Sisa-sisa pertempuran semalam masih terlihat jelas di halaman kediaman Bara bekas peluru di tembok, jejak darah yang sudah dibersihkan namun masih terasa hawa dinginnya, dan pengawal yang terus berjaga dengan kewaspadaan berlipat ganda. Namun bagi Bara, bahaya terbesar bukan hanya datang dari luar, tapi juga dari dirinya sendiri. Sejak kejadian Raka terbukti menjadi mata-mata, sifat posesifnya justru memuncak, bukan mereda. Baginya, hal itu membuktikan bahwa kecurigaannya selama ini beralasan dunia ini memang penuh tipu daya, dan orang-orang terdekat pun bisa berubah menjadi musuh. Pagi itu, suasana di meja makan terasa kaku. Bara menatap Melia tanpa berkedip, memastikan setiap suapan yang masuk ke mulutnya, setiap gerakan tangannya. “Jangan keluar rumah hari ini,” perintah Bara tiba-ti

