangan banyak ngeluh deh, makanya minum vitamin. Jadi gak gampang sakit.”sahutnya cuek, kembali memainkan ponselnya.
“ Kok lo malah iklan sih?”
“ Ya abisnya kalau badan lu pegal, gue harus pijetin gitu?”sahutnya.
Aku memutar bola mataku kesal, Shinta selalu saja punya seribu ucapan yang bisa membuatku kesal.
Seorang perempuan cantik mendekati, “Juna, kamu capek ya?”tanyanya, dengan wajah sok polos.
Dia adalah Marsha lawan mainku dalam film layar lebar kali ini. Entah mengapa banyak sekali sutradara yang menyuruhku terus menjadi lawan mainnya, mungkin karena parasnya yang sangat cantik serta rambut panjangnya yang berwarna hitam selalu menjadi pujaan para lelaki sehingga akan membuat melonjaknya minat para penonton dengan film kami. Tapi tidak denganku. Marsha mau tampil secantik apapun tidak akan membuat hatiku bergetar. Dia hanya sekedar rekan kerja. Namun, tampaknya Marsha tidak berpikir hal yang sama denganku.
“ Iya capek banget, kurang tidur juga sih kayaknya.”ucapku.
“ Nih tadi aku dari supermarket dan beli vitamin C, tapi asisten aku kebanyakan belinya. Jadi aku kasih kamu aja nih.”sahutnya sambil memberikanku satu botol vitamin C.
“ Beneran nih? Makasih ya, Marsha. Kamu emang baik, gak seperti si Shinta yang kerjaanya ngomel terus.”sahutku sambil membuka botol minuman.
Shinta melengos mendengar sindiranku, “Heh, Marsha besok-besok jangan baik-baik sama dia. Dia tuh manja, nanti nih kalau dia punya istri pasti istrinya bakalan minta cerai, karena punya suami ngerepotin banget!”sahutnya
“ Ah mbak Shinta bisa aja, aku enggak merasa di repotin kok sama Arjuna.”sahut Marsha sambil tersenyum.
Shinta tersenyum menatapku, aku membalasnya dengan acungan jempol.
“ Capek deh sama kalian berdua, nikah aja sana kalian berdua cocok!”
Shinta meninggalkan kami berdua, aku menertawai kelakuan Shinta. Sudah biasa Shinta seperti itu, kadang hal hal tersebut menjadi hiburan tersendiri.
“ Marsha, makasih ya minumannya sudah habis nih.”sahutku sambil menunjukan botol yang sudah kosong. “Aku duluan ya sebentar lagi waktunya aku take.”
Marsha sepertinya ingin mengatakan sesuatu, karena waktu yang sempit aku meninggalkannya. Sutradara sudah memanggil namaku menyuruhku bersiap-siap.
Padahal hujan deras mengguyur arena syuting, tapi karena aktor selalu dituntut bersikap profesional tidak memandang cuaca. Aku harus berakting kapanpun dan dimanapun sesuai dengan cerita yang tertera di naskah.
“Roll.. Rolling ‘n action!”teriak sutradara.
Di tengah hujan deras aku melakukan adegan yang sesuai dengan naskah. Adeganku kali ini adalah menjauhi mafia-mafia yang mengejar-ngejarku. Aku membawa senapan dan berpura-pura menembaki mafia tersebut, tentu saja dibantu oleh backsound yang mendukung.
Seusai pengambilan adegan, bajuku basah kuyup. Kepalaku terasa pening, aku rasanya ingin beristirahat.
“Shinta kayaknya gua beneran sakit nih, boleh pulang gak? Lagian udah jam 11 malam. Gue mau balik deh.”sahutku sambil memijat keningku.
Shinta memegang keningku, dan ia menyuruhku menunggu sebentar.
“ Kata pak produser lu boleh pulang, tapi naik apaan lu? Emang kuat nyetir mobil?”sahutnya khawatir.
“ Kayaknya sih enggak. Gue suruh asistan gue aja buat bawa ke apartemen. Gue naik taksi aja.”
“ Ya udah, gue suruh si Pian manggilin taksi buat lo ya?”
“Sip. Gue tunggu disini aja.”
Aku mengeringkan rambutku dengan handuk yang sudah disediakan. Baju basahku juga sudah diganti, tapi tetap saja terasa dingin, kepalaku rasanya sakit tak tertahankan.
“Jun udah ada taksinya, ayo!” Aku berjalan ke taksi dengan langkah gontai, dan menjatuhkan tubuhku begitu saja.
“Antar dia ke apartement Blue Diamond ya pak.”ucap Shinta di jendela taksi.
“Jangan pak, saya mau ke tempat lain.”
“Heh mau kemana lo?”
Aku menyuruh Shinta diam, dan meminta supir taksi untuk jalan.
“Kita ke jalan Delima nomor 12, Komplek Parkview di Depok ya pak..”
“Baik pak.”
Mobil taksi melaju dengan cepat seakan membelah malam yang sunyi.
Aku memijat keningku yang terasa sakit, entah kenapa aku ingin pulang ke rumah Aline. Aku tidak ingin pulang ke apartemen. Pasti ada wartawan di sana yang ingin wawancara dan meminta bocoran filmku selanjutnya. Aku tidak bisa menghadapinya, aku hanya butuh istirahat.
Sesampainya di rumah hujan masih turun deras, tidak lupa aku mengenakan topi agar tidak ada tetangga yang melihat wajahku. Lampu dalam rumah masih menyala, aku bisa melihatnya dari tirai yang tidak tertutup sepenuhnya. Aku mengetuk pintu.
Tak ada jawaban.
“Aline! Aline!”sahutku sambil mengetuk pintu dengan gusar.
“Mas Juna?”
Aku merangsek masuk tak peduli dengan panggilannya, aku melepaskan sepatuku asal.
“Kamu kenapa mas? Sakit ya mas? Sini mas biar aku bantu kamu jalan ke kamar.”
Aku menepis tangannya yang ingin membantuku. Aline tersontak kaget dan menjauhiku. Kepalaku tambah terasa sakit, rasanya duniaku berputar.
Brug..
“Mas Juna!!” aku masih mendengar panggilan Aline yang kian menjauh dan pandanganku langsung gelap.
***
“Argghh..” aku ingin bangun dari tempat tidurku tapi rasa sakit menecegahku. Aku melihat sekelilingku, aku tidak tahu kapan aku tertidur di sini. Seingatku semalam aku jatuh dekat ruang tamu. Aku memegang keningku untuk mengecek panas tubuhku, aku mendapati ada kompresan dikeningku. Saat aku menoleh ke arah kanan Aline tertidur setengah duduk di samping ranjangku. Baju dan rambutnya basah kuyup. Sepertinya ia habis hujan-hujanan, aku bisa mengenali aroma hujan di tubuhnya.
“Aline..”panggilku membangunkannya. Aline membuka matanya perlahan, dan langsung mengecek panas tubuhku.
“Panas kamu udah turun mas.” Ia bernafas lega saat ia tahu tubuhku tidak panas lagi.
“Kamu mau sarapan apa?” tanya Aline sembari merapihkan kompresan dan obat-obatan. Aku menahan tangannya.
“ Tidak usah, aku bisa beli sarapan sendiri kok..”
“Jangan mas, mas masih sakit.” aku mencoba turun dari kasur, dan aku mengerang kesakitan.
“ Sudah mas biarkan aku mengurusmu..” Aline menyelimuti tubuhku.
“ Mas, aku bikinkan sarapan dulu. Enggak bakalan lama kok, tunggu ya.” Aline tersenyum lembut, dan meninggalkanku sendirian di kamar. Aku mengacak-ngacak rambutku kesal, kenapa semalam aku terpikir untung pulang ke rumah ini?
Pasti ada yang salah dengan kepalaku.
takkan pernah terlintas
tuk tinggalkan kamu
jauh dariku, kasihku
karena aku milikmu
kamu milikku
separuh nyawaku hidup bersamamu
berdua kita lewati
meski hujan badai takkan berhenti (takkan berhenti)
sehidup semati
mentari pun tahu ku cinta padamu
percaya aku takkan kemana-mana
aku kan selalu ada, temani hingga hari tua
percaya aku takkan kemana-mana
setia akan ku jaga, kita teman bahagia
takkan pernah ku lupa kamu yang ku cinta
dari ujung kaki hingga ujung kepala
aku ingin kamu, kamu yang ku mau
belahan jiwaku, kamu masa depanku
berdua kita lewati
meski hujan badai takkan berhenti (takkan berhenti)
sehidup semati
mentari pun tahu ku cinta padamu
Jazz - Teman Bahagia