Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Hanya tersisa sepuluh menit, dan Bara berdiri terpaku di lorong rumah sakit, matanya tak lepas dari lampu kecil yang berkedip perlahan di ambang jendela kamar Melia. Rasa posesifnya meluap melampaui batas ia ingin menerobos masuk, memeluk istrinya dan melindunginya dengan seluruh tubuhnya meski itu berarti mati bersamanya. Namun naluri pemimpin yang terlatih selama bertahun-tahun mengingatkannya bahwa ada cara lain, meski risikonya sama besar. “Jaka! Panggil tim penjinak bom sekarang juga! Dan perintahkan seluruh pasukan di sekitar rumah sakit mengamankan setiap jalan masuk dan keluar jangan biarkan siapa pun yang mencurigakan lolos!” perintah Bara dengan suara tegas namun bergetar karena tekanan. “Baik, Tuan! Tapi jarak mereka butuh wak

