Detik terasa berjalan sangat lambat. Suara putaran kunci yang pelan namun jelas itu membuat bulu kuduk Melia berdiri tegak. Ia menggenggam erat gagang pisau kecil yang tersembunyi di balik bantal, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sampai ke telinga. Cahaya dari luar sudah hilang sepenuhnya, meninggalkan kegelapan pekat yang hanya diterangi samar oleh cahaya rembulan yang menyelinap lewat celah tirai jendela. “Siapa di luar sana?” tanya Melia dengan suara tenang namun tegas, berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Ia berdiri perlahan, memposisikan tubuhnya di balik pintu agar siap menghadapi apa pun yang akan masuk. Tak ada jawaban. Hanya suara derit engsel pintu yang terbuka perlahan, disertai hembusan angin malam yang membawa hawa dingin dan bau tanah basah yang asing. Sosok baya

